AL-THAR

AL-THAR
#98. Jodoh Shelia



Akhir-akhir ini Mira merasa curiga. Seharusnya dia melihat Shelia dengan ustadz Baihaqi mengingat memang sedang ada kepentingan diantara keduanya. Selain tentunya karena laki-laki itu adalah klien Sheli, tapi Mira gak akan pernah heran dengan pertemuan instens mereka dikarenakan Sheli yang memiliki rasa istimewa terhadap Baihaqi. Walaupun kedekatan itu sempat merenggang karena masalah hidup kakaknya yang cukup rumit.


Tapi sepertinya, Baihaqi telah terbenam. Sebab sekarang Dylan alias Wira sedang terbit dan eksis di sekitar rumah mama Mira.


"Kak Wira, sudah lama?" maksud Mira menyapa hanyalah sekedar sopan saja. Dia yang baru saja memasuki rumah setelah dari kebun belakang, mendapati Wira sedang duduk di kursi ruang tamu.


Lelaki itu tersenyum sopan. "Nggak. Baru sepuluh menitan."


"Sheli lagi ngapain emangnya? Perasaan tadi dia udah mandi. Sedangkan baby Tia 'kan lagi digendong sama neneknya."


"Iya tadi waktu saya datang, dia lagi mengeringkan rambutnya, katanya."


"Sekalian smooting kayaknya, makanya jadi lama."


"Mungkin," Wira tertawa kecil.


Sekarang Mira menempati sofa sembari menemani Wira sekaligus berniat menggali info sedikit mengenai kecurigaannya.


"Sudah sembilan bulan ya, Mir?" sudah pasti, yang dimaksud Wira adalah perutnya Mira. Kemarin-kemarin kalaupun mereka bertemu, itu tidak lebih dari lima menit sebelum Shelia dan Wira berangkat ke suatu tempat.


"Hm, seminggu lagi pas sembilan bulan."


"Wah, udah siap jadi seorang ibu nih?"


Mira tersenyum. "Kak Wira, boleh tanya nggak?"


"Tanya aja, Mir."


"Kalian mau pergi kemana ya?" Mira sedikit memelankan suaranya, khawatir sang kakak mendengarnya.


"Mau jalan-jalan aja. Saya sudah suruh Shelia untuk mengajak Tia, tapi dia malah gak mau. Katanya takut Tia kepanasan."


"Emangnya kalian mau jalan-jalan ke gurun pasir ya, bisa sepanas itu? Lagian kok bisa-bisanya Tia ditinggalin mulu."


"Nah itu. Kamu bujuk kakak kamu deh, Mir. Kasihan gitu Tia kalau ditinggal lagi."


"Jadi setiap hari kalian pergi jalan-jalan nih? Dan kak Wira gak keberatan kalau sesekali jalan-jalannya sambil bawa Tia?"


Kali ini Wira yang tersenyum mengerti. Dia sangat mengerti maksud dari pertanyaan Mira. "Saya gak keberatan sedikitpun membawa Tia ikut jalan-jalan. Kemanapun, kapanpun. Karena saya suka sama Tia. Saya bisa menganggap Tia sebagai anak saya sendiri, andai Shelia mengizinkan."


Mira menganga. Benarkah pendengarannya itu? tapi melihat dari raut wajah Wira sembari berkata seperti itu, rasanya Mira hampir percaya kalau laki-laki bersungguh-sungguh. "Serius?"


"Serius, Mir. Saya memang berniat untuk ke arah lebih serius lagi berhubungan dengan kakak kamu. Insyaa Allah saya siap bertanggung jawab kepada Shelia dan Tia untuk seterusnya."


wah....


Mira terdiam sejenak. Ini mendadak yang sangat-sangat membahagiakan tentunya. Tapi kenapa Sheli belum pernah bercerita sekalipun tentang keseriusan Wira itu?


"Saya sebenarnya pernah menikah satu setengah tahun yang lalu. Tapi, istri dan anak pertama saya yang masih berada di dalam kandungannya ternyata mesti diambil Tuhan secara bersamaan," terang Wira.


Refleks Mira menyentuh perutnya dan membayangkan apa yang dirasakan oleh istri Wira. "Kok bisa?"


"Almarhumah istri saya jatuh di kamar mandi. Kandungannya yang berusia lima bulan pun mesti ikut bersamanya karena nggak mampu bertahan di dunia ini. Saat itu terjadi pendarahan yang cukup hebat ... well ... yah ...." dia berhati-hati dalam memilih kata. Sebab dilihatnya Mira yang saat ini tengah hamil besar.


Menelan saliva pelan, Mira rasanya merinding mendengar kejadian seperti itu. Karena bagaimanapun kondisinya saat ini sedang hamil besar. Tentunya ada rasa khawatir yang membayangi. Sudah pasti dia prihatin dengan kejadian yang menimpa istri Wira. Tapi ada rasa tidak nyaman yang coba ia tahan setelah mendengar cerita yang berhubungan dengan kandungan.


