AL-THAR

AL-THAR
#96. Kondangan (1)



Pernikahan Pram dilaksanakan di sebuah gedung yang ada di Bogor. Sudah pasti Mira akan bertemu dengan teman-teman SMA nya karena Pram telah mengundang semua yang dikenalnya. Merupakan sebuah kejutan untuk angkatan mereka peristiwa bersatunya Pram dan Ryo. Sebab tak pernah ada jejak semasa putih abu-abu dulu antara keduanya dalam masalah asmara.


Perasaan bangga Mira kali ini karena ia ingin memperlihatkan kepada semua orang yang pernah mengenalnya dulu, bahwa sekarang dirinya telah berubah. Memiliki suami super oke, serta sedang mengandung, membuatnya ingin berkata kepada semua orang ... lihatlah, gue juga bisa bahagia kayak kalian semua...


Tapi itu hanya sampai di dalam hatinya saja. Perasaan membuncah itu mesti ia redam agar tidak berakhir dengan sikap sombong. Bukannya Mira berniat sombong juga, sekali lagi bahwa Mira hanya ingin memperlihatkan kebahagiaannya kepada orang-orang yang pernah menyakitinya di masa itu. Namun sepertinya itu tidak akan dia lakukan.


"Uwaahh ... gue punya keponakan ...." Solihati mengelus perut besar Mira, walau saat ini tangan Athar masih setia menggenggam erat tangan Mira.


"Lucu sih, Mir," ujar Rizka. "Lo hamil gede gini jadi lucu. Perdana jadi emak-emak diantara kita berempat."


"Apanya yang lucu?"


"Ya perut lo."


"Dih."


"Cukup menakjubkan, ya gak sih?! Secara, sejarah yang banyak pacar sejak sekolah SMA dulu itu urutannya Soli, gue, trus si Pram. Kalo lo 'kan sama sekali nggak. Tapi eh tapi, lo malah duluan yang merried, plus sekarang hamil gede. Keren deh lo, Mir."


Mira melirik Athar sebentar. Suaminya itu sepertinya sedang fokus pada ponselnya, tapi Mira yakin kalau telinga Athar sudah pasti mode tajam apapun obrolan di dekatnya.


"Jodoh itu gak ada yang tau, Riz." Soli masih asik mengelus perut Mira. "Lucu, Mir. Bener kata Rizka. Lucu ih perut lo."


"Yailah, kawan-kawan ..." dia speachless.


Masing-masing dari sahabatnya itu turut juga membawa pasangan. Tadi, Mira sudah dikenalkan pada keduanya. Baik itu pacar Soli maupun pacar Rizka.


"Udah yuk kita samperin si Pram," ajak Mira tak ingin berlama-lama. Sebenarnya dia penasaran, seberapa cantiknya pasti sahabatnya yang sedang menjadi ratu sehari itu.


"Lo mau kondangan apa ngajak tawuran sih?" tanya Soli. "Kalem dong, Mir. Bumil besar gini masih aja urakan, slebor, bar-bar ..."


"Penasaran parah gue sama Pram. Kalian udah tahu 'kan ceritanya?!"


"Iya, tahu," sahut Rizka. "Yuk deh kita lihat Pram sama Ryo. Gila, gue gak menyangka sama sekali kalo jodohnya si Pram malahan Ryo. Kayak random gitu gak sih, ya, 'kan?!"


"Ya namanya jodoh." Soli mulai melangkah yang diikuti oleh Mira dan Rizka, bersama pasangan mereka masing-masing.


Perjalanan menuju pelaminan Pram rupanya tak semulus dan selancar itu. Buktinya, mereka selalu saja berhenti karena bertemu dengan teman lama, baik itu teman sekelas maupun teman lain kelas. Tak sedikit juga yang terang-terangan mengungkapkan ketakjubannya karena melihat Mira yang sedang hamil besar, dan sudah pasti siapa pemilik saham besar itu yang tangannya menempel erat sejak turun dari mobil.


"Serius, Mir? Siapa pelakunya?" seorang teman bernama Jatno, teman sekelasnya dulu yang suka sekali bercanda dengannya.


Dan Mira hanya menunjuk pada Athar tanpa melihat raut serius Athar saat menatap temannya itu.


Jatno menyengir lebar. "Ups, canda, Bang ...."


