ANDROMEDA

ANDROMEDA
De javu



Di rumah Emily.


Gibran hendak mengajak sang adik agar keluar dari kamarnya untuk makan malam. Ia pun mengetuk pintu kamar Alicya.


"Alicya, ayo kita makan malam," ucapnya. Tak ada jawaban.


"Alicya, ibu sudah menunggu di meja makan. Masih tak ada jawaban.


"Apakah kau sudah tidur?" 


Gibran terus mengetuk pintu kamar tersebut namun Alicya tak kunjung membukan pintu. Gibran pun akhirnya mendorong memutar gagang pintu tersebut. Ternyata pintu kamar Alice tak dikunci.


Tampak Alicya tengah tertidur di atas ranjang. Selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Gibran mendekat ke arah Alice.


"Mengapa kau diam saja? Apakah kau masih marah pada Kakak?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah sang adik.


"Alice," ucapnya sambil menyentuh lembut punggung sang adik.


Namun tiba-tiba Gibran merasa ada yang janggal. Ia pun menyibak selimut tebal tersebut. Ia kaget bukan main saat mendapati isi selimut tebal tersebut bukanlah Alicya melainkan hanya beberapa bantal yang disusun hingga menyerupai tubuh Alice.


"Alice!" serunya.


Gibran memanggil Alice. Berpikir jika sang adik tengah berada di dalam kamar mandi. Ia pun melangkah mendekati pintu kamar mandi.


"Alice, kau di dalam?" tanyanya sambil mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban.


Gibran menajamkan pendengarannya. Namun tak terdengar sama sekali aktifitas di dalam ruangan tersebut.


Gibran pun akhirnya mendorong pintu. 


Alice benar-benar tak ada di kamar mandi.


"Kemana anak itu?" gumamnya.


Gibran melangkah kembali ke arah kamar. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada jendela yang tak tertutup rapat.


Ia lalu mendekat ke arah jendela tersebut.


"Astaga! Apa ini? Apakah Alice kabur?" gumamnya. Tiba-tiba ia merasa panik.


Gibran meninggalkan kamar Alice dan melangkah menuju meja makan. Tampak sang ibu sudah duduk di salah satu kursi.


"Mana Alicya?" tanya Emily.


"Alicya kabur dari rumah," jawabnya.


Emily tersentak.


"Apa maksudmu?"


"Alicya tak berada di kamarnya. Sepertinya anak itu kabur melalui jendela kamarnya."


Emily seketika panik.


"Kau harus mencarinya!" pekik sang ibu.


Gibran berlalu dari hadapan sang ibu kemudian berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


Gibran baru saja hendak melangkah keluar. Namun tiba-tiba terdengar deru mobil dari arah halaman depan rumahnya.


Tak berselang lama tampak seorang gadis dan seorang pria keluar dari mobil tersebut. Gibran mengenali wajah gadis itu. Ia adalah Alicya sang adik.


Alicya terlihat berjalan sambil menundukkan kepalanya.


"Alice! Darimana saja Kau!" seru Gibran dengan tatapan penuh amarah.


Alicya tak menjawab. Kepalanya masih menunduk.


Gibran lalu mengalihkan pandangannya pada pria yang berdiri di samping Alice.


"Dan, Kau! Apa Kau yang telah mengajak adikku kabur dari rumah?" tanyanya. Pria itu hanya tersenyum simpul.


Obrolan mereka terdengar dari ruang makan. Emily pun menjalankan kursi rodanya menuju arah depan.


"Kau bicara dengan siapa, Nak?" tanya Emily. Ia pun lalu melongok keluar.


"Astaga! Alice!" Dari mana Kau!" serunya dengan raut wajah penuh amarah.


Alicya tak menjawab. Ia tak berani menatap mata sang ibu.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada wajah seorang pria yang tak asing baginya.


"Keenan? Kau…?" tanyanya.


"Apakah Kau laki-laki itu?" tanya Emily.


"Bukan, Ibu!" seru Alice.


"Lantas, mengapa pria ini datang bersamamu?"


"Nyonya memiliki seorang putri yang baru beranjak dewasa. Nyonya harus lebih mengawasinya. Tadi aku kebetulan melintas di depan motel."


"Motel?" tanya Emily. 


"Tadi aku melihat putrimu masuk ke motel bersama seorang laki-laki."


