AL-THAR

AL-THAR
#5. Mapan, Rupawan, dan Sholeh.



...Selamat membaca!...


...----***----...


Setelah mengambil bukunya di Abay, Mira benar-benar langsung berjalan lagi, tanpa ada niatan untuk menunggu Athar. Biarlah cowok itu marah, urusan belakangan bagaimana Mira akan menghadapinya nanti. Yang Mira mau saat ini adalah memakan sesuatu dari kantin seperti biasanya.


Namun, baru saja ia hendak turun dari lantai dua, matanya menangkap sosok tak asing di kejauhan. Masih di area lantai dua sih, hanya saja seseorang itu tengah berbincang dengan seseorang yang lain, yang pernah dilihatnya.


"Sheli!"


Mira memanggil kakaknya, hingga Shelia menoleh. Begitupun dengan Baihaqi yang saat ini tengah mengobrol dengan kakaknya itu. Dia berjalan menghampiri dua orang yang Mira tau kalau saat ini keduanya tengah dekat. Setidaknya, itulah versi yang kakaknya ceritakan kepadanya.


"Kok lo di sini?" Mira bertanya ketika dia sudah menghampiri kakaknya itu. Padahal, sedikit banyak dia sudah tahu kalau alasan Shelia berada di sini pastilah karena keberadaan cowok di depannya.


"Main dong. Gue kan pengen tahu kampus adik-adik gue."


Alasan saja kau, Juminten.


"So sweet," ucap Mira datar sekaligus sarkas. Kakaknya itu hanya mengibas rambutnya yang cantik.


"Ini Mira?" suara Baihaqi menginterupsi keduanya.


Mira menoleh dan mengangguk pelan. Tak lupa ia memberikan senyumnya tatkala Baihaqi ternyata masih mengingat dirinya. Mereka tuh bertemu terakhir itu kapan ya? Lupa. Mira kan pernah naksir sedikit-sedikit dulu tuh, tapi keburu patah hati gara-gara ustadz Ubay sudah memiliki jodoh. Atau paling nggak, meskipun belum ada jodohnya maka yang memiliki kesempatan untuk dijodohkan kepadanya bukanlah Mira, melainkan Shelia.


"Iya, Pak Ustadz."


Baihaqi tersenyum juga. "Jangan 'bapak' dong, 'abang' aja. Saya belum setua itu."


Mira menyengir tak enak. "Oh iya deh, Bang Ustadz."


"Kok beda ya?"


"Hah?"


"Mira yang dulu saya ingat perasaan beda wajahnya."


Jadi dia pernah inget gue dalam memorinya? bagus deh. hihi


"Bukan perasaan kamu, Bay," sambar Shelia. "Sekarang dia emang beda. Pubertas membuat Mira akhirnya mengalami fase yang namanya itik buruk rupa menjadi itik yang lumayan."


"Apaan sih, jadi bahas gue," gerutu Mira sambil melirik malas pada kakaknya.


"Maaf, Mira," sahut Ubay lagi. "Saya gak bermaksud menyinggung. Maaf. Oh ya, kamu kuliah di sini?"


"Iya, Pak, eh– Bang."


Baihaqi tersenyum lagi. Dalam hati Mira, pantas saja Shelia tergila-gila dengan cowok turunan Arab itu. Rupa wajah Ubay sekarang memang terlihat lebih tampan dan matang, keren, serta memiliki mata juga senyum yang teduh. Mungkin Bryan emang ganteng dengan level bule Korea-Amerika, tapi melihat Baihaqi seakan melihat masa depan. Suamiable banget.


Duh, Miraaa ... Udah punya yang halal juga sekarang. Plis deh matanya.


"Kok Bang Ust–"


"Ubay aja."


"Oh oke– kok Bang Ubay bisa ada di sini?"


"Saya diundang untuk cuap-cuap sedikit sama anak-anak sini," jawab Ubay sedikit berkelakar.


Mira hanya manggut-manggut saja. Oh gitu ...


Shelia berdehem. "Lo bukannya gak ada kuliah ya? Ngapain kesini?" tanyanya pada Mira. Kenapa sih fokus Ubay malah jadi kepada Mira, bukan kepada dirinya?


"Ini kampus gue. Terserah gue dong mau kesini atau nggak."


"Dih," adik gue banget. Lalu Shelia menoleh pada laki-laki incarannya itu. "Bay, kita cari minum dulu yuk sebelum pergi! Atau kita pergi cari cafe aja?"


Baihaqi mengerjap sesaat. Bulu mata lentik laki-laki itu membuat Mira salfok.


Ish ish mata gue!


"Kita cari minum di kantin sini aja yuk!" ajak Baihaqi. "Kamu ikut juga ya Mira?"


"Loh–" Shelia hendak protes tapi Mira sudah menyela lebih dulu.


"Emang aku mau pergi ke kantin. Eh, bang Ubay mesti coba mie ayam langganan aku deh. Beuh, rugi kalau gak pernah nyoba. Rasanya dijamin gak bakal ngecewain. Kalau gak enak, aku yang bakal ganti rugi."


Baihaqi tersenyum geli. "Oke."


Semudah itu Baihaqi menyetujui kata-kata Mira? Shelia frustasi dalam hati. Sejak tadi bahkan dia gak juga menemukan alasan agar laki-laki itu mau ikut nongkrong dengannya barang sebentar. Eh, kenapa begitu Mira yang ngajak justru dengan mudahnya Baihaqi setuju?


"Shel!" panggilan Mira membuat Shelia tersadar. "Lo mau ikut atau diam di situ doang?"


Mira mengambil tempat yang ada Ghani di sebuah meja, setelah dia memesan mie ayam dan es teh langganannya. Shelia dan Ubay mengikuti di belakanganya.