"Maaf, Mir. Saya nggak bermaksud bikin kamuโ€“"


"Nggak, Kak. Justru aku yang minta maaf karena membuat Kak Wira menceritakan kejadian yang pastinya amat menyedihkan itu."


Laki-laki itu mengangguk pelan. "Lebih dari sedih, saya benar-benar terguncang. Butuh waktu hampir setahun bagi saya untuk menjalani hidup dengan biasa-biasa saja. Maka ketika saya akhirnya bertemu lagi dengan Sheli dan Tia, saya merasa seperti menemukan kembali kebahagiaan saya. Sungguh, saya berniat tulus untuk menikahi kakak kamu. Karena rupanya, rasa yang dulu pernah ada terhadap Shelia, sekarang pun masih ada di hati saya."


Wira mengangguk. "Sudah."


"Trus, jawabannya apa?"


"Dia butuh waktu untuk menjawabnya."


Ya ampun, kenapa mesti pake lama sih? Bikin gemas


Mira masih penasaran, kenapa Sheli belum bercerita apa-apa tentang niat baik Wira itu. Apakah Sheli masih ragu terhadap Wira? ataukah masih memiliki rasa kepada Baihaqi?


Dia jadi gak sabar untuk mendengar curhatan kakaknya segera.


"Kak Wira sudah tahu cerita hidup Sheli?" tanyanya agak ragu.


Maka yang dilihatnya adalah Wira yang mengangguk dengan mantap. "Shelia sudah cerita dengan jelas bagaimana hidupnya, hingga Tia lahir ke dunia ini. Semuanya. Tanpa terkecuali."


"Trus?"


"Saya mampu menerima itu semua, Mir. Siapa saya yang sebenarnya tidak lebih baik dari Sheli. Apapun masa lalu Sheli, itu bukan masalah untuk saya."


...---...


Bosan. Begitulah keadaan Mira siang itu. Mama sedang membuat kue beserta dua orang karyawannya di dapur. Sedangkan Mira, setelah membaca buku, jalan-jalan di taman sembari memeriksa tanaman bersama Mang Kliwon, sekarang dia mengambil ponselnya untuk memulai ghibah online bersama grup chatnya dengan teman kuliah. Mira mesti updatelah tentang berita-berita yang terjadi di kampus. Walaupun saat ini dia tengah mengambil cuti.


Baru saja dia memulai pembukaan dengan gosip bahwa Abay menembak cewek, itu harus dipending dulu karena sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenalnya.


Walau ragu, Mira akhirnya menjawab juga.


"Ya, moshi moshi? yeoboseyo?"


"Halo, Mir?"


"Iya, saya. Ini siapโ€“" rasanya Mira kenal suara ini. Tapi,


"Gue Diva."


Tuh, 'kan. Memang Mira sudah hafal banget sama suara itu. Cuma, karena jarak antara keduanya semenjak akrab dulu, perlahan Mira jadi enggan untuk peduli lagi dengan suara itu. Apalagi setelah pertemuan terakhir di Jakarta beberapa waktu yang lalu, Mira rasanya ingin benar-benar berjauhan dulu dari Diva. Biar Mira tenang menghadapi persalinan yang tidak akan lama lagi.


"Hm. Kenapa?" tanyanya enggan. Sumpah, Mira malas banget buat ngobrol sama Diva. Kenapa harus Diva yang malah mengisi kebosanannya sekarang?


Ada jeda sebelum Diva bersuara lagi. Ada juga perasaan Mira yang mengatakan kalau nada suara Diva barusan berbeda. Ya, cukup berbeda dari sebelumnya yang selalu sinis saat berbicara kepadanya. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi Mira merasa kalau suara Diva ... persis seperti dulu saat persahabatan mereka masih baik-baik saja.


Pada akhirnya, Mira mendengar helaan nafas di seberang yang disusul dengan sebuah ucapan,


"Gue minta Maaf."


...***...


Aduh, aku udah kepengen banget tamatin Althar ini. Setelah itu aku mau lanjutin "like drama", trus "mendadak babu" di Joy, juga ada satu cerita baru yang udah kepeng banget meluncur di WP. (eh, padahal di wp draft ceritaku buanyak banget ๐Ÿ˜‚)


Oh ya, sebenernya aku udah pernah spoiler nama anaknya mimir-athar loh. Lupa di bab berapa. tapi nanti dalam bentuk project juga pastinya. Waktu itu aku kasih covernya. Tapi cover masih bisa berubah. ๐Ÿ™ˆ


Althar gak sampai 10 bab lagi kayaknya....


makasih buat yang udah setia. ๐Ÿ˜˜


*