AL-THAR

AL-THAR
#70. Masih Eneg



Part ini alurnya maju mundur ya. Harap baca baik-baik biar paham.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kakak lo ke mana, Ghan?" tanya Athar sambil celingukan. Lalu ia menempati salah satu kursi di meja makan, di mana telah ada seorang adik iparnya yang sedang menikmati sarapannya di sana.


"Kakak gue yang mana? Yang hamil besar? Atau hamil kecil?"


"Ya istri gue-lah."


"Ohh ... udah cabut."


"Ke?" Athar terkejut.


Ghani mengendikkan bahunya.


"Serius? Dia tinggalin gue?"


"Ya gitu."


Athar urung menyentuh sarapannya. Ia kembali merasakan mood yang buruk atau malah sesuatu sedang dirasakan oleh perutnya sekarang.


Setelah tadi terjadi pelukan juga walau agak dipaksa. Dan setelah perasaan bahagianya sudah tersampaikan, kini tahu-tahu istrinya malah sudah pergi?


Menyebalkan.


Apa yang salah? Bukankah seharusnya ia sudah dimaafkan tadi?


"Abang jangan ganggu aku yang lagi di kamar mandi. Jelas, 'kan?!"


"Kenapa begitu? Kalau aku butuh kamar mandi juga, gimana? bukankah lebih efisien kalau kita bareng-bareng di kamar mandinya?"


Mira tak menanggapi lagi. Ia tahu kemana arah ucapan suaminya itu. Siapa suruh pergi seenaknya, hah? Emangnya enak!


"Al ..."


Mira mengabaikan Athar yang terus mengekorinya. Ia telah sibuk memilah pakaian untuk dipakainya sekarang. Namun ... tiba-tiba sebuah pelukan erat terasa menyergapnya dari arah belakang tubuhnya. Ia tahu kalau Athar memeluknya.


"Lepas!"


"Nggak. Aku kangen banget sama kamu, Al," ucap Athar dengan pelan tapi dalam. Hidungnya menghidu aroma sang istri yang telah dijauhinya selama seminggu ini.


"Aku nggak," Mira berupaya melepaskan tangan Athar yang melingkari pinggangnya, tapi itu terlalu sulit.


"Apa benar di sini ada anak kita?" bisik Athar di telinga Mira dengan lembut. Sebelah tangannya mengusap pelan perut Mira yang datar.


Dalam hati Mira cukup terkejut mendengarnya. Bagaimana Athar bisa tahu kalau dirinya tengah hamil? Dari mana? Siapa yang memberitahu? Saking terkejutnya, ia tidak menyahut sedikitpun.


"Jawab aku, Al ... apa benar kalau kamu sedang hamil anak kita, hm?"


"Gosip dari mana?"


"Jangan sembunyikan dariku ..."


"Iya tapi Abang kata siapa? Oh–" Mira mengingat caption update Pram yang sudah pasti dibaca oleh Athar. "Sosmednya Pram."


"Bukan. Ghani yang lebih dulu kabarin aku. Karena kamu blokir aku."


"Abang duluan yang blokir aku!"


"Iya-iya ..."


Mira merasakan bulu kuduknya merinding saat Athar mengecup tengkuknya. Ternyata ia memang merindukan sentuhan sang suami setelah perpisahan yang menyiksa. Ya ampun, kenapa otak gue bisa kotor di saat gue masih marah?


"Iya, aku emang hamil. Kenapa? Gak boleh? Gagal menunda?"


Athar tersenyum dengan bibir di atas kepala Mira. Setelah mengecup rambut basah Mira bertubi-tubi, ia pun berkata, "Terima kasih, Sayang. Aku sangat-sangat bahagia. Aku bersyukur ... dan aku berterima kasih teramat sangat dengan berita ini."


Oh, gue kira dia bakalan mempertanyakan kenapa bisa gagal usaha menunda yang kita berdua jalani.


"Jangan banyak berfikir," lanjut Athar. "Memang aku yang menginginkan anak kita segera hadir."


"Kalau kepengen kok setuju pakai alat kontrasepsi," gerutu Mira.


Seulas senyum terbit lagi dari bibir Athar. "Siapa bilang kamu menggunakan kontrasepsi? Tau gak ... suntikan yang dokter kasih ke kamu itu bukan suntikan pencegah kehamilan. Melainkan itu adalah suntikan vitamin supaya kamu sehat. Seluruh tubuh kamu sehat dan siap dibuahi. Aku yang suruh dokter Ratna. Gitu ...."


