AL-THAR

AL-THAR
#52. Nasi Uduk.



Happy reading!


Mira tak menyangka kalau reaksi Athar bakalan semarah itu. Ya memang sih, Mira sendiri merasa kalau itu bukanlah sebuah masalah kecil. Hanya saja, kan bukannya ia berniat untuk tidak memberitahu suaminya itu. Karena memang ia sendiri butuh waktu agar sanggup mengatakan perihal boneka teror yang sangat mengerikan itu.


Tentu saja, Mira syok.


Tapi Athar yang khawatirnya kelewatan itu jatuhnya malahan marah karena Mira baru menceritakan masalah itu bahkan setelah tiga hari berlalu. Meskipun alasan kesehatannya adalah hal yang nyata, tapi Athar tetap tak dapat menerima bagian terlewatkannya.


Ketika Mira bangun di pagi harinya, tubuhnya yang mulai terasa sedikit lebih bertenaga itu berusaha mencari keberadaan Athar sejak dari lantai dua, menuju lantai satu.


"Bang Athar kemana ya, Pak Teguh?" tanyanya kepada kepala urusan rumah tangga di rumah itu. Pak Teguh yang mengatur segala keperluan urusan rumah, sekaligus mengurus keperluan Athar yang masih dalam tugasnya.


"Mas Athar sudah berangkat, Non."


"Ke kantor?"


Pak Teguh tersenyum tenang seperti biasa.


Sepanjang Mira mampu mengenal karakter lelaki paruh baya di hadapannya itu, maka sosok Pak Teguh adalah lelaki bijak yang sebisa mungkin untuk selalu mengatakan hal yang jujur kepada Mira. Ketika lelaki itu tak mampu mengatakan hal mengenai tuannya yang mesti dirahasiakan, maka saat itulah senyumnya terbit sebagai pengganti jawaban jujurnya.


Mira memutar bola matanya. "Bang Athar kemana nih? Ayolah, Pak Teguh jujur sama aku. Nanti aku traktir es krim." Satu hal yang Mira tahu juga kalau lelaki berumur itu amat menyukai es krim. "Tapi gak boleh banyak-banyak. Gak baik buat kesehatan orang tua."


"Non bisa aja," Pak Teguh mesem-mesem mendengar tawaran es krim kepadanya. "Mas Athar cuma bilang ada urusan. Non gak usah khawatir katanya. Nanti Mas Athar bakalan telepon."


Mira menggigit apel yang ada di meja makan. "Ya udah. Panggilnya jangan 'Non' apa sih, Pak Teguh," protesnya untuk yang kesekian kali.


"Kan kalau dipanggil 'nyonya', Non gak mau."


"Iya sih,"


"Mau sarapan apa, Non Mira?" tanya bi Lilis yang datang menghampiri.


"Ini lagi makan apel, Bi," tunjuknya singkat pada apel di tangannya. "Anggap aja lagi sarapan. Akunya lagi kurang nafsu makan soalnya."


"Kata Mas Athar si Non mesti sarapan. Biar bisa minum obat sesudahnya."


Iya sih, gue mesti minum obat terus sampe bener-bener pulih. Dih, si dokter malahan ngasih obatnya banyak banget.


Mira melirik nasi goreng, roti, salad, dan susu yang tersedia di meja tanpa minat. Biasanya ia memang paling suka menyantap nasi goreng, tapi kali ini ia malas melihat semua itu. Sangat tak berselera.


"Aku maunya nasi uduk, Bi," ucap Mira datar sambil menatap kepada bi lilis.


Wanita paruh baya itu menoleh sebentar kepada Pak Teguh, dan setelah Pak Teguh memberi anggukan maka si bibi berkata lagi kepada Mira, "Ditunggu sebentar ya, Non. Pak Teguh yang akan menyuruh orang buat membeli nasi uduk."


"Yah lama dong, Bi, Pak," sahut Mira tak setuju sambil menatap keduanya bergantian.


"Nggak akan lama kok, Non," pungkas Pak Teguh. "Segera sayaโ€“"


"Eh gak usah, Pak," cegah Mira. "Aku mau pergi cari sendiri aja," ia bangkit dari kursi, masih dengan apel di tangannya.


