AL-THAR

AL-THAR
#41. Membujuk Shelia.



Aduh, plis jangan benci si Lilis ya. Buat yang udah baca Putri Tidur pasti tau kan kalo Larissa alias Lilis ini jadian sama siapa. Dia nggak jahat kok. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


🍊


...πŸŒ΅πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸŒ΅...


πŸ’


"Hallo."


Gadis cantik yang terlihat girly itu tersenyum manis kepada Mira. Tangannya terulur mengajak untuk bersalaman. Mau tak mau Mira menyambutnya meskipun masih ada cemburu tak beralasan di sudut hatinya.


"Larissa."


"Almira."


"Sebenernya kita seumuran sih, tapi berhubung kamu istrinya Kak Athar, ya udah deh aku panggil kakak juga." Senyum manis itu tak luntur jua. "Gak apa-apa, kan?!"


Mira fikir pantas bila mata laki-laki akan kepincut dengan gadis itu. "Nggak apa-apa. Aku emang auto tua sejak menikah."


Larissa terkekeh. "Persis seperti temanku. Dia juga mendadak merasa sebagai yang paling tua di antara kami. Padahal kami seumuran. Bahkan dia menikah saat masih usia delapan belas tahun loh."


Mira terkejut juga. "Masa sih? Aku aja nikah umur segini merasa muda banget. Apalagi itu yang masih belasan?"


"Dia dijodohin," kata Larissa. "Cuma yaa ... perjodohan tanpa penyesalan. Toh sekarang dua-duanya saling bucin."


"Wah, bisa ya ada acara jodoh-jodohan zaman sekarang?"


"Bisa aja. Secara dua-duanya turunan sultan. So, gak ada yang mustahil buat mereka. Malahan cowoknya ganteng banget pula. Kalah Kak Athar mah. Eh– sebelas dua belas deh sama Kak Athar."


Mira tersenyum saja.


"Jagain Kak Athar ya, Kak Al," lanjut Larissa. "Entah kenapa kalau melihat dia sama Kak Tania tuh aku kurang rela. Lebih baik aku aja yang jadi jodohnya Kak Athar tersayang."


"Kok?" Mira tak dapat menyembunyikan kebingungannya.


"Hehe ... emang sih, kami itu sepupuan. Tapi aku baru tahunya kami sepupuan itu saat sudah SMP, kalau ternyata aku punya sepupu yang super duper ganteng. Rasa-rasanya gak rela kan kalau cuma terlibat sebagai status sepupu aja. Tapi mau gimana lagi, Kakaknya Mama aku yang jago bikin anak jadi ganteng begitu. Dan aku yang tadinya berniat memperjuangkan Kak Athar, ternyata cuma sebatas obsesi anak remaja doang. Begitu SMA, aku melihat banyak sekali cogan-cogan dalam versi yang lain."


gue gak tahu mesti ngomong apa, tapi yang jelas gue paham banget berada di posisi anak remaja yang mupeng saat lihat cogan.


"Kayaknya aku kepanjangan deh ya ngomongnya. Ya maklum deh, aku emang suka nyerocos sih, haha,"


"Kamu lucu kok," ucap Mira jujur.


"Aku emang paketan sempurna loh. Sudah cantik, manis, cute, lucu, humoris ..."


"Tapi sedikit bloon." suara seseorang menyambar dan membuat keduanya menoleh pada cowok-cowok yang baru saja bergabung.


"Sialan. Gue nggak se-oon si Pret loh ya." Larissa memperkenalkan cowok yang baru datang bersama Athar itu. "Kenalin nih, Kak Al, dia namanya Martin alias Marta."


Mira sudah mengulurkan tangan, tapi ketika tangan Martin terulur, malah tangan Athar yang menyambutnya.


"Gue wakilin."


"Duh, si Bapak. Possesif," celetuk cowok yang sebenernya nampak tampan di mata Larissa itu. Hanya saja, hatinya selalu menampik akan kekaguman yang tersembunyi itu.


"Biasa, kalau sudah punya pacar halal gitu deh," Larissa menambahi. "Gak asing kan sama pemandangan kita sehari-hari. Cuma bedanya kalau Kak Andre itu lebih bikin penasaran, dibandingkan Kak Athar yang suka marah-marah."


"Nah, akhirnya ada yang sepemikiran denganku," sahut Mira. "Bang Athar ini emang doyan marah-marah."


"Betul!" Larissa berseru semangat.


"Kalau kamunya menurut dan gak buat ulah, maka aku gak akan marah-marah," balas Athar kepada Mira.


