AL-THAR

AL-THAR
#12. Kepikiran



Mira gak bisa tidur.


Ini bukan perkara karena keberadaan Athar di dekatnya, satu ranjang dengannya. Bukan pula karena kamarnya yang terlihat luas dan indah seperti di cerita-cerita halu di dalam sebuah novel. Melainkan, pikirannya saat ini terbawa pulang oleh sang kakak yang tadi hanya bungkam sepanjang perjalanan. Dia dan Athar mengantar Sheli pulang dan menyapa Mama untuk beberapa menit, lalu kembali ke rumah Athar.


Setelah mengakui bahwa dirinya patah hati, Shelia tak mengatakan apa-apa lagi kepada Mira. Meskipun Mira memaksa, meskipun Mira memohon, kakaknya itu hanya menggeleng saja. Memangnya, kenapa dengan Ubay? Mira tak habis pikir bagaimana Shelia bisa sepatah hati itu? Cewek yang terbiasa dikejar-kejar cowok sejak brojol dari perut mama, kini harus merasa patah hati untuk yang pertama kalinya. Miris.


Mestinya, kalau keadaan dan statusnya Mira masih seperti sebelumnya, maka malam ini adalah malam panjang antara dirinya dan sang kakak untuk menceritakan hal yang telah terjadi. Tapi apa mau dikata, kehidupan Mira kini telah berubah. Ia sudah tak bisa seperti sebelumnya.


Dia menoleh dan menatap wajah Athar yang telah terlelap di sebelahnya.


Manis.


Laki-laki manis ini sekarang adalah teman hidupnya untuk kini dan seterusnya. Seseorang yang harus menjadi prioritas utamanya, dibandingkan yang lainnya.


Bukankah keluarganya juga yang menghendakinya?


Mira menghela nafas pelan. Mau tak mau, hanya melalui benda pintarlah sesi curhat kebiasaannya itu mesti dilakukan. Dia khawatir dengan sangat kepada Shelia. Maka, agar tidurnya nyenyak, ia harus menghubungi kakaknya itu dulu.


^^^Me:^^^


^^^Sheli^^^


^^^Ubay udah punya pacar ya emangnya?^^^


Sebuah pesan chat sudah ia kirimkan. Kini ia hanya menunggu dengan sabar akan balasan dari kakaknya. Namun sayang sekali ketika akhirnya tak kunjung ada balasan juga dari kakaknya itu. Bahkan setelah setengah jam ia menunggu.


Mungkin Sheli sudah tidur, begitu pikir Mira. Maka dia meletakkan kembali hpnya, dan kembali mencoba untuk tidur.


Pergerakan Mira yang masih mencoba untuk terlelap kini malah mengusik nyenyaknya tidur Athar. Buru-buru Mira berbalik untuk merubah posisinya menjadi memunggungi Athar.


Nafas Mira tertahan saat merasakan sebuah sentuhan yang menjalar pelan dari punggungnya lalu ke pinggangnya, dan berakhir di perutnya. Dia menghela nafas lega, karena mesti menanamkan di otaknya kalau itu merupakan kebiasaan Athar saat tidur. Dia yakin kalau sebentar lagi tubuhnya pasti ditarik untuk merapat kepada lelaki itu.


Mira pura-pura sudah tertidur saat Athar yang merapat ke arahnya. Hanya saja ... lagi-lagi ia mesti menahan nafas saat tangan Athar sudah berpindah tempat dan berlabuh di ...


Ya ampun ... gue terjamah.


.


.


Mira berdiri di depan kampus menunggu Athar yang katanya sudah dekat posisinya untuk datang menjemputnya. Dia fokus ke layar hpnya yang baru saja ada sebuah pesan dari Ryo. Seorang sahabat terbaik yang telah ia lukai hatinya. Sebuah sapaan dari Ryo tentunya akan Mira balas pesan chat itu. Tapi, belum juga jarinya selesai mengetik satu kata saja, tiba-tiba suara seseorang datang dari arah sampingnya.


"Masa gue dapat gosip jelek tentang lo,"


Mira menoleh dan mendapati Cassandra tengah berdiri di sana, pada jarak selangkah saja darinya. Tak ketinggalan ada juga Belva yang kini menatap Mira dengan tatapan tak sukanya seperti biasa.


duo lampir comeback.


"Gosip yang pastinya mustahil tapi sudah ramai di kalangan kami para senior."


Mira hanya diam. Antara enggan, tak peduli, dan bosan dengan racun-racun yang sedang dihembuskan oleh cewek-cewek titisan ratu ular itu.


"Kenapa lo nyebar gosip kalo lo udah merried sama Athar?" Belva bertanya dengan tatapan jijiknya.


Ya ampun, ternyata udah tersebar juga. Padahal rasanya gue udah yakin kalo orang-orang yang datang bakalan tutup mulut.


tapi, ya sudahlah.


"Siapa yang nyebar gosip sih, Kak," Mira menahan sebal untuk meladeni kedua cewek-cewek ngegemesin itu.


"Kalo bukan lo siapa lagi?"


"Ya nggak tahu."


"Bukannya lo emang sengaja ya nyebar gosip kayak gitu?"


Mira menggeleng.


"Jangan mentang-mentang Athar kelihatan pura-pura bucin sama lo, maka lo bisa seenaknya bikin gosip palsu," Cassandra menambahi. Memang ya, mereka berdua itu kompak banget. Bahu-membahu dalam menyakiti orang lain. Atau, saling dukung-mendukung dalam julid kepada manusia lainnya, yang memiliki hati tak sesetan hati mereka.


