
Jinan sampai di sekolah. Yah, dia terlambat dan memilih untuk ke atap. Sampai dibatap, Dia melihat Bobby yang sedang tiduran sambil menutupi wajahnya dengan lengannya.
“Hiffft” Jinan mendengus lelah sambil duduk di dekat Bobby.
“WOOAAAA!!!” teriak Bobby yang terkejut melihat kehadiran Jinan membuat tubuhnya terguling jatuh. Jinan hanya menatap datar.
“Aisssh kau membuatku jantungan saja, bagaimana kalau aku mati huh!?”
“Akan ku hidupkan kembali” ceplok Jinan.
“Eiiit kau ini bukan Tuhan, yang menghidupkan manusia. Dasar gila!” tegas Bobby yang hanya di jawab dengan sunggingan senyum.
“Kenapa kau ada disini? Kau membolos mata pelajaran juga?” tanya Bobby
“ Aku terlambat dan malas untuk masuk ke kelas”
“Yaaa! Itu sih sama saja kau membolos. Oia bagaimana dengan Hanbin, apa dia tinggal dirumahmu?”
“Iya tapi hanya semalam setelah itu dia pergi ke apartemen miliknya”
Bobby memandang wajah Jinan yang terlihat sedikit pucat “ Jinan, Apa kau sakit? Wajahmu pucat”
“Aku baik-baik saja, hanya saja...” BRUK!!
“YAK!! JINANI IREONA! KAU KENAPA EOH!” Bobby langsung menggendong Jinan walau berat tapi dia berusaha untuk membawanya turun ke ruang kesehatan
-@@@-
Sampai diruang kesehatan Bobby mencoba untuk membuka baju Jinan tapi... Dia tidak merasakan denyut jantungnya.
“A... Apa yang terjadi? * Bobby menempelkan telinganya ke dada Jinan* WOOAAA!! Ke...kenapa ti...tidak ada detak jantungnya!” hebohnya.
Kemudian mencoba melakukan CPR. Namun saat Bobby melakukannya, dia merasakan sesuatu yang aneh di tubuh Jinan “Tubuhnya, keras?” segera dia membuka blazer dan kemeja Jinan.
BRUGH!! Bobby terduduk gemetaran setelah melihat kondisi Jinan “A...apa yang ter...ja...di? Di...dia...”
Tok...tok...tok!!
“Apa ada orang didalam!?” teriak seorang yeoja di depan pintu.
Bobby langsung berdiri dan kembali menutup pakaian Jinan dan menyelimutinya. Pikirannya kacau antara shock dan panik “Apa yang harus aku lakukan?” Frustasinya
“Permisi! Apa ada orang didalam!”
“N...ne.. Temanku sedang sakit!!” teriak Bobby lalu mencoba menenangkan diri dan membuka pintu.
Dilihatnya 2 orang gadis. “Aku petugas kesehatan untuk hari ini, Mana temanmu yang sakit? Biar ku lihat” ucap salah satu gadis itu yang hendak membuka tirai penutup.
“Oh ti...tidak usah, di...dia sedang telanjang dada dan istirahat, aku sudah mengobatinya” Bobby menghadang gadis tersebut sambil tersenyum.
Gadis itu menatap Bobby dengan aneh, pasalnya seperti biasa rambut mienya yang menutupj setengah wajah bagian jidat dan mata”Baiklah, kalau dia sudah bangun. Beri tahu aku” gadis itu duduk di bangku sambil menulis-nulis untuk berjaga. Keduanya saling berbisik menatap Bobby.
-Lab-
“MWO! JINAN MELIHAT BLACK DEATH!” teriak Kihyun yang mendengar cerita Prof. Joon Hyuk.
“Dan dia ingin mulai melakukannya, tapi... Aku mencoba memberinya pengertian tetang bahaya yang akan terjadi pada dirinya dan juga kondisinya”
“Lalu, apa Jinan mau mengerti?”
Joon menggeleng “Dia bersi keras untuk menggunakan alat itu dan memasangnya sendiri”
“Kenapa kau tidak mencegahnya Prof.? Bagaimana kalau dia ma...” Kihyun menghentikan ucapannya.
“Ini semua salahku, kalau saja aku tidak terlambat waktu itu. Dia tidak akan menderita seperti sekarang” Joon Hyuk mengingat kejadian 6 Bulan yang lalu dengan penyesalan yang amat sangat menyesal dihatinya.
-School-
Bobby hanya diam mematung melihat Jinan yang masih tidak sadarkan diri. Pikirannya benar-benar kacau dan shock. Dia memegang kepalanya dan meremas-remas rambutnya yang sudah berantakan.
“Yura! Apa aku harus minta tolong dia... Tapi...” Bobby ingat sesuatu, dia mengambil ponsel Jinan
📱 “Hallo, Jinan”
📱 “Hyung! A... Aniyo, Prof. Ini aku Bobby. Jinan...*Bobby ingat kalau disitu ada orang selain dia* Dia ping...” BIP!
Seseoramg merebut ponselnya dan memutuskan panggilannya. Bobby terkejut dan langsung terduduk sambil ketakutan. Jinan, dia menatap datar Bobby.
“K...kau su... Sudah bang...un”
“Kenapa kau menghubungi Hyungku?”
Bobby beranjak berdiri “K...kau baik-baik saja kan?”
