AL-THAR

AL-THAR
#19. Putus Asanya Seorang Shelia



Sudah setengah jam lamanya saat Mira hanya menonton Shelia yang terbengong. Kakaknya itu telah bangun dari tidurnya yang mengenaskan, dan kini hanya terdiam melamun tanpa suara, tanpa menoleh kepada adik-adiknya, dan tanpa peduli pada siapapun yang mengajaknya bicara.


Mira berusaha amat sangat mengerti apa yang sedang dirasakan oleh kakaknya itu. Meneliti pandangan mata Shelia yang melayang jauh ke luar jendela kamar rumah sakit, lalu mata Mira turun ke perut Shelia. Di sanalah, ada makhluk yang sedang tumbuh atas kehendak Tuhan dan sangat berhak untuk memperoleh kehidupan.


Namun ketika matanya kembali memperhatikan raut wajah Shelia, rasa-rasanya Mira memiliki sejuta rasa takut akan segala hal yang ada di pikiran si sulung itu. Ia takut dengan jalan pintas yang telah dan mungkin saja akan terulang kembali memenuhi pikiran Shelia. Terlebih, ia takut dengan kenyataan apa lagi yang akan terbuka mengenai saudarinya itu.


"Sheli ..." lagi, ia mencoba menarik kesadaran Shelia agar berpijak pada kenyataan lagi. Namun sayangnya, terlihat kosong saat tatapan Shelia menatap langit-langit kamar itu.


"Gue sayang sama lo, Shel ... terlepas dari seberapa jahatnya bawang merah dalam hidup gue, tapi tetap aja ... lo kakak gue satu-satunya yang gue sayang."


Biasanya, bila Mira menyinggung perihal si bawang merah dan bawang putih, maka Shelia akan langsung membalas ketidaksetujuannya. Tapi rupanya kali ini berbeda, pikiran Shelia sedang tidak berada di tempatnya. Terlihat dari bagaimana tatapan kosong itu akhirnya memejam kembali secara perlahan.


Dia tidak mendengar Mira.


.


.


Terbangun untuk yang kedua kalinya rupanya barulah membuat Mira menemukan kembali kakaknya. Saat ia baru keluar dari kamar mandi, sedangkan Ghani baru saja memasuki ruangan setelah pergi membeli minuman di kantin rumah sakit.


Mira terpaku di depan pintu kamar mandi. Lalu Ghani terpaku di depan pintu kamar yang baru saja dilaluinya. Apa yang membuat keduanya terpaku? Yakni, keadaan Sheli sekarang. Bukan seperti satu jam yang lalu di mana Shelia terlihat seperti seseorang yang terguncang dan kehilangan arah. Dan itu memanglah wajar dialaminya mengingat apa yang baru saja dilalui olehnya bukanlah sebuah peristiwa remeh. Namun ... sekarang Shelia adalah Shelia yang biasanya. Ia telah kembali menjadi dirinya yang seolah tak pernah ada masalah apapun.


Kakak mereka itu sedang seru bermain game di hpnya Mira yang tadi si empunya tinggalkan di meja dekat ranjang pasien. Bahkan Shelia berteriak-teriak gemas karena game, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya beberapa jam yang lalu.


Perlahan Mira dan Ghani menghampiri kakak mereka itu. Ketika keduanya telah berada di pinggir ranjang Shelia, kakak mereka itu segera mematikan game dan menyodorkan hp ke pemiliknya.


"Hp gue gak kalian bawa ya?" tanya Shelia kepada kedua adiknya, sambil berbaring lagi.


"Nggak tau, Shel. Gue gak tau hp lo di mana," jawab Mira.


"Hp gue di tas lah."


"Oh ..." Mira bingung hendak berlaku seperti apa. Mestinya ia mudah khawatir dengan keadaan Shelia kalau seperti sejam yang lalu, tapi saat ini, bahkan Shelia terlihat baik-baik saja terlepas dengan adanya perban di pergelangan tangan kirinya.


Ghani berjongkok di pinggir kasur dan menatap kakaknya dengan serius. "Sekarang gimana rasanya? Udah baikkan?"


Shelia balas menatap adik lelakinya itu. "Biasa aja."


Tangan Mira mengusap dan memijat pelan kaki kiri Shelia yang ada di dekatnya. Ia sendiri telah duduk di ujung kasur dekat kaki Shelia.


"Plis ... gue mohon jangan kayak gitu lagi ...." ucap Ghani pelan namun tegas dan dalam. "Lo boleh marah, menangis, atau teriak kayak orang gila sekalipun, tapi tolong ... jangan sakitin diri lo ... dan anak lo ...."


Shelia terdiam selama beberapa saat dengan tatapan mata yang menyelami tatapan adiknya itu. Dia mencari kesungguhan, rasa nyaman dan aman, serta tentu saja sebuah rasa kepercayaan. Dia ingin memastikan kalau dia dapat menaruh rasa percaya itu kepada keluarganya. Hingga tak akan ada yang menuduhnya, menyalahkannya, mencelanya, memarahinya dan ... menghakiminya.


