
Keenan mengambil ponsel dari saku jasnya kemudian keluar dari ruang perawatan Fiona. Tak berselang lama ia kembali masuk ke ruangan tersebut.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Semoga kau lekas sembuh, Fiona," ucap Keenan sambil berlalu dari ruangan tersebut. Ada rasa kecewa pada diri Fiona karena Keenan hanya beberapa saat berada di ruangannya.
"Aurora, aku ingin berbicara denganmu," ucap Sean.
"Apakah ada hal penting, Paman?" tanya Aurora.
"Sebaiknya kita berbicara di luar agar tak mengganggu waktu istirahat Fiona," ucap Sean sambil melangkah menuju pintu.
Keduanya kemudian keluar dari ruang perawatan Fiona dan duduk di bangku yang berada di depan ruangan tersebut.
"Boleh kutahu, siapa ayah Andromeda?" tanya Sean. Aurora tersentak. Ia tak menyangka jika sang paman akan memberikan pertanyaan yang begitu sulit untuk ia jawab. Aurora menundukkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat begitu sedih.
"Maaf jika pertanyaanku membuatmu sedih," ucap Sean.
Sudah hampir delapan tahun Aurora menyimpan rahasia besar itu dari siapapun. Bahkan dari Gibran, ayah kandung Andromeda. Namun ada masanya sebuah rahasia harus dibongkar ataupun terbongkar. Dan Aurora memilih membongkar rahasia tersebut.
Aurora membuang nafas.
"Selain Keenan, tak ada seorang pun yang tahu jika Andromeda adalah anak kandung Gibran," ucap Aurora.
"Gibran?" tanya Sean.
"Ya. Gibran adalah nama ayah kandung Andromeda," jawab Sean.
"Apakah kalian sudah menikah?" tanya Sean. Aurora menggelengkan kepalanya.
"Semuanya berawal dari suatu malam saat aku akan menemui Keenan di kamar apartemennya," ucap Aurora.
"Apakah kau sudah lama mengenal Keenan?" tanya Sean.
"Ya. Kami cukup lama menjalin hubungan. Bahkan kami nyaris bertunangan. Namun malam itu adalah malam yang mengubah semuanya. Suatu malam yang mengubah hidupku," ujarnya.
"Apa yang membuat kalian gagal bertunangan?"
"Malam itu aku mendatangi kamar Keenan namun aku justru aku melihat ia keluar dengan seorang perempuan. Ia mengenakan pakaian yang sedikit terbuka. Aku merasa kecewa dan patah hati."
"Lantas, apa yang kau lakukan setelahnya?"
"Aku meninggalkan apartemen Keenan. Entah setan apa yang merasukiku saat itu. Aku justru mendatangi sebuah bar."
Aurora tersenyum getir.
"Astaga! Apa yang kau lakukan di tempat itu, Nak?" tanya Sean.
"Aku hanya berniat menenangkan pikiranku yang kacau. Namun tiba-tiba pria itu menghampiriku. Ia mengenalkan dirinya bernama Gibran. Sama sepertiku, malam itu dirinya pun tengah kecewa dan patah hati karena kekasihnya meninggalkannya dan memilih menikah dengan pria lain. Gibran mengajakku minum anggur. Awalnya aku menolak, namun Gibran terus memaksaku. Akhirnya aku pun penasaran dengan minuman itu."
"Apakah kau minum dan mabuk?" tanya Sean.
"Aku hanya meneguknya sedikit. Tapi entah mengapa setelah meminum minuman beraroma kuat itu seketika aku merasa tenang dan aku pun lupa akan kesedihanku. Aku mulai ketagihan dengan minuman itu hingga tak sadar aku telah minum terlalu banyak. Aku merasa kepalaku begitu pusing. Aku pun memintanya untuk mengantarku pulang."
"Lalu, apa dia benar-benar mengantarmu pulang?" tanya Sean. Aurora menggelengkan kepalanya.
"Sama sepertiku, Gibran juga minum terlalu banyak. Aku tak ingat apapun setelah aku masuk ke dalam mobilku. Dan ketika aku terbangun keesokan harinya, aku tak berada di rumahku, melainkan di motel."
Sean tersentak.
"Apa yang telah ia lakukan padamu?" tanyanya.
