ANDROMEDA

ANDROMEDA
Koma



Di depan ruang ICU.


"Apa keluargamu ada yang sakit?" Tanya Aurora pada Emily.


"Anakku yang berada di ruangan ini," jawab Emily. 


"Gibran?" Tanya Aurora.


"Ya. Dia anak laki-lakiku satu-satunya," jawabnya.


"Astaga!" Seru Aurora. Ia sama sekali tak menyangka jika perempuan yang pernah menjatuhkan dompetnya di supermarket  beberapa waktu lalu adalah ibu kandung Gibran. Yang tak lain adalah nenek Andro. 


"Mengapa kau terkejut? Kau mengenal anakku?" Tanyanya. Aurora mengangguk pelan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Emily.


"Entahlah. Aku hanya melihat saat anakmu dibawa masuk menuju mobil ambulance," jawabnya.


"Terima kasih, kalian telah menunggunya," ucap Emily.


"Aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan," ucap Aurora.


"Aku tahu sekarang, dari mana sifat baik anakmu," ucapnya sambil memandang ke arah Andro.


"Hai, anak tampan, bagaimana kabarmu?" Tanya Emily.


"Aku baik-baik saja, nyonya," jawabnya.


*****


Keenan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Meskipun hubungannya dengan Gibran tak begitu baik. Namun pria itu masih memiliki sedikit rasa iba untuknya.


Tiba-tiba pandangannya tertuju ke sisi jalan tak jauh dari toko kue milik Aurora.


Disana tampak sebuah mobil dan truk yang rusak parah.


"Ya Tuhan, parah sekali mobil itu. Semoga pengemudinya selamat," gumamnya. Keenan bahkan hampir tak mengenali mobil kakak tirinya yang kini ringsek.


Sesampainya di rumah sakit Keenan langsung menuju ruang ICU. Empat orang nampak tengah duduk di bangku tunggu.


"Aurora... Andro… lalu siapa perempuan berkursi roda itu?" Gumamnya.


Keenan melangkah menuju ruangan tersebut.


"Mister tampan!" Seru Andro.


Perempuan berkursi roda itu sontak mengarahkan pandangannya ke arah pria yang baru saja datang tersebut.


Netra Keenan dan Emily bertemu.


"Kau…?" Tanya Emily.


Emily menatap wajah Keenan. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Perempuan itu sama sekali tak menyangka. Akan bertemu kembali dengan anak yang dulu pernah ia buang dari keluarganya.


Setiap melihat wajahnya, hanya akan terasa dendam dan sakit hati. Suaminya Nicholas diam-diam menikah lagi di belakangnya. Dan Keenan, adalah hasil dari buah cinta Nicholas dan istri mudanya.


"Kau? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Tanyanya sinis.


Keenan memandang perempuan yang kini tak bisa berjalan tersebut. Masih jelas di ingatannya saat ia masih berumur tujuh tahun. Saat itu Emily mendatangi rumahnya. Ia menghina ibunya dengan kata kasar dan kotor.


"Aku hanya ingin menjenguk Gibran," jawabnya.


"Pergilah. Kurasa Gibran tak membutuhkannnya," ucap Emily sambil memalingkan wajahnya.


Keenan pun membalikkan badannya. Ia kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Aurora bergegas mengikuti Gibran hingga di parkiran mobil. Saat Keenan hendak membuka pintu mobil, perempuan itu menahannya.


"Tunggu! Kau mau kemana?" Tanya Aurora.


"Perempuan itu merusak moodku!" Umpatnya.


"Apa kau mengenalnya?" Tanya Aurora.


Keenan berjalan menuju sebuah bangku kemudian mendudukinya.


"Dia Nyonya Emily, perempuan yang telah membuangku," jawabnya.


"Aku juga baru tahu jika perempuan itu ternyata ibu kandungnya Gibran," ucap Aurora.


"Aku harus pergi sekarang." Keenan lalu membuka pintu mobilnya. Tak lama kemudian pria itu meninggalkan rumah sakit.


Aurora memandang mobil Keenan yang semakin menjauh darinya. Ia pun melangkah kembali menuju ruang ICU.


"Kau mengenal pria itu?" Tanya Emily.


"Dia…dia...kawanku," jawabnya. Aurora hendak mengatakan jika Keenan adalah mantan kekasihnya. Namun tampaknya Emily tak perlu tahu.


"Aku membencinya!" Serunya.


"Keenan tadi sudah sedikit bercerita padaku," ucap Aurora.


"Sampai kapanpun anak itu adalah anak h**a*!" Serunya lagi dengan wajah penuh kebencian.


