
Happy Reading! πππ
Β \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"A, Bang," Mira menyodorkan sesendok potongan anggur yang terdapat di dalam es buah, ke depan mulut Athar. Baik Athar ataupun Cassandra menoleh ke arahnya.
Lalu dengan santai Athar menerima suapan dari Mira yang sebenarnya memiliki maksud dan tujuan melakukannya. Yakni, ingin memanas-manasi Cassandra yang tak menganggapnya ada padahal statusnya kini adalah sebagai istri Athar. Andai lampir itu tahu.
glek
istri.
"Plis deh," ucap Cassandra sambil memutar bola matanya disertai decakan tak suka.
"Lo duluan aja, San." Athar mengambil tangan Mira yang sedang mengaduk-aduk es buah tadi. Lalu dia membawa tangan Mira beserta sesendok berisi buah anggur lagi ke dalam mulutnya. "Gue besok udah janjian sama Profesor."
Mira mengerling mata sedikit ke lampir berbentuk Cassandra. uhuy, jadi obat nyamuk deh. Apa jadi kambing?
"Oh ya udah," sahut Cassandra dengan ketus.
"Kak," Mira membuat cewek itu menatap matanya dengan malas. "Salam ya buat Ferow," katanya sambil menyengir lebar. Kan seingat Mira, Cassandra pernah bilang kalau dia bakalan dapetin Ferow.
"Nggak usah." itu suara Athar. "Gak perlu sampein salam apa-apa," ucapnya kepada Cassandra.
jeh, lupa. ada yang bucin di sini.
"Tanda tangan aja deh, Kak," pinta Mira.
"Nggak perlu." sekarang Athar menatap tajam kepada Mira.
segitunya, ck ...
Keduanya saling tatap tajam tanpa ada yang berniat untuk mengalah.
"Gue nggak bakalan percaya, Thar, kalau lo sebucin ini sama cewek macem kayak gini." Cassandra suaranya meninggi. Dia heran. Luar biasa dia heran. Mana mungkin Athar yang kecenya nomor wahid sejagat kampus, harus bertekuk lutut buat cewek macam Mira?
"Kalau ceweknya kayak yang tadi nyamperin lo, itu baru gue percaya."
waduh, cewek mana nih?
"San, lo gak usah ikut campur urusan pribadi gue." Athar berkata tegas, dan Cassandra tak sebebal itu untuk mengerti dan segera angkat kaki dari sana. Mira tak terlalu lega meskipun Cassandra telah terhempas jauh.
"Cewek siapa?" Mira yang penasaran juga kini bertanya kepada Athar.
"Sheli."
"Oh yang tadi." Mira menghela nafas lega. Kirain oh kirain.
"Kenapa?" Athar balik tanya dan menatap Mira menuntut.
"Gak papa. Cuma penasaran aja," mana mungkin Mira mengaku kalau dia memiliki rasa takut saat mendengar satu kata ... cewek.
"Habisin es buahnya."
"Emangnya Abang udah kenyang?"
"Hm."
Mira menghabiskan sisa es buah di mangkuknya. "Bang."
"Hm?"
"Jangan bilang siapa-siapa ya kalau kita udah nikah." Mira melirik cemas saat mengucapkannya. Dan seperti dugaannya, Athar kini menatapnya dengan keberatan.
"Kenapa?"
gue mesti jawab apa? gue juga bingung.
"Gimana ya," dia berfikir. "Aku malu."
Mata Athar semakin melebar. "Kamu malu menikah sama aku?"
Mira segera menggeleng. "Bukan itu. Justru sebaliknya, aku takut gak pantas ... bersanding sama Abang."
Apalah diri gue. Rasa gak percaya itu masih besar, karena gue yang dipilih dia jadi istrinya. Serasa mimpi.
Athar mengelus lembut sebelah pipi Mira. Tatapan hangat penuh cinta yang Mira tengah rasakan kini.
"Tenang aja, gak akan ada yang berani gangguin kamu."
"Gangguin sih nggak, tapi bisik-bisik ghoib mereka kedengaran sama aku."
"Bisik apa?"
"Jadi gini loh, Bang," Mira menceritakan perihal kejadian beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat mereka belum menikah. Beberapa kali dia mendengar pembicaraan yang selalu mengatakan kalau Athar tidak pantas memiliki pacar seperti dirinya. Athar yang sempurna, mengapa harus memiliki pacar seperti Mira yang penuh kekurangan?
"Mereka haters aku."
Athar tersenyum geli. "Nanti aku basmi haters kamu."
"Ya jangan gitu juga, kali."
"Trus gimana? Gimana caranya supaya kamu gak dengerin omongan sampah mereka? Aku gak mau kamu sedih loh,"
Mira mengerjap. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Mira. Ternyata Athar setulus itu sama gue.
"Aku gak sedih kok, Bang."
"Trus marah?"
"Nggak juga." gue cuma merasa gimana gitu. "Cuma risih aja,"
"Gak perlu kamu dengar omongan sampah mereka. Gak penting. Yang menjalani itu kit. Aku sama kamu," tangan Athar kini membelai rambut Mira. "Awas aja kalau sampai aku yang dengar."
Duh nyeremin sih dia.
emang sih, memilih dia berarti gue kudu kuat lahir bathin dalam menghadapi nyinyiran netizen.
"Iya ... nggak." akhirnya Mira berucap.
"So, gak perlu kita menutupi kenyataan kalau kita sudah menikah. Oke?!"
gimana ya,
"Hm?" Athar menjepit dagu Mira dengan kedua jarinya.
"Iya deh."
.
.
"Loooohhh ... menantu Mama kemana?" tanya Mama saat Mira baru sampai di rumah.
