AL-THAR

AL-THAR
#14. Bi Lilis



Sebelumnya, makasih dulu buat Dek @sindi atas tipnya 😘😘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mira berjalan pelan menuruni tangga untuk menuju meja makan di lantai satu. Setelah semalam adalah malam yang ... begitulah, begitu tak pernah terbayangkan dalam hidup Mira akan mengalami fasenya secepat ini. Untungnya, sewaktu ia bangun untuk yang kesekian kalinya semalam, ternyata Athar telah tidak ada di kamar mereka. Itu membuat Mira dapat meredam rona merah di wajahnya akibat perbuatan istimewa yang telah terjadi antara dirinya dan suaminya.


"Wah, nasi goreng," gumamnya bahagia. Biasanya Athar hanya menghendaki ada sarapan-sarapan sehat menurutnya, yang Mira pun mesti mengikutinya. Tapi hari ini, sepertinya tidak lagi. Memang ya, kekuatan service istri jelas bakalan mampu merobohkan kebiasaan-kebiasaan suami.


Ia menikmati nasi goreng dengan bahagia. "Makasih ya, Bi," ucapnya kepada bi Lilis.


"Iya, Non."


"Kok, 'Non' sih?"


"Perintah Mas Athar, Non."


Mira menghela nafas, "Oh trus Athar kemana, Bi?"


"Mas Athar pergi jogging, Non. Sudah satu jam yang lalu."


hebat, masih sempet-sempetnya pergi jogging disaat tadi kami berdua baru tidur jam tiga pagi, trus bangun subuh, trus gue tidur lagi, dan dia nggak ternyata.


sejam yang lalu gue masih bobo.


"Halo." Kecupan singkat di pipi membuat Mira menoleh dan mendapati Athar yang tersenyum manis ke arahnya, dengan sebuah kedipan sebelah mata.


Mira tersedak nasi goreng yang sedang dikunyahnya. Bagaimana tidak, kedipan Athar pastilah mengingatkannya tentang malam pertama mereka yang panas semalam.


Lantas dengan sigap Athar segera mengambil dan menyodorkan gelas Mira yang ada di meja kepadanya.


"Pelan-pelan dong ..."


"Abang mandi gih sana,"


"Bau ya?"


"Nggak sih," cuma otak gue rada-rada kotor melihat dia keringetan macho gini kan. Ya ampun Mira otakmu nackal!


"Kan aku sudah mandi tadi sebelum subuh,"


samaaaa, gue juga kelles. iyeuh.


"Kayak aku nggak aja, tapi barusan aku sudah mandi lagi."


"Pantesan wangi kamu enak," Athar menatap Mira dengan tatapan penuh arti. Dan Mira menahan gejolak untuk tersedak kembali.


"Ntar aku mau ke rumah Mama."


"Oke." Athar tersenyum lagi. Dia mengacak rambut Mira sambil berkata, "Ya udah, aku mandi dulu."


Mata Mira tak dapat berbohong untuk memindai bagaimana Athar berjalan menuju tangga ke lantai dua. Seketika Mira menampar pelan pipinya.


sialan, otak gue tercemar.


"Non Mira kenapa?" bi Lilis bertanya.


Mira menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Bi."


Entah kenapa bi Lilis hanya tersenyum menggoda sebagai balasan lagi. Wanita paruh baya itu sibuk menata sarapan yang biasa dimakan oleh Athar. Karena ia tahu kalau Tuannya itu tak lama lagi akan turun sarapan. Tentunya setelah mandi.


"Bi Lilis sudah lama kerja di sini?" tanya Mira sekonyong-konyong. Ia tidak bisa sarapan tanpa mengobrol. Karena kalau biasanya ia akan ditemani oleh sang Mama.


"Iya, Non. Sejak zaman kapan ya ..." wanita itu terlihat berfikir. "Sejak saya menikah trus sampai sekarang punya anak sembilan ... bla bla bla ..."


Mira gak fokus lagi sama cerita asisten rumah tangga itu. Yang membuatnya gagal fokus adalah jumlah anak yang dimiliki oleh bi Lilis.


"Anak Bibi berapa deh? Apa aku salah dengar?"


"Oh nggak, Non. Anak saya memang sembilan. Jaraknya berdekatan. Sekarang masih sisa satu yang sekolah SMP, trus dua orang di SMA. Sisanya ada yang kerja, menikah, bahkan sudah punya anak dua."


"Bibi sudah punya cucu?"


Padahal menurut kacamata Mira, bi Lilis ini belum terlalu tua. Tapi ternyata bahkan sudah memiliki cucu empat orang. Selain itu ...


