AL-THAR

AL-THAR
#81. Tim Bubur Aduk vs Tim Bubur Cantik



"Kamu kenapa, Ki?" tanya mama Pertiwi setengah cemas yang mendadak merayapi hatinya.


"Lo kenapa, Cak? Mabok darat nih pasti?" Ibram, yang sudah pasti lebih khawatir lagi karena melihat adiknya mual-mual. Ditambah kenapa mualnya mesti di rumah orang?


"Mual ..."


Semua mata memiliki lirikan yang terlalu kentara menurut Ghani. Lirikan curiga terhadapnya walau hanya sekian detik saja. Lantas karena tak tahan dengan aura fitnah yang samar-samar dirasakannya, Ghani menggebrak meja dan membuat semua perhatian tertuju kepadanya.


"Kalian semua kenapa sih? Gue bersih ya," lalu ia menoleh kepada mama. "Ma, aku gak pernah deketan sama dia, apalagi nempel-nempel. So, musnahkan pikiran buruk kalian semua."


"Yakin?" Shelia menyeringai.


"Gue bukan lo ya," elak Ghani yang membuat Shelia mencibir.


"Berarti gak ada calon cucu ketiga, 'kan?!" tanya mama menegaskan kembali. Ghani hanya memijat keningnya saja dengan pasrah.


"Terserah."


"Kayaknya maag aku kambuh deh, Tan," ungkap Kiara sambil meringis. "Semalem emang gak sempat makan malam. Trus tadi pagi gak sempat sarapan juga. Dan siangnya makan sedikit doang."


"Kok bisa, Ki? Emangnya lo sibuk banget ya?" tanya Mira. Heran 'kan, mana bisa melewatkan makan malam ditambah juga gak sarapan kalau itu dirinya. Rugi, cuy!


"Nggak sibuk, Kak. Tapi makan malem di rumah aku dihabisin sama monster," tunjuk Kiara pada Ibram yang berada di sebrangnya.


"Masa, Cak? kok gue gak merasa ya?" elak Ibram merasa tak berdosa.


"Pantes buncit! saingan lo sama gue," sahut Mira.


Ibram yang panik karena dikatain buncit, kini meraba-raba perutnya. "Nggak buncit kali, Kak ... amit-amit ...."


"Dah dah," mama menengahi. "Mending sekarang kita makan buburnya, keburu dingin, keburu maghrib juga. Dari pada kelamaan obrolan gak gunanya, nanti maag Kiara tambah parah. Kamu bisa makan gak nih, Ki?"


"Bisa, Tante. Aku mesti makan walau sedikit."


"Nah iya deh bagus kalau begitu."


"Oke." Shelia bangkit dengan bayinya dalam gendongannya, dan mengisyaratkan Ghani untuk mendorong mangkuk buburnya agar mendekati adiknya itu. Begitupun dengan mama yang menepi ke kursi di samping Ghani.


"Kok pindah, Kak?" tanya Ibram kepada Shelia.


"Ini saatnya lo memilih dalam hidup lo, Bram."


"Maksudnya?" baik Ibram maupun Kiara keduanya sama tak mengerti.


Sedangkan Mira telah siap membuka buburnya.


"Lo makan bubur mesti diaduk kayak lumpur, atau dimakan sesuai dengan keadaannya normal, rapih, manusiawi dan terlihat apa adanya?"


"Kalo Kak Sheli?" Kiara yang bertanya.


"Pastinya gue makan dengan manusiawi, Ki."


"Oke, sama." Kiara bergeser mendekati kursi Shelia. Itu artinya gadis itu bergabung dengan tim Bubur cantik.


Ibram menoleh pada Mira dengan senyum manisnya. "Bubur aduk?"


"Bubur aduk dong!" Mira menyambut senyum manis Ibram dengan senyum yang tak kalah manis juga. Ia bahagia. Karena selama ini, sejak ia lahir, di dalam keluarganya, hanya dirinya lah yang makan bubur mesti diaduk-aduk dulu baru kemudian dimakan.


"Oke, tim. Yuk makan!" ujar Shelia.


"Assalamu ... 'alaikum– heh, lo! Pindah tempat!" tunjuk Athar pada Ibram.


"Iya, Bang, iya. Sorry." Ibram agak menjaga jarak dengan kursi Mira. Karena barusan, sebagai tim bubur aduk Ibram duduk terlalu dekat dengan Mira.


"Abang mau bubur?" Mira menawari suaminya sesaat setelah Athar duduk di sampingnya. Sebelumnya, suaminya itu mencium tangan mertuanya lalu giliran Mira sendiri mencium tangan Athar dengan sayang.


"Makan, Thar," kata mama. "Ini bubur langganan Mama. Di jamin mantep tep."


"Iya, Ma." Athar tersenyum.


Mira menyodorkan seporsi bubur yang sejak tadi memang masih tersedia dua porsi lagi. Buat jaga-jaga, kalau-kalau bumil atau busui ada yang mau nambah porsi, begitu pikir Ghani.


"Sepulang Mama dari Aceh, kalian tunangan ya," ucap mama sekonyong-konyong. Tentunya kalimat itu ditujukannya untuk si bungsu.


Ghani menghentikan suapan buburnya. Sedangkan Ibram tersedak dan Kiara merasa cukup terkejut.


"Se–secepat itu, Tan?"


Mama mengangguk. "Lebih cepat lebih baik. Mama pengen anak-anak Mama semua menemukan kebahagiaannya. Cuma itu."


Ghani bangkit dari kursi. Lalu tanpa suara meninggalkan meja makan sekaligus buburnya yang baru tersentuh beberapa suap saja.


...***...


"Hm, kayak pernah kenal."


"Kamu Mira, 'kan?!"


"Nah kan, kok kamu tau saya?"


"Kita pernah ketemu beberapa tahun yang lalu."


"Oh ya? Di mana?"


"Di rumah kamu."


"Ha?"


Mira mencari memorinya yang telah lampau. Kira-kira di mana ia menemukan cowok ganteng yang sekarang sedang berdiri di teras rumah di depannya itu. Perasaan, masa lalu Mira itu suram ya. Kok bisa ada kegantengan hakiki yang kelewat dari matanya?


Itu tidak mungkin, Marimar!


"Siapa?" Tau-tau Athar telah melingkari tangannya di bahu Mira dan menatap tajam pada cowok di depan Mira.


"Gak tau– eh, gak inget–" Mira memberi cengiran garingnya kepada cowok itu. "Mas ini pernah ke rumah saya dalam rangka apa ya?"


"Saya–"


"Hei!" Shelia keluar dari dalam rumah. Ia tersenyum pada si cowok. "Sorry lama. Habis ganti popok baby aku," katanya dengan ramah. "Duduk, Wir!" Shelia menatap pasutri di dekatnya. "Kalian mau kenalan?"


Hah?


"Jangan bilang kalo–" Mira mampu menduga satu hal dengan cepatnya. Memangnya apa lagi alasannya, kan?


Dan rupanya dugaan Mira benar. Buktinya sang kakak, Shelia, mengangguk dengan senyum manisnya untuk loading cepat sang adik. Tumben. "Iya, betul. Ini Wira, mantan gue dulu. Dan kalo lo gak inget, si Wira ini yang lo panggil Dylan itu."


...* * *...