AL-THAR

AL-THAR
#60. Di Surabaya



Happy reading!


🍔🍔


Setelah satu setengah jam berada di pesawat yang cukup menyiksa untuk Mira, akhirnya ia bisa bernafas lega ketika sudah menginjakkan kakinya di kota Surabaya. Bagaimana ia tidak tersiksa kalau dia harus menahan mual yang sempat datang selama di pesawat. Untung saja kantuk segera menyerangnya hingga waktu tak terasa berlalu dan sampailah ia di kota tujuannya.


"Non, Mira!"


Seseorang menyapa Mira tapi Mira gak mengenalnya. Bukan tidak mengenal sama sekali, Mira pernah tau wajah itu adalah salah seorang anak buah Athar. Hanya saja, Mira lupa sama sekali dengan namanya.


begini nih kalo tinggal rame-rame,


di rumah banyak orang berseliweran sampai gue gak hafal nama-nama mereka.


Lain kali bakalan gue bikinin name-tag tiap orang, biar gue bisa hafal nama-namanya.


"Ya?"


"Mari,"


"Kamu disuruh bang Athar ya? itu artinya bang Athar tahu aku kesini gitu?" tiba-tiba Mira kehilangan semangat. Mestinya dia sudah busa menduga dengan kemampuan suaminya itu kan?! Mana mungkin Athar membiarkannya tanpa pengawasan saat jauh begini.


"Bukan, Non. Saya disuruh Roy tanpa harus bilang ke mas Athar."


"Serius?" Memang sih Mira menceritakan niatannya ini kepada Linggar dan Roy. Makanya, kedua bodyguard nya itu menurut untuk tidak mengikut dengannya.


Semangatnya kembali lagi. Dia tersenyum dan berujar, "Ah bagus deh."


"Mari,"


"Kemana?"


"Roy sudah memberitahu kalau Non mesti istirahat di hotel dulu kalau sudah tiba."


"Oh gitu," Mira melangkah mengikuti orang itu. "By the way, nama kamu siapa ya?"


"Saya Rhino," jawabnya sambil membuka pintu mobil.


"Rhino? Rhino bukannya bahasa Inggrisnya badak ya?"


Wajah pria itu tersenyum datar dan singkat tanpa menyahut lagi. Ia segera menuju kursi untuk pengemudi.


eh, gue ngapain coba ngatain nama orang segala. Hadeh, mulut ini.


Perjalanan menuju hotel tak terlalu jauh. Satu jam saja Mira sudah melihat bahwa mobil akhirnya berbelok pada sebuah hotel. Memang benar sih, dia sudah kangen banget dengan air hangat yang akan merendamnya seperti biasa. Dan hotel adalah tempat terbaik sebelum dia nanti bertemu dengan Athar dan memberi kejutan manis untuk kehidupan mereka.


Mira senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Athar sebentar lagi. Sabar, bathtub adalah hal yang dirindukannya lebih utama sekarang.


Begitu sampai di hotel, Mira yang memang sudah disiapkan kamarnya, lantas segera diberikan kunci kamarnya oleh Rhino. Lalu tak perlu buang waktu hingga ia langsung mengambil jalan yang lurus menuju kamarnya.


"Air, air, air ..." tangannya sibuk melepas pakaian dan segera menuju kamar mandi. "Ya ampun, gue kayak ikan yang berlama-lama di darat. Gue butuh air dengan segera."


.


Kurang lebih sejam lamanya Mira berendam. Dia sangat bahagia dan merasa segar kembali setelah merasakan panas dan mual selama perjalanan dari Jakarta hingga hotel.


Kini Mira telah siap dengan taksi menuju kantor dimana Athar berada sekarang. Sebelum keluar dari hotel, Mira sempat membaca pesan di hpnya kalau Rhino tak dapat mengantarnya karena suatu alasan penting. Dan itu bukanlah sebuah masalah. Toh niat Mira adalah memang untuk datang mengejutkan suaminya.


Gedung yang berada di depannya kini tidak terlalu besar. Mungkin hanya terdiri dari empat atau lima lantai saja, saat Mira melongoknya ke atas sesaat yang lalu. Dengan langkah bahagia dan menahan senyum, ia menuju lantai tiga dimana Athar kini berada, sesuai dengan informasi di meja resepsionis tadi.


Hari sudah sore. Mira yakin kalau sebentar lagi adalah jam pulang Athar.


