AL-THAR

AL-THAR
#92. Keputusan Pram



...Lanjut!...


Mata Mira berbinar-binar memperhatikan kedua bayi yang terlihat lucu dan menggemaskan di hadapannya kini. Sembari tangannya sesekali mengusap perut, karena tak lama lagi ia pun akan merasakan euphoria memiliki anak pertama. Seperti Shelia dan Sabrina.


Tadi, Athar mengajaknya untuk menjemput paksa baby Ray –anak dari Dirga dan Sabrina– yang sebulan lebih tua dari Fathia, anaknya Shelia. Itu setelah kemarin Mira mengatakan yang sebenarnya tentang sang kakak kepada Athar, suaminya.


Awalnya, hanya Sabrina saja yang akan ikut ke rumah mama Mira. Sudah pastilah ya, secara anaknya masih berusia lima bulan gitu. Gak mungkin dia berada jauh-jauh dari sang buah hati. Tapi kemudian, Dirga menyusul satu jam kemudian.


"Ngapain lo?" tanya Athar datar kepada kakaknya, Dirga.


"Menurut lo?"


Adiknya itu hanya mengendikkan bahu.


"Nemenin anak istrilah."


"Oh."


Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga dimana terdapat kasur yang lebar digelar di lantai, untuk kedua bayi itu dijejerkan bersama. Posisi bayi-bayi sekarang sama-sama tengkurap dan memegang mainan di tangan.


Shelia dan Sabrina sedang membicarakan tentang bayi mereka masing-masing. Dimulai dari berat, tingkah laku, kebiasaan tidur dan makan, dan lain sebagainya.


Sedangkan Mira ...


"Tuh 'kan Tia, kamu itu nanti butuh diet loh. Masa kamu lebih besar dari Lakeswara padahal kamu lebih muda sebulan?"


Ya, betul. Mira mengoceh seolah-olah sedang mengobrol dengan kedua bayi itu. "Padahal kamu belum mpasi loh, Tia. Gimana kalo udah mulai ngemil? Tambah endud dong, hehe ..." kemudian Mira menoleh. "Kamu ganteng," katanya kepada anak dari kakak iparnya. "Iya, kamu. Kamu yang paling ganteng di sini. Tapi nama kamu ribet nyebutnya. Lakeswara–"


"Ray aja, Mir," sela Dirga yang duduk di sofa bersama Athar. "Diambil dari Raynar."


"Oh ... oke. Bagus yang gampang aja."


"Kalian sudah punya nama buat calon bayi kalian?" tanya Sabrina kepada Mira juga Athar.


"Ada dong," sahut Athar santai. Itu membuat Mira menoleh kepadanya dengan bingung. "Masa? Kok aku gak dikasih tahu?"


"Rahasia, Sayang ..."


"Kok rahasia? Yang hamil itu aku loh. Yang bawa-bawa ini perut besar juga aku. Bukan Abang. Kok bisa nama buat calon anak yang sekarang lagi asik di perut aku tapi aku malah gak dikasih tau?"


Dirga tertawa tanpa suara. Begitupun dengan Shelia. Hanya Sabrina saja yang menyahuti pelan. "Mana bisa begitu ..."


"Betul!" seru Mira semangat karena ada yang mendukung. Kini ia melebarkan matanya menuntut jawaban dari suaminya.


"Soalnya aku masih banyak pilihan. Nanti kalau sudah yakin dengan satu pilihan, baru aku kasih tahu kamu, Al."


"Kenapa nggak musyawarah aja?" kali ini Dirga yang mendukung Mira.


"Nah! Betul lagi! Kenapa Abang gak ajak musyawarah aku? Emang yang lagi hamil itu siapa?"


"Dikira hamil itu enteng kali ya ..." celetuk Shelia pelan.


Athar menyerah kala semua orang di rumah itu malah menjadi kompor. Padahal maksudnya hanyalah bercanda kepada istrinya. Tapi yang terjadi malah berbeda.


"Maaf, Al. Aku bercanda."


...---...


