
Mbak Nani namanya. Orang yang sudah dua tahun lebih bekerja di rumah Mira sebagai asisten rumah tangga. Pekerjaan utamanya membersihkan rumah dan mencuci. Sedangkan untuk soal masakan, itu selalu Mama yang melakukannya sebagai sang penguasa dapur. Jadi, sesibuk apapun Mama dalam memproduksi kue-kuenya, tak lupa Mama selalu memasak untuk keluarganya. Dan keberadaan Mbak Nani untuk membantunya, dapat meringankan dan mempercepat pekerjaan Mama di dapur dan rumah.
Selepas Mama yang telah berangkat dengan Mamanya Donny untuk pergi ke Bandung, sekarang Mira gabut. Karena Athar telah menyuruhnya untuk menunggu hingga suaminya itu datang. Intinya, dia gak boleh pergi berkelana alias main bersama teman-temannya.
Emangnya gitu ya? setelah menikah dunia hanya berputar pada suami kah?! trus kapan gue mainnya? hadeehh
"Mbak," panggil Mira kepada asisten rumah tangganya yang sedang membersihkan sayuran. Dia berjalan menghampirinya di dapur. "Mau masak ya?"
"Iya, Neng Mira. Kenapa? Mau makan apa? siapa tau kan Neng Mira lagi ngidam,"
"Ya ampun, Mbak. Masa baru nikah seminggu udah tekdung?"
"Ya kali aja, Neng."
Mira berdecak. "Udah ah, jangan bahas gituan mulu. Heran deh, siapa yang nikah siapa yang kebelet punya anak."
Mbak Nani tertawa. "Yang diharapkan orang setelah menikah kan ya anak atuh, Neng."
"Iya, Mbak, iya. Udah ah jangan bahas itu. Aku bantuin Mbak Nani aja. Kira-kira apa yang mesti aku potong nih?" tanyanya sambil memegang sebuah pisau. "Mbak mau masak apa?"
"Semur ayam sama capcay udang. Si Aa yang minta capcay."
"Ya udah, aku potongin wortelnya sini,"
Mira putuskan untuk terlibat urusan dapur saja. Selain karena gak boleh pergi kemana-mana, kalimat Mbak Nani selanjutnya adalah sebuah kalimat yang memecut pikirannya.
"Neng Mira gak mau belajar masak nih? kan udah punya suami. Siapa tahu pengen buat makanan apa gitu buat Mas Athar?"
iya juga ya. Normalnya gitu kan?! istri memasak untuk suami.
"Tapi kan aku gak bisa masak, Mbak," ucapnya santai. "Lagian juga, di rumah Bang Athar udah ada tukang masaknya."
"Wah, alhamdulillah ya kalau gitu. Neng Mira berarti gak perlu repot-repot ke dapur. Duh beruntungnya Neng Mira dapetin Mas Athar, gak pusing-pusing mikirin mau masak apa buat suami setiap harinya. Tinggal sebut, jadi deh."
"Nggak gitu juga kali, Mbak. Aku sih kepengen banget berkarya, berkreasi, dan menjadi penemu suatu resep di dapur. Tapi–"
"Mbak Nani mau bunuh aku ya? Gak suka aku hidup di sini?" suara Ghani yang datang tiba-tiba menyela keduanya yang segera menoleh.
Ghani duduk di kursi sambil meminum minuman kaleng yang baru saja diambilnya dari dalam kulkas.
"Maksud Aa?" tanya Mbak Nani.
"Kenapa Mira yang disuruh masak? Nanti kalau aku keracunan, gimana? trus Ibram juga ikut mati, gimana? kan Mbak Nani yang bakalan jadi tersangka juga. Ckck, makanya ... pikir sejuta kali dulu, Mbak, sebelum nyuruh Mira pegang masakan. Mesti berapa kali juga aku kasih tau ke Mbak, kalo Mira dan dapur itu adalah sebuah kejahatan."