Dengan penuh kepercayaan dirinya, Mira telah melangkah di lantai tiga dan berhadapan langsung dengan seorang yang diyakininya adalah sekretaris di sana.


"Ibu Almira?" tanya seorang wanita di belakang meja yang Mira hampiri.


"Iya."


"Ada keperluan apa dengan Pak Athar?"


Wanita itu melebarkan matanya. Terlihat jelas wajah terkejutnya atas ucapan Mira barusan. "Oh maaf saya gak tahu, Bu."


"Nggak apa-apa,"


"Ternyata ini istrinya Pak Athar? Oalah, maaf saya gak kenal. Soalnya saya gak datang waktu nikahan Pak Athar."


Mira tersenyum saja.


"Kalau begitu langsung masuk saja, Bu."


"Oh ya, terima kasih."


...💔💔...


"Ma ... kalau aku menikah dengan perut besar begini, apa Mama gak akan malu?" tanya Shelia.


Pertiwi memperhatikan dengan seksama ekspresi putri sulungnya itu. Ada ketegaran dan sebuah keyakinan, tekad, serta kekuatan dalam menghadapi hidup. Namun di sisi lain, tertangkap juga sorot mata tak berdaya yang putrinya itu tampakkan walau sedikit.


"Menurut kamu sendiri sebaiknya gimana, Shel?"


"Kok aku?"


"Iya, kamu. Mama sudah pasrah, Shel. Terserah apa mau kamu. Terserah menurut kamu, Mama terima. Mama mampu lebih tegar dari ini, Shel. Gak apa-apa."


Shelia merasa seperti hatinya tertusuk jarum. Ya, rasa itu kecil, tapi sakit.


Bukan maunya untuk memberikan malu serta aib kepada keluarganya, terutama sang mama. Tapi semua telah terjadi di luar kewarasannya. Katakanlah seperti itu. Bahkan ia sendiri merasa kalau ia adalah penjahat sekaligus korban di saat bersamaan. Maka dari itu ia bertekad untuk mengakhiri nyawanya beberapa waktu lalu.


Kemudian, di saat ia telah mampu menerima dan memaafkan dirinya sendiri, rupanya itu belumlah cukup berarti. Masih ada seseorang yang ia perlu jaga hatinya. Yakni mama. Bagaimana sorot mata pedih, kecewa, dan terluka itu menatapnya dalam diam. Sebagai anak yang penuh dosa, Shelia merasa kalau ia perlu menebus semua kesalahannya dengan membahagiakan sang mama. Entah gimana caranya.


Shelia segera menghapus air mata yang sekonyong-konyong hadir tanpa permisi. "Maafin aku, Ma. Aku–"


"Sst, sudah, Shel. Semua sudah terjadi. Tak perlu kamu ungkit lagi. Dari pada itu, lebih bail kamu dan kita memperbaiki semuanya."


"Bryan melamar aku, Ma. Kedua orang tuanya juga sudah menyuruh kami untuk menikah dengan segera."


"Lalu?"


"Tapi aku sama Bryan ..."


"Kenapa?"


"Bryan itu ..."


"Sheli,"


"Dia beda keyakinan sama kita, Ma. Aku mesti gimana?"


...💖💖...


Mira gak pernah sekalipun menyusun kalimat manis dalam hidupnya. Tak pernah juga ia berupaya memberi kejutan dengan segenap rasa dalam dirinya seperti hari ini.


Bayangan-bayangan reaksi, kata, dan sikap suaminya nanti manakala ia memberitahu sebuah kabar bahagia telah memenuhi benaknya dalam beberapa hari.


Telah ia yakini jikalau anak adalah pembuka jalan menuju bahagianya sebuah rumah tangga. Terutama rumah tangganya dengan Athar. Ia mengingat lagi bagaimana Athar yang kerap kali menyinggung masalah keturunan, sedangkan Mira sendiri justru malah takut entah dengan sebab yang mana. Dan selama ini pembahasan mereka masih dalam kata sepakat untuk menunda.


Lalu, ketika akhirnya yang ditunda malah sudah hadir tanpa prediksi, maka jelas kebayang akan sebesar apa bahagia suaminya nanti saat mengetahuinya.


Mira lagi-lagi tersenyum bahkan ketika tangannya telah menyentuh kenop pintu ruangan dimana Athar kini berada. Perlahan tangannya memutar benda itu dan mendorongnya.


...***...


sorry for typo. (blm revisi)


.