AL-THAR

AL-THAR
#67. Ngidam yang aneh



❤❤❤❤❤Happy reading!❤❤❤❤❤❤


"Kamu beneran beliin saya ponsel, Gar?" tanya Athar saat anak buahnya itu menyodorkan sebuah ponsel terbaru ke hadapannya. Ia memegang benda itu dengan santai dan tenang. Tidak seperti dua jam yang lalu, sekarang ia sudah duduk tenang sambil menekuni laptop yang berada di pangkuannya.


"Kan Bos yang suruh," lupa? jerit Linggar dalam hati.


"Hm, iya. Tapi padahal saya hanya butuh nomor baru, bukan ponsel baru."


Kepanikan dan kekesalan yang bergabung menjadi sebuah kemarahan, tak terima, hingga akal sehatnya sedikit tertutup dua jam yang lalu, membuat Athar merasa kalau dirinya hampir hilang kendali. Bukankah misinya sekarang adalah sedang memberi pelajaran kepada sang istri sekaligus meredam amarahnya?


Namun saat menyadari kenyataan bahwa sang istri malah memblokir nomornya, itu membuat Athar merasakan tak terima yang amat besar. Ya walaupun awalnya memang dirinyalah yang melakukan pemblokiran lebih dulu.


"Lagian juga ponsel saya masih ada tiga buah lagi di rumah," lanjutnya sambil berfikir.


"Trus saya mesti gimana, Bos?"


"Ya nggak gimana-gimana, yang ini buat istri saya aja nanti," sahutnya santai, lalu memasukkan kembali hp itu ke dalam boksnya.


"Pulangnya masih tiga minggu lagi kan, Bos?"


"Malam ini kamu siap-siap. Besok pagi-pagi sekali kita dapat penerbangan paling cepat untuk pulang."


"Siap, Bos. Oh ya, tadi bu Nanda datang ke kantor sewaktu saya mampir sebentar kesana sebelum membeli ponsel."


"Mau apa dia?" Athar fokus lagi pada pekerjaannya di laptop.


"Mau menagih pembayaran katanya."


Athar berfikir sejenak. Pembayaran apa kiranya yang belum ia tunaikan. "Coba kamu hubungi Reynold untuk kesini. Ponsel bisnis saya di kamar."


"Baik, Bos."


Linggar menekuni ponselnya untuk mengabarkan pada asisten Athar untuk cabang New York itu. Reynold, seorang pria berkebangsaan Swedia.


Kini Athar sendiri matanya telah beralih fokus menuju ponsel baru yang dibeli Linggar barusan. Lupa, dia mesti memastikan sesuatu dengan istri yang dirindukan sekaligus mengesalkan itu.


.... . ....


"Emus ketimuuuusss!" Mira mencubiti pipi bocah bertubuh gempal itu dengan gemas. "Makin mengembang aja sih? Keseringan berendem minyak tanah nih pasti?" tuduhnya.


Si bocah yang sudah beranjak remaja itu memberengut tapi tetap terlihat imut di mata Mira. Entah kenapa Mustofa lebih putih warna kulitnya dibandingkan sang kakak, yaitu Rido. Lebih tepatnya, Mustofa cenderung mirip dengan Ani, kembaran si Rido yang lebih sering pulang ke rumah sang nenek di Tangerang.


"Bola bekel kali ah," celetuk Pram pelan.


"Tau nih, Kak Mira. Aku kan udah bukan anak SD lagi. Jangan gitu dong ... risih."


"Duile nih bocah menjelang abegeh lebay amat. Eh tapi, Emus lo tetap lucu sih kayak boboho."


"Gak kenal boboho. Sorry, zaman kita berbeda."


"Enak aja! Lo kira gue hidup di zaman purba?"


"Udah-udah," Pram menyela sekaligus menghentikan cuap-cuap gak berfaedah keduanya. "Ini intinya kita mau ngapain sih, Mir?"


"Santuy napa, Pram." Mira menepuk pelan perut Mustofa yang buncit itu. "Abang lo mana?"


"WA kali ke hpnya, zaman apa sih gak kenal hp?" sahutan nge-gas dari Mustofa membuat Mira semakin gemas saja.


"Ini bocah menguji kesabaran gue banget. Iya gue tahu kalo abang lo si Rido lagi pergi. Tapi kan barangkali aja dia udah pulang sekarang."


"Belom," jawab Mustofa sambil menggeleng.


"Nah, gitu aja dijawab. Jangan bikin kesel!" Mira mengelus perutnya yang masih rata. "Amit-amit jabang baby. Nak, jangan ngeselin kayak Om Emus ya, Nak,"


"Kak Mira lagi hamil?"


"Iya, dong."


"Bohong! Kok gak kelihatan?"


"Soalnya masih kecil hamilnya." Mira mencoba tabah.


"Oh gitu ..."


"Lo mau ngapain deh, Mir, kesini?" tanya Pram dengan nada yang telah naik satu oktaf. "Nyari Rido? Kan Rido-nya gak ada. Trus gimana dong?"


"Gak papa kalaupun gak ada geng layangan gue, Pram. Masih ada si Emus ini sebagai cadangan."


"Cadangan apa? Emangnya aku mau diapain?"


"Dikempesin," sahut Mira penuh penekanan. "Udah, ntar sore lo mesti temenin gue sama temen gue ke belakang rumahnya Pak Budi, Bu Budi, Budi, sama adiknya Budi."


"Jelas. Karena mereka adalah keluarga Budi."


