
Happy reading!
...π...
Mira mencelos saat melihat kalau rumahnya telah terlewati. Rumah orang tuanya, maksudnya. Ryo telah benar-benar membuktikan ucapannya yang terdengar nekat di telinga Mira. Bukannya Mira takut diapa-apain oleh sahabatnya itu. Tidak. Sama sekali tidak. Sungguh Mira benar-benar percaya kepada Ryo.
Namun yang paling dikhawatirkannya sekarang adalah bagaimana bila Athar mengetahuinya nanti. Mengetahui bahwa dirinya pergi dengan Ryo merupakan kesalahan yang fatal di mata suaminya itu.
"Yo ..." Mira putus asa. Seharusnya sih ini hanyalah pergi dengan teman biasa, andai keadaannya hanyalah seperti dirinya kepada Abay saja. Tapi, perasaan sepihak yang dimiliki Ryo terhadapnya merupakan beban tersendiri andai Mira bersikap jahat pada cowok sebaik Ryo.
"Hm ...."
"Aku mau pulang,"
Ryo menoleh sesaat dan tersenyum manis yang terlihat agak dipaksakan. Hal itu membuat hati Mira 'mungkin' mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cowok itu.
"Tenang, Mir. Kita cuma akan pergi untuk makan sesuatu di tempat yang nyaman. Kita hanya sebagai teman, Mir. Aku sudah menerima status itu. Dan sekarang, aku meminta waktumu sebentar saja. Sebagai teman ... sekali ini saja."
Kalimat tulus Ryo membuat Mira tak mampu menjawab lagi. Ia iba. Dirinya tak mampu menyakiti Ryo lebih dalam lagi.
Mira menghela nafas. Cinta itu serumit ini ternyata. Semoga Tuhan segera mengirim seseorang yang lebih baik dan lebih pantas untuk berada di sisi Ryo. Agar sahabatnya itu bahagia.
Ya ... semoga.
.... π ....
Dirga baru saja keluar dari ruangan dimana mereka baru saja melakukan meeting dengan beberapa klien. Tak hanya Dirga, beberapa petinggi di perusahaannya, orang-orang terpenting dengan proyek baru mereka pun telah meninggalkan ruangan yang hanya menyisakan Athar dan Nanda.
"Bu Nanda bareng sama Pak Daud lagi hari ini?" tanya Athar yang sama-sama masih berada di satu meja yang sama.
"Jangan 'Bu' lagi dong, Thar. Kan sudah tidak siapa-siapa lagi di sini."
Athar tersenyum sopan. "Ah iya, Nanda."
"Hari ini aku naik taksi online ke sininya."
"Kenapa?" Athar merapihkan berkas-berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Lagi pengen sendiri aja. Males bawa mobil juga."
"Papa kamu memberi izin? Gak marah?"
Nanda tersenyum sambil menggeleng. "Mana bisa dia marah sama aku."
"Ah ya ... anak kesayangan sih ya."
Nanda tertawa kecil. "Namanya juga anak tunggal."
Athar bangkit setelah tasnya rapih dan siap dibawa. "So, aku duluan."
"Boleh aku numpang?" Nanda turut berdiri dan menatap Athar dengan tenang.
Sedangkan Athar sendiri sedang mempertimbangkan sekaligus menilai. Dia tidak akan pernah berniat membuka peluang atau kesempatan kepada siapapun bentuknya yang dapat mengganggu rumah tangganya. Sekecil apapun celah itu, Athar tak akan memberikannya.
"Nggak boleh ya?" Nanda masih dengan wajah tenangnya yang mampu dijaga agar tetap seperti itu.
"Bukan nggak boleh sih," Athar menimbang, apakah terlalu kejam bila ia menolak permintaan itu. Secara, hubungannya dengan wanita itu mestilah dijaga dengan baik demi bisnis mereka. "Cuma aku masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Dan kayaknya aku mesti buru-buru supaya sore sudah bisa kembali ke Bogor."
