AL-THAR

AL-THAR
#80. Pipa La Pe'A



**Happy reading!


...❤❤❤❤...


Mira menatap sepasang mata yang sudah sangat ia kenali sejak kecil dulu. Mata itu adalah mata yang seringkali terlihat rapuh manakala kawan sepermainan mereka melakukan gurauan-gurauan yang menyakitkan. Maka tanpa berlama-lama, jiwa pemberani Mira pun keluar dan secara naluri tergerak untuk melindunginya. Meskipun orang itu tak ada ketika keadilan tak berpihak kepada Mira. Ya, Mira pernah merasakan yang namanya bully secara fisik, walau tidak termasuk parah.


Dengan melihatnya, mau tak mau Mira memang selalu terkenang lagi dengan masa kecil mereka. Masa kecil yang–


"Sorry ..." sebuah kata terucap melalui bibir cantik itu. Hm, siapa sih yang gak setuju bila Mira mengatakan kalau Diva itu cantik?


"Ha? kenapa?" apa ia melewatkan sesuatu?


"Karena gue sudah mengganggu waktu lo ..."


Mira pun menggeleng pelan. "Nggak, Div. Biasa aja. Kesibukan gue ya gini-gini aja."


"Tapi lo 'kan udah punya suami,"


"Ya iya," trus?


"Ya ngurusin suami lah! Masak misalnya," canda Diva seperti dulu, seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka. "Eh, lo udah bisa masak belum?"


Mira menggeleng lagi. Masih tidak biasa dengan sifat Diva yang seringkali berubah-rubah. Dengan terlihat baik seperti ini, bukan berarti Mira dengan mudahnya percaya.


"Serius? Lo gak bisa masak sampai sekarang?"


Nah kan


"Emang gue gak bisa masak. Kalo cuma bikin mie instan atau goreng tahu tempe sih bisa,"


"Trus suami lo gak marah?"


"Nggak."


"Woah!"


ini apa sih? mau berapa lama lagi basa basinya?


"Keren! Orang kaya sih ya, jadi gak heran juga. Tapi gue penasaran, gimana caranya lo bisa dapet yang good quality begitu sih? ya ampun, dengan melihat lo dan gue, sudah pasti mata cowok normal bakalan melihat gue."


"Nyatanya nggak, 'kan?!"


"Yah," anggukan Diva masih nampak santai. "Emang takdirnya ada beberapa cowok yang terlahir bodoh. Donny adalah satu contoh pertama, dan suami lo adalah satu contoh nyata."


Mira menarik sedikit sudut bibirnya. Dia gak perlu marah, 'kan?! Kalimat Diva sebenarnya hanya menunjukkan seberapa irinya cewek itu terhadap dirinya. Bagus, itulah alasan kenapa cowok-cowok yang disebutnya barusan tidak memilihnya.


Lo mau pancing emosi gue? Kayaknya nggak bisa deh. Gue lagi hamil, maka gue mesti menjaga emosi gue demi anak sultan ini. hiyuh.


Diva menopang dagunya di meja. Ditatapnya Mira dengan tatapan yang Mira anggap seperti menyelidiki sesuatu, atau sengaja membuat kesabaran Mira serasa sedang diuji.


"Enak bener ya hidup lo," suaranya kini memelan. Mungkin sudah waktunya menuju menu utama, yakni inti dari pertemuan yang di pinta olehnya ini. "Dulu 'kan nasib lo kayak gimana sudah jelas. Lo hanya seseorang yang ada untuk membantu hidup gue. Tapi setelah pindah rumah, rupanya hidup lo lebih beruntung. Semua doa-doa lo pasti sudah terkabul ya."


"Maksud lo apa sih, Div?" Mira sedikit tak sabaran. Setengah jam lagi Athar hendak menjemputnya, maka ia mesti segera menyelesaikan urusan dadakan ini. "Dari tadi muter-muter aja. Jadi intinya lo ada perlu apa ngajak gue ketemuan di sini?" tanyanya dengan nada diusahakan sesantai mungkin.


"Gue cuma mau lihat keadaan lo," sahutnya dengan melirik sekilas seluruh tubuh Mira.


"Gue sehat, alhamdulillah."


"Nah, itu. Setelah foto yang gue kirim ke suami lo waktu lo lagi pelukan sama Ryo ... kok bisa sih rumah tangga kalian masih bertahan sampai detik ini?"


apa?


