
Sudah lebih dari tiga minggu Nadine meninggalkan kekasihnya tanpa kabar. Selama itu pula Gibran merasa rindu padanya.
Gibran berkali-kali menghubungi nomor Nadine namun tak pernah terhubung.
Seperti pagi itu, untuk ke sekian kalinya ia mencoba menghubungi nomor calon tunangannya tersebut, namun lagi-lagi ia gagal.
"B**ng*ek!" Umpatnya.
"Ini semua gara-gara Keenan. Dia harus bertanggung jawab!" Gumamnya.
Gibran mengambil kunci mobilnya. Ia pun keluar dari kamar apartemennya.
Dengan hati serta pikiran kacau pria itu mengendarai mobilnya dengan laju cepat. Di pikirannya saat itu hanyalah ingin menemui Keenan. Adik tirinya itu benar-benar telah mencampuri urusannya.
"Awas saja kau, Keenan," gumamnya.
Gibran menambah kecepatan mobilnya. Pria itu benar-benar telah dikuasai amarah. Ia bahkan tak memperdulikan keselamatan dirinya. Amarah telah membuatnya tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Gibran terus menginjak pedal gas mobilnya. Hingga ia tak sadar telah menerobos lampu merah. Di saat bersamaan, seorang perempuan tengah menyeberang jalan. Gibran secepat mungkin menginjak rem mobilnya. Namun jarak mobil dan perempuan itu sudah terlalu dekat. Tabrakan pun tak terhindarkan. Tubuh perempuan itu terpental sejauh beberapa meter. Gibran membanting setir ke arah kanan. Naas, di saat yang bersamaan sebuah truk datang dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi. Bagaikan adu banteng, kedua kendaraan itu pun bertabrakan dan menimbulkan suara yang cukup keras. Tiba-tiba Gibran merasakan pandangannya gelap.
Dalam hitungan menit, tempat tabrakan itu telah dikerumuni begitu banyak orang.
Beberapa orang menolong pejalan kaki yang tertabrak. Sebagian lagi membantu Gibran dan supir truk yang saat itu sama-sama mengalami luka yang cukup parah.
Peristiwa tabrakan itu terjadi tak jauh dari toko kue Aurora. Andro dan sang ibu yang saat itu baru keluar dari rumah mereka dan hendak menuju kios pun penasaran dengan kerumunan tersebut.
" Ada apa ini, pak?" Tanyanya pada seorang pria yang berada di antara kerumunan.
"Ada kecelakaan, nyonya," jawabnya.
Entah mengapa tiba-tiba pandangan Andro tertuju pada sebuah mobil dan truk yang tampak rusak parah.
Andro menembus kerumunan. Tiba-tiba ia berteriak.
"Mister handsome!" Jeritnya.
Aurora kaget mendengar Andro meneriakkan nama tersebut.
"Mister handsome? Bukankah dia…?"
Aurora berlari menghampiri Andro yang berdiri cukup dekat dengan mobil tersebut.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat orang-orang membantu mengeluarkan seorang pria dari sebuah mobil berwarna hitam. Aurora mengenal wajah pemilik mobil tersebut.
"Gibran," gumamnya.
Beberapa warga lalu membawa Gibran beserta seorang korban tabrakan dan seorang supir truk ke dalam ambulance.
Andro terus berteriak memanggil Mister handsome. Sang ibu pun menenangkannya. Perempuan itu pun lalu menatap mata Andro.
"Tenanglah, Mister handsome akan selamat. Dia akan baik-baik saja," hibur Aurora lalu merengkuh sang putra ke dalam pelukannya.
Tanpa diduga bocah itu justru melepas pelukan sang ibu dan justru mengambil sepedanya yang beberapa saat lalu ia tinggalkan begitu saja di trotoar.
Andro menaiki sepedanya dan mengikuti ambulance tersebut. Bocah itu tak peduli pada jalanan yang pagi itu begitu padat.
Sang ibu terus memanggilnya namun Andro terus menjauh dan mengayuh sepedanya di belakang ambulance.
Aurora merasa bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tanpa pikir panjang, ia pun menyusul Andro menuju ruma sakit. Perempuan itu terlalu khawatir dengan anak laki-lakinya.
Aurora memberhentikan sebuah taksi lalu masuk ke dalamnya.