"Kurasa Keenan sama sekali tak bersalah," ucap Aurora.


"Apa maksudmu?" Tanya Emily.


"Tak ada seorang anak pun di dunia ini yang bisa memilih seperti apa ibu atau orang tua mereka," ucap Aurora.


Emily terdiam. Ia tak punya kata-kata lagi.


Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana kondisi anak saya, dokter," Tanya Emily dengan wajah panik.


"Pasien mengalami koma," jawabnya.


Emily merasa hancur. Perempuan itu pun menangis. Aurora mencoba menenangkan Emily.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ucap Aurora.


"Apakah disini ada keluarga korban tabrakan dan supir truk?" Tanya dokter.


"Sopir truk tidak bisa kami selamatkan. Sedangkan pejalan kaki itu, mengalami luka yang cukup parah di bagian kepalanya," jawabnya. 


Tak lama berselang, seorang perempuan datang. Ia berpenampilan cukup modis.


"Bagaimana kondisi korban yang tertabrak mobil, dokter?" Tanyanya.


"Mari ikut saya," ucapnya.


Keduanya pun lalu memasuki ruang perawatan.


"Pasien belum sadar," ucapnya kemudian.


"Apa yang terjadi, dokter?" Tanyanya.


"Ia mengalami luka parah di bagian kepalanya," jawab dokter.


Perempuan itu lalu memandang pasien yang masih tak bergerak. 


"Helena, bangunlah," ucapnya parau.


******


"Kalian bisa pulang sekarang. Biar aku dan sopirku yang menjaga Gibran," ucap Emily.


Aurora lalu memandang Andro. Anak itu tengah berdiri di dekat jendela kaca. Matanya tak berhenti menatap Gibran yang terbaring lemah di ruang ICU.  


"Kita pulang, sayang," ajak Aurora. 


"Aku ingin menjaga Mister handsome," ucapnya.


"Kita kembali lagi besok. Sekarang mommy harus membuka kios," ucap sang ibu.


Andro sekali lagi menatap Gibran melalui jendela kaca. "Cepatlah bangun, mister handsome," gumamnya.


Keduanya pun lalu berpamitan pada Emily. Aurora baru dua langkah berjalan ketika Emily tiba-tiba memanggilnya.


"Aurora," ucapnya. Aurora pun membalikkan badannya.


"Ya, nyonya," ucapnya.


"Terima kasih," ucapnya kemudian. Aurora tersenyum.


Aurora menggandeng tangan Andro. Ia bisa merasakan jika sang anak masih enggan meninggalkan rumah sakit. Langkahnya terasa berat.


"Are you OK, dear?" Tanya sang ibu.


Andro mengangguk.


Sepanjang hari itu Andro tak bersemangat. Hingga saat ia belajar di taman bersama kawan-kawannya pun bocah itu tampak sering termenung.


"Aku melihat kau tak bersemangat sore ini," ucap Florencia.


"Kawan baikku baru saja mengalami kecelakaan. Ia bahkan belum sadarkan diri, ucap Andro.


"Tampaknya kau begitu mencemaskan nya. Apa dia begitu berarti bagimu?" Tanya Florencia.


Andro menganggukkan kepalanya.


*****


Di rumah Emily.


Alicya baru saja pulang dari sekolah. Ua pun lalu memasuki rumahnya.


"Ibu… ibu," panggilnya. Alicya tak menemukan sang ibu di ruang tamu. Gadis itu pun lalu membuka pintu kamar sang ibu namun kamar sang ibu tampak kosong.


"Nyonya Emily ke rumah sakit, non Alice," ucap asisten rumah tangga yang baru keluar dari dapur. Alice tersentak kaget.


"Ibu sakit?" Tanyanya.


"Bukan ibu yang sakit. Tetapi…" Perempuan itu tak melanjutkan kata-katanya.


"Siapa yang sakit, bi?" Tanya Alice setengah mendesak.


"Tuan…tuan Gibran, non," jawabnya.


"Kak Gibran? Kenapa dengannya?" Tanya Alice lagi.


"Tuan Gibran…tuan Gibran tadi pagi mengalami kecelakaan," jawabnya.


Alice terduduk lemas di sofa. Tak terasa air matanya mengalir.


Dering ponsel sedikit mengagetkannya. Seseorang menelepon. Alice menatap layar ponselnya. 


"Dave," gumamnya.


Alice menjawab panggilan tersebut.


~Alice: Halo, Dave.


~Dave: Alice, apa kau menangis?


~Alice: Kakakku mengalami kecelakaan tadi pagi.


~Astaga! Lalu bagaimana keadaannya sekarang?


Bersambung….


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