ANDROMEDA

ANDROMEDA
Nyaris



Alicya melangkah ke arah jendela kamarnya. Gadis itu pun nekat keluar untuk menemui kawan laki-lakinya meskipun tanpa seizin kakak dan ibunya.


Di jalan tak jauh dari rumahnya, tampak Dave telah menunggu Alicye di atas sepeda motornya.


"Kau cantik sekali malam ini," ucapnya sambil memandang ke arah Alice yang berpenampilan berbeda dari hari biasanya. Alice tersipu dan menundukkan kepalanya.


Tak berselang lama keduanya pun bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Sesampainya di cafe. Dave memesan dua menu makan malam beserta minuman bagi dirinya dan Alice.


"Ini minuman apa, Dave?" tanya Alice polos saat memandang segelas minuman yang baru saja diantar pramusaji di atas meja.


"Itu hanya minuman biasa," jawabnya.


Alice mengangkat gelas tersebut. Tiba-tiba aroma aneh menyeruak ke hidungnya. Alice sontak menjauhkan gelas tersebut dari hidungnya dan meletakkan kembali minumannya di atas meja.


Dave mengambil gelasnya kemudian meneguknya.


"Kau lihat, aku baik-baik saja setelah meminumnya," ucap Dave.


"Aku belum pernah minum minuman beraroma menyengat ini," ucap Alice.


"Minumlah, kau akan menyukainya." 


Dave terus merayu gadis yang masih duduk di bangku kelas satu SMA itu hingga akhirnya ia pun menuruti kemauan Dave. 


Beberapa saat kemudian Alicya merasakan kepalanya pusing.


"Dave, kepalaku pusing sekali. Apakah kau bisa mengantarku pulang?" tanya Alice sambil terus memegang kepalanya.


"Ya, ayo kita pulang sekarang," ucapnya.


Dave menggandeng tangan Alice. Tubuhnya mulai sempoyongan. Begitu juga dirinya.


Alice lalu membonceng sepeda motor Dave. Laki-laki yang baru ia kenal selama beberapa bulan dari sosial media. Dave, duda berumur 35 tahun yang pintar merayu itu terlihat senang. Tak lama lagi keinginannya untuk menikmati tubuh seorang gadis akan terwujud.


"Berpegangan yang kuat," ucap Dave sambil menyentuh lembut tangan Alice kemudian melingkarkannya di pinggang.


Tiba-tiba Dave menghentikan laju sepeda motornya di depan sebuah motel. 


"Mengapa kita berhenti? tanya Alice dengan pandangan yang mulai kabur.


"Sepeda motorku mogok. Aku akan menghubungi montir," ucapnya.


Dave menjauh beberapa langkah dari Alice dan berpura-pura tengah menelepon seseorang. Sementara Alice merasa matanya makin berat.


Ia lalu duduk di bangku yang berada di depan motel tersebut.


Di saat itu sebuah mobil melintas. Dari dalam mobilnya ia bisa melihat dengan jelas jika gadis yang duduk di depan sebuah motel adalah Alicya.


"Alicya? Sedang apa gadis itu di tempat ini?" gumamnya.


Dave mendekat ke arah Alice.


"Montir sedang sibuk. Kita harus menunggunya lebih lama lagi,"ucap Dave.


Alicya tak menjawab. Ia tak dapat lagi menahan rasa kantuknya yang sedari tadi menyerangnya. Dave dengan sigap menahan tubuh Alice agar tak ambruk.


Laki-laki itu pun kembali tersenyum.


Dave memapah Alice yang sudah tak sadarkan diri tersebut masuk ke dalam motel. Ia pun lalu memesan sebuah kamar.


Keduanya tak menyadari jika sedari tadi sepasang mata mengawasi mereka dari dalam mobil. 


"Siapa laki-laki itu? Mengapa Alice dibawa masuk ke dalam motel?" gumamnya.


Sementara itu Dave dan Alicya telah berada di sebuah kamar. Laki-laki itu memandang Alice yang tengah tak sadarkan diri. Tiba-tiba hasratnya muncul.


Alice, gadis berusia lima belas tahun itu sama sekali tak menyadari jika dirinya tengah dalam bahaya. 