"Gue tuh sayang sama lo, Shel." Mira tak berani menatap wajah kakaknya. Dia berkata begitu dengan tatapan pada tangannya yang sedang sibuk memijat kaki kakaknya. Bukannya apa, dia hanya khawatir jikalau tidak mampu mencegah air mata yang seakan siap jatuh kapan saja bila ia menatap wajah Shelia yang seperti itu.


"Kenapa kalian selamatin gue ..." ucapnya lirih sambil merunduk.


"Shel!" Ghani berupaya meredam amarah di dadanya. Dia tahu kalau sekarang bukanlah waktunya untuk marah. Maka kemudian nada suaranya melemah. "Tolong lupain yang udah terjadi tadi. Itu gak pernah ada. Ya?"


Mira menggeleng. Air mata itu mengalir sudah. Biarlah, biar saja. "Nggak ada aib buat dia yang gak berdosa. Sedangkan lo ... kita bisa memperbaikinya, Shel,"


"Apanya yang diperbaiki?" Shelia tak ingin memiliki harapan. "Kalau bapaknya anak ini sudah gue anggap mati."


"Maksud lo?" Mira gak ngerti.


"Bryan sudah merried sama cewek lain, sepuluh hari sebelum gue pulang kesini. Dan gue sudah gak berharap juga sama dia ... masalahnya adalah ... gue udah gak punya kesempatan sama Ubay," Shelia terisak. "Gue udah cinta mati sama dia. Tapi dia gak mungkin terima gue yang begini. Lalu buat apa gue hidup?"


"Kenapa Si brengsek itu nikah sama orang lain?" tanya Ghani dengan amarah masih tertahan.


"Dia dijodohin. Pernikahan bisnis orang tuanya. Dan sekali lagi, gue sama dia cuma saling membutuhkan tanpa ada rasa lagi. Kami sudah putus dua bulan yang lalu, walaupun dia gak terima. Gue udah gak suka sama dia, tapi dia masih terus datang ke gue, dan ... yah ... gitulah," Shelia menghapus air matanya. "Dia bahkan gak pernah tahu kalau hasil dari kebiasaan gue sama dia itu telah membuahkan hasil. Tapi mirisnya, gue tuh maunya sama Ubay, bukan sama Bryan."


Mira mencoba mengerti tentang hubungan bebas yang Shelia jalani dengan mantan pacarnya. Meskipun sudah menjadi mantan, kenapa mereka masih melakukannya? Ah, tetap saja Mira gak mengerti. Keterkejutannya perihal Shelia yang ternyata memiliki kehidupan bebas di luar sana, itu masih membuat Mira merasa syok. Ditambah dengan kenyataann yang Shelia utarakan, Mira semakin terkejut lagi tapi dia berusaha untuk menahannya.


Lalu Mira mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. "Trus, jadi lo udah kasih tau Ubay kalau lo–"


Shelia menggeleng. "Gue gak sanggup buat kasih tahu dia. Terlebih lagi, gue gak bakalan sanggup mendapat tatapan jijik dari dia. Makanya gue cuma bisa nangis di depan dia. Karena gue gak berdaya, Ubay sudah mustahil gue gapai. Gue yang kotor ini, mana mungkin dia yang seorang ustadz mau terima gue, kan?!"


"Tapi bukan berarti lo harus mengakhiri hidup lo, Shel," pungkas Ghani. "Seburuk apapun kenyataannya, lo masih diberi nafas. Yang itu artinya lo masih harus menjalani hidup lo. Bahkan sekarang lo mesti menjaga apa yang ada di dalam perut lo."


Shelia kembali terisak. "Gak semudah itu, Ghan. Gak semudah itu untuk berfikir melanjutkan hidup tanpa menyakiti kalian. Belum lagi kalau Mama tahu ..."


"Nanti Mama bakalan gue yang kasih tau kalau dia sudah pulang."


"... dan buat apa gue melahirkan anak yang bakalan malu karena gak punya ayah?"


"Lo gak sendirian, Shel," Mira menegaskan. "Lo masih punya saudara-saudara, juga Mama. Kita masih bisa bantu lo dalam melalui ini semua. Seburuk apapun nasib keluarga kita, itu gak akan pernah berubah. Darah itu gak pernah bisa jadi mantan, Shel."


Ghani menoleh kepada Mira. Lalu Mira terkesiap dengan kalimatnya barusan yang di luar dugaan. Agak aneh. "Maksud gue, kan ada yang namanya mantan suami atau mantan istri tuh. Tapi kan gak pernah ada cerita yang namanya mantan anak kandung atau mantan saudara dan saudari kandung. Gak ada!"


Oke, Ghani sepertinya menerima penjelasan Mira. Buktinya, dia tak lagi menatap Mira dengan menuntut.


"Tapi gue masih putus asa ..." ucap Shelia lirih.


...* * *...


**bersambung.


Sinyalku burukkkk banget. Makanya semalam gak bisa update**.


.


Eh, cicak sudah up bab terbaru ya. Maaf update-nya kayak siput. 😂


.