AL-THAR

AL-THAR
#33. Make Up



Happy reading!


Athar baru saja keluar dari kamar hotel yang ditempatinya dengan Mira. Ia membiarkan kakak iparnya yang menangani Mira dalam hal make up. Karena memang Mira sendiri tidak mau repot-repot di make up sedemikian rupa untuk pesta makan malamnya sebentar lagi oleh penata rias profesional seperti yang Kak Sabrina sarankan. Baginya, hanya cukup Shelia yang akan melukis wajahnya dengan baik.


"Lo gak capek?" Mira bertanya pada Shelia yang saat ini tengah mengunyah keripik kentang yang bungkusnya paling besar.


Shelia menggeleng. "Tenang aja, gue suka kok membuat karya di muka lo. Soalnya tangan gue kayak magic gitu kalau habis menyentuh wajah lo yang ... langsung cakep kalau dipakein make up sama gue."


"Maksud gue ... lo gak capek makan?"


"Nggak. Ini nikmat," sahut Sheli singkat.


"Mecin itu, Shel. Gak baik buat debay."


"Mecin itu enak, Mir. Persis kayak yang biasa lo bilang ke gue selama ini. Biasanya lo kan yang jago makan? tapi kali ini, berkat kehamilan gue, maka gue yang jadi suka makan. Pastinya setelah dua bulan tersulit dalam hidup gue kemarin, sudah saatnya sekarang gue menikmati sepenuh hati dan sepenuh perut."


"Ntar gendut lo!"


"Biarin. Nanti gue diet lagi kalau sudah lahiran," jawabnya sekenanya. "Ntar dulu ya make up nya, gue habisin ini dulu. Terlalu nikmat buat dilewatkan begitu saja. Hmmm ..."


"Iya, santai ah. Gue juga masih capek."


"Yailah, cuma pesta gitu doang. Mana ada capeknya sih? kan konsepnya santuy. Nggak dipajang di pelaminan doang kayak yang biasanya resepsi pernikahan pada umumnya."


"Iya sih, itu mah gak capek banget. Tapi sesudahnya,"


"Sesudahnya? Emang lo ngapain sesudahnya?"


Main air di kamar mandi sama suami.


"Nggak sih," Mira bukan tipe orang yang akan menceritakan perihal 'kegiatan pribadinya' kepada orang lain. Maka dia mengalihkan pembicaraan. "Lo tadi ngobrol sama siapa deh? Gue gak kenal kayaknya."


"Yang mana? Gue ngobrol dengan banyak orang."


Iya sih, secara Shelia memang supel dalam pergaulan. Berbeda dengan Mira yang hanya mampu berakrab ria dengan orang-orang yang sudah dikenalnya saja.


"Yang itu loh, mukanya agak bule gitu."


"Oooh ... si Thomas. Dia kakaknya cewek yang gaunnya seksi itu loh, yang pahanya kemana-mana."


"Nanda?"


Shelia mengendikkan bahunya. "Mungkin. Kok lo kenal?"


"Si cewek itu klien Bang Athar."


"Woah! Berat bener saingan lo, Mir. Gue turut prihatin ya."


Kakaknya itu malah cengengesan. "Wajah lo emang bisa ketolong biar naik standar kecantikan. Tapi kalau masalah body?" Shelia memperhatikan Mira dari atas lalu ke bawah. "Agak berisi tapi nggak seksi."


"Gue nggak gendut ya, coba dikondisikan mulutnya."


"Iya belum sih, Mir,"


"Iiihh, terserah deh apa kata lo. Yang penting Bang Athar bilang kalau gue berisi sesuai pada tempatnya. Jadi, cuma dia yang boleh menilai body gue."


Shelia menggaruk telinganya yang tak gatal. "Aw aw aw, bikin envy bumil aja. Whatever deh ya, situ kan sudah nemuin pacar dunia akhirat." dia bangkit untuk membuang bungkus makanannya yang sudah habis. Kemudian dia mencuci tangan dan segera bersiap untuk melakukan sihir di wajah adiknya itu. "Eh," tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Hp gue kemana ya?" Shelia mencari-cari. "Malahan gue lagi nunggu telepon Ubay, tau gak!"


"Loh, Bang Ubay jadi datang? Kemarin dia chat gue katanya nggak bisa datang."


"Bisa, kok. Tadi dia masih telpon gue waktu baru sampai di Bali." Shelia tak menemukan hpnya dimana-mana. Dia pun pasrah. "Ya udah deh, sini muka lo. Ntar aja gue cari hp gue setelah muka lo gue beresin. Gue bikin kinclong kayak piring yang habis dicuci pakai sabun cuci piringlah." Shelia menghampiri Mira "Mungkin hp gue tercinta ketinggalan di kamar." gumamnya masih kepikiran.


"Gue telpon aja ya ke nomor lo?"


"Ya udah, coba aja."


.


.


Setengah jam kemudian Shelia kembali ke kamarnya. Tentunya karena dia hendak mencari ponselnya yang sejak tadi dirindukannya. Gimana nggak, mestinya sekarang sudah ada pesan chat minimal lah ya, dari si Ubay alias Baihaqi. Walaupun kesempatan untuk bersama Ubay telah kandas sudah, tapi Shelia tetap ingin berada di dekat lelaki itu walau hanya sebagai teman saja. Prinsipnya, jodoh tak akan kemana. Biarlah takdir berjalan seperti yang seharusnya.


Lain Shelia, maka lain pula dengan Mira. Begitu Shelia kembali ke kamar, maka ia memutuskan untuk menunggu kakaknya itu di sebuah balkon di ujung lorong yang menghadap ke laut. Sudah seharusnya ia menunggu dan menemani sang kakak yang tengah berbadan dua itu.


Sambil menunggu, maka Mira mengisi waktu dengan berselancar di dunia maya. Update status merupakan sebuah kewajiban manusia muda masa kini. Ya kan?!


"Ehem." suara deheman seseorang sontak membuat Mira menoleh dan meninggalkan perhatiannya dari layar pintarnya.


Mira terkejut. Iya, tentu saja dia terkejut dengan seseorang yang berdiri di dekatnya sekarang. Bagaimana bila Athar melihatnya? Apa yang akan terjadi? Rasanya Mira dapat mendengar debaran di dadanya terasa kacau. Karena ini terlalu mendadak. Dan Mira tak siap untuk menghadapi seseorang yang tak semestinya berada di dekatnya saat ini.


"Hai!"


* * * *


Sedikit aja yaaa, aku habis update Like Drama tiga part. Cicak satu Part. 😂


Untuk ke depannya jangan tanyakan kalau Althar jarang-jarang updatenya. Karena ya gitu, aku mesti sesuaikan mood dulu biar cerah seperti waktu update tiga kali itu. 😆


Tengkyuu udah baca! Jangan lupa kasih dukungannya ya. Tadinya ini malam gak update. Tapi berhubung ada salah satu readers setia yang nanyain, eh aku malah jadi update kan. 😜


Plis Like, komen, or vote.


*