Emily memandang Alicya dengan wajah penuh amarah.


Alice masih belum berani mengangkat wajahnya. Gadis belia itu pun lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kurasa pria itu bermaksud buruk pada putrimu. Aku mengikuti mereka hingga ke dalam kamar motel. Meskipun laki-laki itu menghalangiku, namun aku tetap memaksa masuk. Kami sempat berkelahi."


"Apa yang dia lakukan pada putriku?" Emily memekik.


"Aku mendapati putrimu tengah terbaring tak sadarkan diri di dalam kamar dengan kondisi setengah telanjang."


"Astaga! Alice? Apakah putriku…?" Emily tak melanjutkan kata-katanya. Kini raut wajahnya terlihat begitu panik.


"Aku datang di saat semuanya belum terlambat, Nyonya. Putrimu selamat dari laki-laki bejat itu."


Perasaan lega terpancar dari wajah Emily dan Gibran. Namun tiba-tiba Gibran memegang kepalanya. Lagi-lagi ia merasakan nyeri hebat di kepalanya.


Bayangan motel, gadis pingsan itu melintas namun berlalu begitu cepat dan tampak samar.


"Kau kenapa, Nak?" tanya Emily dengan wajah cemas.


"Aku merasa...entahlah. Ada bayangan tiba-tiba melintas di kepalaku. Namun tampak begitu samar.


"Tentu saja, Gibran. Kau baru saja mengingat kejadian di motel malam itu," ucap Keenan di dalam hatinya.


"Mungkin kau terlalu lelah. Masuk dan istirahatlah," ucap sang ibu.


Gibran kemudian masuk ke dalam rumah.


Emily memandang Keenan. Masih begitu jelas di ingatannya saat puluhan tahun silam ia mendatangi rumah seorang perempuan lalu memakinya dan mengeluarkan sumpah serapahnya kepada perempuan tersebut.


Keenan kecil yang belum mengerti apapun mengenai arti perempuan perusak rumah tangga itu hanya bisa menangis. Dan di saat Keenan telah menjadi seorang piatu, Emily justru membuangnya bagaikan sampah yang tak ada artinya.


Emily sama sekali tak menyangka jika anak yang pernah ia buang tersebut kini justru menjadi seorang penyelamat. Ia baru saja menyelamatkan masa depan putrinya, Alicya.


"Aku permisi, Nyonya," ucap Keenan. Ia membalikkan badannya dan hendak berlalu dari hadapan Emily.


"Tunggu!" seru Emily.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Keenan.


"Terima kasih, Kau telah menyelamatkan putriku," ucapnya dengan pandangan tulus. Bukan lagi pandangan dendam dan kebencian yang selama ini ia tujukan padanya.


Keenan menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Pria itu pun kemudian berlalu dari hadapan Emily.


Buliran bening tiba-tiba menetes dari sudut mata Emily.


"Maafkan aku, Zora. Aku pernah menyia-nyiakan anakmu," ucapnya parau.


******


Di counter handphone Fiona.


Fiona terlihat tengah duduk sambil menjaga counter ponsel miliknya.


Tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya.


"Lama tak berjumpa. Kau terlihat makin cantik, gadisku," ucapnya.


Fiona mengalihkan pandangannya dari ponsel dan memandang ke arah laki-laki tersebut.


"Kenapa dengan wajahmu, Dave?" tanyanya heran saat mendapati wajah Dave tampak lebam pada rahang dan pelipisnya.


"Aku baru saja jatuh dari motor," jawabnya.


Fiona mendekatkan wajahnya ke arah Dave. Tiba-tiba perempuan itu menutup hidungnya. 


"Astaga! Kau pasti mabuk lagi!" seru Fiona. Dave terkekeh.


"Kau belum juga mendapatkan penjaga counter ponsel ini?" tanyanya.


Fiona menggeleng.


"Sudah berapa penjaga counter yang kau pecat selama enam bulan ini?" tanya Dave.


"Itu bukan urusanmu!" ucapnya ketus.


"Kurasa aku bisa membantumu menjadi penjaga counter ini," ucap Dave.


"Kau serius?" tanya Fiona.


"Tentu saja. Aku bisa menjadi pegawaimu asalkan kau mau membayarku dengan gaji tinggi," ucapnya.


"Dari dulu kau selalu banyak maunya," gerutu Fiona sebal.


Bersambung...


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