
"Bagaimana pertunanganmu dengan Nadine? Apakah semuanya berjalan lancar?" Tanya Emily saat Gibran mengunjungi rumahnya.
"Nadine pergi, bu," jawabnya dengan suara berat.
"Kau jangan bercanda. Mana mungkin calon tunanganmu pergi di saat mendekati hari pertunangannya,"
"Aku tak bercanda. Nadine benar-benar pergi. Ia bahkan ke New York."
"New York?" Bukankah di kota itu kalian bertemu? Mengapa Nadine mendatangi kota itu kembali?" Tanya sang ibu.
"Tampaknya ia sengaja menghindariku," jawab Gibran.
"Kalian bertengkar?" Tanya sang ibu.
"Kami baik-baik saja. Bahkan terakhir aku bersamanya, kami mendatangi sebuah butik untuk memesan baju pertunangan kami."
"Tak mungkin kekasihmu berbuat senekat itu tanpa alasan yang kuat."
"Itu dia. Aku bahkan tak tahu alasannya mengapa dia melakukan hal itu. Aku kesulitan menghubungi ponselnya."
"Pikirkan baik-baik, mungkin ada ucapan atau perbuatan yang membuatnya terluka."
"Kemarin ayahnya menemuiku," ucap Gibran kemudian.
"Hans mengatakan sesuatu?"
"Ia mengatakan akan pergi menyusul putrinya ke New York."
"Kau yang harusnya melakukannya." Ucap Emily.
"Kau tahu, aku sibuk dengan pekerjaanku?"
"Setidaknya kau sudah berusaha memperbaiki hubungan kalian."
"Nadine memang kekanak-kanakan."
"Kau bisa berkata begitu sekarang. Jika kau merasa gadis itu tak cocok untukmu, harusnya tak secepat ini kau mengajaknya bertunangan."
"Nadine yang terus mendesakku."
"Kau bukan anak-anak lagi. Aku yakin kau bisa menyelesaikan masalahmu." Ucap Emily. Perempuan yang seumur hidupnya tak mungkin bisa berjalan lagi itu pun berlalu meninggalkan Gibran.
Gibran melangkahkan kakinya menuju kamar sang Adik, Alicya.
Dari luar kamarnya ia bisa mendengar jelas adik perempuannya tersebut tengah mengobrol dengan seseorang di telepon.
Sesekali ia tertawa cekikikan.
Gibran membuka pintu kamar Alicya yang tak tertutup rapat itu. Gadis yang baru duduk di bangku kelas 1 SMA itu pun cepat-cepat mematikan teleponnya.
"Kau sedang mengobrol dengan siapa?" Tanya Gibran sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Ehm...ehm…hanya kawanku," ucapnya gugup.
"Kedengarannya kalian akrab sekali."
"Tentu saja. Dia Debby, kawan sekolahku," ucap Alice.
"Kau tak sedang berbohong 'kan?" Tanya sang kakak curiga.
"Kau bisa memeriksa panggilan di ponselku." Alice menyodorkan ponselnya pada sang kakak. Meskipun gadis itu hanya berpura-pura dan berharap pria itu tak benar-benar ingin memeriksa ponselnya. Namun di luar dugaan. Gibran dengan cepat mengambil ponsel itu dari tangan Alice. "Mati aku!" Gumamnya.
Gibran membuka daftar panggilan di ponsel adik perempuannya. Di ponselnya berisi puluhan panggilan dari satu nomor yang sama.
"Siapa Dave?" Tanya Gibran.
Alicya hanya menunduk.
"Siapa Dave?" Tanyanya lagi.
"Dia…kawan sekolahku," jawabnya tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Sejak kapan Debby berganti nama menjadi Dave?" Tanya Gibran.
"Baiklah, aku mengaku. Dave yang tadi menelponku." Ucap Alice.
"Aku akan menelepon wali kelasmu. Aku ingin memastikan jika Dave benar kawan sekolahmu."
Gibran mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia hendak menelepon wali kelas Alice. Pria itu ingin memastikan jika sang adik tak sedang berbohong.
Saat Gibran mulai mendekatkan ponsel di telinganya, Alice berteriak.
"Tunggu!" Alice merebut ponsel Gibran.
"Kau kenapa?" Tanyanya heran.
"Dave…dia…kawan laki-lakiku," jawabnya.
"Sejak kapan kau punya kawan laki-laki?" Tanya Gibran. Pria itu menatap wajah sang adik yang tampak cemas.
"Aku mengenalnya di media sosial," jawabnya.
"Apa dia masih sekolah? Mahasiswa, atau…? Gibran tak melanjutkan kata-katanya.