Otak cantik Mira berupaya bekerja. Perlahan ia mencerna dan menghasilkan sebuah kalimat yang mengandung keterkejutannya. "Jadi aku bukan suntik KB?"


"Bukan."


"Kok bisa?"


"Hm ..."


"ABANG!"


"Ssstt ... gak boleh marah-marah mulu. Gak baik buat calon anak kita ...."


"Abang yang bikin aku marah! Aku udah siapin kejutan berita bahagia, tapi Abang malah–"


"Iya, maaf, Sayang ... maaf ... aku tahu kalau aku egois. Tapi itu semua–"


"Gara-gara aku, 'kan?! Iya udah, aku yang salah. Udah ah, lepas. Aku mau pake baju."


"Tapi kamu udahan ketusnya. Udahan marahnya ... aku gak mau kamu marah."


"Gak mau aku marah tapi Abang udah jahat! Abang blokir aku loh. Biarin aja, Abang gak perlu tahu selamanya kalo Abang punya anak." Mira masih meluapkan emosinya.


"Jangan gitu, Al ... plis, jangan bilang kayak gitu. Aku sayang banget sama kamu. Aku sayang calon anak kita,"


Athar menekuk kakinya. Kini ia berlutut namun dengan posisi masih sama seperti tadi, yakni di belakang Mira. "Aku tahu kalau aku salah besar, but, plis ... tolong maafin aku. Aku bakal ngelakuin apa aja supaya kamu bisa maafin aku, dan aku bakalan sabar sampai marah kamu benar-benar hilang."


...* * * *...


Ibram penasaran dengan boks besar yang dibawanya kini. Boks hadiah berbalut kertas kado, yang dititipkan kepadanya. Tapi walau begitu, ia tetap bahagia dengan kemajuan hubungan adik dengan calon adik iparnya, meskipun terlalu lambat.


"Pakeeeet!"


Dia meletakkan boks yang dibawanya ke meja di hadapan Ghani, sahabat karibnya. "Paket special dari orang yang special."


"Buang aja," sahut Ghani datar dan santai. Game di hpnya jauh lebih menarik dibandingkan benda besar di depannya itu.


"Lo gak menghargai adik gue, anjim. Dia udah capek-capek nih pasti bikin kayak gini. Gak lo terima, kita putus nih."


Ghani mengangkat wajahnya dengan malas. Dia menatap boks hadiah yang sebesar televisi 21 inc itu dengan datar. "Oke, gue terima."


Baru Ghani hendak fokus pada hpnya kembali, Ibram telah lebih dulu menyahut, "Kalo diterima ya buka dong! Gue juga penasaran si Cicak kasih lo apaan segede gini? Gila, seumur-umur gue jadi kakaknya aja gak pernah dapet hadiah gede. Paling gede yang dia kasih ke gue ya itu, boneka gorilla. Dasar Cicak gak berakhlak!"


"Harus banget gue buka?"


"Harus, Ghan! Buruan buka. Kalo perlu gue bikin live–"


"Berani live bakalan gue lempar nih kado," ancam Ghani yang membuat Ibram terkekeh geli.


"Nggak live, Ghan, cuma rekam video doang yailah. Santuy, bro."


Ghani memasukkan hpnya ke dalam saku celananya. Kini ia menarik boks hadiah itu dan mulai membukanya dengan perlahan.


"Gue tebak ah," kata Ibram dengan layar video yang telah menyorot kepada Ghani. Tak lupa ia merekam keadaan kantin kampus yang tak terlalu penuh mahasiswa keadaannya, namun tidak bisa dikatakan sepi juga. "Isinya pasti boneka nih."


"Kalo boneka, mending gue gak usah buka."


"Lah gak bisa gitu, Ghan. Lanjut dong! Kentang, anjr. Lagian itu kan cuma tebakan gue, yailah. Kuy, lanjutkan!"


Ghani sungguh enggan sebenarnya. Apapun yang berasal dan berhubungan dengan adiknya Ibram pastilah hal gak beres dan gak waras. Tapi demi Ibram, dan demi misinya agar Ibram mengabulkan keinginannya, maka semua ini mesti ia lakukan walaupun terpaksa. Sumpah, dia sangat-sangat terpaksa.