Seorang laki-laki dewasa yang tengah dikuasai na**u itu perlahan menggerayangi tubuh Alicya. Semakin liar hingga suatu ketika sebuah ketukan pintu membuatnya tersentak kaget. 


"Pelayanan kamar," ucap seseorang dari luar kamar.


Dave yang telah bertelanjang dada itu beranjak dari ranjang dengan rasa kesal.


Ia lalu berjalan ke arah pintu depan.


Ia sedikit kaget. Pria yang berdiri di hadapannya bukanlah karyawan motel. Melainkan seorang pria asing yang mengenakan setelan jas dan belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Anda siapa?" tanya Dave dengan wajah gugup.


"Siapa Alicya? Aku hanya seorang diri di kamar ini," jawabnya. 


Dave merentangkan salah satu tangannya pada pintu.


"Silahkan Anda pergi!" seru Dave dengan wajah tegang.


"Biarkan aku masuk." 


"Anda tak memiliki hak untuk masuk ke kamar ini!"


Pria itu terus memaksa hingga akhirnya Dave mendorongnya dengan kasar. Pria berjas itu belum menyerah. Ia tetap memaksa masuk meskipun Dave terus berusaha mencegahnya.


Tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di pelipis Dave.


"Kurang ajar!" serunya.


Dave hendak membalas pukulan tersebut namun pria itu lebih kuat. Ia justru memelintir tangan Dave.


Dave mengaduh kesakitan. Di saat itulah pria tersebut menerobos masuk ke dalam kamar. Ia membuka pintu kamar tersebut. Matanya terbelalak saat mendapati Alicya terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Dave hampir membuat gadis itu telanjang.


Pria itu kembali mendekati Dave. Kali ini ia melayangkan pukulan ke arah perutnya. Pukulan yang cukup keras itu pun membuatnya merasa mual.


"Kurang ajar! Kau apakan gadis ini!" seru pria itu.


"Aku...aku tak melakukan apapun padanya!"


Pria itu terus memberinya pukulan ke arah perut Dave.


"Keluar dari tempat ini!" serunya dengan wajah dipenuhi amarah.


Dave yang tak berdaya itu pun memilih pergi dari tempat tersebut.


"Laki-laki bre**sek!" seru pria itu.


Pria itu mendekati Alicya. Ia melepas jas yang dikenakannya untuk menutupi tubuh Alicya.


"Alicya, sadarlah." Pria itu menepuk pelan wajah Alicya. Namun gadis itu tak bergeming. Ia pun lalu mengguncang tubuhnya. Setelah beberapa saat gadis itu pun membuka matanya.


"Kak Keenan! Mengapa Kakak ada di kamar ini!" seru Alice dengan raut wajah ketakutan.


Alicya tersentak menyadari dirinya dalam keadaan hampir telanjang.


"Kau sudah aman sekarang. Laki-laki breng*** itu sudah pergi dari tempat ini," ucap pria itu.


"Dave? Apakah laki-laki itu yang melakukannya padaku? tanya Alicya dengan suara bergetar.


Keenan menganggukkan kepalanya.


"Aku menyesal tak menurut pada ibu dan kakakku,"ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat," ucap Keenan.


Tiba-tiba Alicya menghambur ke pelukan Keenan. Air matanya pun tumpah.


"Terima kasih, Kak. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Kakak sedikit saja terlambat datang ke tempat ini," ucapnya terisak.


Keenan termenung. Tiba-tiba bayangan Aurora melintas. Apa yang dialami Alicya begitu mirip dengan apa yang telah terjadi padanya delapan tahun silam.


Saat itu Gibran, kakak kandung Alicya membawa Aurora masuk ke sebuah kamar motel saat ia tak sadarkan diri. Dan malam itulah yang mengubah total kehidupan seorang Aurora meskipun Gibran tak pernah mau mengakui perbuatannya. Gibran terus bersikap seolah tak mengenal Aurora. Hingga akhirnya Tuhan benar-benar membuat Gibran lupa segalanya.


"Kita harus segera pergi dari tempat ini," ucap Keenan.


Keduanya pun bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Alicya begitu bersyukur. Keenan baru saja menyelamatkan masa depannya.


Bersambung...


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