AL-THAR

AL-THAR
#65. Kematian ke ...?



...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


happy reading!


"Halo, Kak Mira!"


Mira agak terkejut saat mendapati gadis yang beberapa kali pernah ia temui dan kini berada di rumahnya, sedang duduk santai pula.


"Hai, Ki! Udah lama?"


Mira sedikit bingung untuk berbasa-basi dengan gadis itu.


"Setengah jam, Kak."


Perhatiannya pun segera teralih dengan kedatangan sang mama di ruangan tengah itu.


"Kamu sendiri? Athar mana?"


Maaf, ma ... "Bang Athar lagi ada pekerjaan mendadak di New York, Ma." segitu aja. Mira gak akan menceritakan banyak kepada mamanya itu. Malah awalnya ia sama sekali tidak akan bercerita apa pun tentang Athar. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Kan mana mungkin seorang menantu yang biasanya selalu ada dimana istrinya berada, kini tidak akan terlihat batang hidungnya dalam waktu yang cukup lama. Maka Mira memutuskan untuk memberitahu sebagian saja.


"Berarti kamu pulang ke sini aja,"


"Iya lah. Tapi aku lagi bikin tugas terus sama Pram. Jadi mungkin kalo aku gak pulang, itu artinya aku menginap di rumah Pram ya, Ma."


"Iya, tapi kamu mesti selalu berhati-hati. Gak boleh serampangan, gak boleh teledor."


"Siyap, Ma." Mira mengambil tempat duduk di sofa tunggal. Ia mesti istirahat sejenak. Walau sebenernya ia penasaran akan satu hal, "Kamu pacaran sama Ghani?" tebaknya tanpa basa-basi kepada Kiara.


Kiara, gadis itu agak tercengang dengan pertanyaan Mira yang cukup frontal menurutnya. Bagaimana mungkin hal itu ditanyakan kepadanya yang bahkanโ€“


"Iya, dong." malah mama yang menjawab pertanyaan Mira. "Calon istri lebih tepatnya."


"HA?" Mira tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. "KOK BISA?"


"Udah deh," kata mama lagi. "Jangan lebay. Nanti Mama ceritain. Sekarang kita mesti fitting baju, yuk!" Mama berdiri.


"Kemana?"


"Ke butik temannya Sheli. Kakak kamu itu udah nungguin kita di sana."


"Uhm, aku belakangan deh, Ma."


"Kenapa lagi?"


Mira menyengir. "Aku mau berendam dulu sejam."


Mama menghela nafas. "Ya udah deh, terserah." mau gimana lagi, memang begitu bawaan hamil putrinya itu.


.


.


Katakanlah Mira bodoh, biar, tidak mengapa. Berulang kali setiap harinya ia tak pernah lelah sekali pun untuk menengok hpnya. Harapannya pastilah hanya satu ... yaitu Athar segera menghubunginya.


Tapi hingga dua hari telah berlalu lagi dan masih tak juga ada kabar dari sang suami.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!"


Suara teriakan dari lantai bawah membuat Mira amat sangat terkejut. Ia segera berjalan keluar dari kamarnya dan melangkah dengan dada berdebar.


Mira tau benar kalau itu suara teriakan Shelia. Sekarang hatinya diliputi kecemasan akan bayangan beberapa bulan yang lalu, saat dirinya mendapati keadaan sang kakak yang berdarah-darah.


No, jangan lagi. Jangan. gue takut.


Begitu langkahnya telah tiba di lantai bawah, dia mendapati Shelia yang tengah dipeluk oleh sang mama, dengan keadaan keduanya yang menangis. Terlebih tangisan Shelia begitu hebat, hingga rasanya Mira akan menangis juga bila mendekat.


"Kenapa, Ma? Shel?" tanyanya cemas pada kedua wanita itu. Mira memegang lengan Shelia dan mama bersamaan, tapi keduanya masih sulit untuk menyahut karena tangisan yang menyesakkan. "Kenapa kalian nangis sih? Aku jadi bingung," air mata mengalir begitu saja di pipi Mira. Ya, dia semudah itu untuk menangis sejak kehamilannya.


"B-bryan ... dia ...." ucap mama terbata-bata.


"Kenapa, Ma?"


"Dia kecelakaan dan ... meninggal, Mir."


Ya ampun


Mira merasakan apa yang saat ini Shelia rasakan. Bagaimana mungkin Shelia yang sedang hamil besar itu, dan pernikahannya akan terjadi dalam waktu kurang dari dua minggu, malah mendapati kenyataan bahwa Bryan โ€“ayah dari anak dalam kandungannyaโ€“ kini meninggal dunia.


