
Happy reading!
...πππππππππππππ...
Mama Pertiwi tak pernah habis dibuat pusing oleh putrinya yang nomor dua. Meskipun tindak tanduk anak perempuannya itu tak pernah ada habisnya, tapi untungnya Almira memang tidak seekstrim kakaknya. Bila anak pertamanya yang selalu dibanggakannya itu telah menorehkan sebuah kesalahan besar, maka torehan yang dibuat Mira akan selalu membuatnya geleng kepala.
Bagaimana bisa putrinya yang baru saja resepsi sekaligus bulan madu itu kini malah menghilang? Apa yang diperbuatnya?
Semoga ini hanya bagian dari tingkah ajaib anaknya itu. Karena walau bagaimana, ia tidak akan pernah rela kalau suatu hal buruk menimpa sang anak.
"Jeng Tiwi kenapa? kok melamun aja," Renata, mamanya Donny menghampiri tetangganya itu.
Kalau jadwal pulang ke Jakarta mama Pertiwi, Shelia, dan Ghani adalah besok, maka Renata baru berniat pulang ke Jakarta akhir pekan ini. Yaitu sehari setelah jadwal Mira dan Athar pulang ke Jakarta. Keluarga Donny itu memang memiliki kerabat yang ada di Bali. Otomatis kesempatan berada di Bali dihabiskan dengan sesama keluarga, setelah menghadiri acara Athar dan Almira.
"Loh, Mbak Renata kok ada di sini? Bukannya sudah pindah hotel ya?"
"Iya, sudah pindah. Tapi lagi jalan-jalan aja, trus pengen makan di resto ini deh."
"Lah suaminya?"
"Suamiku sedang ketemuan sama temannya di restoran hotel tempat kami menginap. Bete ah bapak-bapak pada ngumpul. Mending samperin kamu, Jeng."
"Kok tahu aku di sini?"
"Ya nggak tahulah. Kan kalaupun Jeng Tiwi nggak ada di sini, aku tinggal telpon deh."
Mama Pertiwi hanya manggut-manggut saja.
"Kenapa sih? kok melamun? Kan aku sudah bilang, pulangnya nanti aja bareng Mira sama Athar. Liburan dulu di sini."
"Nggak bisa, Mbak Rena. Pesanan kueku sudah menumpuk. Udah gak tahan pengen cepat-cepat pulang trus baking-baking lagi."
"Ah ya ya ... hobi bikin kuemu itu luar biasa. Nanti aku sisain Lekker aja ya buat minggu depan."
"Oh beres."
Renata membuka kacamata hitamnya, dan meletakkannya di meja. "Hm, jadi ceritanya Jeng Tiwi udah nggak sabar pengen pulang nih makanya dari tadi melamun?"
"Bukan itu, Mbak," mama Pertiwi menggeleng singkat. "Eh itu juga sih. Cuma ada yang lebih bikin pusing lagi,"
"Apa tuh?"
"Mira sudah dua jam gak tahu pergi kemana," bisik mama pelan. "Aku pusing. Athar sudah marah-marah sama anak buahnya sedari tadi gara-gara Mira gak ketemu juga. Aku harap sih Mira baik-baik saja. Tapi kan, takutnya ... ya takutnya ada orang jahat, Mbak,"
Renata mengerjap sesaat kepada wanita di depannya itu. "Jeng Tiwi nyariin Mira?"
Mama Pertiwi mengangguk lagi.
"Sini aku bisikin sesuatu deh,"
"Apaan, Mbak?"
"Sini dulu,"
...~~~...
Mira mengerjap saat matahari menerobos memasuki lewat jendela dan menyorot wajahnya. Perlahan kesadarannya pulih dan ia meindai ruangan tempatnya terbangun saat ini.
"Ini di mana ya?" gumamnya pelan sambil bangkit dari tempat tidur. Posisinya masih duduk di tepian dengan kedua lengan ke atas untuk melalukan peregangan setelah tubuhhya terasa cukup lama berbaring.