“Iya, ayo keluar. Aku engap disini” Jinan beranjak berdiri dan membuka tirai penutup, cukup terkejut melihat 2borang siswi yang sedang berjaga dan melewatinya begitu saja.
-@@@-
Bobby masij diam berjalan di belakang Jinan sambil terus mengamati tubuh Jinan. Saat mereka sedang berjalan di koridor. Yura melihat keduanya dan langsung mengahmpiri.
Jinan berhenti mendadak jantungnya langsung berdegup kencang, saat itu juga dia lari menghindar tanpa menjawab pertanyaan Yura.
“YAK! Jinan! Kau mau kemana!” teriak Yura yang kecewa dengan sikap Jinan. Dilihatnya Bobby uang sedang berdiri kaku sambil melirik ke Yura.
“W... Wae!?” tanya Bobby
“Si rambut mie, Kau mengajak Jinan bolos ya! Lalu, apa yang terjadi ada Jinan huh!?”
Bobby semakin bingung, apa yang ditakutkan akhirnya terjadi juga. Pertanyaan terakhir membuatnya kikuk “A... Aku tidak tahu! Sudah ya bye” tegasnya dan langsung lari.
-@@@-
“Ada apa dengan bocah aneh itu, tiba-tiba menelpon dan mengakhiri panggilannya”
“Siapa?”
“Bobby teman Jinan, Uh jangan-jangan terjadi sesuatu pada Jinan” Joon Hyuk segera bergegas pergi.
“Hyung, aku ikut!” Kihyun mengejar Joon Hyuk.
-@@@-
Hanbin yang sudah ada di apartemennya dan sedang istirahat. Di benaknya masih diliputi rasa penasaran dengan pertanyaan yang tidak dijawab dengan jujur oleh Jinan.
“Siapa sebenarnya Kim Jinhwan itu dan kenapa, dia begitu marah saat membahas tentang black death? Dia juga tahu tentang ayahku dan juga Tuan Dong Ill. Siapa sebenarnya pria itu?” gumamnya.
-@@@-
Joon Hyuk dalam perjalan kemudian menghubungi Jinan.
📱 “Hallo” jawab Jinan
📱 “Jinan, apa yang terjadi? Kenapa Bobby menghubungi Hying tadi?”
📱 Jinan melirik Bobby disampingnya “A, dia hanya merindukan suaramu. Sudah ya, aku harus kembali belajar” BIP! Bohongnya.
📱 “YAK YAK YAK!! KIM JINHWAN! HALLO!” kesal Joon Hyuk
“Aisssh! Ada apa dengan anak itu, ck! Aku benar-benar khawatir kalau emosinya tidak dapat dikontrol”
“Tenanglah Hyung, aku yakin Jinan bisa mengatasi dirinya sendiri” Kuhyun mencoba menenangkan.
-Atap-
“Hyungmu? Maaf aku tadi panik jadi menghubunginya”. Jinan hanya mendengus kesal.
Sekolahpun sudah bubar, siswa berhambur keluar dengan suka cita. Jinan hanya mengamati mereka dari atas, tapi tidak dengan Bobby yang terus memandang wajah Jinan dan penampilannya.
“ Jinan, boleh aku bertanya?” tanya Bobby hati-hati
“ Hmmm jangan bertanya yang aneh-aneh, seperti kau”
“Sebenarnya, kau ini apa? A... Aku sempat membuka pakaianmu saat pingsan dan lagi, detak jantungmu berhenti”
“K...KAU, MELIHAT TUBUHKU!” Hentak Jinan sambil melotot
“N... Ne, ma...maaf” Bobby menunduk
Jinan menarik nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya sejenak dan menghembuskannya perlahan. “Kau sudah melihat seperti apa diriku. Itulah diriku yang sebenarnya Bobby-ah”
“Jadi, sebenarnya. Kau ini manusia atau robot?”
“MWO!? RO... Robot!?”. Bobby dan Jinan terkejut melihat kehadiran Yura yang tidak disadari keduanya.
“Yu...Yura! Sejak kapan kau disitu?” Jinan dan Bobby saling pandang.
Yura mendekati Jinan dan berhenti tepat dihadapannya tanpa jarak. Menyamai posisi wajahnya dan menatap lekat mata Jinan.
DAG DIG DUG! Jantung Yura berdegup kencang, begitu juga dengan Jinan. Wajah Yura semakin mendekat membuat sang empunya menahan nafas.
“A...A...Apa yang se...dang ka...kau la...ku..kan?” tanya Jinan
“Kau robot?” DEG! Jantung Jinan seolah berhenti, nafasnya tertahan.
“BUAHAHAHAHAHA... Robot apanya? Matanya saja sama, lalu...*Yura menempelkan telinganya ke dada Jinan* detak jan...tung...nya”
“YAK! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN!!” tegas Jinan sambil mendorong kepala Yura
“AAAA, sakit tahu!” rintih Yura sambil memanyunkan bibirnya.
“ Salahmu, kenapa melakukan hal yang aneh-aneh. Sudahlah. Aku mau pulang dan Kau Bobby *Jinan menatap tajam dan memberi isyarat agar dia bungkam* kau pulang bersama Yura, bukankah kau igin tumpangan gratis?”
“UH! O oh i...iya hehehe” Bobby tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuk lehernya.
“Yura Ssi, aku pulang duluan” Pamitnya