
Hanya dua detik saja saat akhirnya Mira merundukkan pandangannya dari tatapan hangat cowok Jepang itu.
Ryo, sahabatnya yang dulu begitu menyenangkan tapi sekarang telah berubah. Apa mau dikata, kalau hati seseorang telah berbeda dari sebelumnya, maka tak ada siapapun yang mampu menghalangi kecuali orang itu sendiri.
Tanpa Mira ketahui, setelah dia merundukkan pandangannya, maka seketika itu pula sebuah senyum getir singgah sesaat di bibir pemuda Jepang yang telah menjelma menjadi lelaki dewasa nan tampan itu. Dalam hatinya, ia cukup paham mengapa perempuan yang amat digilai oleh hatinya itu melakukan demikian. Dan sungguh perasaannya menjadi perih tak terkira bila menyadari bahwa seseorang itu tak dapat diraihnya.
"Ada apa, Yo?"
Mira tak dapat menolak kedatangan Ryo sekalipun dia ingin. Shelia menasehatinya agar ia menghadapi apapun dan siapapun yang dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya. Sebab sejatinya sebuah masalah itu mestilah dihadapi dan diselesaikan, dan bukanlah untuk dihindari.
"Boleh aku minum dulu?"
Bi Nani telah menyajikan minuman di meja teras beberapa saat yang lalu, dimana mereka kini berada.
Mira hanya menarik sudut bibirnya untuk mengisyaratkan persetujuannya.
"Aku gak bisa lama-lama ya," ucap Mira pelan. Ia tahu Ryo masih memegang gelasnya untuk menikmati minumannya. Atau mungkin cowok itu memang sengaja berlama-lama berlaku demikian, agar tak segera pergi dari rumahnya. Entah, Mira hanya berprasangka saja.
"Aku cuma mau pamit," Ryo meletakkan gelasnya yang telah kosong.
Mira menoleh pada cowok itu. "Kamu mau ke Jepang?"
Ryo mengangguk sekali. "Ya ... dalam waktu dekat."
"Oh ..."
entah kenapa gue merasa lega
"Kenapa? Kamu senang kalo aku pergi?" tuduh Ryo dengan pelan. Tak luput senyum yang selalu menghiasi bibirnya tatkala itu berhadapan dengan Mira. Selalu.
Mira menggigit bibir bawahnya dengan pelan. Ia tak tahu mesti menjawab apa, dan satu-satunya reaksinya adalah kembali menundukkan pandangan.
"Jangan sedih," ucap Ryo dengan suara nyaris berbisik.
Justru perkataan Ryo malah membuat Mira mengangkat pandangan lagi. Sebab Mira tak setuju bila maksud Ryo adalah bahwa ia bersedih atas niat pergi dari sahabat lamanya itu.
Namun baru saja Mira hendak mengeluarkan suaranya, maka Ryo telah melanjutkan lagi ucapannya.
"Berjanjilah untuk gak akan pernah bersedih dengan dia sebagai pilihan hidupmu. Berjanjilah, Mir ..."
Kalimat Ryo membuat Mira tertegun. Apa itu artinya Ryo telah menyerah? sungguhkah Ryo mengikhlaskan dirinya sekarang? Benar begitu?
Kalau memang benar, maka pantas bila Mira merasakan lega sekarang.
"Ry ..."
"Aku bukan kalah, apalagi menyerah," lanjut Ryi yang saat ini tatapannya menatap Mira lekat. Seolah mata dan lidah sedang sejalan dalam mengungkapkan maksud hatinya. "Aku pergi adalah untuk memberi kamu waktu. Bila nanti akhirnya aku kembali dan mendapati kesedihanmu karena dia ... maka saat itulah kemenanganku. Aku berjanji akan merebutmu dari dia saat itu juga. Aku berjanji akan memisahkan kamu dari yang namanya derita.
Sudah cukup aku tahu segala hidup kamu sejak dulu, Mir. Aku yang tahu dan mengerti segalanyaβ"
"Kamu memang baik, Yo," sela Mira. Pada akhirnya ada waktu yang tepat untuk mengeluarkan pemikirannya, setelah renungannya pasca baku hantam Ryo dengan Athar di pantai waktu itu.
"Kamu memang penuh pengertian dan penyayang sama aku. Tapi kita mesti kembali lagi; kalau kita ini cuma manusia biasa. Apa yang kita mau, apa yang kita sayang, apa yang baik menurut kita ... itu belum tentu baik menurut Tuhan. Perihal jodoh terutama. Mungkin kita amat sangat ingin seseorang itu menjadi pasangan kita, tapi bila Tuhan tidak menghendaki, kita bisa apa?"
Ryo tak bersuara atas kalimat Mira.
Mira tahu kalau ia harus tegas memilah, mana perasaan yang benar dan mana yang tidak. Bukannya Mira memiliki perasaan special juga, sungguh bukan. Mira hanya memiliki rasa tidak enak sebagai sahabat. Ryo yang begitu baik selama ini ia kenal, maka Mira rasanya tak tega untuk berkata yang menyakitkan. Dan rupanya perasaan itu kuranglah tepat bila kondisinya seperti ini. Di mana ia telah memiliki suami yang mestilah di atas segalanya, dan dijaga perasaannya.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, akhirnya Ryo tersenyum yang Mira sendiri tak mengerti arti dari senyum itu. Entah, hati kecil Mira tak percaya dengan senyum itu barusan.