"Kok bisa punya anak sembilan biji, Bi? itu gimana ceritanya?" rasa penasaran Mira tak terbendung lagi.


"Orang atuh, Non. Masa biji?" ia terkekeh. "Ya gampanglah, Non, cuma bikin ... trus jadi."


"Lah kan Bibi bilang kerja di sini? Masa punya bayi kerja? gimana bisa?"


"Waktu itu Bibi sekeluarga tinggal di samping komplek perumahan ini. Suami Bibi kan kerja sebagai satpam komplek. Nah, Bibi cuma membantu bersih-bersih di rumah ini. Ya kan lumayan buat tambah-tambah pemasukan. Selagi Bibi kerja, anak Bibi dijagain sama ibu mertua. Karena rumah dekat, jadi mudah bolak-baliknya kok."


"Oh tadinya Bibi cuma bantu-bantu?"


"Ya iya, soalnya kan Bibi selalu punya bayi. Makanya, paling kerjaan Bibi ya cuma siram-siram pohon. Bersih-bersih kaca. Ya hal remeh sih, tapi untungnya Mas Athar baik banget. Biarpun Bibi cuma gak seberapa kerjaannya di sini, Mas Athar gak pernah pecat Bibi. Kalau mesti diceritakan mah, kebaikan Mas Athar itu terlalu banyak buat Bibi sekeluarga. Makanya, Bibi sayang banget sama Mas Athar. Sekarang tambah ada Non Mira di sini. Kelihatan banget kalau Mas Athar itu bahagia. Bibi jadi tambah-tambah sayang kalian deh."


Mira tersenyum tulus. Senang rasanya mendengar kalau seseorang pilihan kita adalah sosok lelaki yang baik. Bahkan baik kepada segala kalangan, meski ia terlahir dari keluarga yang berada. Dan lagi ... serius Athar bahagia dengan dirinya? Ah, rasanya Mira belum percaya.


"Bibi boleh tanya, Non?"


Mira mengangguk. "Boleh, Bi. Silakan."


"Non Mira rencananya mau punya anak berapa nih sama Mas Athar? Enak punya anak banyak, Non, kayak Bibi sembilan. Rame deh sewaktu mereka masih kecil-kecil semua. Hehe ...."


Bulu kuduk Mira merinding. Kebayang gak kebayang, anak kecil-kecil sembilan biji itu bakalan kayak apa.


Setelah akhirnya ia menanggalkan status gadisnya, apakah kini sudah waktunya ia memikirkan masalah anak? secepat itukah? Bahkan kuliahnya saja belum kelar. Mira gak yakin bakalan terus kuliah andai dia benar-benar memiliki anak secepat itu.


gawat ... gue lupa apa yang disebut dengan pengaman setelah semalam semua terjadi ...


sem ... bilan?


nggak. Gue gak ada rencana punya banyak anak kayak gitu. Emangnya gue pabrik anak? emangnya enak jadi cetakan anak? trus seumur masa muda gue cuma buat ngurusin anak? ya ampun,


Ini mesti dimusyawarahin sama Athar, agar tercipta mufakat dan sepakat tentang kapan dan jumlah anak.


.


.


"Maaf, Non. Ada Mbak Tania datang."


Salah seorang bodyguard Athar memberitahukan Mira mengenai kedatangan seseorang yang baru saja terdengar memencet bel di gerbang depan rumah.


"Mau ngapain ya, Om? Pak?" aduh enaknya dia tuh dipanggil apa sih?


"Linggar saja, Non."


"Gak sopan akunya, Mas Linggar. Umur pastinya lebih tua Mas Linggar dong dibandingkan aku."


"Linggar saja, Non."


deuh, keras kepala amat ya.


"Ya udah, Pak Linggar aja. Kalau gak mau juga, maka jangan panggil aku 'Non' ya!"


"Maaf, Non. Jadi itu gimana dengan Mbak Tania yang mau bertemu dengan Mas Athar?"


* * *


Plisss doong dukungannya. Kalau abis baca, minimal kasih like ya. Aku bener-bener butuh dukungan kalian pembaca di sini. Soalnya aku ada niat buat pindahin ALthar ini ke aplikasi berbayar yang lain, yang pake koin buat kunci bab. Tapi karena ada dukungan dari kalian pembaca setia, makanya aku masih bertahan di sini. 😂


Siapa yang tau dengan hari esok. Semoga ada yang terus bikin semangat di NT ini. 😊


Maaf sedang galau 😂😂😂😂


*


*