Berjalan menuju kamar mandi, Mira mengoceh lagi, "Tante Rena kemana pula?" saat ia telah berada di kamar mandi, sekarang Mira galau apakah ia mesti mencari Tante Rena dulu ataukah mandi dulu? Pemandangan bathtube terlalu menarik untuk dilewatkan, sebab ia memang butuh mandi setelah berkeringat cukup banyak sejam yang lalu.
"Mandi? Nggak? Mandi? Nggak? Mandi? Nggβ"
ketukan di pintu kamar hotel membuat Mira sedikit terkejut dan terpaksa berjalan keluar meninggalkan kamar mandi.
"Siapa sih? Tante Rena kali ya,"
Mira membuka pintu dan belum juga sempat berkata-kata saat tubuhnya disergap oleh Athar.
"AL!" seru Athar frustasi.
.
.
Mira masih berupaya menenangkan Athar yang ekspresi wajahnya terlihat stabil, seram. Bagaimana bisa setelah tadi cukup lama suaminya itu memeluknya erat dan menciumi kepalanya bertubi-tubi, tapi kini malah memasang wajah angker padahal mereka sudah duduk di tepian tempat tidur.
Memang sih, Athar sedang menunggu penjelasan yang keluar dari mulut Mira, tentang dua jam lebih dia menghilang.
"Abang matanya jangan melotot dong," cicitnya.
"Jawab aja, Al. Cerita semua sama aku sekarang juga." Athar dengan nada tak bisa dibantahnya, yang segera Mira angguki saja dari pada nanti keluar sisi lain Athar, yaitu suka membentak-bentak kalau sedang kesal.
"A-aku ... aku tadi kesasar," Mira memulai cerita pedihnya tadi.
"Gimana bisa? kan kamu pergi ke kamar? Gimana bisa kesasar? Amnesia gitu?" Athar ngegas karena kesal. Telah letih jiwa raganya mencari dan mengkhawatirkan Mira, namun ternyata istrinya itu sedang tidur di hotel yamg lain.
Sembilan puluh persen Athar merasakan kelegaan, syukur, dan bahagia karena Mira ditemukannya dalam keadaan yang baik-baik saja. Semua bayangan buruk yang memenuhi kepalanya telah sirna saat melihat wajah Mira yang terlihat lelah.
Namun, ada sisi ego dalam dirinya yang menggaungkan kalau ia sedang berada pada rasa kesal dengan level yang luar biasa. Kesal itu bukan hanya karena Mira saja, tapi juga untuk dirinya yang merasa lalai dan bodoh karena tak mampu menjaga sang istri.
Mira menggeleng. "Aku keluar dari hotel, kok,"
"Apa?"
aduh, serem amat sih suaranya. Rasa-rasa gue mau dimakan gitu.
"Aku kesel sama Abang, makanya aku jalan keluar hotel sendirian setelah ganti baju di kamar," ungkapnya jujur. Bahkan nada suaranya bukan pelan lagi, tapi Mira juga butuh meluapkan emosi yang ada di hatinya.
"Kesal kenapa? aku kenapa?"
"Abangβ" jujur gak ya? mau jujur tapi kok tengsin banget.
"Kenapa, Al?" Athar mengintimidasi bila sedang marah, seperti biasa.
"Abang matanya nakal."
Athar tak menyahut. Mira yakin kalau suaminya itu masih mencerna maksud ucapannya.
"Kenapa Abang sebegitunya lihat cewek lain, hah? Kalau aku aja gak boleh pakai dress. Nanti tertiup anginlah, masuk anginlah, terbang-terbanglah, apalah ... tapi Abang malah suka lihat cewek lain yang pakai dress." akhirnya Mira mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Dan ini hanyalah baru awalanya saja dari penjelasan Mira yang menghilang selama dua jam lebih.
...* * *...
Bersambung π