"Seorang laki-laki dewasa mabuk dan seorang perempuan yang pingsan berada di dalam satu kamar, kurasa Paman tahu apa yang terjadi selanjutnya."
"Jadi...Gibran…?" Sean tak melanjutkan kata-katanya.
"Gibran mengambil mahkota berharga milikku di saat aku tak sadarkan diri," ucap Aurora.
"Benih yang telah ditanam Gibran telah tumbuh di rahimku. Aku berusaha mencarinya, namun pertemuan kami yang begitu singkat membuatku kesulitan mencari tempat tinggalnya. Yang kutahu hanya namanya saja, Gibran."
"Apakah malam itu adalah malam pertama dan terakhirmu bertemu dengannya?" tanya Sean.
Aurora menghela nafas.
"Ya. Aku mendengar jika Gibran pergi ke luar negeri. Dan kami baru bertemu kembali setelah Andromeda lahir dan berumur tujuh tahun," jawabnya.
"Apakah Gibran tahu jika kau hamil karena perbuatannya malam itu?"
"Saat ia kembali dari luar negeri, ia mengatakan jika telah memiliki calon tunangan bernama Nadine. Dan perempuan itulah yang kulihat keluar dari kamar Keenan malam itu. Di hadapan Nadine dan semua orang, Gibran bersikap seolah tak mengenalku bahkan ia menyangkal perbuatannya di masa lalu meskipun aku sudah membuat pengakuan di hadapannya dan juga calon tunangannya yang bernama Nadine."
"Laki-laki brengsek!" umpat Sean.
"Awalnya aku begitu terpukul. Aku merasa dia begitu merendahkanku. Namun aku merasa telah bahagia memiliki Andromeda. Akupun bersumpah pada diriku sendiri. Seumur hidupku aku tak akan pernah mengharap pengakuannya lagi."
"Apakah Gibran dan Nadine sudah bertunangan?" tanya Sean.
Aurora menggelengkan kepalanya.
"Kebetulan Nadine berteman baik dengan Keenan. Dan aku baru sadar jika malam itu aku hanya salah paham. Keenan dan Nadine tak melakukan apapun di kamar apartemen itu.
Keenan pun telah berhasil meyakinkan Nadine jika Gibran calon tunangannya memiliki dosa besar di masa lalu. Nadine mengatakan jika dia akan membatalkan pertunangannya dengan Gibran. Dan kini Nadine berada di New York. Kurasa Nadine benar-benar ingin menjauh dari Gibran.
"Apakah Gibran menerima begitu saja keputusan Nadine?"
"Entah aku harus merasa iba atau apa. Apakah Tuhan benar-benar sedang menghukum Gibran. Beberapa waktu yang lalu Gibran mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ia kehilangan ingatannya. Ia tak mengingat apapun bahkan identitas dirinya sekalipun."
"Dia pantas mendapatkannya! Itu hukuman Tuhan yang setimpal untuknya!" seru Sean dengan raut wajah penuh amarah.
"Beberapa hari yang lalu Gibran mengalami perampokan dan kepalanya dihantam dengan benda keras. Aku takut jika ingatannya pulih. Aku takut dia mengambil Andromeda dariku."
"Tak semudah itu ia dapat merebut Andromeda darimu. Aku kakeknya, dan aku tak akan membiarkan siapapun mengambil Andro darimu. Kau ibu yang terbaik untuknya."
"Terima kasih, Paman," ucap Aurora dengan wajah haru.
"Meskipun kau mengaku hanya berteman dengan Keenan, namun aku dapat melihat jika ia masih menyimpan rasa cinta yang begitu besar untukmu," ucap Sean. Lagi-lagi ucapan Sean membuat Aurora tersipu.
"Berhentilah menggodaku, Paman," ucap Aurora.
"Sepertinya Keenan laki-laki yang baik dan dia juga dekat dengan Andromeda. Jadi apa salahnya jika kalian…" Sean terkekeh. Kali ini pipi Aurora merona.
"Apakah aku boleh menanyakan suatu hal lagi padamu?" tanya Sean.
Aurora menautkan alisnya.
"Apakah kau masih mencintai Keenan?" tanyanya. Tiba-tiba jantung Aurora berdegup kencang namun ia kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf, Paman, aku harus kembali ke kamar Andromeda. Kurasa aku telah terlalu lama meninggalkannya sendirian," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Sean.
Bersambung…
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