AL-THAR

AL-THAR
#61. Kenapa?



Selamat membaca dengan bahagia! 😁


...---------- β˜•β˜•β˜•----------...


"Abang," ucap Mira dengan pelan dan nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri. Tapi ternyata itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Athar menoleh dan melihat kehadiran Mira di sana.


Sungguh, terkadang ketika kita mendapati bahwa hidup tak akan seindah hayalan dan harapan, maka yang terjadi adalah rasa sakit hati yang luar biasa. Tapi dalam kasus Mira, tolong beri ia waktu beberapa menit saja untuk mencerna dan memastikan bahwa semua tak seperti yang ada dalam pikiran buruknya.


Athar melihat Mira dengan tatapan yang tak mampu Mira kenali. Terasa jauh tak tergapai, dingin, dan membuat hati Mira seperti merasakan tusukan ribuan jarum.


kenapa?


apa yang terjadi?


Baru saja matanya menangkap pemandangan bahwa Athar sedang memeluk seorang wanita yang kini dalam posisi tengah membelakanginya.


Bukan seperti adegan sinetron atau drama yang apabila suatu pengkhianatan itu terjadinya maka dengan buru-buru si pelaku menjauhi partner nya. Yang ada dalam pandangan mata Mira sekarang adalah ... Athar yang barusan tengah memeluk seseorang, kini menatap Mira tanpa melepaskan pelukan itu. Hingga perlahan si wanita itu sendiri yang menoleh kepada Mira dan melepaskan dirinya dari pelukan Athar.


Nanda.


Mira tak mampu mengeluarkan kata-kata untuk saat ini karena kejutan yang didapatinya. Apa? Mengapa? Dan harus bagaimanakah ia menanggapinya?


Benar, Mira mematung di tempat. Hayalan bahagianya telah musnah. Kini telah berganti dengan kenyataan yang seolah mengatakan kalau ia baru saja terbangun dari mimpinya. Kenapa mimpi? karena yang terjadi sebelumnya adalah cerita-cerita indah dalam hidupnya. Kehidupan pernikahan yang terasa manis dan seolah seperti mimpi baginya.


Apakah benar ia telah menikah?


Kalau ya, maka apakah laki-laki yang berdiri di depan sana adalah suaminya?


Kalau ya, maka kemana adegan yang harusnya terjadi manis seperti biasanya? Apakah itu semua cuma hayalannya selama ini?


"Abang ..." lirihnya. Tak kuasa ia berucap, sebab Athar sendiri seperti orang asing yang tak mengenalnya. Suaranya tercekat karena tak mampu melafalkan lagi. "Aku–"


Mungkin gue masih mimpi di pesawat. Ya, pasti begitu. Jangan cemas, Mir. Semua cuma mimpi!


"Aku di sini ..." cicitnya. Namun tak ada juga respon dari Athar. Hati Mira terluka. Mengapa harus tatapan asing seperti itu yang Athar berikan kepadanya?


Abang gak mengharapkan aku di sini?


Mira pasrah tanpa kata lagi. Perbuatan Athar barusan telah menjawab mengapa lelaki itu hanya terdiam dan menatapnya dengan dingin.


Ya sudah ...


Bila memang ini yang harus terjadi. Buat apa ia mesti berdiri lebih lama lagi di sini?


"Aku harus ... pergi ...."


Tak butuh waktu lama saat Mira akhirnya berbalik dan mulai menapaki langkah kakinya yang terasa amat berat. Dia bahkan tak peduli bila air matanya telah mengalir deras dan tak sempat untuk diusapnya.


.


Sepeninggal Mira dari ruangannya, Athar kembali ke kursinya dengan lemas. Kedua sisi hatinya sudah lelah untuk berdebat tentang mana yang mesti didengarkan. Hingga akhirnya ego mampu tampil dan menjadi pemenang.


"Wah wah ... aku dimanfaatkan." Nanda berjalan pelan menghampiri Athar. "Gimana? Apa imbalanku, hm? Di dunia ini gak ada yang gratis kan?!"


Athar tak menyahut. Dia duduk bersandar dengan mata menatap jauh ke balik jendela. Fikirannya telah kusut. Sekarang ia hanya ingin menyelesaikan episode untuk hari ini. Hanya saja ... lututnya masih terasa lemas.


"Athar ..."


Athar mengangkat tangan sebagai isyarat untuk wanita di dekatnya itu diam. "Beri saya waktu ...."


"Untuk?" desak Nanda.


"Untuk memikirkan semua ini," sahut Athar tanpa repot-repot menoleh pada Nanda.


"Setelah kamu memanfaatkan keberadaanku bahkan memelukku, kamu masih mau memikirkan apa lagi?" Nanda tak mengerti dengan lelaki di dekatnya itu. "Tapi ... asal kamu tau kalau aku tidak keberatan untuk kamu manfaatkan. Asal kamu senang," ia meletakkan tangannya di bahu Athar. Namun secara halus tapi pasti, Athar melepaskan tangan itu dari bahunya sendiri dan berdiri.


Athar menatap Nanda sesaat. "Sorry." kemudian ia pergi dari kantornya.


Mira gak ingat bagaimana ia kembali ke hotel. Entah mobil siapa yang mengantarnya, dia bahkan tak melihat wajah sopirnya. Karena mata Mira penuh dengan air mata sejak ia melangkah keluar dari ruangan Athar. Yang Mira ingat bahwa mobil itu telah mengantarnya kembali ke hotel, dan ia memang sangat ingin menemukan bantal untuk segera menampung kesedihannya.


Ya, Mira sesakit itu rasa hatinya. Dia sudah seenggukan dengan menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur kamar hotel.


