AL-THAR

AL-THAR
#69. Kapan Dia Pulang?



happy reading!


 


Seperti biasa, semenjak tidak ada Athar yang menemani tidurnya, maka Mira selalu menyetel alarm agar ia dapat terbangun dengan tepat waktu. Karena biasanya, setelah menikah tepatnya, maka alarmnya adalah Athar. Tapi bukan dibangunin oleh suaminya itu ya. Sama sekali bukan. Justru Athar amat sangat susah untuk dibangunkan. Namun yang membuat Mira terbangun dengan sendirinya adalah karena kebiasaan pergerakan Athar dalam tidurnya. Ya, sesederhana itu ketika hidup kita berubah tidak sendiri lagi. Ketika terbiasa tidur dengan seseorang yang menemani.


Hanya saja, seminggu ini Mira lalui dengan cukup berat. Dia berupaya untuk mengingat lagi kebiasaannya dulu, kala sebelum menikah. Untungnya hanya membutuhkan dua hari saja keresahannya itu. Karena selebihnya adalah rasa kesal yang akhirnya memaksa ia untuk legowo menerima nasibnya.


Setelah meraba alarm hpnya dengan mata terpejam ia mematikannya. Kini perlahan matanya terbuka dan mengerjap sesaat.


Matanya menatap sebuah pemandangan yang ia rindukan.


"Eh ... gue masih mimpi rupanya ...." gumamnya pelan. Ia menghela nafas dan mengucek kedua matanya lebih dulu sebelum membukanya lagi. "Halu? Iya ... gue pasti halu ...."


Lantas ia segera bangkit untuk duduk dan memindai keadaan sekitar kamarnya selama beberapa saat. Setelah dirasanya matanya cukup segar, otaknya sudah waras, dan kesadarannya sudah kumpul sepenuhnya, maka Mira menoleh kembali ke arah kanannya. Ia memastikan lagi apa yang baru saja dilihat oleh matanya saat terbangun.


"Bang Athar ..." ucapnya nyaris berbisik. Kapan dia pulang? kenapa tahu-tahu udah ada di kasur aja?


Ya, suaminya itu nampak sedang terpejam pulas dengan nyenyaknya, di sisi Mira tidur.


Apakah ini mimpi? Halu? Atau hanya sekedar hayalan semu alam bawah sadarnya yang memang sedang menahan rindu?


Entah, Mira gak tahu. Yang pasti ia segera mencari tahu jawabannya.


Sebuah cubitan ia layangankan di lengan Athar yang menjulur di dekatnya. Namun tak ada pergerakan sama sekali dari si empunya tangan.


Lalu Mira melayangkan cubitan yang paling kecil ke arah perut lelaki itu–


"Duh duh duh ..." Athar mendesis tajam dan langsung membuka matanya.


Kini keduanya saling bertatap lekat tanpa suara. Entah, Mira gak ngerti arti tatapan Athar sekarang kepadanya. Dan ia tidak peduli. Setelah menahan sesak karena rindu yang berlebihan, kini dalam kepala Mira menari-nari lagi ingatan sewaktu di Surabaya itu. Bagaimana Athar memeluk, menatapnya tajam, lalu meninggalkannya begitu saja. Hingga tega memblokirnya pula. Sungguh itu semua amat menyakitkan dan membuat rindunya terkubur seketika, dan berbalik menjadi rasa kesal yang teramat sangat.


Refleks tangannya meraih bantal yang tadi dipakainya untuk tidur, dan sekarang ia memukulkan bantal itu ke tubuh Athar sekuat tenaga. Semua rasa berkumpul menjadi sebuah kekuatan yang ingin terlampiaskan dengan segera.


"Al! Aduh–"


"Rasain! Siapa suruh tiba-tiba tidur di kasur orang sembarangan, hah?" Mira benar-benar marah dengan tangan memegang bantal yang membabi-buta.


"Al, stop! Berhenti!"


"Gak mau! Siapa kamu, hah? Seenaknya masuk kamar aku gak pake permisi?"


Athar berhasil menangkap bantal Mira dan berkata dengan ketus, "Jadi kamu amnesia baru pisah seminggu aja? Lupa punya suami?"


