
Sore hari di rumah Hans.
Suara deru mobil terdengar dari pekarangan rumah Hans. Helena mengintip dari balik jendela. Rupanya hari itu Hans pulang lebih awal dari biasanya.
Ia pun bergegas masuk ke dapur dan kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh hangat untuk suaminya tersebut. Helena telah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menjadi istri yang baik bagi Hans dan sekaligus ibu yang baik bagi putri semata wayangnya, Nadine.
Hans kemudian duduk di sofa. Helena lalu melepas jas yang seharian melekat di tubuh suaminya.
"Dimana Nadine?" tanya Hans.
"Nadine belum pulang sejak tadi pagi," jawab Helena.
Hans menatap wajah Helena. Ia terlihat begitu segar setelah mandi. "Cepat mandi lalu ganti pakaianmu, ucap Helena sambil melonggarkan dasi suaminya tersebut namun tiba-tiba Hans membisikkan sesuatu di telinga Helena.
"Astaga! Kau jangan konyol, Hans!" seru Helena sambil beranjak dari sofa namun tiba-tiba Hans menarik lengannya. Tak berselang lama Hans justru membopong tubuh Helena kemudian memberi kecupan lembut di bibirnya.
Helena pun akhirnya memilih pasrah saat Hans membawanya masuk ke dalam kamar. Helena memejamkan matanya saat tangan Hans mulai menjelajahi bagian atas tubuhnya. Setelah beberapa kali kesempatan itu tertunda, kini keduanya akan mencoba mengulang adegan itu.
Helena membiarkan Hans saat tangannya mulai menjelajahi bagian bawah tubuhnya. Entah kapan terakhir Hans menjamahnya.
Hans tak kuat lagi menahan hasratnya yang telah begitu lama terpendam. Suara lenguhan keduanya pun mengakhiri permainan panas sore itu.
Tak berselang lama seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Hans dan Helena bergegas mengenakan kembali pakaiannya pun Helena, perempuan itu bergegas merapikan dirinya.
Hans beranjak dari ranjang lalu membuka pintu kamar. Tampak Nadine berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat dipenuhi amarah.
"Nadine, ada apa denganmu?" tanya Hans.
"Di mana perempuan itu?" tanya Nadine.
"Apakah sedikit saja kau tak bisa menghormatinya. Dia ibumu!" seru Hans.
Nadine tak menjawab. Ia justru masuk ke dalam kamar tersebut dan menghampiri Helena yang tengah merapikan ranjang yang sedikit berantakan.
"Apakah anda mengenal Freddy?" tanya Nadine. Helena tersentak saat Nadine menyebut nama itu.
"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan nama itu?" tanya Helena.
"Anda hanya perlu menjawab, ya atau tidak!" seru Nadine.
"Fredd...Freddy...pria itu adalah mantan kekasihku," jawab Helena.
"Apakah benar selama tiga puluh tahun belakangan ini anda bersamanya?"
"Apa maksud ucapanmu?"
"Aku sudah tahu semuanya dari Keenan." Helena kembali tersentak.
"Keenan?"
"Ya. Keenan Alvaro, anak angkat dari tuan Freddy Sebastian. Keenan mengatakan padaku jika selama ini menjadi kekasih gelap ayah angkatnya. Apa pantas perempuan murahan seperti anda dipanggil ibu?"
"Nadine! Jaga ucapanmu!" bentak Hans.
"Aku berbicara fakta, Ayah. Selama ini nyonya Helena pergi meninggalkan kita hanya untuk menjadi kekasih gelap mantan kekasihnya yang juga telah beristri! Perempuan ini adalah perempuan ja*ang. Dia tak pantas berada di sisi Ayah!" pekik Nadine.
"Nadine! Cukup!" seru Hans. Raut wajahnya dipenuhi amarah.
"Aku tak sudi punya pela*ur sepertinya!"
"Plakkk!" sebuah tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Nadine. Ini adalah tamparan pertama dari tangan Hans.
Helena membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Hans! Tak seharusnya kau sekasar itu pada Nadine!" serunya.
"Ucapan Nadine sudah keterlaluan!" seru Hans.
Nadine berlalu dari kamar tersebut kemudian menuju kamarnya. Hatinya terasa begitu perih melebihi perih di pipinya akibat tamparan keras dari sang ayah.
Helena bergegas mengikuti Nadine ke kamarnya. "Maafkan ayahmu, Nadine," ucap Helena sambil menyentuh lembut pundak putrinya tersebut. Nadine tak menjawab. Ia justru membenamkan wajahnya di bantal dan menangis.
