ANDROMEDA

ANDROMEDA
Jawaban tak terduga



Tepat pukul 19.00 Gibran beserta ibu dan adik perempuannya, Alicya datang ke rumah Aurora.


"Bagaimana dengan lamaranku? Kuharap kau sudah menyiapkan jawaban," ucap Gibran.


Aurora terdiam. Lagi-lagi ingatannya tertuju pada Keenan.


"Mengapa kau diam saja?" tanya Emily sembari menatap tajam mata Aurora.


"A--aku minta maaf. Aku tak bisa menerima lamaran Gibran," jawabnya.


Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Aurora membuat semua yang berada di ruangan tersebut tersentak tak terkecuali putra semata wayangnya, Andromeda.


"Kenapa? Bukankah itu yang diinginkan Andromeda? Ia menginginkan orang tua yang lengkap. Kau ibunya, dan aku ayah kandungnya."


"Meskipun kau adalah ayah kandung Andromeda, namun aku tak memiliki perasaan apapun padamu. Apa yang sudah terjadi di antara kita delapan tahun silam adalah sebuah kesalahan," ujar Aurora.


Gibran menghela nafas. "Kau benar, pernikahan bukan hal yang pantas untuk dipermainkan. Pernikahan bukan hanya semata sebuah ikatan di jari, namun lebih dari itu. Pernikahan adalah sebuah janji yang mengikat hati. Sebuah pernikahan tanpa didasari rasa cinta tidak akan berakhir bahagia," ucapnya.


"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu," timpal Emily.


"Bagaimana mungkin aku menikahi putra Nyonya sedangkan saat ini ada pria lain yang mengisi hatiku," tegasnya.


"Apakah pria itu Keenan?" tanya Emily.


"Ya. Pria itu adalah Keenan. Pria yang hampir menjadi tunanganku," jawab Aurora.


"Lantas, jika kau menolak lamaranku, bagaimana dengan putra kita, Andromeda?" tanya Gibran.


Aurora tersenyum tipis. "Andromeda adalah darah dagingmu. Bukankah tidak ada istilah mantan ayah ataupun mantan anak? Kita akan membesarkannya bersama-sama. Aku tak akan sedikit pun menghalangimu untuk bertemu dengannya. Aku juga mengizinkanmu untuk menghabiskan waktu bersamanya," ungkapnya.


 "Aku hargai keputusanmu. Kau berhak bahagia bersama pilihan hatimu," ucap Gibran dengan senyum penuh ketulusan. Tak terlihat sedikitpun amarah dari sorot matanya.


"Aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan kebahagiaan," ucap Aurora.


Pandangan Gibran tiba-tiba tertuju pada Andromeda. "Kemarilah, Sayang," ucapnya. 


Bocah itu pun mendekat ke arah Gibran. "Kau anak yang pandai, ayah yakin kau paham dengan apa yang baru saja kami bicarakan. Kini kau memiliki orang tua yang lengkap. Meskipun ayah dan ibu tak tinggal bersama, namun mulai hari ini kita akan sering menghabiskan waktu bersama," ucapnya sembari mengusap lembut rambut putranya tersebut.


Andro memandang wajah Gibran, ia lantas memeluknya dengan erat. Raut kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya.


"Apakah ibu akan segera menikah dengan mister tampan?" Pertanyaan itu pun sontak mengundang tawa semua orang yang berada di ruangan tersebut.


"Jika nanti kak Keenan telah menikah dengan ibumu, jangan lagi memanggilnya dengan sebutan itu." Alicya terkekeh.


"Apa itu aku berarti aku memiliki dua orang ayah?" tanyanya polos.


"Tentu saja. Kau adalah anak yang beruntung karena memiliki dua orang ayah," timpal Emily.


Andro memandang wajah Aurora. Tiba-tiba ia menghambur ke pelukannya.


"Selama ini Ibu sudah banyak berkorban untukku. Aku ingin melihat Ibu bahagia," ucapnya. Buliran bening itu tiba-tiba menetes dari sudut matanya.


"I love you, Mom," ucapnya. Aurora mengeratkan pelukannya. "I love you more, my dear," ucapnya. Tanpa sadar air matanya pun kini mulai tumpah.


Hanya selang beberapa detik, seluruh orang yang berada di ruangan itu pun mulai menitikkan air mata haru. Meskipun sedikit kecewa, namun Emily tak mungkin memaksa Aurora untuk menerima Gibran. Bagaimana pun Aurora memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya dan meraih kebahagiaan.


******


Sementara itu Keenan termenung di dalam kamarnya. "Malam ini Aurora akan memberikan jawaban pada Gibran. Apakah dia akan menerima lamarannya?" gumamnya.


Keenan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia lantas memandang langit-langit kamarnya. Tiba-tiba bayangan wajah Aurora muncul di langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih. Bayangan wajah itu seakan-akan mengajaknya tersenyum. Tanpa disadari ia pun tersenyum pada wajah itu meskipun itu hanyalah bayangan semu.