Mira melebarkan matanya. Amarahnya semakin bertambah. "GAK KEBALIK? Abang tuh yang lupa punya istri! Aku ditinggal gitu aja, gak bertanggung jawab! Abang yang jahat! Abang pergi tanpa denger penjelasan aku dulu. Bahkan Abang blokir aku. ABANG YANG JAHAT!"


"Aku gak pernah lupa punya istri ya! Aku selalu ingat kamu. Dan aku gak ninggalin tanggung jawab gitu aja ya, karena aku sudah kasih credit card aku ke kamu. Dan sekarang kamu juga blokir aku. Kamu juga jahat, Al!"


"Abang tega pelukan sama cewek seksi itu. Abang bikin aku nangis!" Mira abai dengan bantahan Athar. Dia fokus dengan segala rasa yang ada di dalam hatinya.


"Karena kamu juga tega pelukan sama si sialan itu di belakangku!"


"AKU GAK PELUKAN!" bantah Mira dengan keras. "Mana ada aku kayak gitu! Dia yang tiba-tiba peluk aku. Aku sama sekali gak tau. Tapi Abang–" tak terasa air mata telah mengalir di pipinya. "Abang yang sengaja peluk dia ... Abang jahat ...." lirihnya di akhir kalimat.


Athar tahu kalau sifat egoisnya masih saja sulit untuk dikendalikan. Meskipun statusnya kini adalah sebagai seorang suami yang mesti sabar dan menjadi imam untuk sang istri, tapi dia juga manusia yang bercela. Ada kalanya ketidaksempurnaan yang dimilikinya itu akan nampak dan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi sakit hati. Maka bila ia memikirkan lagi perbuatannya, sungguh itu lebih banyak penyesalannya dibandingkan kekesalannya. Hanya saja, ego dan gengsi masih lebih mendominasi dari itu semua.


Tiba-tiba ... dia baru mengingat sesuatu.


"Al ..." tangannya ingin meraih Mira. Bahkan nada suaranya saat menyebut nama istrinya itu pun terdengar amat lunak.


Tapi Mira segera menepis tangan Athar. "Abang beneran jahat," desis Mira.


"Iya, aku jahat. Aku tahu kalau kamu gak akan menghianatiku. Itu semua hanya ketakutanku yang berlebihan, karena memang kamunya yang masih labil–"


"Aku nggak labil. Aku cuma gak tegaan," bantah Mira. "Itu kelemahanku."


"Iya justru itu yang bikin aku takut, Al. Aku takut kamu–" ia menjeda. "Aku orangnya nggak bisa dipermalukan, Al. Egoku terlalu tinggi untuk menerima kalau istriku dipeluk orang lain," kata Athar beralasan. "Itu terlalu melukai harga diriku sebagai seorang suami."


"Iya, maaf pada bagian itu," sahut Mira langsung dengan pelan. Kepalanya tertunduk karena menyesali kejadian yang selalu di luar kendalinya. Gimana bisa kalau itu tentang Ryo maka hati Mira mudah merasa tidak tegaan.


Athar mengangguk pelan.


"Tapi bukan berarti sikap dan perbuatan Abang itu benar," Mira mengangkat pandangannya lagi dan menatap Athar dengan tajam.


"Aku gak tersiksa tuh. Udah biasa aja," Mira berkilah.


"Ya, bagus kalau kamu gak tersiksa. Aku yang terhukum sendiri karena perbuatanku," ucap Athar dengan kesabarannya yang perlahan kembali.


"Sampai blokir nomor aku segala,"


"Maaf, Al, maaf. Aku begitu supaya aku gak menghubungi kamu cuma untuk marah-marah. Karena memang aku masih dalam keadaan marah kemarin."


"Oh sekarang udah gak marah nih?"


Athar menjawab Mira dengan tatapan yang dalam. Sesaat kemudian ia menggeleng pelan. "Bohong kalau aku bilang bahwa amarahku sudah sepenuhnya hilang. Masih ada rasa kesal itu di hatiku, tapi sedikit. Itu gak seberapa dan gak ada artinya dibanding dengan rasa sayang aku sama kamu, Al. Aku tahu kalau cara dan perbuatanku dalam menghadapi masalah kita ini adalah kurang tepat. Tapi itulah sisi ketidak sempurnaanku. Aku yang gak berharap hubungan kita hancur tapi juga gak bisa mengendalikan emosiku.


