
Bab 28
Nadine tengah asyik membaca majalah. Tiba-tiba ponselnya berdering singkat. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
[From: Keenan
Meet me now in Pandora cafe.]
Nadine membalas pesan dari kawannya tersebut.
[To: Keenan
Wait me.]
Nadine beranjak dari sofa. Ia merapikan rambutnya dan sedikit memoles bibirnya dengan lipstik. Ia pun keluar dari kamarnya.
"Kau mau kemana?" Tanya sang nenek saat Nadine melintasi ruang makan.
"Aku akan menemui kawanku," jawabnya.
"Kau pergi sendiri?" Tanyanya lagi.
"Ya. Aku hanya pergi sebentar."
"Baiklah. Hati-hati menyetir mobilmu," ucap sang nenek kemudian.
Nadine lalu keluar dari rumahnya menuju cafe.
Di cafe, Keenan telah menunggunya. Di mejanya tampak dua gelas minuman.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Keenan setelah mempersilahkannya duduk.
"Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
"Ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" Tanya Nadine kemudian.
"Aku akan melakukan tes DNA antara Gibran dan Andromeda." Ucapan Keenan membuat Nadine hampir tersedak oleh minuman yang tengah diteguknya.
"Bagaimana mungkin kau melakukannya?" Tanyanya setengah tak percaya.
"Kau tak perlu tahu bagaimana caraku melakukannya. Aku hanya minta padamu. Jangan pernah mengatakan hal ini padanya."
"Sepertinya kau begitu yakin jika Andromeda adalah anak kandung Gibran."
"Bukankah kecurigaanku masuk akal?" Tanya Keenan.
"Gibran bahkan tak pernah mengakui apa yang dituduhkan Aurora padanya." Ucap Nadine.
"Aku begitu mengenal Aurora. Aku tahu betul sifatnya. Perempuan itu hampir tak bisa berbohong." Keenan coba meyakinkan Nadine.
Nadine terdiam dan tampak berpikir.
"Dengar ini." Keenan mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara. Nadine mengenal betul suara pria di rekaman tersebut.
"Baik lah! Aku mengaku sekarang. Delapan tahun lalu aku bertemu dengan Aurora di bar. Kami minum hingga mabuk. Aurora bahkan tak sadarkan diri. Aku menyentuhnya. Aku khilaf!"
Nadine seketika merasa tubuhnya lemas. Perempuan itu pun menangis.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu terluka. Namun kurasa Aurora dan anaknya butuh keadilan. Mereka butuh pengakuan. Kau tahu, Andromeda bahkan mengigau memanggil ayahnya. Bisa kau bayangkan, betapa anak itu merindukan sosok ayahnya?"
Air mata Nadine terus mengalir. Hatinya begitu hancur. Gibran, pria yang tak lama menjadi calon suaminya benar-benar telah membohonginya. Ia bahkan menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya.
Nadine menyeka air matanya. Perempuan itu lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Keenan. Ia memandang iba pada Nadine.
"Kau tenang saja. Aku bisa menahan diri. Aku tak mungkin melakukan tindakan bodoh," ucapnya. Nadine lalu pergi meninggalkan cafe.
"Maafkan aku, Nadine," ucapnya lirih.
*****
Nadine pulang ke rumahnya dengan raut wajah sedih.
"Kau kenapa?" Tanya sang nenek.
Nadine menggelengkan kepalanya.
"Bicara lah, kau pasti sedang tak baik-baik saja," bujuknya.
Nadine berlalu dari hadapan sang nenek. Ia pun lalu menuju kamarnya.
Nadine mengambil tas dari dalam lemarinya. Lalu memasukkan sebagian baju ke dalamnya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan baju-baju mu?" Ternyata sang nenek mengikuti Nadine hingga ke kamar cucunya.
"Aku merasa penat belakangan ini. Kurasa aku perlu menyegarkan pikiranku," ucapnya dengan mata sembab.
"Kau mau pergi kemana, Nadine?" Tanya sang nenek mulai khawatir.
"Kau tak perlu cemas. Aku baik-baik saja," ucapnya.
Nadine berlalu dari hadapan sang nenek.
"Apa yang harus aku katakan pada ayahmu?" Tanyanya.
"Katakan saja aku pergi berlibur," jawabnya.
Nadine keluar dari rumahnya. Tak lama berselang, sebuah mobil taksi berhenti di halaman rumahnya. Ia pun masuk ke dalam taksi tersebut.
"Kemana tujuan kita, nona?" Tanya supir taksi.
"Ke bandara," jawab Nadine.