"Intinya aja, woi!" sela Pram gemas. "Lama."


"Pokoknya ntar sore kita ke belakang rumah Pak Budi ya, Mus. Temenin gue kesana, dan nanti Emus bakalan kakak kasih kuota 2 GB."


"Masa cuma 2 GB?" Mustofa tak terima. "Ya ampun, 2 GB mah sampe malam ini doang juga udah abis."


"Pantes gendut," pungkas Mira langsung. "Ternyata makan kuota mulu ya."


"Ih, Kak Mira. Aku maunya 10 GB. Ah bukan– 20 GB aja. Kan suaminya Kak Mira orang kaya."


"Dih ni anak! suami gue dibawa-bawa–"


"Udah kasih aja." Pram memberi saran.


"Ya deh iya." Mira mencubit lagi pipi Mustofa. "Awas jangan lupa ntar sore jam 4, di belakang rumah Pak Budi dan keluarga."


"Siyap, Bos. Emus mau pergi main dulu ya, Kak. Dadah." Mustofa telah berlalu dari hadapan Mira dalam sekejap saja.


"Mau ngapain di belakang rumah Pak Budi emangnya?" Pram tak dapat menahan rasa penasarannya.


Mira melebarkan senyumnya yang terlihat menyembunyikan sesuatu. "Ntar juga lo tahu. Sekarang kita ke rumah Soli, kuy!"


...**...


Sore pun tiba. Pukul empat kurang sepuluh menit, Mira sudah mesem-mesem di depan sebuah tempat yang letaknya di belakang rumah Pak Budi. Bersamanya tentu saja ada Pram dan Mustofa yang sesuai dengan kesepakatan kuota untuk menuruti Mira.


"Mau ngapain nih?" Pram mengerutkan keningnya. Tak habis fikirnya, ternyata tempat yang dimaksud oleh Mira di belakang rumah keluarga Budi adalah dua buah petak sawah.


"Gue mau turun ke sana, Pram."


"Hah?" Pram menoleh tajam. "Mau ngapain, Mir? Lo berniat berendam di sana gitu? Nggak ada ngidam yang lebih normal lagi? Udah gak mau sama Jacuzzi? Kok jauh banget turun level dari Jacuzzi ke sawah? Watdefak, tau gak?!" cecarnya.


"Ssst ... kalem, Pram. Gue nggak berniat berendam seluruh badan juga kali. Gue cuma pengen cemplungin kaki gue sebatas betis doang. Kan jadi kayak zaman dulu waktu gue kecil."


"Ya ampun, Mir. Ngidam lo macem apa sih? Aneh tau gak? Jauh-jauh dari Bogor ke sini cuma buat turun ke lumpur. Kan di Bogor juga ada sawah, kali."


"Tapi gue maunya di sini," Mira bersikeras. "Sekarang gue mau turun sama Emus, dan lo mesti fotoin gue, Pram."


"Kenapa aku mesti ikut turun, Kak? Aku kan udah mandi. Nanti diomelin mama aku, gimana?" protes bocah tambun itu.


"30 GB?"


"50."


"40. Terima atau hangus?"


"Kuy lah!"


...***...


"Dir, gue mau pinjem jet pribadi lo."


"Gue lagi pake ke Dubai, Thar. Kan gue udah pernah bilang, lo kalo minat sama jet biar nanti gue yang pesenin,"


"Tapi gue butuh sekarang, Dir."


"Kata lo dapet penerbangan besok pagi, kan?! ya udah sih, itu juga udah cepet. Malahan mendadak banget lo ninggalin kerjaan. Apalagi kalo bukan masalah sama istri. Ya, kan?! Kenapa sih lo mesti buru-buru? Apa yang urgent?"


"Ada pokoknya. Jadi jet lo gak bisa gue pinjem nih?"


"Gak bisa. Gue gak terbiasa pelit yah, jangan buruk sangka sama gue. Orang sekaya raya dan sedermawan gue, mana mungkin gue pelit. Intinya gue lagi pake nih jet. Sorry, brother."


Athar membuang nafas kasar. "Ya udahlah." dia mematikan sambungan telepon begitu saja. Rasa penasaran sekaligus rasa bahagia yang sejak tadi pagi memenuhi kepalanya, kini sudah tak terbendung lagi. Memang sih, dia masih saja kesal bila mengingat foto-foto sialan itu. Tapi mengingat bahwa rencananya diam-diam untuk segera memiliki anak telah berhasil seratus persen.


Diambilnya hp yang ia letakkan di meja. Sekarang ia bingung, bila nomornya telah diblokir, maka seharusnya ia sudah bisa dengan mudahnya menghubungi Almira dengan nomor barunya. Akan tetapi pada kenyatannya, ia tetap tidak bisa menghubungi istrinya itu.


Sebuah notif akun medsos dari sang istri memasuki hpnya. Segera saja ia membuka ada apa di sana.


"Astaga ..." ucapnya pelan saat melihat foto-foto yang baru saja diunggah oleh akun istrinya. "Ngapain dia di sana?"


Bersamaan dengan itu, notif dari akun sosmed Pramita pun menarik perhatiannya. Sahabat terdekat istrinya itu mengunggah foto yang tak berbeda alias sama dengan Almira. Hanya saja, Pram menggunakan sebuah caption pada postingannya.


Ngidam yang aneh. Kalo bukan aneh, bukan Mira namanya.


...****...


Mestinya gak update ini. tapi aku maksa. 😁