Mira langsung menuju meja makan. Memang, hari sudah gelap saat ia akhirnya tiba di rumah. Tadi siang, setelah hampir dua jam dia nongkrong di kantin, lalu dia mengajak Athar untuk menemaninya mencari kado di mall untuk hadiah ulang tahun Abay besok.
"Jangan lebay. Mana Athar?"
"Bang Athar pulang ke rumahnya sebentar katanya. Mau ambil laptop sama ganti baju."
"Kenapa nggak suruh orangnya aja? kan orangnya dia banyak."
Mira mengendikkan bahunya. Dia mencomot perkedel yang ada di hadapannya dan melahapnya. "Bang Athar gak suka kayak gitu kok, Ma. Selagi dia masih bisa melakukannya sendiri, dia gak bakal nyuruh-nyuruh orangnya. Kecuali dalam urusan yang lain."
"Maksudnya urusan yang lain?"
"Ya selain hal remeh temeh gitu deh." Mira bangkit. "Udah ah, aku mau mandi."
"Kamu sudah makan malam?"
"Udah tadi di mall."
Mira segera masuk ke kamar mandi ketika dia telah sampai di kamar. Sambil membersihkan tubuh, tiba-tiba saja otak cantiknya mengingat akan sesuatu yang hari ini terlupakan.
Makalah.
Astaga naga bah!
Cepat-cepat ia menyelesaikan mandinya. Berganti pakaian dengan piyama, dan langsung fokus di depan meja belajarnya. Bahkan entah sudah berapa lama dia fokus di depan laptopnya, hingga tidak menyadari kedatangan Athar yang telah memasuki kamarnya.
Sebuah kecupan di lehernya, membuat Mira terperanjat dan menoleh tajam. "Kok Abang ada di sini?"
"We're merried." Athar mengecup singkat bibir Mira, dan ia segera berjalan menuju kamar mandi.
"Oh iya, lupa. Gue udah nikah. Gara-gara makalah sialan, otak gue jadi error." Akhirnya Mira kembali fokus ke tugasnya, dan dia teringat sesuatu lagi. "Bukannya Abang udah mandi pas pulang ke rumah Abang ya?" tanyanya setengah berteriak.
"Cuma cuci tangan, Sayang." balasan Athar membuat Mira diam dan kembali fokus pada tugasnya. Begitu ia melihat Athar keluar dari kamar mandi, Mira menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Abang ..." ucapnya dengan nada memohon. "Bantuin aku yuk,"
Athar yang tengah membuka jaketnya di tengah ruangan pun berkata, "Makanya, tadi siang aku suruh pulang ya pulang. Punya tugas kok malah pergi main-main. Nongkronglah, jalan ke mall lah, inilah, itulah ..."
Mira mencebik. "Kalau gak mau bantu ya udah, gak usah ngomel-ngomel. Abang bawel ya ternyata." dia fokuskan lagi matanya ke arah laptopnya.
"Enak aja aku bawel,"
"Emang bawel," gerutu Mira.
.
Sejam kemudian ......
Mira mendesah dan merutuk dalam hati. Gimana nggak, sejak sejam yang lalu ketika Athar datang, dia mengerjakan tugasnya sendirian. Sedangkan cowok yang statusnya telah resmi menjadi suaminya itu malah sibuk main game online sambil rebahan manja di ranjangnya.
Kata siapa Athar sempurna?
Nggak tuh.
Mira menoleh dari kursinya dan menatap sebal pada Athar yang terlihat super serius dengan hpnya itu. Kenapa cowok itu gak ada kasihannya dengan dirinya? Mestinya kan kalau cinta ya bantuin kesusahannya dalam belajar. Tapi apa? cowok itu malah asik dengan gadgetnya sendiri. Ngeselin banget!
"Ehem."
Athar tak mendengar dehemannya.
"Ehem."
"....."
"Ehem ehem ehem ehemβ"
"Minum sana, Al!"
Wah, gak peka ni cowok.
"Abang!"
"Hm ..."
"Kita tuh pengantin baru kan ya kalau aku gak salah ingat? tapi kok gak ada romantis-romantisnya?" protesnya dengan merajuk.
Seketika Athar mematikan hpnya dan segera meletakkannya di nakas. Dia tiduran miring menatap Mira. "Kamu tugasnya sudah selesai, belum?"
"Belum," sahutnya ketus.
"Ya udah selesaikan dulu."
Mendadak Mira merasa melow manja. "Capek ..." entah kenapa, hanya kepada Atharlah dia mampu bermanja-manja.
"Katanya mau romantisan? ya udah selesaikan dulu tugas kamu,"
"Romantis versi aku itu adalah Abang bantuin aku bikin tugas."
Athar terlihat berfikir sejenak. "Trus aku dapat apa?"
"Hah?"
"Kalau aku bantuin kamu, aku bakalan dapat apa?"
dapat apa? emangnya dia butuh apa?
"Abang maunya apa?"
"Menjelajah." Athar bangkit dan berjalan perlahan menuju meja belajar dimana Mira saat ini berada.
"Menjelajah?" Mira membeo. "Maksudnya?"
Mata Mira memindai bagaimana Athar mengecek tugasnya sambil berbicara.
"Menjelajah yang perlu dijelajah."
"Dih, gak jelas banget," gerutunya. "Abang mau menjelajah kemana emangnya? Yang jelas ngomongnya,"
"Menjelajah ini," sahut Athar sambil mengecup kepala Mira. "Trus ini," lalu dia mengecup singkat bibir Mira. "Dan ini," terakhir Athar mengecup dada Mira.
Refleks Mira menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya merona, dan pikirannya menjadi dewasa seketika.
Otak gue paham! Oh my god!
"Abang mesum!"
****
Seriuuuuuuuussssssss, like dan komen kalian aku tunggu-tunggu dan nambah semangat aku dalam menulis. π
*