"Ya ampun, bumil belum cuti juga?" Abay menyambut Mira pagi itu. Sebagai kacung yang baik, ralat– sebagai teman yang baik, refleks tangannya mengambil alih benda dari tangan Mira. Abay selalu menolong manakala mendapati Mira membawa banyak buku seperti sekarang.


"Dih, baik amat, Mang Ujang." Puput terkekeh.


"Dia baik biar dapat gaji dari Bang Athar." Pram yang selalu berbicara fakta, meskipun itu menyakitkan.


"Terserah apa kata kalian, wahai warga Indonesia. Gue sih bodo amat. 'Kan yang penting Bang Athar gak pelit sama gue, oi."


"Nah, 'kan. Apa gue bilang." Pram merangkul Mira dan mereka mulai berjalan menuju gedung dimana kuliah mereka akan dimulai tak lama lagi. "Digaji berapa emangnya dia?" tanyanya kepada Mira.


Mira menggeleng singkat. "Gak tahu. Dan gue gak mau tahu. Itu urusan Bang Athar yang mau sedekahin Abay,"


"Ah sialan, woi! Gue bukan golongan penerima sedekah ye. Eh tapi– biarin deh. Whatever apa kata kalian, gue bodo amat ~ yang penting gue banyak duit ... yuhuu ...."


Pram, Mira dan Puput mengabaikan teman mereka yang satu itu. Kemudian Pram mengisyaratkan Puput agar mendekat ke arahnya dan Mira. Dia hendak mengatakan sesuatu yang tak boleh orang lain tahu kecuali mereka berempat saja.


"Apa sih? Kita mau berburu harta karun ya? Trus nasibnya Mimir gimana? Bunting gede gitu. Ya kali gue mesti gendong? Dibayar berapapun gue gak kuatlah–awww," Abay mengusap pipinya yang baru saja ditarik Mira.


"Enak aja gak kuat. Gue cuma 60kg loh."


"Cuma? Beras 60kg itu berat loh, Mir."


"Emangnya gue beras?"


Abay cengengesan.


"Gue 60kg berdua. Lah lo, Bay ... lebih dari 60kg sendirian."


Perkataan Mira barusan sukses membuat Abay kicep. "Ah, sialan. Gue nggak seberat itu, kali."


"Yakin?" mata Mira sengaja melirik perut buncit Abay tercetak dibalik kausnya. Sengaja Mira mengusap perutnya dan memberi cengiran lebar kepada temannya itu. "Sesama bumil jangan resek deh."


"Sialan–"


Pram menjadi gemas karena omongan pentingnya malah disela. "Dengerin gue," bisiknya serius, menginterupsi ocehan Mira dan Abay. Ketiga temannya kembali merapat.


"Apa sih–" Pram membekap mulut Abay sebelum cowok itu mengarang bebas lagi.


"Gue," Pram kembali mengambil alih. "Minggu depan mau merried." Dia mengisyaratkan telunjuknya di bibirnya sendiri, agar ketiga orang temannya itu mengerti untuk menjaga rahasianya.


Kalimat itu begitu santai sekaligus datar yang diucapkan oleh Pram, yang belum lama ini menangis darah menghadapi masalahnya. Begitu kiranya menurut penilaian Mira.


"Kok bisa?" Puput berbisik. Dia yang sudah diceritakan tentang putusan Pram dengan Raihan pun bingung. "Merried sama siapa, Pram? Bukannya lo jomlo ya?"


"Kok dadakan, Pram?" Abay melotot. Tapi suaranya tetap berbisik juga. "Jangan-jangan lo ... hamidun?"


Abay menerima tabokan yang terasa pedas di lengannya. Siapa lagi kalau bukan Pram pelakunya. "Jangan gosip! Gue tuntut lo ya kalo fitnah gue."


Lain Abay dan Puput yang syok, maka Mira lebih mendetail lagi pertanyaannya. "Di mana? Kok bisa lo ikhlas? yakin lo gak bakalan menyesal?" Bukannya apa, Mira serius khawatir dengan masalah Pram yang satu itu. Bukan sebulan dua bulan dia mengenal baik itu Pram maupun Ryo. Keduanya adalah teman Mira dalam hitungan tahun. Seberapa keras kepalanya Pram, juga seberapa anehnya pikiran Ryo sekarang, membuat Mira bingung sekaligus khawatir.


