ANDROMEDA

ANDROMEDA
Episode 9



nan, Bobby dan pria muda itu duduk di bangku taman untuk melepas lelah. Ketigany masih diam sambil mengatur nafasnya.


"Terima kasih" ucap pria muda itu mengawali kemudian mengulurkan tangannya.



"Perkenalkan, namaku Kim Hanbin, panggil saja BI"


"Aku Kim Jinhwan, panggil saja Jinan" menyambut uluran tangannya


"Aku Kim Jiwon, panggil saja Bob... Eh tunggu dulu. Kita sama-sama punya marga Kim, Bagaimana kalau kita bikin genk?"


"Apa? Jangan aneh-aneh. Aku tidak mau 1 genk denganmu, bisa-bisa sama anehnya denganmu" Jinan. Bobby mengukir senyum hingga matanya segaris.


Jinan diam mengingat apa yang dilihatnya tadi. Hatinya amat sangat sakit dan begitu benci pada mereka.


"Jinan, bagaimana kalau kita laporkan mereka ke polisi?" Bobby


"Kita tidak punya bukti" Hanbin


"Kau kan bisa jadi saksi?"


"Saksi saja tidak cukup, harus ada bukti video transaksi mereka" Hanbin.


" Kalian tenang saja. Aku sudah merekam semuanya disini *menunjuk kedua matanya* tapi... Akan ada waktu yang tepat untuk melakukannya" tangan Jinan mengepal erat dengan rahang yang mengeras.


" Kau merekamnya? Didalam sini?*nunjuk mata sendiri* apa maksudmu? Aisssh kita butuh bukti nyata bukan penglihatan mata saja" Bobby. Jinan beranjak berdiri bersiap untuk pergi.


"A mau kemana?" tanya Bobby yang ikut berdiri


"Aku mau pulang" jawabnya dengan tatapan datar.


" Baiklah, aku juga akan pulang" Bobby


"Aku bagaimana?" tanya Hanbin. Bobby dan Jinan menoleh mereka saling tatap sejenak.


"Kau tidak punya tempat tinggal?" tanya Jinan


Hanbin berdecak kesal "Kalian harus tahu, kalau pria itu adalah ayahku"


Jinan mengernyitkan "Ayahmu? Siapa?"


"Han Taejun, pria gila itu"


"MWOOO!!!??" Jinan dan Bobby bersamaan.


Jinan menatap Hanbin lamat "Kau bisa tinggal denganku. Ayo" ajaknya sambil melangkah pergi.


-@@@-


Jinan datang membawa Hanbin. Joon Hyuk yang sedang panik dn cemas langsung memghampiri Jinan.


"Jinan, kau darimana saja? Kenapa baru pulang. Hyung menelponmu tapi tidak kau jawab"


"Maaf Hyung, ponselku silent" jawabnya. Joon Hyuk menangkap gelagat tak biasa pada Jinan. Tatapannya redup. Joon Hyuk melihat Hanbin yang masih berdiri dengan tatapan bingung.


"Kau membaw teman?"


Jinan baru ingat kalau datang bersama Hanbin " Iya dia teman baruku" jawabnyaa


"Annyeong Hyung, aku Kim Hanbin" sapanya sambil membungkuk


"A, Salam kenal. Aku Lee Joon Hyuk. Kakaknya Jinan. Oia, sepertiny... Kau bukan seorang pelajar, lalu kenapa wajahmu penuh memar? Duduklah"


Hanbin melirik Jinan yang sedang memejamkan matanya menyandar di sofa. "Aku... Hmmm... Sebenarnya"


Drrrt...drrrt...ddrrrt... Ponsel Joon Hyuk bergetar, dia langsung beranjak menjauh menjawab panggilan tersebut.


"Jinan, kau sudah tidur ya?" bisik Hanbin


Jinan membuka matanya "Ayo, ikut ke kamar. Kau bisa obati lukamu dan ganti pakaian" ucapnya sambil beranjak pergi, diikuti Hanbin.


BI terkejut melihat kamar Jinan yang dengan tropi di lemari kaca dan piagam penghargaan. Tiba-tiba sesuatu menggusal di kakinya.