"Kakak berdua, kenapa sih gak pernah percaya sama gue? trus, kenapa juga benci banget sama gue? Gue tuh salah apa sama kalian? Dosa aapppaaa?"


"Gak usah lebay deh," ujar Cassandra setelah berdecak pelan. "Masih tanya kenapa? udah jelas-jelas kalo lo gak pantas buat Athar. Eh, sekarang malah ada gosip yang ngelunjak,"


Mira jengah. Ada gitu ya gosip yang ngelunjak?


Ia mendesah, sebelum ada adegan jambak-jambakan yang sungguh ia tak pernah bayangkan akan ada dalam hidupnya, mending Mira menyingkir aja ya. Yang lebih waras, sehat wal afiat mending ngalah aja. "Terserah kakak-kakak aja ya. Bosen gue bahas ini melulu."


"Lo mau kemana? Urusan kita belum selesai," cegah Cassandra saat Mira berniat melangkah.


"HEH!" seruan dari Belva membuat Mira terperanjat kaget. Namun, ternyata bukan dirinyalah yang menjadi sasaran suara penyihir itu. Belva menatap tajam kini pada seorang cewek yang Mira tahu bernama Kiara, yang sialnya sedang melintas di teritorial duo lampir gemoy.


Aman, gosip gue gak jadi dibahas mereka.


Cicak apa ya?


Kiara merunduk saat Mira melihatnya. Lalu saat tatapan gadis itu terangkat dan bertemu dengannya, sekejap saja Kiara berlari mendekati Mira.


"Kak Al, Kakak beneran kakaknya Ghani kan?!" Kiara bertanya sambil memegang tangan Mira.


Sedangkan Mira hanya mengangguk saja.


"Apa Kak Al keberatan kalau aku naksir sama Ghani?"


Mira menggeleng. "Ya terserah," apa hak gue buat melarang perasaan orang kan?!


"Tuh kan," Kiara menoleh lagi kepada Belva. "Kakak kandung Ghani aja gak keberatan kalau aku naksir Ghani, Kak Belva. Jadi kenapa Kak Belva yang bukan siapa-siapa Ghani malahan marah?"


Belva menatap tajam ke arah Mira sekarang.


Yah, aduh. Gue dibawa-bawa gini? Urusan Athar aja belum kelar, mereka masih dendam kesumat. Lah ini mesti ditambah sama masalah Ghani juga gitu?


ya ampun, hidup gue ...


.


.


"Kamu kenapa sih dari tadi diam aja?" Athar penasaran dengan Mira yang sejak dijemputnya tadi lebih banyak diam disaat dirinya sudah bercerita banyak.


"Ha?"


"Tuh kan, melamun, bengong ... kamu tuh mikirin apa sih, Al? Shelia itu sudah besar. Kalaupun dia mesti patah hati, ya pastinya dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Kamu hanya sebagai adik, bukan berarti seratus persen fokus sama dia, dan gak dengerin aku. Aku bisa marah loh, Al."


"Maaf ..."


sebenernya ... gue bukan mikirin Sheli.


"Emang kamu mikirin apa, hm?" Athar yang barusan sudah hendak menuju ke kamar mandi, kini berbalik langkah dan mengusap kepala Mira. "Pasti gak denger kan aku lagi bahas apa?"


"Maaf, Abang ..."


"Mau jujur?"


Mira memerlukan waktu saat sebelum dia menyahut, "Kalau aku jujur, nanti Abang marah."


"Kalau kamu gak jujur, aku lebih marah loh."


"Tuh kan, sama aja. Jadi mendingan gak usah jujur kan?!"


"Al," oke, Mira paham kalau Athar tidak bisa diuji hingga batasnya.


"Ryo sakit, Bang." Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibirnya. Tadi, sewaktu Mira tidak membalas pesan Ryo yang hanya berupa sapaan saja, ada lagi chat masuk dari Nyonya Ayumi yang mengabarkan kalau saat ini Ryo sedang sakit. Bahkan sakitnya itu sudah berlangsung sejak mereka menginjakkan kaki di Osaka. Nyonya Ayumi bilang, bahkan Ryo tidak mau makan sesuap pun. Terlebih saat ia hendak membawanya ke rumah sakit, Ryo menolak.


Tentunya itu yang membuat Mira kepikiran selama dalam perjalanan pulang hingga dia dan Athar sampai di rumah. Bahkan sudah di dalam kamar merekapun, Mira masih saja melamun ... khawatir. Ingin rasanya ia menjenguk sahabatnya itu. Tapi mustahil Athar bakal memberinya izin.


Lalu sekarang, Mira akan menghadapi takdirnya yang kemungkinan bahwa Athar pastilah marah akan kejujurannya. Terbukti, sudah lebih dari semenit Athar hanya menatap matanya, tanpa ada kata-kata yang terucap dari bibirnya.


"Kamu khawatir?" tanya Athar dengan pelan.


Mira pun hanya berani mengangguk pelan. Inilah resiko yang akan ia terima ketika ia dipaksa jujur apa yang dirasakannya.


"Abang marah?"


Athar tak menyahut. Dia malah berbalik langkah dan menuju kamar mandi dalam kebisuan.


* * *


Jujur itu pahit ya?


Tapi, kita mesti jujurkan walaupun pahit?


* * *


Eh si Cicak numpang lewat 😂😂😂


* * *


Makasih buat yang udah baca. Dan yang tadi nyariin updetan ini, makasih ya 😆.


*


*