
Bab 27
Pagi itu Andro tengah bersepeda mengelilingi taman. Tiba-tiba seorang laki-laki tua duduk di bangku tak jauh dari Andro. Bocah itu pun turun dari sepedanya.
"Good morning, Sir?" Sapanya ramah.
"Good morning, boy," balasnya.
"Aku sering ke taman ini. Tapi aku tak pernah melihatmu," ucap Andro.
"Aku bukan penduduk kota ini. Aku menginap di hotel tak jauh dari taman ini."
"Kau sendirian?" Tanya Andro.
"Aku sendiri di dunia ini. Tak memiliki siapapun," ucapnya.
"Bagaimana keluargamu?" Tanya Andro lagi.
"Aku tak memiliki anak. Karena aku memang tak memiliki istri," jawabnya.
"Kau belum menikah?" Tanya Andro.
Laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya.
"Sejak kekasihku meninggalkanku. Hingga detik ini aku tak bisa lagi membuka hati untuk perempuan lain. Aku terlalu mencintainya," ucapnya. Matanya memandang langit biru dengan tatapan kosong.
"Lantas, apa tujuanmu datang ke kota ini?"
"Aku hendak menemui kawan lamaku. Puluhan tahun kami tak pernah berjumpa. Tiba-tiba perempuan itu menelponku. Rupanya ia masih menyimpan nomor ponselku."
"Kalian akan bertemu hari ini?" Tanya Andro.
"Ya. Siang ini aku akan menemuinya di taman ini."
"Kau, kau tak sekolah?" Tanya pria itu.
Andro menggelengkan kepalanya.
"Sekolah formal menolakku," jawab Andro.
"Menolakmu. Apa alasan mereka?" Tanyanya lagi.
"Mereka bilang aku tak perlu sekolah. Karena aku memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Setiap sore aku belajar di taman ini. Salah seorang kawanku mengajak beberapa teman sekolahnya untuk belajar bersamaku. Selain itu aku belajar dari buku-buku yang ada di perpustakaan di rumahku."
"Orang tuamu pasti bangga memiliki anak genius sepertimu,... siapa namamu?" Tanyanya.
"Andromeda." Jawabnya.
"Itu nama yang tepat untukmu," ucap pria itu sambil tersenyum.
"Kau tahu, kedai di dekat taman ini? Sepertinya aku mulai lapar," ucap pria tua itu.
"Di dekat taman ini ada sebuah kedai. Aku sering membeli makanan di sana. Jika kau mau aku bisa mengantarmu ke kedai itu."
"Tentu saja. Kau anak yang baik," ucap pria tersebut sambil bangkit dari duduknya.
Keduanya lalu menuju kedai tak jauh dari taman.
"Kau pesan saja yang kau mau, jangan khawatir, aku akan mentraktirmu," ucap pria itu.
"Terima kasih, tuan. Tapi aku sudah sarapan di rumahku sebelum berangkat ke taman ini."
"Baiklah, kurasa kau tak keberatan jika menemaniku menghabiskan sarapanku."
"With my pleasure," ucap Andro kemudian.
Seorang pria datang. Ia lalu duduk di bangku tak jauh dari tempat duduk Andro dan pria tua.
Tiba-tiba pria itu yang mengenakan baju jogging tersebut memandang ke arah Andro. Netra mereka pun bertemu.
"Andro," ucapnya.
Andro sedikit kaget. Ia pun menghampiri pria tersebut.
"Mister handsome!" Serunya dengan raut wajah senang.
"Gibran! Kau Gibran 'kan? Anak laki-laki Nicholas Alvaro?" Tanya kakek itu tak kalah kaget saat melihat pria yang baru saja datang ke kedai tersebut.
"Kau mengenalku?" Tanya Gibran.
"Tentu saja aku mengenalmu. Aku beberapa kali mendatangi rumah ayahmu. Nicholas dulu teman kerjaku. Saat itu aku dan ayahmu bekerja di kantor yang sama. Namun ayahmu bukan pegawai biasa. Dia diangkat menjadi pimpinan perusahaan karena prestasi kerjanya. Aku pun kemudian harus dipindahkan ke luar kota. Wajahmu begitu mirip dengan Nicholas. Mudah saja bagiku mengenalimu," ucapnya.
"Sepertinya ingatanmu sedikit lebih baik dariku, tuan. Aku bahkan tak ingat wajahmu," ucap Gibran.
"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya pria tua itu. Gibran menunduk.
"Ayahku sudah lama meninggal," jawabnya. Pria tua itu sedikit tersentak.