"Gue nggak kasih lo racun, Tayo!" pungkas Mira jengkel. Ghani terlalu bawel. Wortel diacungkannya ke arah adiknya itu. "Gue cuma potong wortel, bukan ngeracik racun! ngerti?!"
"Sama aja. Bahan masakan yang lo pegang itu bakalan berubah rasa. Mestinya makanan itu enak, mestinya wortel itu manis, tapi gara-gara dipegang lo maka rasanya pahit."
"Itu artinya, gue dong sumber racunnya?"
"Nah itu tau."
"Gue bilangin Athar lo ya, istrinya dinistakan sama adiknya sendiri."
"Ngadu mulu. Dulu ngadu sama Papa, sekarang ngadu sama Athar."
"Biarin. Suka-suka gue. Eh– Ghan, gue doain lo biar jadian sama Kiara deh. Cocok banget deh lo berdua." secara, gue kayak melihat diri gue saat melihat Kiara itu.
Seketika Ghani bangkit dari kursi. "Jangan berisik! Kiara itu adiknya Ibram, tau. Kalau Ibram tahu adiknya naksir gue, bisa malulah gue."
"Hm."
"Ngapain deh lo di kamar berduaan sama dia dari tadi?"
"Dari kemarin."
"Hah? idih,"
"Jangan ngeres otak lo! Mending lo tengokin kakak lo tuh yang baru pulang."
Mira meletakkan wortel dan pisaunya. "Sheli udah pulang?"
Ghani mengangguk.
"Kakak lo juga, kelles. Kapan dia pulang? kok gue gak tahu?"
"Tadi. Gak berapa lama setelah Mama berangkat."
"Trus kenapa lo gak bilangin gue?"
"Idih, punya mata punya kaki punya mulut, sadar aja sendiri. Emangnya rumah kita seberapa luasnya dari rumah Athar sih?"
"Rumah Athar kecil kok,"
"Tapi masih lebih besar dari rumah ini kali!"
Mira mengeluarkan jurus kesabaran level legendnya kala berhadapan Ghani yang gak pernah mau mengalah dengan dirinya ... sejak dulu. Sejak Nobita masih memakai diapers.
"Ya udah, gue ke kamarnya sekarang." Mira mencuci tangan dulu, "Mbak Nani, aku belajar masaknya pending dulu ya–"
"Berarti mati gue juga dipending," celetuk Ghani yang diabaikan Mira.
"Masih ada go food. Nanti kalo aku laper, aku tinggal pesan aja. Dari pada masak trus berujung dipenjara karena menyebabkan kematian sang adik," Mira berkata sarkas.
"Sialan!" seru Ghani.
Mira menjulurkan lidahnya sambil berlalu. Segera ia setengah berlari untuk menemui kakaknya tercinta. Diketuknya pintu kamar Shelia sebanyak beberapa ketukan. Tapi tak ada jawaban sama sekali.
Seperti biasa, yang penting kan Mira sudah mengetuk pintu dulu. Urusan si empunya kamarnya mendengar atau nggak kan itu bukan urusan Mira.
"Shel!" panggilnya sambil memasuki kamar. Dilihatnya tas yang biasa digunakan Shelia tergeletak di pinggir ranjang, nyaris jatuh. Semampu matanya memindai isi kamar, tak ada pergerakan Shelia di sana. Maka tujuannya hanyalah satu, yakni kamar mandi.
Mira segera berjalan ke kamar mandi dan mengetuk pintunya. "Shel! Sheliiiii!"
Tak ada sahutan.
"Heran deh, dia langsung raib kemana sih? baru pulang udah ngilang aja," gerutunya. Tapi tak ada salahnya kan untuk melongok ke dalam kamar mandi seperti biasanya. Siapa tahu kakaknya itu ketiduran sewaktu berendam.
Baru dua langkah ia berjalan memasukinya, sebuah pemandangan menyeramkan membuat matanya melebar dan lututnya melemah.
"GHANIIIIIIIIIIII!" jeritnya sekuat tenaga.
* * *
^^^Bersambung. ^^^
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=