"Emangnya aku bikin ulah apa?"


"Z ... U ... M ... B ... A."


Mira berdecih. "Dari mana salahnya coba?"


"Ya jelas salah, Al,"


"Udah deh," Larissa menginterupsi. "Mending kalian geludnya di kamar aja. Lagi honeymoon kan?! Nah, sekalian deh sambil guling-guling di ranj–"


Martin membekap mulut Larissa hingga gadis itu melotot ke arahnya. "Jangan vulgar. Jangan ngomongin isi otak kamu yang sudah tercemar."


Larissa menyentak tangan Martin. "Gak usah pakai 'kamu-kamuan' segala! Kita gak pacaran kelles."


...- - -...


"Gimana? Apa keputusan lo?" tanya Mira saat dilihatnya Shelia terdiam.


"Gue bingung, Mir."


"Kenapa mesti bingung?"


Shelia menggeleng pelan. Diusapnya perutnya yang sudah mulai membuncit itu. "Jujur gue masih suka banget sama Ubay. Gue tuh jatuh cinta. Mau gimanapun kondisi gue saat ini, hati gue gak bisa berbohong kalau gue naksirnya sama dia. Bukan sama Bryan."


"Tapi Bryan sudah single lagi, Shel. Dan dia bapaknya anak lo. Dia juga sudah bersedia tanggung jawab dengan senang hati malah. Dia itu masih sayang sama lo."


"Lo ngerti gak sih kalau gue maunya Ubay?"


"Iya gue ngerti. Tapi akan lebih baik kalau kita hidup sama orang yang mencintai kita, bukan sama orang yang kita cinta tapi gak cinta sama kita."


Kalimat Mira membuat Shelia menoleh tajam. Mungkin ia memang harus tertampar akan kenyataan pahit yang mau tak mau ia harus terima.


"Pikirin anak lo, Shel. Dia butuh bapaknya."


"Gue juga butuh bahagia, Mir," ucapnya getir.


"Iya gue paham. Tapi apa nggak bisa lo coba dulu sama Bryan? Kali aja lo menemukan kecocokan lagi sama dia."


Shelia memijat pelan keningnya. "Gue sudah ilfil sama dia."


"Tapi lo bikin anak sama dia gak ilfil."


"Itu sih beda."


"Ya ampun, Shel," Mira berdecak tak mengerti. "Hidup macam apa sih yang ada di pikiran lo? Perasaan, hidup gue jalurnya normal aja. Jatuh cinta dulu, jodoh dulu, baru bikin anak. Lah lo, bikin anak dulu, cintanya baru dicari kemudian."


"Ya beda lah pikiran dan nasib kita. Gue kelewat cantik makanya hidup gue jadi begini. Padahal nyatanya gue bisa dan butuh cinta juga."


"Nggak penting apa itu cinta. Hidup ya hidup aja, jalanin aja. Waktunya punya pacar ya punya. Waktunya nggak ya masih bisa senang-senang."


"Oooh gitu ya kalau punya wajah cantik. Semua serba mudah."


"Plis deh, jangan racunin otak si Mira dengan pemikiran bebas lo," Ghani yang keluar dari kamar mandi kini berdiri menatap tajam kepada kedua kakaknya. "Dan yang paling penting dari itu adalah ... kenapa kalian ngobrol di kamar gue?"


"Sheli yang ngajakin gue."


"Gue ngidam kamar lo, Ghan."


Semenjak hamil dan menikmatinya, Shelia seringkali menggunakan si jabang bayi sebagai alasan atas keinginannya yang mesti serba terpenuhi.


Ghani hanya menghela nafas. "Udah deh, Shel. Sana ketemu sama Bryan! Sebelum gue bilang ke Mama kalau lo gak mau ditanggung jawabin sama Bryan."


"Kok lo jadi tukang ngadu sih, Dek?"


"Bukan gitu, gue cuma peduli sama lo. Gue harap lo sama Bryan udah bersatu sebelum anak kalian lahir."


"Dih, enak aja. Gampang banget kalian ngomong. Yang jalanin itu gue, bukan kalian."


"Anggap aja deh lo lagi dijodohin, Shel," usul Mira. "Lagian kenapa mesti segitu bencinya sih lo sama Bryan?"


"Dia udah pernah sekali selingkuh dari gue. Makanya gue udah ilfil berat sama dia. Pokoknya gue belum buat keputusan ya!"


Mira dan Ghani saling lirik.