"Mau cari kemana, Non?" Pak Teguh melongo. "Non kan masih sakit,"


"Ish, aku udah sembuh." Mira tersenyum menenangkan. Semoga kedua orang itu bakalan menurutiโ€“


"Maaf gak bisa, Non. Mas Athar bilang Non Mira belum boleh keluar rumah."


ini nih yang bikin sebel. Mereka lebih nurut sama Tuannya dibandingkan gue..


"Tapi aku mau cari nasi uduk sendiri, Pak Teguh!" Mira bersikeras. Bahkan suaranya jadi terdengar kesal.


Akhirnya Pak Teguh menghela nafas pasrah. "Ya udah, biar sayaโ€“"


Mira menggeleng. "No. Aku maunya sama yang masih muda. Biar kalo aku pingsan di jalan, mereka bisa gendong aku. Kalo Pak Teguh kan udah tua, aku kasihan," dalihnya setengah bercanda. Padahal Mira tak berniat mengganggu pekerjaan lelaki tua itu yang pastinya banyak setiap harinya. Terlebih, rumah samping sedang dalam perbaikan beberapa ruangannya, dan itu adalah tugas Pak Teguh untuk selalu mengontrol agar sesuai dengan maunya Athar.


Emangnya rumah samping mau dibuat apa sih selain ada tempat gym pribadi?


Mira penasaran, tapi dia tidak boleh kesana kalau tidak bersama dengan Athar.


"Oh gitu ..." dan dengan polosnya Pak Teguh percaya. "Tapi kan kita naik mobil, Non."


"Emangnya mau beli nasi uduk di Jakarta ya, Pak? Orang aku mau carinya di perumahan sebrang komplek kita."


"Tapi Non Mira masih lemes loh,"


Mira menggerakkan tangannya seperti sedang bersenam. "Tuh tuh, aku sudah kuat, Pak. Tenang aja."


...๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ...


"Kenapa kamu bercerai?" tanya Shelia.


Dia menyerah. Entah kenapa setelah beberapa kali Bryan mendatanginya secara terang-terangan, sebuah keinginan muncul di sudut hatinya perihal kesabaran. Ya, ia ingin mencoba untuk sabar menghadapi Bryan, dan mencoba bicara serius tentang masa depan mereka demi anak yang berada dalam kandungannya.


"Dia terlalu pendiam. Lebih dari itu, dia masih memiliki kekasih meskipun kami telah menikah. Kamu tahu, aku laki-laki bodoh yang akan meneruskan rumah tangga bila istriku memiliki pria lain."


siapa suruh terima perjodohan. Emang enak!


"Lalu orang tuamu? Bagaimana reaksi mereka saat kamu berpisah?"


"Mereka bisa apa? ini hidupku. Walaupun mereka sudah berupaya menjodohkan kami demi perusahaan mereka, tapi yang menjalani pernikahan adalah aku."


"Telat banget sih. Sebelum nikah gak gitu deh ngomongnya," gerutu Shelia pelan sambil menggigiti sedotannya. Tapi ia tahu kalau Bryan mendengar gerutuannya barusan.


"Dengan mengorbankan kebahagiaan sendiri? bullshit."


Bryan menyentuh sebelah tangan Shelia dan mengusapnya pelan. Bahkan saat Shelia hendak menarik tangannya sendiri, Bryan tak melepaskannya.


"Kamu lebih tahu dari siapapun seberapa baiknya sikapku terhadap kedua orang tuaku, Shelia."


Mata Shelia sejenak menatap mata biru Bryan.


emang bener sih, dia bule tapi patuh banget sama orang tuanya.


Shelia berdehem. "Trus, apa kamu sudah memberitahu mereka tentang aku yang ...."


Bryan menatap Shelia lekat lalu mengangguk sekali, tanpa kata-kata. Hal itu membuat Shelia penasaran setengah mati. "Trus reaksi mereka apa? Gimana?" tanyanya tak sabar.


Bryan menyunggingkan senyum lebarnya. "Aku diperintahkan untuk membawa kalian," matanya melirik sesaat pada perut Shelia. "... untuk bertemu dengan mereka."


"Kedua orang tuamu mau apa?" entah kenapa perasaannya malah was-was, bukan bahagia.