"Oh gitu," Nanda menyembunyikan raut kecewanya. "Oke deh, lain kali aja aku ngerepotin kamunya ya."
Athar segera menggeleng. "Aku bukan merasa direpotkan, Nanβ"
"Iya-iya, aku ngerti kok." wanita itu tersenyum dan melangkah mendekati Athar. Dia duduk bersandar pada sisi meja di dekat lelaki itu. "Aku juga gak akan merasa direpotkan andai kamu butuh bantuanku, Thar. Serius."
"Aku percaya, Mbak Nanda." Athar memberikan penegasan tentang batasan yang tersirat dalam panggilannya kepada wanita itu barusan.
Dan sebagai wanita yang cerdas, Nanda mengerti kalau ternyata ia telah melangkah sejauh itu. Atau bisa jadi hatinyalah yang menginginkan langkah itu.
"Hm oke. Aku duluan kalau begitu." tanpa basa-basi lagi Nanda segera melangkah keluar dari ruangan.
...ππ...
Sebuah restoran di pinggir pantailah yang Ryo pilih untuk mengajak Mira makan. Sekarang sudah hampir sore, entah makan apa namanya kalau Mira sendiri belum merasakan lapar pada jam itu.
Mengambil tempat di pantai itu artinya pantai terdekat yang Ryo pilih adalah di Jakarta.
"Rambutku berantakan, Yo." Mira menahan laju angin yang mengoyak rambutnya dengan tangannya. "Kenapa mesti makan di sini sih?"
Ryo tersenyum. Dibukanya topi yang sedang dipakainya sekarang, lalu dibawanya menuju kepala Mira. "Beres, kan?!"
"Iya sih." Mira merapihkan rambutnya agar sebagian dapat terkendali dengan adanya topi.
"Kamu mau makan apa?"
"Apa?"
"Ditanya malah nanya balik."
"Ya karena aku belum lapar."
"Biasanya kamu gak pernah nolak sama yang namanya makanan," ucap Ryo.
Ck, kejadian langka sih gue kehilangan nafsu makan
Mira mengendikkan bahunya. "Apa aja deh terserah. Gak usah yang berat-berat."
Maka Ryo memesan makanan yang ingin dimakannya, dan sudah pasti ia tahu kalau Mira pun doyan dengan makanan itu.
"Asik ya," Ryo berucap sambil menatap laut di kejauhan. "Asik kalau waktu berhenti saat ini. Entah kenapa aku menyukai dua hal. Yang pertama adalah ada laut. Dan yang kedua adalah ... ada kamu." setelah berkata begitu Ryo menoleh kepada Mira.
Mira terpaku oleh tatapan mata Ryo. Bukan terpaku yang bagaimana, Mira hanya kehilangan kata-kata saat melihat netra yang nampak menyiratkan kepedihan itu.
"Rencana perjodohan itu gimana, Yo?"
Fokus Ryo teralih sejenak dan dia menyeruput minumannya yang telah tersaji.
Saat Ryo tak jua menyahut, Mira menyebut nama cowok itu lagi. "Yo."
"Nggak gimana-gimana, Mir," sahutnya yang terkesan malas. "Biarkan aja Mamaku dan Mamanya Pram berbuat sesuka hati. Toh yang menjalani itu kan aku ... juga Pram."
"Iya, sih. Pram juga cinta banget sama Raihan."
Ryo mengangguk. "Nah itu makanya, aku nggak akan dengan bodohnya menuruti saja tanpa ada keinginan untuk melawan. Ini dunia nyata, bukan film atau drama. Aku memiliki hak untuk memilih perempuan yang aku suka."
Mira setuju. "Trus artinya kalian batalin gitu?"
"Aku sudah jelas menolak. Begitu juga dengan Pram. Kalau para orang tua itu tetap ngotot ya maka mereka bakalan kehilangan anak-anak mereka."
"Ish jangan gitu ah." semenjak menyaksikam bagaimana Shelia bersimbah darah, maka sejak itu pula Mira benci dengan kata 'kehilangan'. Sungguh, Mira tidak siap untuk kehilangan demi kehilangan lagi dalam hidupnya.
