
Lanjutkan!
...---*---...
"Ryo ..."
Suara lirih Mira seakan menyentak kesadaran Ryo. "Sorry, Mir. Aku gak bermaksud begitu. Aku– aku sudah menerima kalau kita memang nggak berjodoh. Tapi,"
"Aku ngerti, Yo," Mira lebih dari mengerti apa yang dirasakan oleh Ryo.
"Tapi aku belum seratus persen menerima," jawab jujur cowok itu.
Mira tahu itu. Ia mampu mengerti hanya dengan melihat tatapan mata Ryo kepadanya. Maka ia hanya bisa merunduk dalam diam. "Aku mesti gimana, Yo ..."
Ryo menyentuh tangan Mira yang berada di meja. Saat Mira tersentak dan berniat menarik tangannya, tapi Ryo telah lebih dulu menahannya agar tidak lepas.
"Yo,"
"Plis ..."
ini gak bener.
Maka Mira terus berusaha melepaskan tangannya yang tertahan itu. Matanya menatap memohon kepada sahabatnya itu, sedangkan tatapan balik dari Ryo nampak berbeda.
"Kemana Ryo yang dulu?" tanya Mira pelan saat tak ditemukannya tatapan jenaka dari Ryo seperti dulu kala. Yang ada kini adalah sorot mata yang berbeda.
"Sudah mati," sahut Ryo nyaris berbisik.
Mira menggeleng pelan. "Ryo yang dulu begitu menyenangkan, membuat siapa aja bahagia. Tak terkecuali aku. Ryo yang Ngeselin sekaligus menghibur. Resek sekaligus perhatian," tak putus tatapan di antara keduanya. Bahkan Mira rasanya dapat menitikkan air mata karena memendam frustasi. "Di mana Ryo yang dulu?" suara Mira pun nyaris berbisik pedih. "Kemana sahabatku yang dulu?"
Tak ada yang berubah. Sekalipun kalimat Mira sudah lebih dari pedih kedengarannya, tapi tatapan mata Ryo masihlah nampak sama ... kokoh dengan segala yang dirasanya dalam diam. Datar seolah mati rasa.
"Nggak ada Ryo yang dulu, Mir. Ryo yang naif, payah, dan selalu mengalah. Ryo yang bodoh dengan mudahnya mundur dan mengalah tanpa pernah berjuang. Ryo yang menyesali dirinya yang dulu. Dan sekarang ... Ryo yang itu sudah gak ada lagi, Mir. Sudah mati. Aku yang sekarang adalah aku yang akan berjuang,"
"Tapi aku sudah menjadi istri orang, Yo,"
"AKU GAK PEDULI–" seruan Ryo terputus dengan sesuatu yang datang tiba-tiba.
BUGH!
Ryo tersungkur karena sebuah hantaman. Pukulan keras itu berasal dari tangan Athar yang penuh kekuatan dan rasa ingin melenyapkan.
Tapi Athar yang belum menoleh ke arahnya, kini sudah mendapat perlawanan dari Ryo. Sahabat Mira itu telah bangkit dan membalas pukulan Athar dengan sama kerasnya.
Refleks Mira menangis melihat Athar yang oleng meski tak sampai tersungkur. Dapat dilihatnya darah pada sudut bibir Athar yang baru saja kena pukul.
"Berhenti!" teriaknya kala menyaksikan kalau kedua cowok itu kini saling baku hantam. Mira panik. Tak mungkin ia maju untuk menengahi keduanya. Tapi juga ia tidak bisa hanya menangis saja.
Dilihatnya sekeliling pada orang-orang yang tak berani untuk ikut campur, dan hanya menonton saja dari jarak jauh. Bahkan beberapa orang terlihat mengarahkan hpnya pada pertempuran Ryo dan Athar.
Beruntung beberapa saat kemudian datanglah Linggar yang menengahi, atau lebih tepatnya menarik Athar untuk menjauhi Ryo yang posisinya sudah berada di bawahnya dalam menerima pukulan yang bertubi-tubi.
Mira menghela nafas lega saat Athar akhirnya berhasil dijauhkan dari Ryo. Kini hanya dirinya yang seperti tak tahu mesti berbuat apa. Karena Mira begitu syok. Tak pernah sekalipun ia melihat hal seperti drama ini di depan matanya langsung. Tidak sama sekali.
Ketika dirinya masih terpaku dengan kejadian di depannya barusan, tahu-tahu Mira merasakan kalau tangannya ditarik seseorang.
Athar.
Suaminya itu membawanya pergi meninggalkan Ryo yang saat ini masih terduduk dengan kepala tertunduk.
.
.
Mira tak berani mengucapkan sepatah katapun saat diliriknya Athar yang tak sekalipun menatapnya meski mereka sudah berada di dalam mobil. Akan tetapi, rasanya tangannya sudah tak mampu menahan rasa untuk menjulur dan mengobati luka yang ada di wajah lelaki itu.
"Abang ..."
"DIAM!"
Mira kaget dengan bentakkan Athar barusan. Tapi itu tak membuat nyalinya surut untuk berkata, "Maaf ..."
Athar tak menyahut lagi. Bahkan Mira yakin kalau suaminya itu sudah benar-benar terlalu marah.
kan, begini kan jadinya ...
...* * *...
Dikit aja ya. Sinyal wifi parah. 😤