
Mira duduk lesu pada sofa yang ada di kamarnya. Bahkan setelah beberapa menit ia merubah posisinya menjadi rebahan malas. Benar, Mira gak bergairah hidup.
Semua memang karena kesalahannya yang tidak tega untuk memusuhi Ryo. Karena bagaimanapun juga, Ryo adalah salah satu sahabat baik yang pernah dimilikinya. Lalu, saat semalam rayuan dan tingkah manjanya yang tertolak mentah-mentah oleh Athar, rasanya Mira enggan untuk bangkit dari tidurnya setengah jam yang lalu.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Mira malah tak berniat untuk bergerak. Ia bermalasan di sofa, entah sampai kapan hingga moodnya kembali baik. Sejak ia bangun, ia sudah tak menemukan keberadaan Athar di kamar mereka. Biasanya, Athar memang pergi jogging atau berolah raga di gym pribadi di rumah samping, yang mana Mira belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Karena memang Athar bilang, kalau tidak mendesak atau penting sekali maka sebaiknya ia tidak usah pergi ke rumah samping.
"Ini rasanya ... seperti kembali pada masa jomblo-jomblo abadi di waktu lalu," Mira bergumam sendirian. "Di manakah pangeranku berada?" ia mulai membawakan puisi karangannya yang tiba-tiba melintas begitu saja di dalam kepalanya.
"Sendiri itu adalah sunyi ... dan sunyi itu adalah sepi," Mira buru-buru menyadari, "Sunyi sama sepi kan sama bae-lah."
Sekarang dia mulai mendengarkan lagu yang baru saja ditemukannya di sebuah platform streaming musik. Lagu melow yang Mira nggak tahu siapa penyanyinya. Karena saat playlistnya berjalan acak, entah mengapa lagu itu turut muncul juga ke playlistnya. Dan lirik lagu tersebut persis apa yang dirasakannya sekarang.
...~Kapan lagi ... kau bilang I love you ....~...
kapan ya terakhir kali Bang Athar bilang begitu sama gue? rasanya udah lama nggak 😥 jadi pengen mewek ...
Mira mengganti lagu. Lagu yang tadi terlalu berat untuk hatinya yang sedang galau begini.
Hidup segan, mati belum niat.
Lalu lagu selanjutnya yang ia dengar adalah ...
...~Kuingin saat ini, engkau ada di sini...
...Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi...
...Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah...
...Bukannya diri ini tak terima kenyataan...
...Hati Ini Hanya Rindu~...
"Huaaaa ...." Mira mewek tanpa air mata, lebay. Dia merasa kalau Athar– "Gue jomblo lagiiii ..."
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Mira kaget luar biasa hingga terjatuh berguling dari sofa. Secepatnya ia bangkit dan menyengir kepada Athar yang kini tengah menatapnya datar.
"Eh, Abang."
"Kenapa kamu nggak turun-turun? Aku nungguin kamu di meja makan dari tadi." Athar berbicara dari depan pintu, dan sepertinya tak berniat untuk menghampiri Mira seperti biasanya.
Mira melangkah juga. "Iya, ini mau turun," ucapnya seraya meletakkan hpnya di sofa. Ntar ajalah baru dibawa. Sekarang makan aja dulu, mumpung juragan udah ngajak.
Tanpa menunggu Mira, Athar melangkah lebih dulu. Lantas seketika Mira menghentikan langkahnya dengan sebal.
cuekin aja terooooos.
.
.
Keduanya sarapan pagi dengan saling diam. Baik Athar ataupun Mira tak ada yang berniat untuk mengeluarkan suara. Kalau Athar bisa mendiamkannya seperti itu, maka Mira yang sudah berupaya meminta maaf pun tak akan lagi memaksa. Ya sudah, marah ya marah.
Kesal sih, tapi Mira berupaya meredam rasa kesalnya dengan fokus menyantap apa yang ada di hadapannya sekarang.
oke, kalo dia masih mau marah, ya udah marah aja.
"Kenapa kamu pergi sama dia?"
Pertanyaan Athar membuat Mira melambat dalam memasukkan makanannya ke dalam mulut. Dia mengangkat pandangan dan melihat Athar yang tengah menatapnya dengan tajam.
dia masih marah, tapi dia udah gak tahan buat bahas ini.
Mira berdehem sebelum menjawab. "Dia maksa aku,"
"Kenapa kamu nggak menolak?"
"Udah, Bang. Aku udah nolak. Tapi ..."
gak seratus persen begitu sih. Mira tidak mengangguk. "Dia maksa," akhirnya hanya itu yang mampu Mira ucapkan.
