
"Serius bang Athar gak tahu lo hamidun, Mir?" tanya Abay.
Mira hanya mengangguk malas. Dia sudah menceritakan kejadiannya yang sebenarnya terjadi kepada ketiga sahabat ajaibnya.
"Nanti dia gak bakalan fitnah lo kan?!" tanya Abay kembali.
"Maksud lo?"
"Ya maksud gue, takutnya dia gak percaya gitu sama kehamilan lo."
"Lo pikir sinetron kali ah, bakal ada adegan tes DNA gitu?" Mira menggeleng sendiri. "Nggak akan ada yang kayak gitu, Bay."
"Pede banget lo. Sok yakin, sok iye. Pret lah."
"Iya. Gue emang seyakin itu. Karena masalahnya emang terjadi berkat ketelodran gue, awalnya. Inti dari masalah gue ya ... emang gue-nya yang stay foolish. Jadi kalo sampe masalah anak ini gak dia akuin gara-gara masalah kami ... maka gue bakal bikin viral. Sekalian jadi sinetron. Karena ini gak ada hubungannya."
"Sok iye," Abay mencibir. "Kayak lo doyan aja ngumbar hidup lo di medsos. Apaan, status palingan langit, laut, pohon cabe, tanah ... gak jelas banget hidup lo, Mir."
Mira tersenyum garing. Dia akui, dia emang gak bakat dalam membuat status yang kekinian, atau goyang ini itu. Bukan Mira banget. Tapi sebaliknya, dia suka baca thread yang lagi viral, dan bikin penasaran. Atau curhatan-curhatan lucu, receh, dan sejenisnya. Mira itu terbiasa sebagai penikmat, bukan pelakon.
"Gue kemarin abis ikut Puput bikin video tik-tok kok, Bay."
"Dibayar berapa lo sama si Ciput?"
"Kagak. Itu murni naluri gaul jabang bayi gue."
Abay takjub. "Ih, wow ... umur dia di perut lo aja baru itungan minggu. Tapi udah ada bakat gaulnya? kicep deh gue."
Mira terkekeh seraya membuka layar hpnya.
"Eh, Mir! Sheli udah baikan? Kok lo malah tinggalin ke kampus sih?"
"Gue juga udah nawarin buat nemenin dia. Tapi dia malah ngusir gue. Heran deh, gak ada satu orang pun yang mendukung kalo gue gak mood buat belajar."
"Ya nanti juga kalo udah waktunya tiba lo bakalan cuti kali."
"Iya sih."
"Sheli pasti sedih banget ya. Derita kakak lo itu gak ada akhirnya deh."
"Ya udah takdir, Bay. Mau gimana lagi. Mungkin sudah ada seseorang di luar sana yang sudah ditakdirkan menjadi jodohnya. Kita hanya manusia biasa, yang gak bisa mengelak saat takdir gak sesuai dengan harapan kita."
"By the way ... gue sih gak keberatan ya jadi kakak ipar lo, ayah dari keponakan lo." Abay melirik Mira sejenak. Dia masa bodo saat mata Mira terlihat mendelik padanya. "tapi kayaknya Sheli yang gak bakalan mau sama gue."
"Jelas! Lo bukan selera dia."
"Dih,"
"Kalo lo melamar jadi kacung dia, pasti diterima, Bay. Haha,"
.
.
Mira pulang kuliah naik grab. Sesuai dengan petuah sang mama yang melarangnya menaiki roda dua kalau usia kandungan masih terbilang muda. Ya sudahlah, dia harus menurut bukan?! Jangan menambah kesedihan keluarga yang memang masih sedih keadaannya.
"Apa kabar, Mir?" tanya seseorang yang membuat Mira urung membuka pintu gerbang rumahnya. Dia baru saja mendarat dan say dadah babay kepada abang grab yang gantengnya kayak Lee Min Ho.
"Eh, Don!"
"Udah lama ya kita gak ketemu."