"Entahlah. Yang kutahu dia laki-laki yang baik. Kau lihat boneka beruang besar di tempat tidurku? Itu pemberiannya minggu lalu." Gibran lalu mengalihkan pandangannya pada sebuah boneka beruang berwarna merah muda di atas tempat tidur Alice.
"Fokuslah pada sekolahmu. Jangan memikirkan hal lain. Apalagi memikirkan laki-laki." Ucap Gibran.
"Dia tak pernah macam-macam padaku, kak," ucap Alice.
"Kami hanya berteman."
"Kau gadis yang polos, jangan sampai kepolosanmu dimanfaatkan laki-laki yang tak jelas itu."
"Hubungan kami tak lebih dari sekedar teman," ucap Alice lagi.
"Istirahat lah, hari sudah malam," ucap Gibran sambil berlalu dari kamar adik perempuannya tersebut.
Alice merebahkan tubuhnya di di ranjang. Ia lalu memeluk boneka beruang besar pemberian Dave, kawan barunya yang baru beberapa minggu ini dikenalnya dari media sosial.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
~Dave: Mengapa kau tiba-tiba mematikan telepon dariku?
~Alice: Maaf, tadi kakak ku tiba-tiba datang ke kamarku.
~Dave: Kau punya kakak?
~Alice: Ya. Dia kakak laki-lakiku satu-satunya.
*****
Pagi itu di kantor Keenan.
Seorang office boy terlihat tengah mengepel lantai di ruang kerja pegawai. Ia meletakkan papan yang bertanda lantai basah di sekitar ruang tersebut.
Tiba-tiba seorang perempuan memakai high heels masuk ke ruangan itu dengan langkah cukup cepat. Ia memainkan ponselnya sambil terus berjalan. Ia pun menginjak lantai yang masih basah tersebut. Beberapa detik berselang, terdengar suara benda jatuh yang cukup keras. Perempuan itu terjatuh bersama ponsel miliknya.
"office boy si**an!" Umpatnya.
Perempuan itu lalu bangkit dari lantai dengan terus mengaduh memegang pinggangnya. Ia berjalan mendekati office boy yang tampak masih muda tersebut.
"Kau bisa bekerja tidak 'heh?" Tanyanya dengan wajah kesal.
"Lantai ini masih basah. Apa kau tak melihat papan itu?" Pria itu menunjuk papan bertuliskan "awas lantai basah" yang ia letakkan di dekat pintu masuk.
"Lihat ponselku sekarang. Rusak parah!" Perempuan yang memakai riasan tebal itu menyodorkan ponselnya yang tampak retak pada layarnya.
"Gajimu selama setahun tak akan cukup membeli ponselku." Ucapnya sombong.
"Mengapa kau menyalahkanku? Bukankah kau jatuh karena kau tak hati-hati?" Tanya office boy itu. Di luar dugaannya, pria itu berani menjawab.
"Selain ceroboh, kau juga keras kepala!" Seru perempuan itu.
"Kau yang ceroboh!" Sahut office boy itu tak kalah kesalnya.
Keduanya tak menyadari jika seseorang tengah berdiri dan mengawasi mereka dari jarak tak yang tak begitu jauh.
"Dasa office boy rendahan! To**l!" Serunya.
"Sofia!" Tiba-tiba seseorang memanggilnya dengan suara lantang.
"Masuk ke ruanganku sekarang!" Serunya.
Keduanya menatap ke arah pria tampan yang mengenakan jas dan dasi itu. Sofia menunduk. Begitupun office boy.
"Dan kau, lanjutkan pekerjaanmu," ucapnya sambil menatap wajah office boy.
Dengan degup jantung tak beraturan, perempuan itu memasuki sebuah ruangan bertuliskan kata "CEO" yang tertempel di pintu.
"Berapa lama kau bekerja di kantor ini?" Tanya pria itu.
"Hampir tiga bulan," jawabnya dengan wajah gugup.
"Bukankah pendidikanmu lebih tinggi dari petugas kebersihan itu? Tapi mengapa attitude mu seburuk itu?" Tanyanya.
Sofia tak menjawab.
"Tak baik merendahkan pekerjaan orang lain. Minta maaf lah pada pria itu," ucapnya kemudian.
"Mengapa aku harus meminta maaf? Dia yang tadi telah membuatku jatuh," jawabnya.
"Selain sombong, kau juga keras kepala rupanya." ucap pria itu.
"Minta maaf, atau hari ini adalah hari terakhir mu bekerja!" Seru pria itu.
Sofia lalu menghampiri office boy itu.
"Aku minta maaf," ucapnya.
"Itu yang seharusnya kau ucapkan sedari tadi." Jawab office boy sambil berlalu meninggalkan Sofia yang masih menyimpan kekesalan padanya.
Bersambung…
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