*****
Gibran pun mendatangi rumah Nadine untuk memastikan calon tunangannya tersebut baik-baik saja.
Di teras rumah besar itu. Tampak seorang perempuan duduk di kursi. Ia terlihat tengah membaca koran pagi.
"Selamat pagi, nek," sapa Gibran.
Felice menutup korannya. Ia lalu menatap calon tunangan cucunya tersebut.
"Kau..." Ucapnya sedikit kaget.
"Beberapa hari ini aku tak bisa menghubungi ponsel Nadine. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Gibran.
Felice meneguk kopi dari cangkirnya yang telah mulai dingin.
"Apa kau telah membuatnya menangis?" Tanya Felice tiba-tiba.
"Apa maksudmu?"
"Kemarin saat cucuku pamit pergi ke cafe, dia masih terlihat baik-baik saja. Namun sepulangnya dari cafe, wajahnya terlihat sedih. Saat kutanya apa yang terjadi, ia mengatakan jika ia baik-baik saja. Aku terus mengikuti sampai ke kamarnya. Aku melihat cucuku memasukkan pakaiannya ke dalam tas."
"Nadine pergi?" Tanya Gibran.
"Aku tak tahu ia pergi kemana. Cucuku hanya mengatakan jika ia terlalu penat. Mungkin Nadine pergi berlibur," ucapnya.
"Berlibur tanpa memberi tahuku? Dia juga bahkan mematikan ponselnya."
Felice membuka kaca mata bacanya.
"Kalian ribut?" Tanyanya sambil memandang Gibran.
Gibran berpikir sejenak.
"Kurasa hubungan kami baik-baik saja. Bahkan beberapa hari yang lalu kami mendatangi butik untuk memesan baju pertunangan kami."
"Kau tidak mengajaknya bertemu di cafe dua hari yang lalu?" Tanya Felice.
"Sudah hampir seminggu aku tidak menemuinya," jawab Gibran.
"Kurasa salah satu kawan cucuku yang telah membuat hatinya begitu kacau sore itu," ucap Felice.
Gibran menerka-nerka dalam hatinya. Siapa yang menemui Nadine sore itu. Tiba-tiba nama Keenan melintas di kepalanya. Selama ini adik tirinya tersebut sudah terlalu sering ikut campur dalam masalahnya.
"Kurasa aku tahu siapa orangnya," ucap Gibran. Setelah berpamitan pada nenek Nadine, pria itu pun lalu meninggalkan rumah tersebut.
Gibran menuju sebuah apartemen. Dengan raut wajah penuh amarah, pria tersebut mengetuk pintu sebuah kamar.
"Kau,..." ucap Keenan kaget saat membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba kakak tirinya sudah berdiri di depan kamar.
"Kau menemui Nadine sore itu?" Tanyanya dengan nada agak tinggi.
Keenan membuang napas. Pria itu lalu keluar dari pintu kamarnya.
"Aku tak tahu harus dari bagian mana mengatakannya padamu. Aku hanya mengatakan kebenaran pada Nadine."
"Omong kosong. Kebenaran macam apa yang membuat seorang perempuan pergi meninggalkan kekasihnya. Bahkan ia mematikan ponselnya!" Seru Gibran.
"Tak selamanya kebohongan selalu lebih baik. Kau mungkin ingin menjaga perasaan Nadine. Namun secara tak sadar kau justru menyakitinya."
"Apa yang kau katakan padanya?" Emosi Gibran mulai terpancing.
"Aku hanya memutar rekaman suaramu dari ponselku," ucap Keenan tenang.
"Rekaman apa yang kau maksud?"
"Sebuah pengakuan dari dosa masa lalumu."
Gibran tersentak. Ingin sekali saat itu ia memukul wajah adik tirinya itu. Namun pria itu berhasil menguasai diri.
"Pukul! Ayo pukul! Anggap saja pukulan itu sebagai balasan dari pukulan ku beberapa waktu lalu." Keenan mendekatkan wajahnya.
Gibran menghela napas. Dan melepaskan kepalan tangannya.
"Kau tahu, kemarin malam Andro sakit. Anak itu bahkan mengigau terus menyebut kata ayah. Andai saja kau melihatnya malam itu," ucap Keenan.
"Kurasa dia benar-benar merindukanmu, ayah kandungnya."
"Diam! Kau jangan sembarangan bicara!"
Bentak Gibran.
"Aku telah memegang kartu As mu, tuan Gibran William Alvaro," ucap Keenan.
Gibran menautkan alisnya.
"Apa maksudmu?" Tanyanya heran.
Bersambung….
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