"Jadi menurut kamu aku mesti nerima gitu?"
"Bukan," Mira menggeleng. "Maksud aku, jangan menghilang atau pergi atau semacamnya dari keluarga kalian. Sumpah, itu tuh jangan pernah terjadi. Terlebih aku tahu banget, Yo. Aku tahu banget seberapa sayangnya Mama kamu terhadap kamu, anak satu-satunya."
"Kalau dia memang sesayang itu padaku, makanya dia gak perlu paksa-paksa aku."
Mira tertegun akan sesuatu. "Kok kamu berubah, Yo? Waktu aku menginap di rumah kamu, kamu nggak begini loh. Kamu kelihatan banget kalau kamu sesayang itu terhadap Mama kamu. Bahkan kamu amat mengerti dan mengikuti ucapannya."
"Sayang bukan berarti selalu menuruti ucapannya, Mir."
"Tapi dia Mama kamu,"
"Iya, aku tahu. Bahkan hingga detik ini aku masih tetap menyayanginya, walau dengan cara yang berbeda."
"Kenapa mesti berbeda?"
"Karena waktu, Mir. Waktulah yang telah mengubahku menjadi berbeda. Aku yang sekarang tidak berpikiran naif lagi seperti beberapa bulan yang lalu. Aku yang sekarang adalah aku yang akan memperjuangkan apapun yang aku mau."
"Tapi kecuali aku ya, Yo ..."
Ryo terdiam menatap Mira. "Kenapa nggak?"
"Kamu tahu jawabannya ..."
"Tapi aku nggak mau tahu."
"Plis," lirih Mira. "Plis cari cewek yang jauh lebih dari aku, Yo. Yang lebih cantik, yang lebih segala-galanya. Teman-teman artis kamu mungkin,"
Ryo mengangguk. "Benar. Banyak cewek cantik di sekitarku. Banyak yang lebih segalanya dari kamu di Jepang sana. Tapi ...."
Jangan ada tapi, Yo ... plis...
"Hatiku masih maunya kamu. Cuma kamu, Mir. Terlalu banyak cerita manis di antara kita sejak lama, tapi kenapa kamu mesti menikah sama dia? Seseorang yang bahkan belum lama kamu kenal. Kenapa bukan aku, Mir?"
...π...
Athar tak pernah merasa semarah ini sejak dalam hidupnya mengenal Almira. Bukan, bukan marah yang biasanya. Ini lebih dari itu. Bahkan kebenciannya terhadap keluarga Garin tak seberapa dibandingkan dengan apa yang tengah dirasakannya saat ini.
"Mas Atharβ"
suara Linggar terputus dengan isyarat tangan Athar yang tak menginginkannya bersuara. Maka dengan patuh, Linggar kembali diam.
Athar masih mempertimbangkan sebentar, kira-kira perbuatan "baik" apa yang mesti ia berikan kepada orang itu. Namun tak sampai satu menit, ia sudah tak tahan untuk terus diam di dalam mobil. Itu bukan gayanya yang bersabar terhadap sesuatu. Terlebih ini masalah serius yang menyangkut harga diri, kepercayaan, dan ... kepemilikan.
"Sabar, Mas Athar." lagi, Linggar berupaya mengeluarkan suaranya. Setidaknya, itulah pesan Dirga terhadap dirinya saat mengawal Athar.
Athar tak menyahut. Tangannya terkepal dan matanya menyorot tajam pada pemandangan tak jauh darinya.
Bukan, bukan pemandangan laut yang tengah ditatapnya. Melainkan sebuah pemandangan dimana dua orang yang tak pernah ia relakan untuk dapat bersama kini malah sedang duduk berdua.
Maka tanpa menunggu lama, ia segera melangkah cepat kesana.
...πππ...
Bersambung.
Ini Part terberat yang ku update di saat pikiranku sama sekali gak ada di novel ini.
Gak mood pake banget. π
*