Keenan menertawai kekonyolannya sendiri. Sampai detik ini nama itu masih melekat kuat di hati dan pikirannya. Bahkan setelah bertahun-tahun tak ada seorang pun yang mampu menggantikannya.


"Apapun keputusanmu, kuharap itu yang terbaik untukmu," gumamnya.


Keenan memejamkan matanya yang kini mulai terasa berat. Tak berselang lama ia pun terlelap.


******


Keesokan harinya. Keenan keluar dari kamarnya. Namun ia tersentak saat mendapati dua orang berdiri di depan pintu kamarnya. Keduanya adalah Aurora dan Andromeda.


"Selamat pagi, Mister tampan," sapanya dengan wajah ceria.


"Pagi-pagi sekali kau sudah kesini. Ada perlu apa?" tanyanya.


"Sudah lama kita tidak bermain di taman. Apakah Mister mau menemaniku kesana?" tanya Andro.


"Tentu saja," jawabnya.


Keenan sama sekali tak menyadari jika keduanya telah menyiapkan sebuah kejutan untuknya.


Tak berselang lama ketiganya pun meninggalkan tempat tersebut dan menuju taman Flamingoo. Tempat favorit bagi Andromeda.


"Sudah cukup lama aku tidak makan es krim," ucap Andro.


"Sekarang kau bisa memakan es krim sebanyak yang kau mau," ucap Keenan.


"Sungguh?" tanya Andro dengan mata berbinar. Keenan menganggukkan kepalanya lantas tersenyum. Ketiganya pun lantas menuju ke sebuah kedai  es krim yang berada tak jauh dari taman tersebut.


"Setelah ini maukah kau mengantarku ke suatu tempat?" tanya Aurora.


"Kemana?" 


"Aku ingin membeli gaun pengantin serta setelan jas untuk pernikahanku nanti."


Ucapan Aurora seketika membuat jantung Keenan berhenti berdetak. "Kau sudah mengambil keputusan?" tanya Keenan.


"Ya. Aku yakin dengan keputusanku," jawab Aurora.


"Kuharap kau bahagia dengan pilihanmu," ucap Keenan dengan suara berat. 


"Mengapa kau tak mengajak Gibran?"


"Dia sedang sibuk." Aurora melirik ke arah Andro. Ia tak menyadari jika Aurora telah menyiapkan kejutan manis untuknya.


"Baiklah," ucapnya dengan wajah yang sama sekali tak bersemangat.


Keenan melajukan mobilnya menuju sebuah butik.


"Kurasa kau bisa membantuku memilih setelan jas. Aku tak pandai memilih pakaian untuk laki-laki," ucap Aurora.


Dengan menahan hati perih, Keenan mengamati satu per satu setelan jas yang berada di butik tersebut. Pilihannya jatuh pada setelan jas berwarna peach.


"Sepertinya warna ini cocok untuk calon suamimu." Ada perasaan sesak saat Keenan mengucapkan kata-kata itu.


"Baiklah, aku juga akan memilih gaun dengan warna senada," ucap Aurora.


Keenan terdiam sejenak. Seandainya saja saat itu Aurora mengajaknya untuk memilih baju pengantin untuk dirinya, ia akan menjadi pria yang paling bahagia. Namun, ia justru harus memilih baju pengantin calon suami dari perempuan yang begitu dicintainya.


Keenan tersentak saat Aurora menepuk punggungnya. "Apakah gaun ini cocok untukku?" tanya Aurora yang tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan mengenakan gaun pengantin berwarna peach, senada dengan setelan jas yang beberapa saat lalu dipilih olehnya.


Keenan tercengang menatap Aurora mengenakan gaun pengantin tersebut. Begitu cantik dan anggun.


"Seandainya kau adalah pengantinku," gumam Keenan.


Bersambung…


Hai kakak-kakak pembaca setia "ANDROMEDA" 🥰🥰🥰


Maaf kalau akhir-akhir ini author gak bisa setiap hari update soalnya author sambil nulis di pf sebelah.


Novel ini tinggal beberapa episode lagi tamat. Dan ini mungkin novel pertama dan terakhirku di Noveltoon. Author sekarang mau fokus nulis di Fizzo( ******).


Author harap kakak-kakak semua dukung karyaku terus. Caranya gampang kok.


Download aplikasi Fizzo(******)


Trus di pencarian cari aja judul karyaku disana "JERAT CINTA ZACK& ZILLY". Nama penaku sama ya, "IMMA DEALOVA".


Buka, trus masukin ke daftar pustaka.


Perlu diingat, Fizzo ini app novel gratis ya...sama kaya Noveltoon. Gak pake koin ataupun kunci bab. Jadi kakak-kakak bisa baca novel apapun gratis tis sampe tamat. Ditunggu ya kak, dukungannya. Terima kasih…..🙏


Salam hangat🥰🥰🥰