Pram menatap Mira penuh arti. Dia jelas mengerti kekhawatiran sahabatnya itu. "Gue cuma menjalani aja."


"Hah?"


"Tenang, Mir. Gue kuat kok. Apapun yang terjadi, gue bakal menjalaninya ... semampu gue. Nanti, suatu saat andaikan gue gak sanggup, maka gue akan menyerah. Seenggaknya, gue sudah melakukan yang orang tua gue mau."


"Tapi, Pram,"


"Gue membuktikan kalo gue adalah anak yang patuh, Mir. Sehancur apapun hati gue, toh orang tua gue tetap pada pendiriannya. Jadi buat apa gue lebih menghancurkan diri sendiri kalo itu hanya akan berdampak cuma buat diri gue seorang. Gue yang rugi. Oke, kalo emang mereka pengen gue nikahin si Ryo. Hayuklah! Siapa takut! Setelah gue merried nanti, maka otomatis tanggung jawab orang tua gue terhadap gue sudah lepas. Maka dari itu, setelahnya gue yang akan bertanggung jawab atas diri gue sendiri. Baik buruknya, sakit bahagianya, cuma gue yang tahu dan cuma gue yang berhak untuk memutuskan; apakah bakalan melanjutkan pernikahan atau nggak. Orang tua gue sudah gak berhak apa-apa lagi."


Ketiga temannya terdiam. Hingga beberapa saat kemudian Mira berkata, "Tapi pernikahan itu bukan main-main, Pram ..."


"Yang mau main-main itu mereka atau gue sih, Mir? Kalo mereka mengerti apa yang dapat gue pertanggungjawabkan, maka mereka gak akan pernah memaksa gue. Jadi sudah jelas di sini, yang lebih ke arah main-main itu siapa."


"Tapi, Pram ..." sumpah, Mira belum rela melihat Pram menderita. Air mata saat Pram terpaksa melepaskan Raihan masih Mira ingat dengan jelas, seberapa dalam perasaan sahabatnya itu. Lalu kalau sekarang ini yang terjadi, maka Mira turut merasakan sedihnya seperti yang Pram rasakan.


"Lo tenang aja sih." Pram mengusap perut Mira pelan. "Gue tahu betul gimana Ryo dan perasaan gilanya terhadap lo."


Mira menggeleng pelan. "Tapi gue gak rela kalo lo mengkorbankan diri. Sedikit banyak ini terjadi karena gue, 'kan?"


"Jangan bilang begitu. Jangan salahin diri lo, Mir. Lo hanya menjadi salah satu sebab datangnya jodoh gue. Yah, walaupun gue gak tahu bakalan berapa lama jodoh gue sama dia. Tapi semua sudah takdir. Qodarullah, istilah yang sering Raihan sebut selama ini."


Mira baru tahu kalau ternyata Raihan memang membawa dampak yang cukup positif dalam hidup Pram.


"Dengan ada nggaknya pertemuan lo sama Ryo, sudah pasti cerita hidup gue bakalan ketemu sama dia pada akhirnya. Dan gue gak perlu iri dengan cerita indah milik orang lain. Gue cuma perlu bersyukur kalo cerita hidup gue nggak sampai separah orang lain."


Pram betul. Hidup itu harus melihat ke bawah bukan ke atas. Kalau untuk sebuah motivasi, maka kita memang sepatutnya melihat pada mereka yang berhasil dalam kehidupan. Tapi bila masalah takdir, maka yang perlu kita lakukan adalah bersyukur. Karena masih banyak yang takdirnya jauh lebih buruk dengan masalah yang jauh lebih parah sulitnya dari masalah kita sendiri.


Ketika kita telah bersyukur atas apapun yang kita dapatkan dalam hidup ini, maka segera kita akan memetik hikmah atas semua yang terjadi.


Mengapa saya yang mengalami ini? Mengapa ini harus terjadi kepada saya?


Maka jawabannya hanya satu ...


Karena Tuhan percaya bahwa hanya saya yang mampu menghadapi masalah ini.


...***...