ANDROMEDA

ANDROMEDA
Ragu



New York, 08.00.a.m


Nadine memandangi butiran salju yang sudah beberapa hari belakangan menghiasi langit New York. Ia meneguk teh hangat di cangkirnya yang sudah mulai dingin.


Tiba-tiba bayangan Gibran melintas.


Beberapa tahun lalu ia pernah begitu bahagia menghabiskan musim salju bersamanya saat rasa cinta masih terpaut di antara keduanya.


Namun musim salju kali ini sungguh berbeda. Tak ada Gibran di sisinya, bahkan di hati Nadine nama itu sudah tak memiliki tempat istimewa. Rasa cinta yang pernah ia rasakan, kini berganti rasa kecewa yang begitu mendalam.


"Ah, bagaimana kabar Gibran sekarang?" gumamnya.


Nadine merebahkan dirinya di sofa. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama sang ayah tertera di layar ponselnya.


Nadine bergegas menjawab panggilan tersebut.


[Nadine: Hai, Ayah. Bagaimana kabar Ayah dan Nenek?!]


[Hans: Ayah baik-baik saja. Tapi nenekmu sedang kurang baik.]


[Nadine: Nenek kenapa, Ayah?]


[Hans: Nenekmu jatuh di kamar mandi dan sekarang dirawat di rumah sakit.]


[Nadine: Astaga! Apakah nenek terluka parah?]


[Hans: Nenekmu mengalami stroke. Sekarang ia kesulitan berbicara dan bergerak. Bagaimana kabarmu?]


[Nadine: Aku baik-baik saja, Ayah. Aku sedang menunggu panggilan untuk interview di salah satu perusahaan ekspor-impor.]


[Hans: Apakah kau sudah yakin dengan keputusanmu untuk menetap di sana?]


[Nadine: Aku yakin, Ayah.]


[Hans: Ayah berharap kita bisa berkumpul utuh seperti dulu. Kita akan hidup bahagia utuh sebagai keluarga. Aku, kau, dan ibumu.]


[Nadine: Ibu? Apa maksud ucapan Ayah?]


[Hans: Sudahlah, lupakan saja. Jaga dirimu baik-baik.]


Hans memutus panggilan.


"Apa maksud ayah? Mengapa ayah menyebut kata ibu? Apakah ibu sudah kembali?" gumamnya.


Di mata Nadine, Helena bahkan lebih jahat dari seorang penjahat. Selama puluhan tahun ia tega meninggalkan dirinya beserta sang ayah. Dan di saat ia memutuskan untuk kembali, mengapa sang ayah begitu mudah memaafkannya, namun ia tidak yakin dirinya sanggup melakukan hal yang sama. Kepergian Helena menggoreskan luka yang begitu dalam baginya.


"Apakah aku harus pulang?" gumamnya.


*****


Di rumah Sean.


Pagi itu Sean dan keluarganya baru selesai sarapan. Namun Fiona sedikit heran. Pagi itu sang ibu sudah berpakaian rapi.


"Ibu mau kemana?" tanyanya.


"Ibu mau ke rumah sakit," jawabnya.


"Siapa yang sakit?"


"Cucu ibu."


"Apa maksud ucapan Ibu?" 


"Kau pasti tahu jawabannya," ucap Nikita sambil tersenyum.


Fiona berpikir sebentar.


"Apakah Andromeda yang Ibu maksud cucu?" 


"Ya. Bukankah dia cucu dari pamanmu? Itu berarti Andro cucu Ayah dan Ibu."


"Anak haram sepertinya tak pantas menjadi bagian dari keluarga kita!" seru Fiona.


"Tak seharusnya Kau bicara begitu, Fio. Andromeda hanyalah seorang anak kecil polos yang tahu apapun. Dan bagaimanapun dia tetap saudara kita," ucap Nikita.


"Sampai kapanpun aku tak akan menganggapnya sebagai saudara!" serunya sambil beranjak dari kursinya kemudian meninggalkan meja makan.


Sean hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap putri sulungnya tersebut.


Pandangannya kemudian tertuju pada Sofia, yang belum menghabiskan sarapannya.


"Bagaimana pekerjaanmu, Sofia?" tanya sang ayah.


"Masih begitu-begitu saja," jawabnya.


"Apa maksudmu?" Sean terkekeh.


"Aku mulai bosan dengan pekerjaanku."


"Apa yang membuatmu bosan?"


"Aku tak menyukai Keenan yang angkuh itu." 