"Yah gue sih udah bisa menduga kalau kehancuran itu gak akan terjadi dengan cepat. Tapi seenggaknya proses ke arah sana mestinya sedang berjalan ya. Dan sayangnya gue salah ..." Diva memanyunkan bibirnya. Lalu kemudian ia menyeringai tipis. "Makanya gue gak sabar buat bertanya sama lo; kok bisa? Kenapa kalian baik-baik aja? Kenapa hubungan kalian nggak hancur kayak dulu waktu jadian sama Donny?"


Mira terpaku sesaat untuk mencerna kalimat mantan sahabatnya itu. Jadi ... dalang pengiriman foto waktu itu ... Diva?


Dengan tatapan nanar Mira berucap pelan, "Lo siapa sih, Div? Gue udah lupa gimana baiknya lo dulu waktu kita masih kecil ...."


Seketika seringaian yang tadi Diva layangkan kini meredup. "Manusia bisa berubah, Mir,"


"Karena penyakit hati," balas Mira. "Iya, 'kan?! Karena penyakit hati yang ada dalam diri lo. Ck, mengerikan ya, Div? Seberapa parahnya penyakit itu sampai menjadikan lo jahat begini sama gue. Salah gue di mana? Apa gue pernah nyakitin lo?"


"Salah lo semenjak lo melukai harga diri gue."


"Kapan?"


"Donny. Mestinya gue bisa dapetin Donny, jadi pacar Donny waktu itu ... tapi apa? Dia malahan pilih lo. Dan untungnya dia gak bodoh buat pacarin lo lama-lama."


Tanpa terasa Mira merasakan kalau air matanya mengalir di pipi. Segera ia menghapusnya dan membalas tatapan Diva dengan berani. "Itu masa lalu, Div. Kenapa lo masih aja terjebak di masa lalu? Kenapa lo biarin hati lo gak bahagia karena masa lalu?"


"Siapa bilang? Gue udah bahagia. Gue punya kehidupan dan pacar yang bikin hidup gue bahagia."


"Lah trus? Kenapa lo gangguin gue? kenapa lo pusing bikin hidup gue banyak masalah? Kenapa lo–"


"Karena gue gak mau lo bahagia. Karena dengan lo bahagia maka otomatis kebahagiaan gue jadi lenyap."


"Sakit jiwa!"


"Terserah lo mau bilang apa, yang pasti gue bakalan begini terus." Diva tertawa tanpa beban. Dengan mengatakan apa yang ada di hatinya secara langsung kepada Mira, rupanya malah membuat ia semakin bahagia. "Gue sebenernya gak perlu ungkit ya perihal jasa-jasa keluarga gue sama keluarga lo. Mami gue yang bilang begitu. But, menurut gue ... kebaikan orang itu mesti dikenang. Ya, 'kan?!"


Mau tak mau Mira merasa terintimidasi juga oleh perkataan Diva. Perkara jasa keluarga Diva di masa lalu merupakan hal yang tak mampu Mira pungkiri sekalipun ingin.


"Gue cukup tau diri pada bagian itu ..."


Diva mengangguk mencemooh. "Masa?"


"Mau lo apa?"


"Kan tadi–"


"Mau gue? hm ... mau gue apa ya?" balasnya seolah berfikir.


...🌵🌵🌵🌵...


"Keterlaluan!"


Mira masih terisak meskipun sang kakak telah menghiburnya dengan banyak makanan.


"Dia tuh titisan–"


"HEH!" Shelia menyela untuk menghentikan Mira yang hendak berkata kasar.


"Titisan dewiiii ...." Mira meraung. Dia terpaksa. Demi sang jabang bayi yang mesti lahir dengan terbiasa kata-kata baik darinya, semenjak dalam kandungan. Maka semua umpatan diganti dengan yang bagus-bagus.


Refleks Shelia merasa geli juga. "Dewi dari neraka kayaknya."


Mira hanya mengangguk. Tadi, Athar tak jadi menjemputnya. Mendadak seorang klien penting datang dari negeri yang jauh, dan mau tak mau ia mesti menyambutnya. Lalu Mira dijemput oleh salah seorang bodyguard kepercayaan pastinya.