Setelah tangannya merobek-robek kertas kado itu, kini ia mesti membuka boks untuk membuka isinya, dan Ibram puas. Selesai.


Namun ...


Sialan seribu sialan. Ghani menatap busuk isi dalam boks itu yang baru saja sempat dipegangnya. Kini dia menoleh dan menatap tajam pada Ibram yang tengah terbahak-bahak seraya memegangi perutnya dengan sebelah tangan, dan sebelah lagi mengambil isi hadiah tadi.


"Ah sialan, si Cicak! Adik gue yang gak waras itu. Masa dia kasih lo kado panci? Gila, gila, gila ... itu panci punya nyokap gue tapi kesayangan bokap gue, Ghan." Ibram melanjutkan tawanya yang tak tertahan. Apalagi dilihatnya sekitar mereka juga tak dapat menahan tawanya karena menyaksikan bagaimana busuknya wajah Ghani melihat benda-benda laknat yang telah mempermalukannya.


Benda-benda?


Iya. Karena tidak hanya satu buah panci, melainkan banyak. Dengan ukuran yang berbeda-beda pula.


"Adik lo, Bram ..." desis Ghani.


"Iya-iya, si Cicak emang agak gak waras anaknya. Gue udah tahu dari dia kecil. Tapi, kok bisa dia tega kasih lo panci ya, Ghan?"


"Udah gue bilang buang ya buang!"


...🍡🍡🍡...


"Mau kemana, Non? Hayuk atuh disebut aja. Jangankan keliling kota Bogor, puncak dan sekitarnya, mau keliling dunia akhirat pun gue siyap kayaknya. Hari ini gue jadi sopir pribadi lo. Puas?!"


Mira terkekeh geli. "Santuy napa, Bay. Lagian mumpung lo ada mobil, 'kan?!"


"Mobil sodara, Bu. Gue lagi pinjam."


"Nah iya. Pas dong kalo gitu. Lo jadi bisa anterin gue kemana aja, sesuai dengan bisikan jabang bayi gue."


"Herman deh, yang buntingin siapa, yang kena tugas wujudin ngidam lo siapa. Mimir tega banget sih?"


"Jangan nyanyi aja deh, Bay. Berisik! Yang ikhlas kalo nolongin orang hamil."


"Iya, bumil, iya ... jangan lupa pajaknya ya!"


"Tenang aja, nanti lo minta gaji plus komisi ama juragan. Lo pasti dibayar gede deh."


"Iya kalo juragan ada di bumi Bogor, lah suami lo lagi ngambek ke benua lain. Gimana nasibnya gaji sama komisi gue, Juleha?"


Mira mengunyah apel dengan nikmatnya. Entah mengapa sekarang apel terasa amat sangat enak di lidahnya. "Dia udah pulang kok."


"Demi apa lo?"


"Seribu rius."


"Trus kenapa lo sekarang nyuruh gue nganterin lo? Why?"


"Liat depan, Bay," suruh Mira saat Abay malah menengok padanya terus. Padahal saat ini mereka telah dalam perjalanan. "Gue kan masih marah sama dia. Eneg luar biasa. Jadi gue gak mau deket-dekat dia dulu. Lo tenang aja sih, udah gue bilang nanti lo tagih aja gaji lo sama bapaknya anak di dalam perut gue. Rapel aja sama yang kemarin ke mall."


"Dih, ribetnya masalah rumah tangga. Eh btw, lo mesti bilang bang Athar atas semua perbuatan Dennis, Mir. Bahaya lo dia tuh. Jangan sampe Athar murka kalo lo gak kasih tau."


"Ya pastilah nanti gue cerita. Tapi nanti, setelah mood gue membaik. Udah gue bilang kalo gue masih eneg sama dia. Setelah dia tinggalin gue begitu aja, eh sekarang dia malah pulang seenaknya. Harga diri gue meronta-ronta ingin keadilan, tau."


"Dih, iya deh terserah. Urusan lo dan harga diri lo yang meronta-ronta itu."


"Abay, udah gue bilang liat ke depan," sela Mira saat melihat temannya itu yang sering tidak fokus menatap jalan raya di depan mereka.


"Iya, Mir. Santu–"


"ABAY! ABAY! AWAS!" teriak Mira seketika.


...🐔***🐔...