AL-THAR

AL-THAR
#73. Ngidam berjamaah.



Happy reading!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Woahhh ..." Mira tak dapat menyembunyikan rasa takjubnya manakala mendapati jacuzzi sudah siap di kamar mandi miliknya. Tentunya di rumahnya bersama Athar.


serasa mimpi ya ... sekarang apapun yang gue mau dapat terwujud dengan mudahnya. Bahkan gue memiliki pasangan hidup yang ... luar biasa banyak kelebihannya.


Apalah semua ini kalau dibandingkan dengan hidup gue yang dulu, 'kan?! Ternyata Tuhan itu memang baik. Tahu kapan gue mesti bahagia. Gak selamanya hidup gue terasa pedih dan menderita. Buktinya, sekarang adalah saatnya gue menikmati manisnya kehidupan ... walaupun gak sempurna.


"Gimana?" Athar memeluk Mira dari belakang dengan mesra. "Suka, gak?"


Mira pun mengangguk. "Suka."


"Kok gantung?"


Dia menyengir tanpa Athar ketahui. "Kok Abang tau?"


"Suka tapi apa?"


"Hm ..." Mira berlagak berfikir. "Aku suka banget. Tapi sekarang aku lagi gak kepengen."


"Gak masalah," sahut Athar santai. "Kapanpun kamu mau kan bisa sepuasnya. Gak perlu pergi ke hotel lagi, gak perlu ke rumah Dirga lagi."


Mira menolehkan kepalanya sedikit. "Kok Abang tahu aku ke hotel?"


"Ghani udah cerita semua."


"Oh ..."


"Kan kalau punya sendiri, kapanpun kamu mau aku bisa menemani."


"Tapi aku gak minta ditemenin tuh,"


"Masa?"


"Ngapain? Kalau berdua Abang, nanti bukannya berendam, rileks dan tenang ... tapi malah jadi sibuk."


"Hm, sibuk yang enak kan kenapa nggak?"


eleh, maunya.


Mira tak menyahut lagi. Dia melepaskan tangan Athar lalu berjalan keluar dari kamar mandi. Tentu dengan Athar yang berjalan mengekori. Namun saat di tengah kamar, tiba-tiba Mira menghentikan langkahnya.


"Kenapa? mau sekarang?"


Dia menatap datar kepada suami yang sudah merangkulnya lagi. "Aku baru ingat satu hal,"


"Apa?"


"Kenapa kita ributnya nggak di New York aja?"


"Hah?" Athar bingung.


"Abang curang, marahnya kok di negeri orang. Sedangkan aku? marah, tersiksa, dan tersakiti tapi tetep cuma di dalam negeri doang. Bahkan keluar kota pun nggak."


Athar mengerjap. Dia Masih mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Mira. "Gimana, Al?"


"Mestinya kita ributnya di New York. Ya ampun, ngebayangin Abang jalan di Amerika, sedangkan aku di sawah di Jakarta ... itu sangat miris. Intinya ... aku juga pengen marah di negeri orang, Bang,"


Athar berusaha menahan senyum gelinya. Dia mengacak rambut Mira seraya berkata, "Kamu mau ke New York?"


Mata Mira melebar dan berbinar. Tentu saja dia pastinya mau pake banget. Tapi, "Nggak."


"Kok?" Athar gak ngerti. Dia pikir istrinya bakalan tersenyum sumringah dan berteriak mau. Tapi kenapa malah sebaliknya?


"Lagi nggak pengen kemana-mana," jawab Mira datar. Dia melepaskan diri dari Athar lagi dan kini duduk di ranjangnya. "Aku lagi kepengen coklat."


"Coklat apa?" tanya Athar sambil menyusul duduk di sisinya.


"Coklat yang selalu dibawa Kiara buat Ghani."


Athar berfikir sejenak sebelum menjawab, "Oke–"


"Apa? Aku yang mau minta sendiri ke Kiara," kata Mira seraya berdiri dan bersiap pergi. Hari ini hari minggu. Seharusnya orang-orang sedang libur, 'kan?! Dan semoga saat Mira mencari Kiara maka gadis itu akan dengan mudah ditemukannya.


"Suruh Ghani aja, Al," saran Athar.


"Ghani mana mau. Dia kan sebel banget sama cewek itu, walaupun mereka harus berdekatan. Udah ah, aku pergi sendiri–"


"Nggak," cegah Athar dengan menarik tangan Mira. "Kamu gak capek emangnya? Kan kita baru aja sampai."


Mira menggeleng. "Nggak. Nanti kalo capek, aku pasti istirahat kok. Udah ah, lepasin!"


"Ya udah, aku ikut." Athar berdiri segera.


