ANDROMEDA

ANDROMEDA
Episode 8



Hari ini Joon Hyuk tidak menjemput Jinan karena ada pertemuan para profesor. Jinan sedang bersama Bobby dan Yura di atap. Suasana sekolah sudah sepi hanya ada beberapa siswa yang sedang eskul.


Hari ini juga, Mino and the geng tidak mengganggu Jinan. Mereka ketakutan, mengingat kejadian di gudang beberapa hari yang lalu.


“Kita pulang yuk, aku jenuh” keluh Jinan


“Ayo pulang, hari juga sudah semakin sore” Yura


Mereka bertigapun pulang hingga di depan gerbang, jemputan Yura datang. Seorang pria keluar dari mobil, muda dan tampan. Jinan dan Bobby menatap penuh penasaran.


“Oppa” panggil Yura. Pria itu berjalan mendekati Yura.


“Siapa pria itu? Pacarmu?” tanya Jinan


Yura tersenyum “Hmmm nanti aku kenalkan ya”


“Maaf Oppa terlambat, tadi ada pertemuan di Museum, setelah selesai Oppa berbincang-bincang dulu dengan teman Oppa.


“Hmm tidak apa-apa, beruntung ada mereka berdua yang menemaniku. Oppa, perkenalkan mereka temanku”


“Annyeong, Aku Kim Jinhwan”


“Aku Kim Jiwon panggil saja Bobby”


“Aku Song Yunhyeong, Kakaknya Yura” Mereka saling berjabat tangan. Kemudian Yoyo membukakan pintu mobil untuk adiknya setelah itu Yoyopun masuk kedalam.


(“A, jadi pria ini kakaknya” batin salah satu dari mereka)


“Bobby, Jinan. Kalian ikut saja dengan kami. Iya kan Oppa?”


“Iya, aku akan mengantar kalian dengan selamat”


“Bol...hmmmp” Jinan menutup mulut Bobby


“Tidak, terima kasih. Kami akan pulang sendiri saja”


“Hmm ya sudah, kalau begitu kami duluan ya” Mobil Yurapun mulai melaju.


“Aisssh! Kau ini kenapa sih!? Menolak ajakan mereka. Kan gratis” kesal Bobby


“Temani aku pulang naik bus” Jinan langsung pergi tanpa mendengar persetujuan Bobby.


-Bus-


Jinan dan Bobby duduk di barisan paling nyaman yaitu di belakang. Keduanya hanya diam. Bobby memejamkan matanya sedangkan Jinan menatap keluar jendela. Saat melewati sebuah jalan, mata Jinan menangkap sekumpulan orang. Seketika matanya membulat, kebetulan bus melaju dengan lambat.


“Me... Mereka!?” Jinan menekan tombol tanda untuk berhenti.


Bobby terkejut dan membuka matanya. Buspun berhenti “Kenapa... Kau sud...” belum sampai menuntaskan ucapannya.


Jinan langsung pergi dengan terburu-buru “Aku harus mengejar mereka!”


“Hei, tunggu aku!” Bobby ikut turun dan mengejar Jinan yang lari lebih dulu.


Hingga sampai di sebuah bangunan proyek yang belum jadi. Jinan berhenti, dia bersembunyi di salah satu tumpukan batako. Bobby melihat arah yang dituju Jinan, dilihatnya beberapa pria berjas dan bejaket hitam masul ke dalam gedung dengan membawa koper ditangannya.


“ Si...siapa mereka? Sepertinya ada yang tidak berea dengan mereka. Mencurigakan” Bobby


“Black Death” jawab Jinan sambil terus fokus dan kembali berjalan mendekati gedung itu.


“Eh? Black Death!? Kau mengenal mereka?” tanya Bobby sedikit terkejut dengan jawaban Jinan


“Iya, aku mengenalnya. Mereka yang membuat..., Ah lupakan ayo kita ikuti mereka”


Jinan mulai menaiki tangga dengan hati-hati dan waspada. Bobby mengikuti di belakang hingga di lantai 4. Langkah Jinan berhenti mendadak


DUGH! Bobby menabrak punggung Jinan hingga muncul bintang-bintang dan hampir tesungkur tapi Jinan langsung menangkap bahunya. “Kau tidak apa-apa?” bisik Jinan


“Hmmm Ne... Gwaenchanuaaaaaa” jawabnya agak ngawur sambil memukul2 pelan kepalanya agar tersadar. “Kenapa kau berhenti mendadak!? Kepalaku sakit” Kesal Bobby


“Maaf” jawab Jinan matanya kembali fokus pada sekumpulan pria beras dan berjaket hitam. Tidak hanya itu, matanya menangkap seorang pria muda yang di ikat di tugu. Dia mencoba untuk melepaskan diri tapi zonk! “Siapa pria itu?” gumam Jinan


“Mana? Uh pria itu sepertinya dijadikan sandera” Bobby


“Bukan sandera tapi korban” jawab Jinan


-@@@-


Sekumpulan pria berjumlah 9 orang itu sedang mengadakan transaksi.


“Bagaimana, Kau bawa uangnya sesuai harga yang ku inginkan kan?” tanya pria cukup muda dan bewok


“Iya, lalu mana anak yang kau janjikan?” tanya Pria yang cukup muda dan berkecamata


“Dia”


Priia berkacamata itu mendekati pria muda yang di ikat tersebut “Woaahh dia benar-benar tampan dan juga sangat sehat. Berapa usiamu?”