Donny terlihat semakin tampan. Ya begitulah kenyataannya. Dan Mira hanya tersenyum ramah menanggapi.
"Ayo kita ke rumah lo," ajak cowok itu mendahului Mira. "Gue mau nengokin Sheli."
"Oh,"
"Gue udah diceritain semua sama nyokap gue," katanya memberitahu seraya berjalan membarengi Mira. "Kasihan banget sih kakak lo. Gue gak pernah nyangka semua itu terjadi sama seorang Shelia."
"Ya gitu deh. Namanya udah nasib. Mau gimana lagi, kan?!"
Donny mengangguk pelan. "Lo bahagia, kan?!"
"Lah, kenapa jadi gue?" tanya Mira santai. Dia memang sudah tak ada rasa apapun kepada cowok di dekatnya itu, sehingga semuanya terasa biasa saja.
"Cuma nanya sih,"
"Alhamdulillah gue bahagia," jawab Mira dengan mengecualikan masalahnya kali ini. Sebab itu bukan hal yang patut untuk diceritakan ke siapa saja. "Lo sendiri udah tunangan ya? Gue lupa deh waktu mama bilang dulu itu. Lagian kok lo gak undang gue sih?"
Donny membukakan pintu untuk Mira. "Gue batal tunangan."
"Oh ya? kenapa?"
"Putus."
Mira menghentikan langkahnya. "Kok bisa? wah, padahal lo serasi deh sama cewek itu."
"Serasi belum tentu sehati."
"Gitu ya?"
"Gitu deh kalo belum jodoh."
"Iya sih. Yuk ah," Mira mengajak Donny menuju lantai atas di mana kamar Sheli berada. Tapi rupanya kakaknya itu sedang berada di sofa tempat santai-santai yang ada di depan kamarnya dan juga kamar Mira. Ada sebuah televisi di sana. Namun Shelia menyetelnya tanpa suara.
"Tv gue bisu nih?" Mira duduk di sofa lainnya. Begitupun dengan Donny.
Shelia menoleh dengan kedatangan sang adik. "Gue gak niat nonton tv."
"Matiin lah."
"Gue gak suka kematian."
"Tapi waktu itu loβ" Mira hampir saja membuka aib Shelia di depan Donny. Dia keburu ingat ada orang asing di sana, dan segera berdehem untuk mengganti topik pembicaraan. "Sheli udah sehat kok, Don,"
"He, Don. Udah lama gak liat lo." Sheli berkata dengan lebih tenang. Dia sudah mampu menata hati teruntuk hari ini. Setelah tiga hari yang menguras air mata.
"Ohh ..."
"Gue turut berduka ya, Shel," ucap Donny tulus. "Atas semua yang terjadi sama lo."
"Makasih, Don. Gue udah lebih baik kok hari ini."
"Sorry nyela," ucap Mira seraya bangkit dari kursi. "Gue mau ke kamar dulu ya. Capek ih mau istirahat."
Donny hanya tersenyum menanggapi.
Lantas Mira segera berlalu ke kamarnya. Dan dia segera menuntaskan hasratnya yang ingin segera berendam.
Lain kemarin-kemarin lain sekarang-sekarang. Setelah rindu yang tiada tara tak dapat tercapai dan hanya mengakibatkan air mata, maka saat ini yang Mira rasakan adalah kekesalan terhadap Athar yang berada nun jauh di sana. Rindu itu mungkin memang masih ada, akan tetapi tak sebesar dengan rasa kesal dan marah setelah Athar mengabaikannya sudah seminggu ini.
Mira yang saat ini tengah berendam, tangannya menggapai hp yang tadi sengaja ia letakkan tak jauh darinya berada. Dia memang berniat untuk menghubungi Pram perihal tugas mereka.
Hati kecil yang masih menyuarakan rindu tadi, kini mendorong jari jemarinya untuk mengintip ruang chatnya dengan sang suami seminggu yang lalu. Ralat, delapan hari yang lalu.