"Yakin?"


Athar mengerjap. Dia adalah laki-laki dengan harga diri yang tinggi. Maka dia mengangguk dengan mantap.


Sedangkan Mira menatap mata Athar sesaat sambil menimbang, apakah ia mesti membiarkan ataukah melarang?


Dia mengingat kembali kejadian tadi sepulang dari rumah Dirga menuju ke rumah ini.


"Abang kenapa?" tanya Mira saat dia sudah siap duduk di mobil, tapi Athar malah berdiri berlama-lama di depan rumah Dirga.


Athar berdehem. "Gak papa. Kamu udah siap?"


"Udah. Kan dari tadi aku udah duduk di sini. Abang tuh yang gak masuk juga ke mobil dari tadi."


"Iya, ini aku mau masuk."


Dengan langkah pasti Athar yang baru saja mendekati mobil, kini refleks menjauh. Dia berlagak sibuk memeriksa hpnya dan berdiam diri di sisi luar mobil.


"Abang ngapain lagi sih?" tanya Mira tidak sabaran. "Ini panas banget loh cuacanya. Jangan lama-lama dong. Nanti kalo aku mual, gimana?"


"Iya, sebentar,"


Mira mencoba sabar lagi hingga Athar selesai dengan hpnya. Namun, sepuluh menit telah berlalu dan mereka masih berada di tempat yang sama seperti tadi.


"Telponnya kan bisa di mobil, kali. Ini jadi pulang, gak? Kalo Abang masih lama, ya udah aku naik taksi aja–"


Mendengar gerutuan Mira yang sudah pada batas kesabarannya, lantas Athar segera menaiki mobil di sisi Mira, di kursi belakang. Sebab saat ini ada sopir yang sudah duduk di kursi kemudi.


Athar sudah duduk dalam diam. Sedangkan Mira mendesah lega, karena merasakan hawa sejuk dari pendingin mobil mulai merata.


"Aku tuh gak bisa kepanasan. Bisa mual kalo aku merasa panas."


"Hm."


"Makanya aku maunya berendam mulu. Karena setelah berendam, aku merasa segar dan mual itu hilang."


"Hm."


"Kok cuma 'hm' doang?" tanyanya.


Athar menoleh singkat dengan senyum yang dipaksakannya nampak.


"Abang kok pucet?"


Mira menyentuh pipi Athar yang langsung mendapat penolakan. Ya, Athar menepis tangannya.


"Rud, berhenti!" perintah Athar kepada sopir mereka. Begitu mobil menepi, Athar segera keluar dari mobil dan menyisakan Mira yang kebingungan.


"Kenapa, Bang? Bang Athar!"


Mira menyusul turun dari mobil dan mendapati Athar yang berjongkok di belakang mobil dengan ....


"Ntar Abang muntah lagi," ujar Mira sangsi. Diliriknya dengan menggoda pada lelaki itu, dan Athar yang hanya memberikan ekspresi datarnya saja. Harga dirinya melarangnya untuk menyerah begitu saja.


"Nggak akan, Al. Aku bakalan pakai masker."


"Mending Abang panggil dokter aja deh, supaya dikasih resep obat masuk angin ala sultan," sarannya. "Kalo aku sih masuk angin tinggal beli jamu tolak angin ya beres. Kecuali mual gara-gara hamil yang beda obatnya. Tapi kan kalo Abang pas masuk angin mesti dikasih resep sama dokter. Ya ampun, perut Abang itu gak mempan sama jamu tolak angin sih. Penyakit masuk angin Abang pun kelas elit."


"Ayo jalan!" Athar mendahului Mira melangkah keluar dari kamar.


"Abang, ish ... mending Abang istirahat aja deh!"


"Nggak perlu." dia menggandeng Mira menuruni tangga menuju lantai bawah. "Apa kita pindah kamar ke lantai bawah aja ya, Al? biar aku gak khawatir saat kamu turun naik tangga."


"Nggak perlu deh, Bang. Aku biasa aja. Yang penting kan aku selalu pelan-pelan kalo di tangga."


Athar menimbang sesaat. "Ya udah, kita lihat dulu. Tapi sebaiknya kalo kamu butuh apa-apa, kasih tahu bi Lilis atau Pak Teguh aja. Biar kamu gak perlu ke bawah."


Mira mengangguk. "Iya. Abang tenang aja deh."


.


.


"Al, gak usah pakai AC ya?" tanya Athar setelah mereka tiba di dekat mobil.


Mira langsung memberengut. "Gak bisa dong. Aku mana bisa kepanasan sih, Bang? kan aku udah kasih tau. Masa Bang Athar gak ngerti juga?"


