
Jinhwan sudah rapih dengan seragam sekolahnya sambil bercermin merapihkan rambutnya. Hanbin menatap Jinan dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.
“Jinan, Kau kelas berapa?”
“ Tiga, kenapa?” jawabnya setelah selesai dia mengambil tas dan blazernya. “Ayo turun, kita sarapan?”
Jinan dan Hanbin menuruni tangga menuju dapur.
“Selamat Pagi Hyung” sapa Hanbin
“Oh, kau menginap Kim Hanbin?” tanya Joon Hyuk sambil menata makanan di meja.
“Iya. Oia Hyung, aku bantu ya” Hanbin bergegas mengambil beberapa makanan di dapur yang sudah siap lalu di tata di meja.
Merekapun mulai makan dengan khidmat tanpa ada sepatah katapun terucap di mulut ketiganya hingga selesai.
“Biar aku yang bereskan mejanya dan mencuci piring” Hanbin sambil mengambil beberapa mangkuk dan piring.
“Tidak usah, lebih baik kau duduk manis saja. Kau kan tamu jadi jangan melakukan apapun” Joon Hyuk sambil mengambil piring dn mangkuk yang dipegang BI
Jinan hanya mengamati mereka sambil meneguk sesuatu yang khusus dibuat Hyungnya. “Hyung, aku berangkat” pamitnya sambil melihat jam tangannya.
“Eh, tunggu. Oppa membersihkan tangan dulu” Setelah Joon Hyuk selesai. Kemudian keluar, BI pun ikut dan masuk ke dalam mobil.
-@@@-
Diperjalanan Hanbin memgutrakan niatnya untuk pamit dan pergi ke suatu tempat.
“Kau yakin, tidak ingin tinggal lebih lama lagi dirumahku?” tanya Jinan pada Hanbin
“Iya, kebetulan aku punya apartement yang tidak diketahui ayahku. Aku rasa tempat itu aman” jawabnya
“Loh, memang kenapa dengan ayahmu, sampai tidak boleh tahu. Kau kabur dari rumah?” Joon Hyuk angkat bicara
“ Sebenarnya aku...”
“Hyung, aku berhenti disini saja” Jinan mengalihkan pembicaraan sambil melirik Hanbin dari kaca dasbord.
“Eh, kenapa disini? Sekolahmu masih jauh dari sini” ucap Joon Hyuk yang tak di gubris oleh Jinan.
“Ayo kita turun BI” Jinan membuka pintu dan keluar dari mobil begitu jiga dengan Hanbin.
“Terima kasih Hyung” ucap BI sambil mengukir senyum dan membungkuk lalu menyusul Jinan. Sedangkan Jinan pergi begitu saja.
“Ada apa dengan Jinan, apa dia marah karena pembicaraan semalam?” gumam Joon Hyuk
-@@@-
Jinan terus melangkah menuju ke sekolahnya, Hanbin mengikuti di belakang, ada beberapa pertanyaan dibenaknya yang membuatnya penasaran sejak semalam. Kedyanya hanya diam, sesekali Jinan menendang kerikil seperti bola.
“Jinan Ssi, sampai kapan kau akan jalan? Bukankah sekolahmu masih jauh, nanti kau bisa terlambat” ucap Hanbin
“Tenang saja, aku membolospun tidak kan ketinggalan pelajaran” jawabnya sambil terus berjalan
Jinan berhenti lalu berbalik menatapnya datar “Aku juga ingin bertanya sesuatu padamu”
“O, kalau begitu... Kau saja duluan”.
Jinan melihat ke sekelilingnya mencari seesuatu, kemudian tangannya menunjukbke satu arah “Kita duduk disana” ucapnya lalu berjalan ke tempat tersebut diikuti Hanbin.
Mereka duduk di kebun dekat situ, Jinan menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Begitu juga cdengan Hanbin.