"Cantik, Mir." Sherly teman sekelas Diva dulu. "Lo kelihatan cantik pas hamil gini. Apa ketularan suami kece kali ya, makanya lo jadi kece juga." cewek itu tertawa bercanda juga.


"Semoga lancar ya, Mir, persalinannya."


Setelah memalui banyak rintangan, akhirnya Mira and the genk sampai juga di depan pelaminan yang terlihat mengantri itu. Sudah pasti para tamu mengantri untuk bersalaman dengan kedua mempelai.


Saat itu Mira merasakan remasan pada tangannya yang sejak tadi digenggam Athar. Bukan remasa biasa, maka dia menoleh ingin tahu ada apa.


"Aku masih gak suka kalau kamu ketemu dia ... apapun keadaannya."


Ah, Mira paham. "Abang ..."


"Abang ..."


Athar menoleh. "Gak usah salaman sama dia. Bukan mahram."


"Ha?"


"Sama Pram aja. Kalau dia lewatin aja."


"Lah?"


"Kenapa? Kamu keberatan?"


"Bukan begitu. Tapi, 'kan, aku mau ngucapin selamat sama dia–"


"Yakin mau ucapin selamat setelah apa yang dia perbuat ke teman kamu? Kamu gak ingat air mata Pram beberapa waktu lalu?"


"...."


Mira yang tak mampu berkata-kata kini merasakan colekan di pinggangnya. Dia menoleh dan mendapati Soli yang berbisik di telinganya, "Laki lo serem, Mir. Udah, nurut aja."


Dia hanya menyengir saja.


"Hayuklah, giliran kita!" seruan Rizka mengalihkan mereka.


Urutannya, Rizka dengan pacarnya berjalan lebih dulu. Lalu disusul Soli dengan pacarnya juga. Dan terakhir, tentu saja Mira dengan Athar. Walaupun duluan memberi ucapan, baik Rizka maupun Soli tidak ada yang berlalu. Mereka setia di sisi Pram untuk mendapat giliran berfoto bersama. Terlebih Mira yang kondisi perutnya bisa menjadi kenang-kenangan nanti.


Sedetik saja saat akhirnya Mira saling tatap dengan Ryo. Sebab dia takut Athar akan marah bila durasinya lebih lama lagi. Namun, apapun yang telah terjadi, pada moment ini sudah sepantasnya ia memberi ucapan selamat kepada sang pengantin. Mau itu ucapan tulus, basa-basi, atau terpaksa, tetap saja Mira mesti mengucapkannya.


"Selamat ya, Yo," ucapnya singkat dengan sedikit senyum dan sedikit anggukkan. Dia menurut pada suaminya yang melarangnya berjabat tangan.


"Makasih, Mir." suara Ryo terdengar bergetar. Atau mungkin Mira saja yang salah menyimpulkan. Biarkan, Mira mesti segera beralih untuk menatap Pram yang saat ini terlihat cantik dengan gaun pengantinnya.


Mira tidak masalah dengan perut besarnya. Karena dia mesti memeluk Pram setelah Athar melepaskan tangannya barusan. Air matanya tak mampu ia tahan manakala sahabatnya itu balik memeluknya dengan erat tanpa mengganggu perutnya.


"Selamat ya, Pram ..." ucapnya dalam pelukan. Pelan, terisak, dan penuh sejuta rasa. Pram hanya mengangguk saja dalam diam. "Jangan nangis ya, Pram. Make up lo jangan dirusak."


"Iya ..." bisik Pram pelan. Memang sekuat tenaga dia menahan air matanya.


"Lo mesti bahagia, Pram. Lo berhak bahagia. Semoga Allah memberikan kebahagiaan buat lo ... buat kalian."


"Iya ..."


"Gue sebenernya masih banyak kata-kata yang mau gue ucap. Tapi gak bisa. Kasihan, antriannya panjang nanti."


Pram melepaskan pelukannya sembari tertawa pelan. "Makasih atas doanya."


Mira mengangguk. "Jaga diri ya. Kalo Ryo nakal bilang sama gue. Nanti Bang Athar yang bakalan hukum dia."


Ryo tersenyum tanpa Mira ketahui. Tentunya Athar yang berdiri di samping Mira sudah pasti melihatnya. Tak lupa Athar memberikan tatapan peringatan kepada Ryo, yang membuat Ryo menahan senyumnya.


...***...