"Kau berhak membenci ibu. Ibu memang sudah berbuat begitu jahat padamu," ucap Helena.
"Pergi dari kamarku!" pekik Nadine.
Helena meraih tangan Nadine namun gadis itu menepisnya dengan kasar.
Helena pun akhirnya memilih memilih meninggalkan kamar Nadine.
Pagi itu seperti biasa Mira akan memasuki kamar Nadine untuk mengambil pakaian kotor miliknya. Namun ia terkejut saat mendapati Nadine tak berada di tempat tidurnya. Ia kemudian mencari Nadine ke kamar mandi, namun gadis itu juga tak berada di sana.
Perempuan paruh baya itu pun bergegas menemui Hans dan Helena yang tengah berada di ruang makan.
"Tuan, Nyonya...nona...nona Nadine tak berada di kamarnya!" serunya dengan wajah panik. Hans tersentak, begitu pun Helena.
"Astaga! Apa Nadine tak sedang berada di kamar mandi?" tanya Helena.
"Tidak, Nyonya. Aku sudah mencarinya. Kamar mandi juga kosong," jawab Mira.
Hans dan Helena bergegas beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar Nadine. Ia memeriksa lemari pakaian di kamar tersebut. Benar saja, lemari pakaian itu nyaris kosong.
"Nadine pergi," ucap Hans. Helena terduduk lemas di atas ranjang. Tiba-tiba tangisnya pecah. Ia kembali jauh dari putri kandungnya.
"Sepertinya Nadine kembali ke New York," ucap Hans.
"Nadine, maafkan ibu," ucap Helena parau.
******
Di rumah Emily.
Gibran bersama ibu dan adik perempuannya terlihat mengitari meja makan. Emily menatap wajah Gibran yang pagi itu terlihat tak bersemangat.
"Kau kenapa, Nak?" tanya sang ibu.
"Nadine membatalkan pertunangan kami tanpa alasan," jawabnya. Emily lalu memandang wajah putranya dengan penuh rasa iba. Ia sudah sejak lama mengetahui jika Nadine berniat membatalkan pertunangan antara dirinya dan Gibran namun Emily tak ingin terlalu ikut campur pada masalah itu.
"Sudahlah, Nak. Mungkin Nadine bukan gadis yang terbaik untukmu," ucap sang ibu.
"Aku sangat mencintainya," ucap Gibran.
"Terkadang kita harus melepaskan orang yang kita cintai agar ia mendapatkan kebahagiaannya meskipun bukan bersama kita," ucap Emily.
"Bagaimana keadaan Andromeda? Ibu ingin sekali menemuinya," ucap Emily.
"Hari ini aku berencana mengunjunginya di rumah sakit," ucap Gibran.
"Apa ibu boleh ikut?" tanya Emily.
"Tentu saja," jawab Gibran sambil tersenyum.
Gibran melajukan mobilnya menuju rumah sakit. ia bersama sang ibu yang menaiki kursi roda pun menuju ruang perawatan Andromeda namun Gibran kaget saat mendapati ruangan tempat Andro dirawat telah kosong.
Gibran bertanya kepada seorang perawat yang melintas di hadapannya.
" Permisi, Suster. Apakah pasien di ruangan ini telah dipindahkan ke ruangan lain?" tanyanya.
"Tidak, Tuan. Pasien di ruangan ini kemarin pagi telah meninggalkan rumah sakit," jawab perawat.
Rasa kecewa tiba-tiba menghampiri Gibran. Ia pun menanyakan alamat rumah Andromeda di bagian informasi. Setelah mendapatkan alamat rumah Andro, keduanya pun bergegas mendatangi rumah Andromeda.
Aurora sedikit kaget saat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Tak lama berselang seorang pria dan wanita keluar dari mobil tersebut. Si wanita terlihat duduk di atas kursi rodanya. Aurora mengenali wajah keduanya. Kedua orang tersebut adalah Gibran bersama ibunya, Emily.
"Selamat pagi, Aurora," sapa Emily dengan senyum ramah.
"Selamat pagi, Nyonya Emily," sahut Aurora.
"Bagaimana kabar Andromeda?" tanya Gibran.
Aurora memandang wajah Gibran. Entah mengapa tiba-tiba perasaan takut menghampirinya. Ia takut jika Gibran akan merebut Andromeda dari sisinya.
Bersambung….
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