"Aku berharap bisa bertemu kembali dengannya, namun rupanya takdir tak mempertemukan kami lagi." Ucapnya.
"Kau mengenal Andro?" Tanya Gibran.
Jantung Gibran tiba-tiba berdegup kencang.
"Mungkin hanya kebetulan. Andro bukan anakmu 'kan?" Tanyanya lagi. Ia mulai menikmati menu sarapannya.
Andro dan Gibran saling menatap. Bocah itu ingin menyampaikan sesuatu padanya namun lidahnya terasa berat.
"Sudah lama kita tak bertemu, kawan kecil. Bagaimana kabarmu?" Tanya Gibran.
"Aku baik-baik saja," jawab Andro.
"Aku bahkan lupa kapan terakhir bertemu denganmu." Ucap Gibran. Andro terus memandang wajah Gibran. Hingga pada akhirnya ia menemukan keberanian untuk bertanya padanya.
"Apa kau…"
Andro tak melanjutkan kata-katanya. Ponsel Gibran tiba-tiba berdering. Ia pun mengambil ponselnya. Dan menjawab panggilan tersebut. Ia berdiri agak menjauh dari meja Andro.
"Sepertinya aku harus segera pergi. Sampai jumpa, Andro" ucapnya sambil mengacak rambut Andro.
Andro hanya menatap punggung Gibran yang semakin menjauh.
"Benarkah wajahku mirip dengannya?" Tanya Andro pada pria tua yang baru saja dikenalnya itu.
"Kurasa terakhir aku bertemu dengannya saat dia seusiamu." Ucapnya. Pria itu kemudian meneguk kopinya.
"Kalian hanya berteman bukan? Mungkin hanya kebetulan jika wajah kalian mirip," ucap pria itu.
Andro membuang napas. Entah mengapa ucapan pria tua tersebut kini mengganggu pikirannya.
Tiba-tiba dua orang perempuan menghampiri meja keduanya. Salah satu berusia cukup tua, sementara perempuan lainnya terlihat masih muda.
"Hai, Jack," sapa salah satu perempuan.
Jack menautkan alisnya untuk beberapa saat.
"Kau? Siapa kau?" Tanya pria itu.
"Kurasa kau sudah mulai pikun." Ucap perempuan itu sambil terkekeh.
"Apa kau sedang membuat janji bertemu dengan kawan lamamu? Aku lah orang yang meneleponmu beberapa hari yang lalu," ucapnya.
"Astaga! Felicia! Aku hampir tak mengenalimu. Kau terlihat berbeda,"
"Tentu saja aku berbeda. Dulu kita bertemu saat aku masih gadis. Dan sekarang aku sudah menjadi seorang nenek," ucapnya.
"Siapa gadis ini?" Tanyanya kemudian.
"Namanya Nadine, dia adalah cucuku satu-satunya." Keduanya lalu bersalaman.
"Siapa anak kecil yang bersamamu ini?" Tanya Felice.
Nadine memandang Andro. Ia baru sadar jika bocah laki-laki yang tengah duduk si samping kawan lama neneknya tersebut adalah Andro, anak Aurora.
"Aku baru saja mengenalnya di taman. Dia yang mengajakku ke kedai ini," jawab Jack. Felice menganggukkan kepalanya.
Andro menatap Nadine. Perempuan itu adalah perempuan yang sama yang dilihat bersama Gibran di kedai waktu itu.
"Kau…?" Tanyanya.
"Kau mengenalnya?" Tanya Felice . Nadine cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
Andro mulai tak nyaman di kursinya. Bocah itu pun beranjak dari duduknya.
"Kurasa aku harus segera pulang. Ibu pasti menungguku," ucapnya.
"Kau bisa pulang sendiri, bocah tampan?" Tanya Jack.
"Tentu saja," ucap Andro.
Setelah berpamitan pada ketiganya, Andro pun berlalu dari kedai tersebut.
Nadine menatap Andro yang berlalu dengan sepedanya. Tiba-tiba bayangan Aura melintas di kepalanya. Perempuan itu kembali teringat pengakuannya beberapa waktu lalu. Sambil berurai air mata, ia mengatakan jika Gibran yang juga calon tunangannya telah menyentuh tubuhnya delapan tahun silam saat ia tak sadarkan diri dan Gibran juga dalam pengaruh alkohol.
"Apakah Aurora benar-benar tak berbohong padaku?" gumamnya.
"Nadine, apa yang tengah kau pikirkan?" Tanya sang nenek yang seketika membuyarkan lamunannya.
Bersambung….
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