AL-THAR

AL-THAR
#40. Zumba



Happy reading!


Mira menatap Athar dengan memicing. Kepercayaan dirinya meningkat untuk menghakimi laki-laki di depannya itu, meskipun sang lelaki berstatus sebagai suaminya. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada.


"Ya, kan?! Abang begitu kan?!"


Athar hanya menggeleng dengan ekspresi wajahnya yang masih tenang namun tatapan matanya tetaplah tajam.


ck, gak ngaku ih


"Abang emang kayak gitu. Makanya aku jadi kesal dan mending pergi menjauh,"


"Jangan kayak gitu lagi!"


"Makanya Abang jaga perasaanku dong. Kalau aku gak boleh pergi saat Abang fokus sama cewek lain, maka pilihan selanjutnya adalah aku yang akan memakai pakaian yang aku suka. Bikini aja sekalian kupakai,"


"Jangan buat aku marah, Al," Athar menahan emosi yang ada di hatinya hanya karena mendengar ancaman Mira barusan. "Jangan pernah kamu pakai pakaian yang kamu sebut barusan."


mukanya serem


"Ya lagian Abang," Mira masih berupaya mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya. "Nanti kalau fokus juga ke Ryo–aduh!" Mira melotot. Baru saja Athar menggigit pipinya, tapi tidak sungguhan. Refleks ia memegang pipi kanannya yang turut syok juga seperti dirinya. Merona sekaligus tak terima. "Abang kok gigit aku? Abang bukan sejenis vampir kan?!"


"Aku kesel,"


"Ya sama! Aku juga kesel!"


Athar menghela nafas dan berupaya sabar. Dia mesti mendengar lebih lanjut. "Lanjutin cerita kamu."


Masih mood gitu gue buat cerita?


"Al," Athar mendesak dengan tatapannya, saat dilihatnya wajah Mira yang meragu. "Habis keluar hotel kamu pergi kemana? Kesini? Gimana kamu bisa tahu hotel Mamanya Donnt. Kamu yang menghubunginya?"


Mira menggeleng. "Nggak. Aku setelah keluar hotel tuh jalan-jalan aja sendirian di pinggir pantai. Cuci mata. Lihat bule-bule,"


"Mau aku gigit lagi?"


Kepalanya menggeleng lagi. "Apa yang salah sih? Emang kenyataannya begitu. Aku juga butuh lihat yang seger-seger. Roti-roti sobek bule bertebaran di mana-mana ..."


"AL!" bentak Athar.


"Apa sih?"


"AKU GAK SUKA."


"Oh ya udah, aku skip bagian itunya."


padahal lumayan lama tuh mata gue nontonin bule-bule berseliweran. Dari pada liatin laut yang tetep jadi laut kan mending liat bule-bule. Sampai ada bule yang senyumin gue, bahkan negur gue. Tapi berhubung gue gak bisa bahasa inggris, kan mending gue kabur. Nanti keliatan bloonnya gue kan malu.


"Kenapa malah diam?" tanya Athar tak sabaran.


"Iya aku tuh sedang ingat-ingat lagi. Berhubung ada yang mesti diskip, maka aku mesti mengulang kronologinya."


"Trus?"


"Habis itu aku jalan kejauhan ternyata. Karena banyak bule," aduh lidah gue nyebut bule mulu. Tuh kan matanya dia melotot. Mira berdehem. "Ya intinya aku lupa jalan balik ke hotel. Aku pusing lihat banyak orang," bule, maksud gue. "Makanya aku pikir ya aku kesasar."


"Hp kamu?"


Mira menunjuk pada bangkai hpnya yang telah tergeletak membisu di meja. "Kecemplung di laut. Trus aku bongkar-bongkar, kan kali aja setelah aku lap dan keringkan jadi bisa dipakai lagi. Eh ternyata malah nggak bisa juga."


"Kamu nggak ingat nomorku?"


"Nggak," sahutnya polos. "Aku tuh cuma ingat nomor hp aku doang, Bang."


Athar memejam matanya sesaat. "Ya udah, lanjutin."


"Kenapa malah jalan terus? Kamu gak takut semakin jauh?"


"Aku tuh mau cari kantor polisi, tau,"


"Ha?"


Mira merasa malu juga. Tapi mau gimana lagi kan, memang itulah yang terjadi. "Ya aku mencarinya dalam hati doang. Malu lah, masa udah gede kayak gini malah hilang."


"Kenapa gak tanya orang aja?"


"Ya tengsin lah. Ah udah intinya aku mau bertanya soal jalan itu bukan sama rakyat jelata. Aku maunya bertanya ke orang berseragam."


Athar agak mengerutkan keningnya. Tapi ia berusaha memahami fikiran ajaib istrinya itu.


"Nah," lanjut Mira. "Setelah aku berjalan cukup jauh, akhirnya ada orang yang mengenal aku juga. Ya si Tante Renata, pemilik kamar ini."


"Lalu kenapa kamu gak pinjam hp buat hubungin aku?" Athar lupa kalau Mira tak ingat satupun nomor hp kecuali miliknya sendiri. "Maksudku, kenapa nggak minta buat diantar ke hotel kita lagi?" ia tak mampu menahan kesal yang pasang surut di hatinya.


"Aku udah bilang ke Tante Rena," Mira membela diri. "Tapi si Tante malah bujukin aku buat senam ... Zumba. Dan ternyata itu seru." mata Mira berbinar sekarang. Ia mengingat bagaimana tadi serunya ia mengikuti Zumba hingga lupa waktu dan ketiduran saat beristirahat. Oke, Mira hilaf.


"Apa?" Athar terperangah.


Mira menyengir lebar. "Aku keasikan Zumba trus jadi lupa buat minta diantar ke hotel. Bahkan saat Tante Rena sudah selesai, aku malah ikut kelas berikutnya sampai rasanya badan aku capek banget. Habis itu aku numpang istirahat di sini, ehhhh malah ketiduran. Baru aja bangun," ceritanya dengan polos.


"Zumba?" Athar mengulang tak percaya.


Mira mengangguk antusias. "Iya. Tante Rena bilang aku bisa bikin body aku lebih oke lagi dari ini. Trus Kak Stevan bilang,"


"Siapa itu?" tanya Athar dengan tak suka.


"Salah satu pelatihnya. Nah, kata Kak Stev–"


"Nggak ada Zumba lagi," putus Athar dengan mutlak.


"Loh kenapa?"


"Nggak ada aku bilang. Aku gak izinkan."


"Tapi kan supaya aku–"


"Nggak akan, Al. Kecuali pelatihnya perempuan juga."


Kali ini Mira yang tak terima. "Gak mau. Pelatihnya kan cantik, nanti Abang salfok malah ke dia, bukan ke aku lagi."


"What?"


"Iya. Abang kan suka gitu, matanya nakal. Suka melihat yang bening-bening,"


"Aku nggak gitu, Al."


preeet. "Trus tamu Abang itu pengecualian gitu?"


"Iya."


ya ampun, dia jujur banget. Potek dong hati gue.


Athar mencubit pipi Mira sekarang. "Makanya, jangan langsung salah sangka dulu. Dia itu adik sepupuku, Al. Sepupu jauh. Kamu belum ada aku kenalin ke Larissa malahan sudah buru-buru pergi ke kamar."


...* * *...


Pengen bikin part panjang tapi mood gak mendukung. 😂