"Hei, Ghan!" sapa Ubay pada Ghani.


"Loh, Bang?" Ghani juga terkejut dengan keberadaan Baihaqi di kampus mereka. Selain itu, kenapa Sheli juga ada di sini? "Apa kabar? Kok bisa ketemu di sini?" dia menyalami Ubay dan mempersilahkan laki-laki itu duduk di dekatnya. Sedangkan kedua kakaknya duduk di depan mereka.


"Bisa pindah tempat?" bisik Shelia kepada Mira. Masa malah Mira yang duduknya di depan Ubay? Seharusnya kan dirinya yang sedang dalam sebuah misi penting, yaitu ... cari jodoh.


Mira yang sudah paham maksud dan kelakuan kakaknya itu, tapi dia malah sengaja menggeleng, "Nggak." dengan wajah sok polosnya. Dia yakin, kalau Shelia gak akan berbuat yang menjatuhkan kelasnya sebagai cewek yang takdirnya mestilah dikejar, bukannya mengejar.


"Jahat," desis Shelia.


Tapi Mira pura-pura gak dengar. Dia malah sok paham dengan obrolan Ghani dan Ubay perihal ... apalah itu. Bahkan dia mesti menahan saat jari-jari lentik Shelia mencubit pahanya dalam membalasnya.


"Kok lo tumben sendirian?" Mira bertanya kepada Ghani. Sebab biasanya, adiknya itu memang selalu memiliki pengikut. Entah itu teman beneran, atau teman palsu.


"Lagi pengen sendirian."


"Wah berarti salah dong kalau kita-kita gabung sama Abang?" sahut Ubay.


"Kalian pengecualian."


"Tua banget si Ghani kalau sama kamu, Bay," Shelia menyambar dengan cekikikan. Itu karena memang Baihaqi yang gak bisa ber 'lo gue' terhadap siapapun.


"Adiknya lebih tua dari pada Abangnya," tambah Mira.


Obrolan ringan diantara keempatnya pun mengalir begitu saja selama lebih dari sepuluh menit.


"Kok Bang Ubay gak jadi nikah?"


Sebuah pertanyaan yang terlontar begitu saja pada akhirnya dari Mira tak lama kemudian. Sebuah rasa penasaran yang mengganjal semenjak ia mendengarkan cerita tentang cowok berdarah Arab itu dari mulut kakaknya. Hanya saja, saat ditanya alasan kenapa Ubay membatalkan perjodohannya, Shelia sendiri pun tak tahu jawabannya. Ditambah dia malu untuk menanyakan hal privasi tersebut.


Ubay alias Baihaqi mengerjap menatap Mira selama beberapa detik, sebelum dia memutus kontak mata itu.


Ghani menghela nafas dalam diam, jengah terhadap si Mira yang super ngeselin di matanya. Sedangkan Shelia tak bereaksi apapun. Sebab dia juga memendam rasa penasaran yang sama, hanya saja dia malu untuk bertanya. So, sudah pasti dia berada di pihak Mira.


"Bukan jodoh," sahut Baihaqi sambil tersenyum kecil. "Ada saingan yang lebih dari saya."


"Maksudnya?"


Mira mengabaikan tatapan tajam dari mata Ghani. Dia paham kalau Ghani malu karena kekepoan dirinya. Tapi, sebodo amatlah. Hajar terus! Demi Shelia yang sedang mengejar jodohnya.


"Saya kalah saing sama seorang dokter yang ... yah gitulah."


Oke, sampai sini Mira cukup paham. Padahal, apa artinya sebuah profesi kalau laki-laki itu sudah lebih dari mapan, rupawan, dan sholeh. Kurang apa lagi coba?


"Aku nggak suka dokter." Shelia merapatkan bibirnya tatkala kalimat itu meluncur begitu saja barusan. Ketiga orang di hadapannya kini tengah menatapnya. "Ehem, yang penting itu bukanlah profesinya. Tapi yang terpenting itu adalah agamanya. Bagaimana seseorang itu nanti membimbing dan menjadi seorang kepala keluarga adalah berdasarkan iman dan ilmunya." kamu udah tampan, mapan, buat apa mesti harus dengan profesi tertentu, ya kan?!


Baihaqi menundukkan pandangan dengan senyum tipisnya.


Mira melirik jengah pada kakaknya. Bisa banget deh kata-katanya. Ada udang di atas bakwan tuh ya begini jadinya. Wah-wah, gue yakin Sheli beneran jatuh cinta sama si Ubay.


"Kapan balik ke York lagi?" suara Ghani bertanya untuk mengalihkan pembicaraan yang yadi.


"Terserah Ubay aja." Shelia yang menyahut.


"Gue nanya Ubay, kali."


"Kan gue juga mesti pulang ke York,"


"Ya trus kenapa terserah Bang Ubay?" Mira yang bertanya.


"Ya karena gue pengen bareng, kali. Lebih enak kan kalau dalam perjalanan itu ada temennya, ada barengannya. Udah gitu kan kami tetanggaan di sana. Ya, Bay?"


Ubay hanya tersenyum.


Mira baru saja hendak membuka mulut lagi saat matanya menangkap pergerakan yang sedang menuju ke arahnya dengan tidak lambat. Ya, sosok yang semakin mendekat itu adalah Athar. Mira tahu kalau pasti Athar tidaklah terima dengan dirinya yang mengabaikan perkataan cowok itu.


"Gaesss, gue duluan," ucapnya pada Shelia, Ghani, dan Ubay, sebelum dia bangkit secepat kilat dan segera melesat ke arah berlawanan dengan arah datangnya Athar.


Mira berlari, pemirsah ...


...* * *...


Makasih buat dukungannya di setiap partnya.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•