"Ikuti anak kecil yang bersepeda itu," ucapnya pada pengemudi taksi.
Dari dalam taksi Aurora bisa melihat Andro dengan sepedanya yang terus melaju agar bisa mengimbangi laju ambulance di depannya. Peluhnya begitu deras menetes, wajahnya mulai kemerahan. Tanpa ia sadari, saat ini Andro tengah begitu dekat dengan ayah kandungnya. Tiba-tiba Aurora menitikkan air mata.
"Apakah ini saatnya…" gumamnya.
Sesampainya di rumah sakit. Ketiga korban tabrakan tersebut langsung dibawa menuju ruang ICU. Aurora bergegas menghampiri Andro yang tengah kebingungan karena seorang petugas rumah sakit menanyakannya perihal siapa yang akan bertanggung jawab pada ketiga pasien tersebut.
"Kau jangan khawatir, aku yang akan menjamin ketiganya," ucap Aurora yang tiba-tiba berdiri di hadapan Andro.
"Mommy," Andro langsung menghambur ke pelukan sang ibu.
"Apakah mister handsome akan baik-baik saja, mom?" Tanyanya. Aurora menyeka air mata sang anak. Ia tak tahu sejak kapan anak laki-lakinya tersebut menangis.
Tiba-tiba ponselnya berdering singkat. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
[From: Keenan
Kau dimana?]
Aurora tak membalas pesan tersebut. Ia menjauh beberapa langkah dari Andro. Kemudian meneleponnya.
~Aurora: Aku di rumah sakit sekarang.
~Keenan: Astaga! Siapa yang sakit? Kau, ataukah Andro.
~Aurora: Kami baik-baik saja. Gib.
.. Gibran mengalami kecelakaan!
~Keenan: Hah?
Panggilan terputus. Rupanya Keenan telah mengakhiri percakapan.
"Siapa yang kau telepon?" Tanya Andro.
"Mister tampan," jawabnya singkat.
******
Di rumah Emily.
Emily tengah membaca surat kabar di kursi rodanya. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat Gibran, anak laki-lakinya yang tinggal terpisah dengannya.
Emily mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Gibran. Seseorang mengangkat panggilan itu.
~Gibran: Halo, selamat pagi.
Emily merasa ada sesuatu yang janggal. Ia mengenal betul suara sang anak.
~Emily: Selamat pagi. Kau siapa? Mengapa kau yang memegang ponsel milik anakku?
~Gibran: Kami dari pihak kepolisian. Pemilik ponsel ini beberapa waktu yang lalu mengalami sebuah kecelakaan di dekat toko kue Aurora.
Emily menjatuhkan ponselnya. Ia tak sanggup lagi mendengarkan kelanjutan perkataan dari polisi tersebut. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya begitu lemas.
"Bi...bibi!" Teriaknya memanggil asisten rumah tangganya. Tak berselang lama, perempuan yang telah bekerja di rumahnya selama lebih dari lima belas tahun tersebut keluar dari arah dapur. Ia lalu menghampiri Emily.
"Ada apa, Nyonya? Kau terlihat begitu cemas," Tanyanya.
"Katakan pada sopir. Antar aku ke rumah sakit sekarang," ucapnya datar.
"Siapa yang sakit, nyonya," Tanyanya lagi. Emily tak menjawab.
"Cepatlah, aku tak punya banyak waktu untuk mengobrol," ucapnya.
Emily dan sopirnya lalu menuju rumah sakit. Ia pun langsung menuju ruang ICU. Perempuan itu sedikit kaget saat mendapati seorang ibu dan anak yang tengah duduk di depan ruang ICU. Dari kejauhan ia memandang keduanya.
"Rasanya aku tak asing dengan kedua orang itu," gumamnya.
Emily meminta sang sopir mendorong kursi rodanya ke arah ruang ICU. Benar saja, ibu dan anak yang ada di depan ruang tersebut adalah Andromeda dan ibunya. Bocah kecil yang beberapa waktu lalu menemukan dompetnya yang terjatuh saat berbelanja di supermarket.
"Hai, kau rupanya, anak tampan," sapanya. Andro dan sang ibu memandang ke arah perempuan tersebut.
"Nyonya, kau...? Apa salah satu keluargamu dirawat disini?" Tanya Andro.
Bersambung….
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