“Apa kau seorang pengusaha atau... Seorang mahasiswa?” tanya Jinan
“Aku seorang pelajar SMA, tapi... Aku putus sekolah saat perusahaan ayahku bangkrut dan aku memutuskan untuk bekerja menjadi pelayan di sebuah cafe” jawab Hanbin dengan wajah muram
Jinan menatap lamat Hanbin “Lalu, kenapa Ayahmu ingin menjualmu? Tega sekali dia menjual anaknya sendiri” kesal Jinan
“Karena uang! Setelah Ayahku bangkrut, dia mulai menggeluti bisnis kotor. Mulai dari menjual obat-obatan terlarang, menjual gadis-gadis untuk dijadikan wanita malam dan juga... Mencari mangsa anak laki-laki usia 17-25 tahun untuk dijual ke...”
“Lalu, kenapa Ayahmu tega menjualmu?” Jinan memotong ucapan Hanbin
“Waktu itu, aku mendengar percakapan ayah, kalau dia tidak dapat mangsa. Setelah itu, Ayah memintaku untuk minum jus buatannya, aku tidak berfikiran negatif saat itu. Entah apa yang terjadi, saat aku bangun. Aku sudah berada di sebuah bangunan dalam keadaan terikat”
“Lalu, kemana ibumu?”
Hanbin terdiam matanya mulai berkaca-kaca tapi dia mencoba untuk menahannya lalu mengambil nafas dalam-dalam “Ibuku meninggal 2 tahun lalu karena sakit keras. Karena memikirkan ayahku”
Jinan terenyuh mendengarnya “Maaf, aku turut berduka cita”
“Lalu kenapa kau tidak melaporkan Ayahmu dan anak buahnya ke polisi huh!? Padahal kau tahu kalau sudah banyak korban atas kejahatan ayahmu!” kali ini Jinan sedikit keras namun tetap menhan emosinya, Tatapan tajam dilemparkan pada Hanbin.
Hanbin terdiam sambil menunduk. “Kenapa hmmm? Apa karena dia ayahmu jadi kau berusaha untuk melindunginya iya!? Kau tahu, sudah banyak orang yang menjadi korbannya bahkan...” Jinan menghentikan kalimatnya, tangannya mengepal erat “AAAARRGHHH!! DAMN!” teriaknya meluapkan amarahnya sambil memukul batang pohon hingga tangannya berdarah.
“YAK! APA YANG KAU LAKUKAN!” Hanbin terkejut namun langsung bungkam saat Jinan menatapnya tajam.
“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” tanya Jinan sambil memejamkan matanya mengatur emosinya.
Hanbin menatap intens Jinan “Sebenarnya, kau itu pelajar SMA atau seorang Magister?”. Jinan tak bergeming.
“Kau adalah Magister lulusan terbaik di Universitas Hardvard dan kau juga ahli di bidang Science. Tapi, kenapa kau menjadi seorang pelajar SMA? Aku bingung”
Jinan tersenyum miring “Ck! Berani sekali kau melihat koleksiku. Seperti yang kau lihat, aku adalah seorang siswa SMA bukan orang seperti yang kau katakan. Jadi, kau tidak perlu bingung” jawabnya kemudian beranjak berdiri.
Hanbin ikut berdiri “Kau mau kemana?”
“Aku ingin kesekolah. Oia, kau bilang ingin ke apartement kan? Pergilah dan jangan ikuti aku” pesan Jinan. “Oia satu lagi, lupakan semua yang kau lihat di rumahku dan juga kamarku” tambahnya lagi lalu pergi.
“Jinan Ssi”
Langkah Jinan terhenti “Apa?” tanyanya sambil menoleh
“Kalau kau membutuhkan bantuanku untuk menyelidiki ayahku dan rekannya. Aku siap membantumu. Aku sudah memasukan nomorku dinponselmu. Anggap saja sebagai balas budi karena kau dan temanmu sudah menolongku. Terima kasih” Hanbin tersenyum sambil membungkuk kemudian pergi.
“Ck! Apa yang baru saja dia katakan? *melihat ponselnya* Hahaha... Berani sekali dia mengorek ponselku. Dasar bocah” gumamnya