AL-THAR

AL-THAR
#63. Sabar



Lanjut!


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Mas Rhino!"


Mira buru-buru menghampiri bodyguard sekaligus sopir yang ternyata telah siap menunggunya di lobby.


"Kenapa, Non?"


"Kamu pasti tau kan bos kamu ada di mana? Ayo deh kasih tahu aku," cecarnya.


"Saya nggak tahu, Non."


"Bohong?"


"Bagaimana kalau Non Mira telepon Pak Teguh saja? Kemungkinan Pak Teguh tahu di mana Mas Athar sekarang."


"Ya ampun. Masa mesti telpon ke Bogor dulu, buat nyari orang yang ada di sini."


Rhino tak menyahut. Itu membuat Mira mau tak mau mengeluarkan hpnya juga. Dia menggerakkan tangan seolah mengipas. Mengapa cuaca terasa panas begini padahal dia baru saja berendam selama satu jam lamanya, kemudian berlanjut makan siang di pinggir pantai selama satu jam pula. Fyi, hotel yang Mira tempati berada tak jauh dari pantai.


"Bang Athar di mana sih, Pak Teguh? kasih tau aku dong. Soalnya dia lagi marah sama aku." Tanpa basa-basi ia segera mencecar pria tua itu. Soalnya dia mesti segera menyelesaikan kesalah pahaman ini, sekaligus meminta maaf untuk yang kesekian kalinya.


Mira kini tahu kalau kebodohannya saat Ryo memeluknya adalah kesalahan fatal yang membuat Athar mesti melakukan adegan menjijikkan dengan wanita lain. Terlepas itu benar atau salah, yang pasti dia dan Athar memang mesti segera duduk berdua dan meng-clear-kan masalah mereka secepat mungkin.


"Loh ... kok malah nanya saya, Non?"


"Udah deh, Pak Teguh jangan kebanyakan ngeles. Kebiasaan nih kalo nanya pas Abang lagi marah, pasti Pak Teguh gak mau jawab."


"Jadi Mas Athar gak kasih tau Non?"


"Tuh kan, pake diperjelas segala. Kalo aku tahu ya gak perlu tanya Pak Teguh kali."


"Oh iya ya, Non."


Mira menghela nafas. "Udah buruan jawab, Pak. Sebelum aku nangis nih."


"Iya, Non, iya. Mas Athar itu udah berangkat ke bandara sejam yang lalu loh."


"Ban ... dara?" mendadak hati Mira lemas. Dan dugaan-dugaan yang memenuhi kepalanya sekarang membuatnya hatinya berdebar takut


"Iya, Non. Bandara. Katanya Mas Athar ada pekerjaan penting di New York selama sebulan."


Mira berdebar. "...."


"Pan–pantesan hpnya gak bisa aku hubungin ..." lirih Mira tak tertahan. Seketika perasaan ingin menangis pun melanda. Tapi sebisa mungkin ia tahan. "Berarti ... bang Athar udah ... terbang ... ke New York?"


"Iya, Non. Maafin saya karena gak berhak menasehatinya. Bagaimanapun Mas Athar tetaplah atasan saya. Sebenernya saya ingin sekali mengatakan kalau sebaiknya dibicarakan dulu baik-baik dengan Non Mira, apa pun itu masalahnya. Tetapi, memang tabiat Mas Athar yang agak kurang sabar serta emosian, makanya terjadilah hal seperti ini."


Mira tak menyahut. Karena dia diam-diam sudah terisak.


"Non Mira ... sabar ya ... Mas Athar cuma butuh waktu untuk tenang sepertinya. Dia menjauh lantaran karena dia ingin meredam amarahnya. Pekerjaan adalah sebuah pelarian yang paling pas bagi Mas Athar saat mendapat masalah."


"Ya tapi– gak pergi tanpa bilang-bilang begini juga kali, Pak. Aku kan ..." masih istrinya.


"Sabar, Non. ... saya cuma bisa bilang; sabar ...."


"Iya, Pak. Makasih."


"Nanti kalau Mas Athar sudah mendarat di New York, pasti hpnya sudah bisa dihubungi."


itu kan masih lama. Itu juga kalo dia mau bales chat gue. hiks


"Iya ..."


"Mas Athar itu anak manja sebenernya, Non. Dari yang saya perhatikan, karena Non bermanja sama dia, maka dia merasa perlu bersikap lebih dewasa. Tapi padahal, tetap ada sisi manja, gak sabaran, serta sifat gak mau mengalah yang mas Athar miliki."


"Terus aku mesti apa, Pak? Dia salah paham sama aku. Ya emang sih ... aku juga merasa bersalah. Tapi kan ... bisa dibicarakan baik-baik."