"Udah-udah," Shelia menenangkan adiknya yang sedang menangis di atas bantalnya. "Gak usah dipikirin yang begitu sih. Kalo gue jadi lo, gak penting banget itu si Pipa La Pe'a mesti dipikirin. Secara, 'kan Athar banyak anak buahnya. Banyak yang bakal jagain lo dari syetan terkutuk. Santuy lah."


"Ya tapi 'kan, dia itu duri banget dalam hidup gue."


"Biarin! Jauh ini 'kan?! Dia di Jakarta. Eh tapi kalo santet mah se-Indonesia raya juga bakalan sampe. Kecuali kita ada di Korea gitu, gak bakalan deh kena."


Sekuat tenaga Mira melempar bantal ke wajah cantik Shelia.


"Sembarangan kalo berkicau!"


Kakaknya itu terkekeh. "Cailah, intinya santuy aja. Kalo dia bikin masalah, ya kita hadapi. Di negara kita ada hukum, kali. Tenang aja."


"Gitu ..."


"Iye." Shelia mengangguk pasti. "Udah ah, kita ke bawah yuk! Bubur pesenan gue bakal datang nih."


"Bubur?"


"Iya. Tiba-tiba gue kepengen bubur."


Lantas Mira pun bangkit menyusul Shelia yang telah berjalan lebih dulu untuk meninggalkan kamarnya.


"Lo gak lagi ngidam, 'kan?!"


"Heh! Ngidam benih siape?" balasnya. "Justru karena gue seorang busui, makanya gue jadi laper mulu."


Saat keduanya telah berada di ruang makan, ternyata di sana bukan hanya ada Ghani seorang, melainkan ada Ibram dan Kiara. Ada mama Pertiwi yang kembali dari teras sambil menggendong baby Tia.


"Yeh si Mama, Tia jangan diajarin ghibah dong. Belum cukup umur." Shelia menempati salah satu kursi seraya menerima sodoran bayinya dari sang mama.


"Nggak ghibah, Shel. Cuma ngerumpi."


"Sama bae ih."


"Ngerumpi sama siapa, Ma?" tanya Mira.


"Bu Rt. Dia lagi muter-muter komplek sekalian jogging katanya."


"Joggingnya sebentar, gosipnya yang lama ya, Ma."


"Udah Mama bilang cuma ngerumpi ih, kalian gak mudeng-mudeng."


"Gak ada bedanya, kali," sahut Ghani datar.


Lain Ghani yang sudah membuka buburnya, sedangkan Ibram dan Kiara belum menyentuh mangkuk bubur yang tadi Ghani beli.


"Eh iya, minggu depan Mama mau ke Aceh loh."


Ketiga anaknya menoleh.


"Ngapain, Ma?" Shelia yang masih menimang baby Tia itu bertanya.


"Ikut Bu Hasanah acara lamaran si Ezar. Tapi Mama kepikiran Tia. Gimana dong?"


"Tenang aja kali, Ma. Tia kan ada induknya. Ada bi Nani juga yang bantuin," Ghani menyahuti.


"Ada aku juga, Tan. Aku pasti bantuin Kak Sheli jagain Tia." Kiara dengan semangatnya mengutarakan niatnya. Memang, sudah sejak awal melihat baby Tia lahir, entah kenapa Kiara amat sangat tertarik dengan makhluk mungkil itu. Apa jangan-jangan karena—


"Kamu gimana, Shel?" tanya Mama kepada putri sulungnya itu.


"Aku ya biasa aja, Ma. Mama gak usah khawatir. Bener kata Ghani. Aku udah keren lah jadi seorang mahmud."


"Ada gue kok, Shel–" Mira ikut bicara namun sudah disela lagi.


"Lo dan suami lo cuma bikin rusuh. Bikin ketenangan Tia yang bobo jadi kacau."


Mira hanya cengengesan. Entah kenapa itu memang benar adanya. Lain Kiara, maka lain Mira dan Athar yang selalu ada saja debatannya saat menjaga Tia. Alhasil si baby yang terusik pun berujung dengan menangis.


"Ya tenang, kalo Tia nangis 'kan ada lo, induknya."


Di tengah obrolan mereka perihal rencana kepergian mama dan baby Tia, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mendadak mual karena baru saja membuka bungkusan bubur di hadapannya.


...*****...


Menuju ending ya. 😊


...***...