"Mereka ingin kita merundingkan tentang masa depan kita bertiga, Shelia. Kedua orang tuaku memintaku untuk segera menikahimu dan kita akan tinggal di York. Ah tidak, aku belum memutuskan apa-apa mengenai tempat tinggal. Itu semua terserah padamu. Dengan kamu setuju kita menikah saja bagiku itu sudah lebih dari kebahagiaan. Maka bila kamu minta kita akan tinggal di Indonesia ataupun di York, aku tidak ada masalah apapun."


Speechless.


Shelia tak tahu mesti mengatakan apa. Inginnya ia segera menolak, tapi sebagian hatinya berkata lain. Oh sialan, kenapa hatinya menjadi labil begini?


"Gimana?" Bryan menanyakan kembali.


"A-aku belum memutuskan."


"Kamu masih belum percaya padaku?"


"Of course. Dulu kamu selingkuh dari aku, makanya ketika kamu menikah kemarin, kamu diselingkuhin sama istri kamu."


"Maaf, Shelia ...." ucap Bryan setulus hati.


"Sudahlah, Bryan. Biar aku memikirkan dulu semua ini," putusnya.


"Berapa lama?"


"Terserah aku dong!"


...๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน...


Mira benar-benar membuktikan kalau tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dari empat hari yang lalu. Obat yang mahal, dokter yang hebat, begitu pikir Mira tentang mengapa dirinya bisa pulih secepat ini. Rebahan selama tiga hari tentunya membuat ia kangen dengan udara sejuk di luar. Maka keinginannya untuk mencari nasi uduk di pagi hari adalah hal yang tepat untuk sekalian menyapa kembali dunia luar.


Tidak dengan kendaraan sama sekali, sesuai dengan inginnya saat ia berjalan mencari nasi uduk.


Kan sekalian olah raga kalo jalan kaki begini, tapi ...


Mira gak sendirian, Pemirsah!


Di belakangnya ada dua orang bodyguard yang Pak Teguh perintahkan untuk mengikuti Mira berjalan menuju perumahan seberang.


"Kita jadi kayak trio deh jalannya bertigaan," ucap Mira terkekeh.


"Oh maaf, Non." kedua orang pria berbadan besar itu segera memundurkan langkahnya agar berjarak. Padahal Mira gak keberatan sedikitpun.


"Eh, gak papa kali. Kalo kalian di belakang aku begitu, jadi aku kayak artis, dan kalian itu dancernya."


"Maaf, Non." hanya itu sahutan dari keduanya.


dih, kaku amat sih.


Mira menyerah. Dia melanjutkan kembali langkah pelannya sambil menikmati udara pagi.


"Nasi uduk, dimana kau berada?" gumamnya pelan. "Aku mencarimu. Aku merindukanmu. Akuโ€“ haduh, jadi pengen nasi uduk di warung Mpok Leha di deket rumah di Jakarta. Tapi ... keburu kelaperan cacing-cacing di perut gue kalo mesti ke Jakarta dulu. Hadeehhh ...."


Mira yang awalnya matanya mencari-cari lapak penjual nasi uduk, kini matanya malah menangkap sosok yang dikenalnya di kejauhan.


Tidak, itu tidak terlalu jauh. Hanya di seberang, yang terpisah oleh dua jalur kendaraan dengan tempatnya berdiri sekarang. Yakni di depan komplek perumahan dimana rumah Athar berada.


"Bang Athar? Kok di sana?"


Mira berupaya menegaskan kembali penglihatannya, dan ternyata benar kalau di kejauhan itu adalah Athar. Yang saat ini suaminya itu sedang terlibat obrolan serius dengan seorang pria berkacamata hitam, dan belum menyadari keberadaan Mira.


Jadi pengen kasih kejutan, hihi


Tanpa aba-aba, tanpa basa basi, Mira melesat begitu saja dari tempatnya berdiri. Dia berlari meninggalkan dua orang bodyguard yang nampak pias karena tak berdaya menyaksikan Mira telah berlari ke seberang.


Saat itu, Mira hanya fokus pada Athar seorang. Dia bahkan tak melihat kalau jalanan sedang ramai oleh kendaraan. Dan Mira tahu-tahu menoleh pada kendaraan yang tiba-tiba terlihat amat cepat dan tepat menuju pada dirinya.


...***...


eh, ada yang belum tidurkah?๐Ÿ˜‚


Maaf aku lagi banyak urusan dunia nyata, jadi gak sempat fokus nulis. ๐Ÿ˜…


tengkyu yang masih mau baca ๐Ÿ˜˜


***