Cowok itu menghela nafas sebelum berkata, "Aku ..." bisa segalanya. "Aku paham, Mir. Aku jauh lebih paham dari itu. Kamu jangan khawatir kalau aku bakalan merusak rumah tangga kamu. Itu sama sekali bukan tujuanku. Aku hanya ingin mencari bahagiaku ... membahagiakanmu ... dan ..."
Dia belum ngerti juga sih!
"Ryo ..."
"Tenang, Mir. Kan sudah kubilang kalau aku mau pergi. Aku kembali ke Jepang mungkin dua tau tiga hari lagi. Aku akan mulai sibuk syuting lagi di sana. Dan ya ... sebelum aku benar-benar kembali ke sana dalam waktu yang lama, aku ingin meminta satu hal sama kamu,"
Jangan, plis. Gue takut gak bisa memberi yang kamu pinta, Yo.
Ryo menatap Mira dalam selama beberapa saat. Mira yang membalas tatapan itu dengan sorot dan maksud yang berbeda.
"Plis ... jadilah Mira yang dulu aku kenal ... sebentar saja."
...ππ...
Pagi yang buruk. Mira sudah berkali-kali bolak balik ke kamar mandi karena perutnya yang bermasalah. Mual yang membuatnya mau tak mau menghuni kamar mandi lebih lama hingga melewatkan sarapannya.
"Ampun deh, gue masuk angin ini mah," gerutunya sebal. "Perasaan semalam cuma sebentar deh duduk di tamannya. Ya emang sih banyak angin, tapi kanβ" Mira merasakan mual yang tiada hentinya selama beberapa saat.
"Capeeekk ..." keluhnya sambil kembali ke tempat tidur. "Mesti minum jamu tolak angin ini mah. Tolak badai sekalian. Tapiβ masalahnya gue gak doyan jamu, kecuali beras kencur yang manis. Gawat ini mah kalo Bang Athar sampai tahu. Bisa-bisa dia kirim dokter kesini padahal gue cuma masuk angin. Ck, dasar angin nackal!"
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si bumil pemakan segalanya, Shelia.
"Wah wah, ketinggalan bubur ayam yahuud lo, Te." Shelia masuk sambil membawa semangkuk bubur, sarapan paginya. Sepertinya kebiasaan bumil satu itu akhir-akhir ini adalah makan dimanapun dan kapanpun. Kemana dia melangkah pergi, maka di tangan dan mulutnya harus ada makanan yang sedang disantapnya.
"Te?" Mira menutup memencet hidungnya saat bau bubur yang menyengat memenuhi kamarnya.
"Ante. Tante. Mulai sekarang lo mesti membiasakan diri buat dipanggil 'Tante' sama anak gue."
"Masih lama kali. Anak lo sekarang brojol pun gak bakalan langsung bisa manggil gue 'Tante'."
"Iya sih. Tapi gue maunya begitu."
"Shel," serunya sambil bersandar di kepala ranjang. "Lo makan bang ke ya?"
"Ah sialan, Cumi! Gue makan bubur enak begini malah dihujat."
"Bau, Shel. Bau banget, sumpah."
Refleks Shelia mendekatkan mangkuk ke hidungnya. "Bau apa sih? Ya bau buburlah. Emangnya bau apa? Jangan jahad dong lo,"
"Sana gih, Shel, keluar! Gue mau berendam air hangat nih," lantas Mira turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandinya.
"Emangnya lo gak kuliah?"
"Ntar jam 10."
Mira yang telah memasuki kamar mandi kini merasakan mual lagi. Alhasil, berendamnya mesti ditunda dulu selagi ia menyalurkan hasratnya untuk muntah-muntah manja.
"Gue belum makan apa-apa padahal, udah eneg aja," gerutunya disela-sela mualnya.
Sedangkan Shelia yang baru saja hendak keluar dari kamar adiknya itu langsung terhenti langkahnya saat mendengar suara Mira yang sedang khusyu mual-mual. Shelia segera balik kanan dan menuju kamar mandi Mira yang pintunya telah tertutup sekaligus terkunci.
"Mir!" digedor ringan pintu itu dengan suaranya yang memanggil nama adiknya. "Lo kenapa? Bunting?"
"Apa sih, Shel?" sahut Mira dari dalam kamar mandi. "Buntang-bunting, yang tekdung itu kan elo, bukan gue."
"Lah trus kenapa lo uek-uek kayak gue beberapa bulan lalu? Tekdung kali?"
"Uek-uek bukan berarti berbadan dua, Bawang putih! Plis deh, apa aja bisa terjadi. Kalo tiap muntah-muntah dibilang hamil, gak bakalan laku tuh jamu tolak angin. Gue masuk angin, kali. Jan bawel! keluar sana!"
Shelia berdecih. "Dih, dasar. Gue kan khawatir, malah diusir," gerutunya sambil berlalu meninggalkan kamar Mira.
...πππ...
(Jangan tanya ini πya, soalnya masih berbentuk ide-ide yang perjalanannya amat panjang dan berliku-liku rintangannya. apa sih? ππ)
Aku gak semangat banget sumpah. π₯ Ide mah banyak, alur sampai ending juga udah jelas. Cuma buat ngelanjutin updatenya itu aku males banget. Gak semangat nulis si Mimir. π
maafkeun. π
.