"Non Mira sabar ya, beri mas Athar waktu hingga marahnya reda. Karena saya jamin, mas Athar gak bakalan lepasin Non Mira gitu aja."


"Aku gak bisa, Bryan ..." Shelia yang awalnya sedang duduk manis di cafe seorang diri, kini tengah berhadapan dengan ayah dari anak yang dalam kandungannya itu.


"Why? Kenapa lagi, Shelia? bukankah kita sudah sepakat. Bahkan ibu kamu dan kedua orang tuaku sudah merestui."


Shelia menggeleng perlahan. "Kita beda keyakinan masala terberatnya."


"Siapa bilang?"


"Hah?" dia mendongak.


"Sudah lima bulan aku menjadi seorang mualaf, Shelia. Itu murni karena keinginanku. Bahkan itu terjadi sebelum aku mengetahui tentang kamu dan anak kita."


Shelia benar-benar terpaku tak percaya. Sungguhkah begitu kenyataannya?


"Sekarang kita menikah dulu demi menyelamatkan kehormatan keluarga kita. Sebenarnya kalau keluargaku sih tidak terlalu jadi masalah. You know kehidupan di sana seperti apa. Tapi untuk keluargamu, ibumu terutama, maka pernikahan ini penting. Nanti, setelah anak kita lahir, sudah pasti kita akan menikah ulang. Begitu kan tata caranya?"


"... iya sih ...."


"So, lakukan secepatnya agar ibumu tidak bersedih lebih lama. Tentunya, agar aku mulai memperbaiki diri dari dosa-dosa yang telah aku lakukan."


Shelia berdehem. Dia tersindir pastinya kalau bicara masalah dosa. "Ehm ... ya ...."


Senyum merekah dari bibir Bryan yang tampannya paripurna itu. "Kapan? Akhir minggu ini?"


"Cepet amat!" Shelia melebarkan matanya. "Sabar dong,"


"Lebih cepat lebih baik. Kan kandungan kamu juga semakin besar. Aku ingin menjagamu, Shelia. Kita bersama-sama menjaga anak kita. Unlike us, our child does't sin. Maka aku ingin mengajarkannya yang baik-baik agar tidak seperti kita."


"Anak kita belum lahir, kali."


"Sekali pun begitu," ucap Bryan dengan senyuman.


"Dua minggu lagi. Aku butuh persiapan."


"Mau seperti apa pernikahan kita?"


Shelia menggeleng pelan. "Aku gak mau besar kayak Mira. Nggak, bukan yang kayak gitu. Cukup dihadiri keluarga kita dan teman-teman yang kita percaya saja. Hanya itu."


"Kenapa? Aku bisa memberikan pesta pernikahan seperti adik kamu, Shelia."


"Tapi aku nggak mau. Lagian, mau disembunyikan di mana perutku ini, hah?"


"Buatku tidak masalah."


"Tapi aku masalah!" tukas Shelia dengan suara meninggi. "Udah deh, jangan bikin aku bete. Aku tuh lagi laper,"


"Oke, mulai hari ini kamu mau makan apa pun aku yang akan bertanggung jawab."


"Gue punya duit, kalee. Duit gue banyak." Bukan tersinggung sebenernya, Shelia hanya ingin membuktikan kalau dia lebih dari mampu kalaupun Bryan tidak bertanggung jawab atasnya.


"Tapi aku mau andil dalam memberi makan anakku sejak dalam kandungan."


Shelia melongo. "Gitu ya."


"Tentu. So, kamu mau apa? Aku yang akan pesankan."


...🍈🍈🍈...


"Ah gilaaaaaa ... nikmat mana lagi yang kau dustakan, Abaaayy!"


...**********************...


Yang terakhir itu cuplikan buat besok. πŸ˜‰


Makasih BANGET buat kalian yang masih setia di lapak aku ini. Komenan kalian yang bikin aku semangat buat tetep lanjut di sini. Sebab aku sempet kepikiran buat nyelesain versi Nt tuh ya sampe Mira hamil doang. Dikit aja. Padahal belom kelar aslinya, alias mau pindah lapak. Tapi kalian yg setia kasih, like, hadiah, vote dan komenan dari Almira awal setia sampe part ini, itu yg bikin aku semangat. Kritik atau sebel sama tokoh ga masalah buat aku. Tapi kalo cerita, ya ini emang begini ceritanya. kalo kalian suka silakan baca, kalopun ngga ya sudah tinggalkan saja.


sekali lagi makasih, ya semua. Maaf jarang update. Aku sempet sakit, trus anakku juga sakit dan baru sembuh. Jadi ya begitulah. πŸ˜‚


...***...