"Woah kiyowo" Hanbin menggendong Bang tapi dia mengernyit saat merasakan sesuatu yang aneh.


"Ro... Robot!? Jinjja! Dia mirip sekali dengan anjing sungguhan" Hanbin tersenyum sambil bercanda dengan Bang.


" Ganti pakaianmu dan obati lukamu. Tapi, maaf ukuran celana panjangku tidak sesuai denganmu tapi kau bisa pakai celana pendek dan kaosku" Jinan memberikan sepasang pakaian dan kotak obat


"Iya tidak apa-apa" Hanbin mengambil pakaian tersebut lalu pergi ke kamar mandi.


Selagi Hanbin berganti pakaian. Jinan juga duduk di sofa sambil memejamkan matanya mencoba mengingat sebuah kejadian yang di rekam oleh memorynya. Lagi-lagi tangannya mengepal erat, dia menggelngkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri, matanya mengerut, keringatnya bercucuran.


"Andwae! Andwae!...Andwaeeee!!!"


"Kim Jinhwaaan!!" teriak Hanbin sambil mencengkram bahu Jinan.


Jinan langsung membuka matanya dengan nafas memburu dan keringat mengujur membasahi wajahnya.


"Kau kenapa? Mimpi buruk?" tanya Hanbin


"Tidak, aku hanya kelelahan. Kau sudah mengobati lukamu?"


"Belum"


"Obati lukamu, setelah itu istirahatlah. Aku ingin keluar dulu" Jinan segera pergi.


-@@@-


"Hyung, kau dikamar?" tanya Jinan di balik pintu


"Iya, masuklah"


Jinan mendapati Hyungnya yang sedang berkutik dengan buku tebalnya tentang antropologi.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu" Jinan sambil menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur menatap langit-langit.


" Katakan saja, Hyung akan mendengarkan" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Sesekali dia membuka lembaran halaman baru.


" Aku melihat Black Death dan mengikuti mereka"


Joon Hyuk langsung menutup buku dan melepas kacamatnya "K... Ka...Kau melihat mereka? Kenapa kau mengikutinya, bagaimana kalau..."


"Hyung! Berhentilah. Ini saatnya aku melakukan apa yang aku inginkan"


Joon Hyuk menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan "Tapi, kau masih belum sempurna. Itu kenapa Hyung selalu berpesan padamu untuk hati-hati. Tubuhmu masih rapuh *jeda* Jinan"


-@@@-


Hanbin selesai mengobati lukanya sambil bercermin. Matanya terus menatap puluhan tropi dan piagam bahkan beberapa medali di lemari kaca yang menyatu dengan tembok. Dia berjalan mendekati lemari tersebut.


"Olimpiade kimia, Mahasiswa lulusan terbaik, Harvard Univercity, Faculty of arts and science... Kim Jin...hwan. Mwo!? Kim Jinhwan!?" Hanbin membaca beberapa tulisan dan terkejut melihat nama di piagam penghargaan tersebut. "A... Apa maksudnya?"


"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Jinan membuat Hanbin terkejut.


"O... Oh... A...aku hanya sedang *melirik Bang lalu menggendongnya* bermain dengan Bang, hehehe iya kan Bang?"


"Jangan bohong! Aku bisa membaca pikiran orang" celetuk Jinan asal sambil meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur


"MWO!? Benarkah?" Hanbin ikut tiduran disampingnya.


"Hmmm..." jawab Jinan sambil memejamkan matanya


Hanbin menatap wajah Jinan dari samping, wajah yang terlihat bersih, seputih susu dan seperti bayi. "Berhenti menatapku. Tidur sana!" tegas Jinan berbalik memunggungi Hanbin


"Jinan Ssi, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"


" Apa?"


" Kenapa kau ada di gedung itu? Apa kau mengikuti mereka?"


"Iya, aku mengikuti mereka"


"Kenapa? Kau mengenal mereka atau curiga pada mereka?"


Amarah Jinan kembali menyeruak, sakit hatinya terasa kembali membuatnya tak bergeming.


"Jinan, kau sudah tidur?" tanya Hanbin pelan-pelan namun tetap tak ada jawaban.