ANDROMEDA

ANDROMEDA
Episode 3



TAK!


Mino langsung merintih kesakitan saat kepalanya terkena lemparan kaleng minuman yang dilempar seseorang.


"Oh sorry! Aku tidak sengaja!" teriak pria yang ternyata Bobby. Jinan membuka matanya dan bernafas lega.


" Siapa kau huh!?" tanya Mino


"Aku Bobby, anak kelas 3-3" jawabnya santai sambil berjalan mendekati Jinan.


"Yaissh! kau ini. Aku sudah hampir lumutan menunggumu di depan gerbang. Ternyata kau disini" ucap Bobby merangkul Jinan


"Depan gerbang apanya? Kita tidak punya janji apapun" jawab Jinan dengan tatapan datar.


" Woaaah apa kalian sedang mengabaikanku huh!! Kau, Bobby. Beraninya mencari masalah denganku!!" Mino langsung menghampiri Bobby dan melayangkan pukulannya tapi Bobby berhasil menepisnya, mereka berduapun berkelahi.


Seung Hoon dan Seung Yoon hanya bergerak ancang-ancang melangkah ke kanan dan kekiri mencari celah untuk melawan, setelah Mino sedikit kualahan.


"YAK! KENAPA KALIAN DIAM SAJA! BANTU AKU BODOH!" teriaknya. Barulah Seung Hoon dan Seung Yoon maju walau asal saja yang penting mengenai Bobby, tapi Bobby langsung menghindar dan langsung berkelahi dengan ketiganya.


Jinan mencari cara agar bisa membantu Bobby, Yurapun datang.


"Jinan, kau baik-baik saja kan?" tanya Yura.


"Yura Ssi, kau bisa bantu aku?" tanya Jinan


"Apa? Uh siapa pria berambut mie itu?" tanya Yura menunjuk Bobby yang sedang berkelahi dan sudah mulai kelelahan.


"Jinan Ssi!! Bantu aku eoh! Aku sud..." BAK!! "AARGH!!" Bobby terkena pukulan dan Bobby mulai oleng menjadi bahan keroyokan.


BAK!! BIK BUK! BAK BIK BUGH!


PRIIIIIIT...!!! Suara peluit membuat Mino and the geng berhenti memukuli Bobby.


"HEI! KALIAN! BERANI SEKALI BERBUAT ONAR DISEKOLAH HUH!" teriak satpam yang dipnggil Oleh Yura sambil berlari menghampiri


"SIAL!! AWAS KAU JINAN, BOBBY! URUSAN KITA MASIH BELUM SELESAI! YO PERGI!" Mino langsung pergi dengan kedua temannya sebelum satpam menangkapnya.


"Bobby Ssi, kau bail-baik saja? Ayo bangun" Jinan membantu Bobby berdiri. Wajahnya penuh lebam.


" Tidak apa-apa kau bilang? Lihat wajahku ini huh! Kau malah diam saja seperti orang bodoh!" kesal Bobby


"Maaf" hanya itu yang bisa Jinan ucapkan.


-Lab-


Joon Hyuk dan 3 pengusaha dari Jerman bernama Andrew, Antoni dan Alice yang tertarik pada robot buatannya dan memesannya untuk digunakan di perusahaan mereka. Mereka cukup lama berbincang hingga memenuhi kesepakatan.


"Baiklah, kami akan mentransfer bayarannya hingga lunas" ucap Tuan Andrew mewakili kke 2 rekannya juga.


"Iya Tuan. Terima kasih karena kalian sudah mempercai hasil karyaku dan semoga, kita bisa bekerja sama lagi kedepannya" ucap Joon Hyuk


"Iya tentu, terima kasih Prof. Lee" ucap Nyonya Alice. Merekapun bersalaman.


"Kalau begitu, kami pamit dan sampai bertemu lagi. Oia mampirlah ke Jerman. Aku akan mengajakmu berkeliling tempat disana" ucap Tuan Antoni


"Iya, akan aku usahakan" jawab Joon Hyuk.


"Daebak! Profesor Lee! Kau bisa menjual robot ciptaanmu hingga go internasional" ucap semangat asistennya bernama Kihyun



"Jangan berlebihan, ini masih permulaan. Kau juga sudah membantuku dengan baik. Kihyun Ssi" Joon Hyuk sambil menepuk bahu Kihyun


"Oia, kau boleh pulang sekarang. Aku juga harus menjemput Jinan disekolahnya" ucap Joon Hyuk sambil melepas jas labnya dan merapihkan berkas kesepakatan.


"Jinan sekolah? Apa aku tidak salah dengar? Dia kan...?" Kihyun menutup mulutnya


" Tutup mulutmu! Awas kalau kau tidak bisa menjaga rahasia" tegas Joon Hyuk sambil menatap tajam


"Maaf Prof. Aku hampir kelepasan" jawab Kihyun


-@@@-


Jinan masih menyandar di sisi gerbang sekolah. Sesekali dia menatap sekelilingnya dengan pandangan khususnya. Bobby dan Yura pulang lebih dulu.


"Dia datang" gumamnya sambil menegakan posisinya tak lama sebuah mobil muncul dari kejauhan berjalan ke arahnya.


Mobil lamborgini silver berhenti dihadapannya. "Maaf membuatmu menunggu lama" ucap Joon Hyuk sambil membuka jendela.


Jinan masuk ke dalam mobil, mengendurkan dasi melepas blazernya lalu menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Bagaimana hari pertamamu sekolah?" tanya Joon Hyuk


"Mengesankan, aku hampir menggunakan kekuatanku dan melukai teeman-temanku" tegas Jinan


"Memang, apa yang terjadi? Kau tidak melakukannya kan?"


"Pembulian, Kau tahu Hyung * membuka mata memiringkan posisi duduknya* Aku seperti orang bodoh saat temanku dipukuli anak-anak gila itu, Aku ingin sekali membantunya tapi... AARRGH!! Ini membuatku gila!" Jinan mengacak-acak rambutnya


"Kita bicara dirumah saja ya"


-@@@-


Sampai dirumah Jinan kekamarnya dan menghempaskan tubuhnya sejenak kemudian beranjak duduk sambil membuka seragamnya. Dia berdiri menghadap cermin, tatapannya nanar melihat kondisi yang sebenarnya.


"Jinan, kau sudah..." Joon Hyuk membuka pintu kamar mendapati Jinan yang sedang bercermin.


"Uh Hyung, masuklah" Jinan mengambil baju dan memakainya.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Joon Hyuk yang duduk di sofa


Jinan duduk disampingnya "Iya aku baik-baik saja tapi... Aku merasakan sesuatu yang aneh saat terkejut tubuhku lemas"


"Ikut denganku, aku akan coba melihat kondisimu"


Mereka beranjak pergi ke ruangan khusus. Jinan dudukbdi sebuah kursi dengan berbagai alat menempel ditubuhnya.


"Kau siap, Kim Jinhwan?" tanya Joon Hyuk


"Aku siap Hyung". Joon Hyuk menyentuh sesuatu membuat Jinan memejamkan matanya perlahan.