Apa yang sebenarnya terjadi bahkan Mira gak ngerti. Yang ia tahu saat ini airnya bagaikan air bah yang tumpah ruah seolah tak ada habisnya.


"Gue tuh kenapa ... serius gue kan nggak salah alamat ... itu beneran bang Athar ... huaaa ...." Mira terisak, sesenggukan, bahkan meraung seolah tak cukup menggambarkan tangisannya yang maha dahsyat itu.


"... masa dia setega itu sama gueee ... masa iya dia amnesia? Eh–" Mira tertegun sejenak dan menghentikan tangisannya. Tapi kemudian dia segera menggeleng dan kembali menangis. "Amnesia? Mana ada! Emangnya ini sinetron? Emangnya drakor? Mana ada cerita amnesia? kecelakaan juga nggak kan bang Athar. Masa iya dia kejedot pintu trus amnesia gitu?" Mira larut dalam dugaan-dugaan di dalam kepalanya. Pemikirannya yang absurd, ruwet, ditambah dengan syok karena merasa dikhianati kini membuat kepalanya semakin pusing saja.


"... apa dia kena pelet si cewek seksi itu? Huaaaa ... tega amat. Kenapa mesti suami gue yang dia pelet? kenapa bukan laki-laki yang lain? ya ampun, jaharaaaa kau wanitaaaa ..."


" ... ini mimpi apa nyata sih ...."


Semoga aja hamil gue juga cuma mimpi. Semoga test pack itu salah, gak akurat. Karena sekarang gue gak pengen punya anak dulu di saat begini ....


"Kenapa ... kenapa begini ...."


Entah berapa lama Mira larut dalam tangisnya yang begitu pedih dan menyesakkan. Dia bahkan seolah tenggelam di kasur hingga tak mampu untuk bangkit dalam waktu dekat.


ceklek


Dia terkejut saat pintu kamar hotel terbuka. Bukankah kuncinya dia yang memiliki? Lalu kenapa bisa–


Mira yang baru menoleh dan mendapati Athar di sana, berdiri di depan pintu sambil menatapnya, kini malah Mira enggan untuk melihat suaminya itu. Ia kembali menangis dan menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Mira sesenggukan tanpa peduli kalau langkah Athar terdengar semakin mendekat ke arahnya ... lalu berhenti.


Hening beberapa saat. Tak ada suara yang keluar dari mulut Athar. Hanya suara sesenggukan dari Mira saja yang memenuhi kamar. Setelah berupaya meredam perasaannya barang sebentar saja, akhirnya Mira mampu bangkit dari posisinya dan kini duduk menghadap Athar yang ternyata masih berdiri di tengah ruangan. Kenyataan kalau suaminya itu tak berniat mendekat ke arahnya, membuat air mata Mira mengalir lagi, dan hatinya semakin perih.


Mira menangis lagi dengan keras. Matanya tertutup air mata. "Aku pikir ... Abang ... bakalan senang ada aku di sini ... tapi ternyata ...." ucapannya yang terbata-bata hanya sampai itu saja. Selanjutnya ia hanya menangis lagi.


"Gak perlu menangis, Al,"


sialan kan, dia gak amnesia!


"GAK PERLU GIMANA?" semburnya marah dalam tangis. "Abang jahat sama aku. Abang selingkuh, dan itu sakit! GIMANA AKU GAK NANGIS?"


"Benar, saat seseorang yang amat kita cintai itu berbuat jahat kepada kita, maka rasanya akan sangatlah sakit."


Ucapan pelan Athar yang sarat akan kemarahan itu membuat Mira menahan tangisnya sesaat. maksudnya dia apa?


Walau tak mengerti maksud dari ucapan Athar barusan, Mira tak berniat untuk memperjelas dan hanya ingin menangis saja. Hatinya sesakit itu untuk mampu berfikir logis. "Jadi Abang ..." sesulit itu untuk mengucapkan kenyataan. "... yang aku lihat tadi ... itu benar?"


Athar hanya menatap tajam Mira. Sorot matanya terlihat marah dan entahlah ... Mira gak ngerti.


Mira manggut-manggut seakan paham dengan kata-kata yang tak mampu Athar ucapkan, dan cukup tersampaikan oleh tatapan matanya saja. "Aku bakalan paham andai Abang mau jujur sama aku kalau ... kalau emang kita harus berakhir ...." kalimat pahit itu terdengar seperti berbisik karena Mira terlalu pedih untuk mengucapkannya.


"Kamu jangan menempatkan dirimu hanya sebagai korban di sini,"


Mira mendongak mendengar ucapan Athar barusan. Sebuah ucapan yang terdengar tanpa belas kasih. Dan itu membuatnya semakin sesak lagi.


"Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?" tanya Athar dengan tajam.


"Maksudnya?"


"Aku berbuat begini itu karena kamu, Al. Makanya, sebelum kamu berbuat sesuatu, pikirkanlah baik-baik bagaimana perasaanku. Aku tadi hanya melakukan peran seperti yang kamu lakukan. Dan bagaimana reaksi kamu? Bagaimana perasaan kamu? Maka itulah perasaanku. Dan apa pernah kamu mencoba untuk mengerti di posisiku? Gak pernah, Al. Jadi jangan salah kan aku yang ingin membalas kamu seperti perbuatanmu kepadaku ... di belakangku."


Athar merogoh saku jasnya dan melemparkan beberapa lembar foto ke hadapan Mira dengan kasarnya. Setelah itu ia melangkah keluar untuk pergi meninggalkan kamar hotel, tanpa peduli dengan keberadaan Mira di sana.


...***...


Hmmm ... baru awalan apa nggak ya? πŸ˜†πŸ™ˆ kabooooorrrr πŸƒπŸš΅πŸ‡πŸš£


β˜”