
Bab 25
Di rumah sakit.
"Aku perlu berbicara dengan orang tua pasien," ucap dokter itu. Aurora pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana kondisi Andromeda, dokter?" Tanya Aurora dengan wajah panik.
"Anak itu sepertinya tengah merasa tertekan. Kurasa dia menyimpan kerinduan yang mendalam pada seseorang," jawab dokter.
Aurora dan Keenan saling bertatapan.
"Mungkin kau bisa mempertemukan anakmu dengannya. Selain obat, kurasa hali itu mampu membuat kondisinya membaik."
Dokter itu memberikan resep obat pada Aurora kemudian berlalu dari hadapannya.
Aurora menatap Andro yang terlelap karena pengaruh suntikan yang baru saja masuk ke tubuhnya.
Aurora kembali duduk di ruang tunggu pasien. Ia benar-benar merasa kacau.
"Kurasa sudah waktunya Andro mengetahui rahasia yang selama ini kau simpan," ucap Keenan.
Aurora menggelengkan kepalanya.
"Aku tak ingin mengemis perhatian Gibran. Sudah cukup pria itu menghancurkan hidupku."
"Kau lihat anakmu sekarang. Apa kau tak paham perkataan dokter? Andro tengah merindukan seseorang. Anak itu merindukan Gibran, ayahnya."
"Cukup! Jangan kau sebut nama itu lagi."
Aurora menutup kedua telinganya.
"Lantas? Sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas ayah kandungnya?"
"Aku butuh waktu sendiri. Mengertilah," ucap Aurora.
Keenan berlalu dari hadapan perempuan itu.
Keesokan paginya.
"Makanlah yang banyak, kau pasti tak mau berlama-lama di tempat ini 'kan?" Tanyanya sambil menyodorkan sesendok bubur hangat ke arah mulutnya. Namun Andro justru menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, jangan membuatku khawatir," bujuk sang ibu. Andro menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat sedih.
"Kau kenapa?" Tanya sang ibu. Ia mengangkat dagu Andro. Anak itu kembali menggelengkan kepalanya.
"Boleh aku bertanya satu hal pada Mommy?" Tanya Andro.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa ayahku masih hidup?" Tanyanya.
Pertanyaan itu membuat jantung Aurora berdegup kencang.
"Bukankah kau sudah berjanji padaku, kau tak akan menanyakan hal itu lagi?”
“Aku bermimpi bertemu dengan ayahku.”
Aurora tersentak.
“Di mimpiku dia sangat dekat denganku. Tapi,...” Andro tak melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Wajahnya tak terlihat. Ia hanya memelukku dari belakang,”jawabnya.
Aurora tak menjawab pertanyaan sang anak. Ia merengkuh Andro ke dalam pelukannya.
“How are you today, my hero?”(Bagaimana kabarmu hari ini, pahlawanku?) Tanya Keenan yang tiba-tiba masuk ke ruang perawatan Andro. Bocah itu tersenyum. Raut gembira nampak di wajahnya yang sedikit pucat. Keenan meletakkan sebuah bingkisan buah di atas meja.
“Kau belum menghabiskan sarapanmu?” Tanyanya kemudian. Matanya melirik mangkuk berisi bubur yang masih terlihat penuh. Pria itu pun mengambil mangkuk tersebut.
“Kau mau kuajak jalan-jalan?” Tanya Keenan.
Andro menganggukkan kepalanya.
“Mana mungkin ibumu mengizinkan mu pergi denganku dengan kondisimu yang tengah sakit?” Tanya Keenan. Ia sedikit melirik ke arah Aurora.
“Ayo, habiskan makananmu,” bujuknya. Keenan lalu mengambil mangkuk berisi bubur tersebut dan mendekatkannya ke arah Andro.
Dengan telaten pria itu menyuapi Andro. Hingga mangkuk itu benar-benar kosong.
“Great boy!” seru Keenan.
(Anak hebat!)
“Sekarang kau minum obatmu,” ucapnya kemudian.
Aurora pun memberikan beberapa butir obat serta segelas air putih pada Andro.
******
"Siang ini aku berencana memeriksakan kakiku. Belakangan ini aku sering merasa kesakitan," ucap Emily.
"Maaf aku tak bisa menemanimu. Hari ini ada les tambahan di sekolahku," ucap Alicya.
"Tak apa, aku bisa pergi dengan supir kita."
"Apa kak Gibran tak bisa meluangkan sedikit waktunya untukmu, bu?"
"Aku tak ingin mengganggu pekerjaanya." Ucapnya. Perempuan itu pun memutar arah kursi rodanya menuju ruang tamu. Sang supir sudah menunggunya di ruang tersebut.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajaknya. Keduanya pun lalu menuju rumah sakit.