Seketika hatinya berdebar saat ia menyadari kalau Athar tak lagi memblokir nomornya. Ya, Athar setega itu memblokir nomor Mira, agar Mira tak dapat menghubunginya.
"Oh udah selesai nih marahnya," gumam Mira. "Oke, sekarang gantian gue yang akan blokir nomor dia. Huh!"
Setelah Mira selesai memblokir nomor Athar, sesuatu terjadi pada hpnya. Tangannya hilang kendali alias oleng dalam berakhlak. Karena hp itu tergelincir begitu saja dari tangannya.
"Huaaaaaa ... kenapa lo ikutan gue berendam juga?"
...πΏπΏπΏ...
"Ya ampun!" Pram sangat terkejut dengan Mira yang barusan menggunakan hodie hitam, kacamata hitam, dan masker hitam di depan pintu rumahnya. "Lo latihan jadi apa sih? kenapa begini serem?"
Mira membuka maskernya. "Jadi gue nggak keren nih?"
"Nggak."
"Yah, padahal kan gue niatnya buat keren gitu, Pram."
Pram memutar bola matanya. "Lo mau ngapain deh? kan hari ini kita batal kuliah. Gak liat grup chat hah?"
"Justru itu. Gue jadi punya rencana mendadak, Pram."
"Rencana apa?"
"Ada deh. Lo mesti ikut gue,"
"Ya ampun, Mir. Kenapa mesti gue? Gue lagi mager berat ini. Nanti malam mau kencan."
"Gue ngidam, Pram."
"Lo ngidam apa sih emangnya?"
"Udah mendingan lo ganti baju, trus siap-siap ikut gue ke Jakarta."
"Duh, mau ngapain?"
"Ada pokoknya. Gue udah ngajak Puput tapi dia gak bisa. Katanya kucingnya mau lahiran hari ini. Dia mesti jadi suster buat bantu pakein popok bayi-bayi kucingnya."
"Sarap kalian!"
Pram melangkah juga menuju kemarnya, diikuti Mira di belakangnya. "Abay gak bisa ikut. Dia lagi latihan jadi bos katanya. Distronya kan mau buka cabang."
"Ah serius? kok dia gak traktir kita kemarin?"
"Besok kalo kita naik puncak, dia mau sekalian traktir kita katanya sih."
"Bagus deh."
...πππ...
"Linggar, ambilkan hp saya yang satunya."
"Siap, Bos."
Athar menerima hp yang baru saja diulurkan oleh anak buahnya itu. Saat ini dia masih berada di sebuah apartemen, sebelum nanti akan melanjutkan pertemuan klien lagi.
"Sial!" umpat Athar dengan kesal. Bagaimana bisa dia diblokir? "Beliin saya ponsel sekarang juga!" suruhnya kepada Linggar.
"Yang itu kenapa, Bos? Rusak?"
"Segera pergi beli sekarang!"
"Bos gak mau pilih sendiri?"
Athar menoleh dengan delikan sebal kepada anak buahnya itu. "Lo itu jadi ngeyel ya sejak jadi pengawalnya istri gue."
Linggar merunduk takut. Kalau bosnya itu sudah ber 'lo-gue' itu artinya dalam mode tidak bisa diganggu alias sedang marah.
"Siap, Bos. Saya pergi sekarang." Linggar segera undur diri.
Athar kembali menatap ponselnya yang dua tadi. Dia memang hanya membawa dua itu saja saat pergi ke New York di mana sekarang dia berada. Yang satu khusus nomor bisnisnya, sedangkan yang satunya lagi untuk kehidupan sehari-harinya.
Salah satu ponsel itu masuk sebuah notifikasi chat yang segera dibukanya.
Bang, calon anak lo minta Jacuzzi nih.
...****...
...****...
ππππππππππππππππ
**Makasih ya buat yang like dan komen. Sekarang aku bisa tahu siapa aja yg abis like. Karena like sekarang masuk di notif ya.
πππ**