Ya, aku salah, Al. Ampuni aku. Sungguh aku benar-benar minta maaf sama kamu. Dan aku harap kita selesaikan ini baik-baik,"


"Kenapa kemarin gak mau selesaikan ini baik-baik, hah?" balas Mira dengan ketus. "Abang malahan kabur, pergi, blokir ... dan sekarang dengan mudahnya meminta maaf."


"Jadi kamu belum maafin aku?"


"Jelas!"


Athar mengangguk. "Iya, aku mengerti. Kamu boleh marah sebanyak yang kamu mau. Tapi tolong izinkan aku untuk memelukmu ...."


Mira terdiam dengan mata masih membalas menatap Athar. Ingin rasanya ia melempar diri ke dalam pelukan itu. Tapi, ia juga memiliki ego dan gengsi yang membuatnya tetap memegang teguh pada rasa kesal.


"Jangan mimpi!"


...🌻🌻🌻...


Mira berlama-lama berendam di bathtubnya seperti biasa. Setelah mengeluarkan kekesalannya pada sang suami yang mendadak sudah pulang itu, kini ia butuh waktu agar marahnya sendiri juga reda. Persis seperti Athar juga kan?!


Sambil berendam, pikirannya melayang kemana-mana.


Kalau lebih diteliti lagi, ternyata ada rasa bahagia yang ia coba ingkari manakala mendapati Athar yang tahu-tahu telah kembali ke sisinya. Perasaan membuncah itu seiring dengan rasa bahagia kala mengingat bahwa saat ini dirinya tengah berbadan dua. Bagaimana bila suaminya itu tahu kalau mereka akan segera menjadi orang tua? Bahagiakah? Atau bakalan ada drama sinetron mengenai DNA?


Mira menggeleng pada kemungkinan yang kedua. Terlalu berlebihan bila ia berpikiran seperti itu. Kini ia hanya mesti fokus untuk memaafkan. Karena perihal memberi maaf itu tak semudah bila hanya lidah yang bekerja. Dan bagian yang paling terpentingnya adalah hati. Hatinya sendiri yang mesti tulus untuk memaafkan.


tok tok tok


"AL!" seruan itu dari Athar yang berada di balik pintu kamar mandi.


Untung udah gue kunci pintunya.


"Al kamu lama banget sih?"


Mira enggan menyahut. Sumpah deh, dia malas banget untuk memulai memaafkan. Biar waktu aja deh yang menyelesaikan.


Dalam pikirannya, kenapa sih makhluk berjenis laki-laki itu mesti mudah sekali untuk melupakan sebuah masalah? Semua selesai dengan kata maaf dan seolah tak pernah terjadi apa-apa gitu?


Dia kesal memikirkan itu. Karena menurut pemikirannya, sebuah masalah gak bisa dijadikan sederhana dan mudah kalau sudah pernah terasa amat menyakitkan. Malaikat telah mencatat dan itu gak bisa dimaafkan dengan mudah.


"Al, buka! Kalau kamu gak buka, nanti aku dobrak pintunya!"


Dengan terpaksa Mira segera menyudahi kenyamanannya dalam merendam diri. Setelah membilas tubuhnya sekali lagi, maka Mira segera memaki bathrobe dan membuka pintu kamar mandi.


Di sana Athar masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan menatapnya lekat.


"Berisik banget sih! Mulai sekarang jangan pernah ganggu aku kalau aku lagi di kamar mandi. Ngerti?!"


...***********...


📜 Aku pengen bilang kalo tokoh Athar itu gak sempurna. Meskipun tampilannya mungkin terlihat sempurna, tapi sifat dan karakternya nggak. Karena memang manusia itu gak ada yang sempurna ya.


Di novelku jangan harap menemukan seorang tokoh yang perfect full tanpa cela. Karena itu emang mustahil ada walaupun cuma di dunia halu.


----


Jangan lupa like n komen ya. Makasih 😊


.