Tiba-tiba Fiona mendekati Sofia. Rupanya percakapan keduanya sedikit terdengar olehnya.


"Apakah atasanmu bernama Keenan?" tanya Fiona. Sofia mengangguk.


"Memangnya kenapa jika atasanku bernama Keenan? Kau tak mungkin mengenalnya juga 'kan?" tanya Sofia.


"Dia pacarku." Fiona terkekeh.


"Mana mungkin pria sepertinya mau pacaran dengan gadis galak sepertimu?" ledek Sofia.


"Terserah jika Kau tak percaya."


"Dari dulu kau tak bisa dipercaya," ucap Sofia.


"Apa kau bilang?" 


"Lalu, apa sebenarnya hubunganmu dengan Dave?"


"Sudahlah jangan sebut nama pria itu."


"Kau lebih cocok dengan pria itu." Sofia terkekeh.


"Tahu apa kau soal pria? Kau bahkan tak memiliki teman pria satupun. Lihat penampilanmu. Kuno sekali," ejek Fiona.


Sofia lalu menundukkan kepalanya. Sofia memang tak semodis Fiona. Penampilannya bahkan terbilang kuno. Rambut yang selalu dikepang, dan kaca mata yang tebal. Gadis itu bahkan jarang sekali memakai make up.


Berbeda dengan Fiona yang usianya berjarak sepuluh tahun darinya. Fiona sering sekali berganti.gaya rambut dan tak jarang mewarnainya.


"Gadis kuno! Mana mungkin ada pria yang tertarik denganmu!" ejek Fiona dengan nada sinis. Sofia menundukkan kepalanya. Tiba-tiba ia menangis.


"Astaga! Begitu saja menangis! Gadis cengeng!" serunya.


"Fiona! Hentikan! Kau suka sekali merendahkan orang lain! Dia adik kandungmu. Tak sepatutnya kau berkata begitu!" seru Sean.


"Dari dulu Ayah selalu membela Sofia. Ayah tak adil! Ayah pilih kasih!" seru Fiona dengan wajah penuh amarah.


"Fiona! Tunggu! Fiona!" Sean terus memanggil putri sulungnya namun Fiona tak menghiraukannya. Ia terus berjalan keluar rumah dan menuju mobilnya yang masih terparkir di garasi.


Deru mobil yang cukup keras terdengar hingga ke arah ruang makan. Fiona melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nikita mulai merasa khawatir. Ia pun bergegas meninggalkan ruang makan. 


Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang cukup keras. Suara tersebut berasal dari jalan yang tak begitu jauh dari rumah Sean.


"Astaga! Suara apa itu?" Nikita berlari ke keluar dari halaman rumahnya. Ia kaget bukan main saat mendapati mobil Fiona menabrak tiang listrik yang berada tak jauh dari rumahnya. Kepulan asap tampak keluar dari mobil tersebut.


"Fiona!" jerit sang ibu cukup keras hingga terdengar oleh Sean dan Sofia. Keduanya pun beranjak meninggalkan meja makan dan bergegas mendekati arah teriakan Nikita.


"Ada apa, Sayang?" tanya Sean.


Nikita tak berkata-kata. Ia hanya menunjuk ke arah mobil Fiona yang mengepulkan asap.


"Astaga! Fiona!" seru Sean mendapati mobil putrinya baru saja mengalami kecelakaan.


Ia pun lalu membopong tubuh Fiona keluar dari dalam mobil tersebut dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" serunya dengan wajah panik. Sementara wajah Fiona tampak terluka parah karena terkena serpihan kaca mobil.


Sean kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit.


Fiona dibawa ke dalam ruangan ICU yang terletak persis di hadapan ruang perawatan Andro.


Aurora yang saat itu baru saja hendak keluar dari ruang perawatan Andro, begitu kaget mendapati Fiona yang berada di atas trolly pasien melintas di hadapannya. Sementara di belakangnya Sean, Nikita, dan Sofia mengikuti laju trolly tersebut dengan wajah panik.


"Paman, Bibi, kenapa dengan Fiona?" tanya Aurora.


"Mobil Fiona menabrak tiang listrik yang berada di dekat rumah," jawab Sean.


"Astaga!" Aurora membungkam mulut dengan tangannya sendiri.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada gadis yang berdiri tak jauh dari Sean.


"Kau...Sofia?" tanyanya.


Gadis berkacamata itu mengangguk.


"Kau sudah sebesar ini," ucap Aurora yang begitu lama tak menjumpai saudara sepupunya tersebut.


Bersambung…


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