"Oke, maaf–"


"Mending Abang di rumah aja, istirahat! Aku cuma mau nyari coklat, bukan cari masalah. Kalo Abang kurang sehat, Abang gak usah maksain ikut aku," katanya menahan kesal. Semudah itu mood-nya berubah.


"Tapi aku gak mau jauh dari kamu, Al ..."


"Eleh, kemarin–"


"Itu beda!" potong Athar dengan tegas. "Sekarang pokoknya aku gak mau jauh-jauh dari kamu, ngerti?!"


Mira terdiam. Sebelum dia menyahut, Athar telah lebih dulu melanjutkan kalimatnya. "Makanya kamu gak usah repot-repot cari coklat segala. Aku bisa suruh orang buat nyari coklat itu, Al."


"Tapi aku maunya nyari sendiri," sahut Mira kalem dan keras kepala. Tatapannya sekuat itu untuk ditolak. Dan Athar yang tahu tak ada gunanya berdebat, kini dia pun mesti mengalah.


"YA UDAH AKU IKUT!"


...🌹🌹🌹...


Mira takjub dengan apa yang di dengarnya beberapa saat yang lalu. Dia masih tak percaya kalau Athar mengalami apa yang dialaminya juga, yaitu mual karena dirinya hamil.


"Ish, yang hamil itu kan aku, kenapa Abang malah ikutan mual juga?"


"Bukannya seharusnya kamu senang ya, bisa berbagi rasa gak nyaman ini sama aku ..." lirih Athar.


Setelah perjalanan menyiksa dari rumah mereka menuju rumah mama Mira, kini Athar terbaring lemah di tempat tidur, di kamar Mira. Tadi, dia benar-benar muntah-muntah selama di dalam mobil yang berudara sejuk.


Sekarang, terjawab sudah dengan apa yang terjadi pada dirinya semenjak di pesawat kemarin.


"Iya, sih. Tapi ... aku kasihan lihat Abang menderita begitu."


Athar mendongak. "Kasihan tapi kamu senyum loh, Al,"


"Masa? Nggak tuh," elaknya. Padahal sejujurnya Mira merasakan sedikit kesenangan. Tentu saja karena ia tidak menderita sendirian karena bawaan hamilnya itu. Melainkan, sang pemilik saham separuh juga kini andil dalam merasakan nikmatnya ngidam.


Tapi setelah beberapa saat memperhatikan kepayahan Athar yang seolah seperti orang sakit parah, kini perlahan Mira mengusap kepala suaminya itu dengan sayang.


"Ini namanya adil, Bang."


"Hm ... asal kamu senang, Al ...."


"Masa sih?"


"Asal kamu maafin kesalahan aku kemarin ..." Athar menatap Mira dengan sendu. Dia serius dengan ucapannya barusan.


Mira berdehem. "Kalo itu sih masih dalam tahap aku pertimbangkan."


Tangan Athar memegang belakang kepala Mira, dan seketika membawa wajah Mira untuk mendekat ke arahnya. Lalu ia mencium bibir istrinya itu ... singkat saja.


"Maaf, Bang ... sekarang aku yang mual."


.


.


"Huahahaha ..." Shelia terbahak mendengar penuturan sang adik barusan. Dia yang saat ini kehamilannya menginjak usia 7 bulan itu sedang selonjoran di sofa. "Ada yang ngidam berjamaah."


"Awas nyamuk masuk tuh, lebar banget ketawain orang."


"Lucu sih kalian! Ya ampun, si Athar ketularan sengklek sama lo, Mir."


"Yee, mana gue tahu kalo ada yang kayak gini."


"Iya ya, biasanya yang ngidam itu salah satunya. Kalau gak istrinya ya suaminya. Walaupun sebagian besar pasti perempuan lah yang ngidam. Tapi kalian ... adil. Bikinnya bareng, ngidamnya pun bareng. Selamet deh!"


"Tapi dia keliatan lebay banget, Shel," ujar Mira yang baru saja mengambil jus untuk dibawa ke kamarnya di lantai dua. "Waktu awal dia ngira masuk angin doang, dia masih kuat loh. Eh, sekarang pas tahu dia ngidam kayak gue, mendadak dia kayak gak bertenaga. Jadi manja banget. Malahan gak mau nyalain AC di kamar."


"Bagus deh! Yang satu gak suka kepanasan, yang satu gak suka kedinginan. Ntar kalian gak tidur sekamar dong?"


Mira tertegun. "Oh iya ya. Ya udah, ntar gue tidur di kamar lo deh."


"Boleh. Ntar kita maraton drakor kuy!"


"Kuylah!"


...* * *...