Athar membanting sendoknya dengan keras ke piringnya. Hal itu membuat Mira terkejut bukan main.
aduh gue takut. Dia kalo marah nyeremin banget sih. ya udah deh, diemin gue aja dulu kalo marahnya belum reda. gak usah marah, plis...
"Jadi kamu lebih pilih aku yang marah dibandingkan kamu nyakitin dia, begitu?" suara Athar meninggi.
Mira menggeleng cepat. "Bukan begitu,"
"Apa, Al, APA?"
Mira bingung mesti mengatakan apa yang dirasanya. Karena apapun pembelaan yang ada dalam pikirannya, maka itu akan tetap salah di mata suaminya.
"Aku ... cuma anggap dia ... teman ...."
"Tapi DIA NGGAK BEGITU! DIA SUKA SAMA KAMU! KAMU MASIH BELUM NGERTI JUGA?"
"Iya, maaf," cicitnya. "Aku gak tahu mesti gimana–"
"JAUHIN DIA!"
"Iya ..."
Athar membuang nafas kasar. "Aku benar-benar gak ngerti sama pikiran kamu. Sudah jelas aku melarang kamu buat dekat sama dia, tapi kamu malahan pergi sama dia. Ke pantai, berdua. ITU SALAH, AL!"
Seketika Mira mewek dalam diam. Air matanya luruh tanpa berniat ia cegah. Hingga ia terisak. Tapi rupanya itu tak cukup membuat Athar luluh seketika. Karena harga diri lelaki itu telah tergores. Bagaimana mungkin ia mendapati istrinya sendiri pergi dengan orang lain yang jelas memiliki perasaan berbeda? Bagaimana mungkin ia tak marah mendapati kenyataan bahwa istrinya pergi berduaan bahkan ke Jakarta tanpa sepengetahuannya?
"Maaf ..."
"Kalau kamu gak bisa menolak, telpon aku, Al! Beritahu aku! Bukannya malah nurutin dia dan kamu gak nurut sama aku. Aku itu SUAMI kamu!"
"Aku udah nolak tau, Bang. Aku udah bilang sama dia kalau Abang nanti bakalan marah. Tapi dia tetap maksa aku. Dia bukan marah sambil memaksa, tapi dia memohon. Itu yang bikin aku gak tega. Aku tahu aku salah, tapi– ini terlalu nyakitin,"
"Aku lebih sakit, Al ...."
"Maaf ..."
"BUAT APA KAMU MINTA MAAF KALAU KENYATAN KAMU PERGI BERDUAAN SAMA DIA ITU GAK BISA DIRUBAH. KAMU GAK TEGA SAMA DIA TAPI KAMU TEGA SAMA AKU? MIKIR, AL, MIKIR!"
Iya, gue bodoh. Gue gak bisa mikir, gitu kan maksudnya?!
"IYA, TAU. ABANG LEBIH SAKIT! ABANG YANG JADI KORBAN DI SINI. AKU YANG SALAH! AKU YANG PENJAHATNYA! KALAU SUDAH BEGINI AKU BISA APA? TOH ABANG JUGA SUDAH GAK MAU MAAFIN AKU, GAK MAU NGOMONG SAMA AKU, GAK MAU DEKET SAMA AKU. YA UDAH! TERSERAH! AKU NYERAH!"
Setelah meluapkan emosinya, Mira bangkit dari kursinya dan melangkah lebar menuju pintu keluar.
"KAMU MAU KEMANA, AL?"
Bahkan Mira tak mau mendengar teriakan Athar barusan. Dia terus saja berjalan sambil terisak, dan mengusap air mata yang seolah tak ada habisnya.
Para bodyguard yang ada di rumah itu tak ada yang berani menghalangi jalannya. Namun begitu tangannya telah mencapai pintu gerbang, ada sesuatu yang menahan tangannya itu agar langkah kakinya berhenti.
"Kamu mau kemana?" tanya Athar yang telah menyusul. Mungkin Athar tidak berteriak, tapi suaranya masihlah sama seperti tadi. Lelaki itu masih marah.
"Terserah aku mau kemana," sahut Mira pelan.
Tanpa berkata lagi, Athar segera menarik paksa tangan Mira dan membawa istrinya itu menuju dalam rumah kembali.
Mira kembali menangis.
Mengapa sesakit ini rasanya saat Athar marah? Rasanya hati Mira sudah lebih dari kata pedih ketika orang yang dicintainya itu tak bersikap baik kepadanya.
Kenapa dia semarah itu?
...* * *...