Emily ditemani sopir pribadinya menuju loket pendaftaran. Setelah mendapat nomor antrian, perempuan berkursi roda itu pun menunggu namanya dipanggil.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang duduk di bangku tunggu sebuah kamar rawat inap. Ia tampak tengah memegang ponselnya. Emily merasa tak asing dengan perempuan tersebut. Ia pun meminta supir pribadinya untuk mendorong kursi rodanya ke arahnya.
"Kau mengenalku, Nyonya?" Tanyanya sedikit heran.
"Rupanya ingatanku sedikit lebih baik darimu, ibu muda," Emily terkekeh.
Aurora kini mengernyitkan keningnya.
"Kau masih ingat, beberapa waktu yang lalu saat kita berbelanja di toko yang sama. Aku tak sengaja menjatuhkan dompetku."
Perempuan itu tampak berpikir. Sejenak kemudian ia tersenyum.
"Ya. Aku sudah ingat sekarang," ucap Aurora.
"Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih pada anakmu yang tampan dan sangat sopan itu," ucap Emily. Aurora tersenyum kecil.
"Mana dia?" Tanyanya lagi.
"Anakku sedang sakit, nyonya. Tadi malam ia demam."
"Boleh aku bertemu dengannya?" Tanya Emily. Aurora menganggukkan kepalanya. Perempuan itu lalu masuk ke ruang perawatan Andromeda.
Emily memandang Andromeda yang tengah tertidur.
"Ia baru saja makan dan meminum obatnya," ucap Aurora.
"Kurasa kita belum berkenalan. Namaku Emily," ucapnya. Perempuan itu lalu mengulurkan tangannya. Aurora hendak menjabat tangan perempuan tersebut. Namun tiba-tiba seorang perawat memanggil namanya.
"Atas nama ibu Emily."
Emily pun bergegas meninggalkan ruang Andro dan menuju ke arah perawat tersebut.
"Lagi-lagi aku gagal mengetahui nama anak itu," gumamnya.
Aurora masuk ke ruangan Andro. Anak itu sudah bangun.
"Aku haus, Mom," ucapnya. Aurora segera mengambil segelas air yang berada di atas meja untuknya.
"Dimana mister tampan?" Tanyanya.
"Tentu saja dia sedang berada di kantornya," jawab sang ibu.
"Semalaman dia menjagamu."
"Benarkah?" Tanyanya. "Seandainya dia adalah ayah kandungku,..." ucapnya lirih.
"Apa katamu?" Tanya sang ibu.
Andro cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah merasa lebih baik?"
Andro menganggukkan kepalanya.
"Dokter mengatakan kau sudah boleh pulang hari ini."
"Aku juga tak mau berlama-lama di tempat ini." Ucap Andro.
Emily sudah selesai dengan pemeriksaan kakinya. Ia berniat kembali mendatangi ruangan Andro.
"Antar aku ke ruangan itu," ucapnya pada sang supir. Keduanya lalu ruang tersebut. Namun perempuan itu kaget. Saat mendapati ruangan itu telah kosong.
"Kemana pasien yang tadi berada di ruangan ini, Suster?" Tanyanya pada seorang perawat yang melintas.
"Pasien di ruangan ini baru saja meninggalkan rumah sakit, Nyonya," jawabnya.
Emily membuang napas. Ini adalah kali ke tiga ia gagal menanyakan nama anak tersebut.
Di rumah Emily.
Gibran memasuki rumah ibunya.
"Ibu, ibu," panggilnya. Namun tak ada sahutan. Hanya terdengar seseorang yang tengah memasak di dapur.
"Ibu kemana, Bi?" Tanyanya.
"Nyonya Emily pergi ke rumah sakit, den"
"Sendirian?"
"Ditemani supir, Tuan."
"Kemana Alicya?"
"Nona Alice mengatakan hari ini ada les tambahan di sekolahnya."
"Mengapa kau tak mengajakku, ibu?" gumamnya.
Gibran bermaksud menyusul sang ibu ke rumah sakit. Namun baru beberapa langkah ia keluar dari dapur, terdengar deru mobil dari arah halaman depan rumahnya.
"Mengapa Ibu tak bilang padaku jika mau ke rumah sakit? Aku bisa menemanimu,"ucapnya sambil mendorong kursi roda yang ia naiki masuk ke dalam rumah.
"Aku tahu kau sibuk, aku hanya tak ingin mengganggu pekerjaanmu," ucap sang ibu.
"Kalau hanya menemani Ibu ke rumah sakit aku pasti tak akan menolaknya."
"Aku dan Nadine sudah memesan baju pertunangan kami," ucapnya kemudian.
"Kau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu?" Tanya sang ibu.
Bersambung….
❤❤ ❤
Hai Kak...dukung karyaku ya...jangan lupa beri like👍,komment 💬, vote✒,dan hadiah🎁. Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, sangat berarti bagi penulis pemula ini. Aku sangat berterima kasih💕💕💕