“Hmmm berani juga kau ya”. BUGH! BUGH! 2 pukulan berhasil membuat wajah pria muda itu memar dan mengeluarkan darah karena terkena sayatan cincin pria tersebut.


Pria itu meringis namun bukan karena sakit tapi karena tersenyum, lalu terkekeh “Hanya segitu saja tenagamu huh!?”


“Dasar BRENGSEK!!!” Tuan itu ingin melayangkan pukulannya lagi tapi pria bewok menangkis tangannya. “Apa yang kau lakukan huh!?”


“Kalau dia terluka harga jualnya akan turun drastis” jawabnya


Pria berkacamata itu tersenyum sinis “Aku tidak butuh fisik ataupun tampangnya. Tapi, baiklah aku tidak akan melukai bocah ini”


“Kalau begitu berikan uangnya, setelah itu kau bisa bawa dia” pinta pria bewok


Pria berkacamata memberi isyarat pada anak buahnya untuk memberikan koper berisi uang tersebut. Tuan bewok membuka kopernya untuk memastikan keaslian uang tersebut pada anak buahnya.


“2 milyar kan?” tanya pria bewok


“Iya, bahkan aku memberi bonus 500 juta” jawab partnernya.


-@@@-


“Mwo!? Du...du...dua milyar!!” Bobby terkejut medengarnya. “Sebenarnya, mereka itu sedang apa sih? Bisnis apa?” tanya Bobby


“Mereka adalah orang-orang yang memperjual belikan manusia kemudian di ambil organ tubuhnya, hidup-hidup" 


“WHAT! Di...diambil organ tubuhnya!? Hidup-hidup?”


“Iya” jawab Jinan tanpa mengalihkan pandangannya pada mereka.


“Lalu, siapa mereka? Kau bisa tahu mereka. Apa kau mengenal mereka?”


“Pria bewok itu adalah Han Taejun. Mucikari pencari korban untuk di jual dan usia yang mereka incar mulai usia 17-25 tahun. Dan yang menampung serta menjual organ korban itu, Pria berkacamata itu bernama Kwon Dong Il” jelas Jinan


“Da...darimana kau tahu dengan sedetail itu? *Seketika Bobby menjauh dari Jinan dengan rasa takut


Jinan mendelik tajam pada Bobby “Kenapa, menatapku seperti itu huh?”


“K... ka... kau bukan bagian dari mereka kan?”


PLETAK!! “Dasar bodoh! Apa aku punya tampang kriminal huh!?”


“Aniyo, Hehehehe” Bobby mempelihatkan barisan giginya.


-@@@-


“Baiklah, uangnya sudah ku terima dan asli. Kau bisa bawa bocah itu” ucap Taejun


Dong Ill memerintah ke 2 anak buahnya untuk melepaskan ikatan pria itu. Saat terlepas pria itu langsung menyerang ke 2 anak buah tersebut hingga tersungkur dan dia berhasil melepaskan diri tapi yang lain langsung menghalangi.


BAK BIK BUGH DUGH BUGH! Perkelahian 5 lawan 1 pun terjadi. Pria muda itu cukup kuat bahkan kuat melawan anak buah 2 pria tersebut. Semuanya terkapar hanya menyisakan 2 pria tersebut kemudian lari.


“YAK! DASAR KALIAN BODOH! MELAWAN 1 BOCAH SAJA KALAH! CEPAT KEJAR DIA!” hentak Tuan Dong Ill


Pria muda itu lari dan berpapasan dengan Jinan dan Bobby. “Si... Siapa kalian?” tanyanya.


Jinan langsung menarik lengan pria muda itu saat melihat beberapa orang semakin dekat berlari ke arahnya. “Ayo lari!” tegas Jinan. Mereka bertiga langsung lari dan orang-orang tersebut melihat mereka.


“Itu dia! Cepat kejar!” teriak Tuan Taejun


“Sial! Siapa ke dua orang yang bersama bocah itu?” gumam Taejun


“Sepertinya ada yang melihat transaksi kita” Dong Ill


“Kau benar, 2 bocah berseragam itu” jawab Taejun


-@@@-


Jinan, Bobby dan pria muda itu terus lari hingga berhenti di jalanan yang sepi mencari tempat sembunyi. Namun bingung, melihat tidak ada tempat yang aman.


“Sembunyi disana cepat!” ucap Bobby sambil menunjuk bak sampah


“Mwoya!? Ke... Kenapa harus disana?” tanya Jinan


“ CEPAT BERPENCAR!!”terdengar teriakan. Tanpa menolak lagi mereka bertiga langsung masuk ke bak sampah. Baru saja menutup. Beberapa pria datang berlarian tapi hanya melewati saja.


Mereka masang telinga, setelah dirasa sepi dan aman. Mereka langsung keluar, disertai batuk-batuk dan muntah.


“HUEEK HUEEK!!” Jinan dan pria muda itu muntah-muntah sedangkan Bobby sibuk membersihkan rambutnya yang membawa sampah. 


-@@@-


Ketiganya duduk di taman, dengan nafas yang terengah-engah. Mereka begitu kelelahan dan suasana hening hanya ada suara khas serangga di malam hari.


“Terima kasih” ucap pria muda itu mengawali kemudian mengulurkan tangannya “Perkenalkan, namaku...”