"Masalahnya lo hamil, Jubaedah!" Mira kesal. "Kalau perut lo gak tekdung, gue gak bakalan paksa lo buat balikan sama Bryan."


"Hamil ya hamil. Mantan ya mantan. Jangan dijadikan satu alasan buat balikan."


"Ya ampun," keluh Mira. "Kasihan anak lo, Shel. Dia butuh bapak."


"Gampanglah. Nanti gue cariin."


"Lo bisa gak kali ini aja berada di jalur yang normal?" pertanyaan Ghani membuat Shelia bungkam. "Hidup sesuai ajaran yang baik. Menikah, lalu memiliki keluarga. Itu yang Papa mau dari kita semua sebagai anak-anaknya!"


Shelia tersentak.


Mira tercengang dengan pemikiran Ghani yang rupanya memang lebih cerdas dan dewasa dari dia. Ah, emang Ghani lebih cerdas kan?!


Tapi benar juga yang dikatakan Ghani. Dulu Papa memang selalu menjaga putri-putrinya agar menjalani pergaulan yang sehat, yang baik, dengan menghindari hal-hal buruk dalam hidup. Lalu kini ketika sang Papa telah tidak ada dalam hidup mereka, maka apa yang menimpa Shelia merupakan pukulan besar untuk keluarganya, terutama sang mama.


"Lo memang berhak untuk bahagia, tapi anak yang ada di dalam kandungan lo sekarang adalah prioritas utama lo untuk membuatnya bahagia."


...--- ---...


Mira berjalan tidak santai, tapi juga tidak buru-buru. Dia baru saja keluar dari kamar Ghani dan berniat untuk pergi menemui Bryan yang hotelnya tak jauh dari hotel tempat keluarganya saat ini berada.


Dia mesti memberikan banyak penjelasan mengenai bagaimana pikiran Sheli, dan Mira juga mesti mendorong keras Bryan agar segera melakukan sesuatu demi anak mereka.


Cukup memusingkan untuk menyatukan dua sejoli yang telah terpisah hati, namun terpaksa harus bersatu kembali karena janin.


Nah, repot kan?! Makanya, cari pasangan yang bener dulu, menikah dulu, trus baru deh bikin anak. Begitu rule nya agar menuju hidup yang bahagia sepanjang masa.


Tapi gue belum ada niatan buat punya anak sih.


Mira amat terkejut saat tas yang dipakainya ada yang menahan talinya. Lantas dia menoleh dan mendesah lega. "Abang, bikin kaget aja."


"Kamu mau kemana?"


"Mau jalan keluar,"


"Aku masih marah loh. Kamu belum lupa kalau kemarin kamu habis hilang kan?!"


Mira cengengesan. "Iya, Darling. Aku gak lupa."


ih


Dilihatnya Athar yang mengulum senyum atas kalimatnya barusan. Seriusan Athar terlihat bahagia hanya karena panggilan 'darling' nya?


Athar berdehem dan seketika wajahnya kembali datar. "Trus kamu berniat kesasar kemana lagi?"


"Ehhh, nggak bakalan nyasar kali ini, Bang. Kan Abang udah beliin aku hp lagi tuh. Trus juga hotelnya Bryan kan gak jauh dari sini–"


"Kamu mau bertemu Bryan?"


"Iya. Ini mendesak, Bang. Besok pagi kan Sheli pulang ke Bogor. Tapi masalah dia sama Bryan itu masih rumit."


"Biarkan mereka menyelesaikan urusan dan masalah mereka. Kamu gak usah sibuk mencampurinya, Al."


"Aku mesti campur tangan, Bang. Ini demi keponakan aku loh."


Athar terdiam beberapa saat sambil terus memerhatikan Mira dengan pikirannya yang terus saja berkata-kata.


"Tapi aku ada janji makan siang sama Dirga dan yang lain,"


"Lah trus kenapa? Aku kan gak minta ditemenin sama Abang."


"Tapi aku yang mau temenin kamu."


"Mending Abang sana temuin Bang Dirga dulu. Urusan pekerjaan juga penting kan?! Nanti kita lanjutin honeymoon kita deh. Oke?!"


Athar terlihat berat untuk membiarkan Mira pergi menemui Bryan. "Aku izinkan kamu menemui Bryan tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


kenapa mesti pakai syarat segala sih?


"Kamu tidak boleh sendirian pokoknya. Kamu mesti ajak seseorang, Al."


"Siapa?"


"Terserah kamu sama siapa. Pokoknya kamu gak boleh sendirian."


"Iya-iya."


...* * *...


Terima kasih buat yang masih setia di sini. πŸ’