Detik itu juga Shelia ambruk ke dalam pelukan mama. Dia tak sadarkan diri hingga membuat Mira dan mama begitu panik.


"Sheliiii!" jerit Mira.


Mama terduduk di lantai dengan memeluk Shelia, karena saat ini belum ada yang bisa membantu menolong mereka untuk membawa Shelia ke kamar.


"Jangan panik, Mir, jangan," cegah mama. "Kamu gak boleh stres juga. Ingat kandungan kamu yang masih muda," disela-sela paniknya mama, beliau masih mampu memikirkan keadaan Mira juga.


Mira menggeleng sambil menangis. "Gak papa, Ma. Aku kuat. Trus Bryan gimana? Siapa yang kasih kabar?"


"Barusan, temannya Bryan yang kabarin Sheli. Bryan masih ada di rumah sakit."


"Ya udah, aku yang bakalan kesana buat melihat keadaannya. Sekarang kita pindahin Sheli ke kamar ya, Ma,"


"Jangan, Mir. Berat. Kamu gak boleh berat-berat."


"Kan kita berdua, Ma."


Mira segera mengangguk. "Iya, Ma. Aku sekarang ke sana."


...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


"Boleh saya melapor, Bos?"


"Tentang?"


"Istri Bos sekaโ€“"


"Nggak perlu."


"Tapi, Bos?"


Athar mengangkat pandangannya dan menatap tajam pada bawahannya itu. "Kamu gak perlu mengatur saya, Gar. Kamu saya tarik kesini bukan untuk melapor kegiatan siapapun selain yang saya perintahkan."


"Baik, Bos. Maaf. Tapi Non Miraโ€“"


"LINGGAR!"


"Ke rumah sakit." dengan penuh keberanian Linggar mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Karena sedikit banyak ia mulai peduli pada istri dari bosnya itu. Meskipun saat ini tugas untuk menjaga istri bos sedang tak berjalan.


Athar tak menampik keterkejutannya saat mendengar kata-kata itu. Rasa cemas yang mulai menjalari perasaannya kini mati-matian ia tahan dan simpan. Mungkin rasa itu masih memenuhi hatinya. Akan tetapi egonya lah yang lebih menguasainya kini. Keinginan untuk memberi jarak pada sang istri bukanlah tanpa sebab. Sudah berkali-kali ia mengatakan keberatan dan ketidak sukaannya kepada sahabat istrinya itu, tapi berkali-kali pula istrinya melanggarnya.


Foto-foto itu merupakan sebuah pukulan besar baginya. Mengapa harus ada foto-foto itu di belakangnya? Siapapun yang memfoto dan mengirimkannya untuk membuatnya marah, maka itu amat berhasil. Ya, dia marah.


Menurutnya, andai Almira tak mampu menolak kedatangan Ryo, maka mengabarkan perihal kedatangan cowok itu adalah hal yang wajib dilakukan seorang istri terhadap suami. Tidak dengan bertemu secara diam-diam di belakangnya. Bahkan mereka berpelukan.


Ck, persetan dengan sahabat! Bagi Athar sudah tak ada lagi yang namanya sahabat antara wanita yang sudah menikah dengan lelaki lain, bila salah satunya sudah jelas memendam rasa istimewa.


Mungkin istrinya memang setulus itu dalam menilai orang, apalagi sahabat baiknya. Tapi bagi Athar yang sesama lelaki jelas tahu bahwa tak akan ada yang setulus itu antara keduanya bila dibiarkan lama-lama. Buktinya foto-foto itu.


Egonya terluka.


Kini dia hanya butuh waktu agar tenang, agar ketika ia kembali nanti maka amarah dan egonya telah reda. Walaupun ia harus membayar mahal dengan menahan rindu.


Bahkan, ia tidak ingin mengetahui kabar apapun tentang sang istri dan keluarganya. Biarlah, biar seperti ini dulu adanya. Ia berhak untuk marah dan menghukum sang istri, walau itu artinya dia menghukum dirinya sendiri juga.


"Calon suami kakaknya Non meninggal dunia karena kecelakaan."


Athar tak bereaksi banyak. "Jadi Bryan meninggal."


"Benar, Bos. Padahal mereka akan melangsungkan pernikahan sepuluh hari lagi."


Untuk sesaat Athar lupa dan larut dalam memikirkan apa saja yang sedang terjadi dengan Mira, kakaknya, ibunya, dan adiknya.


"Cukup, kamu boleh keluar."


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Mira menangis saat menyaksikan bagaimana sang kakak yang kini tengah menangis pula. Keduanya menyaksikan bagaimana ambulance yang membawa jasad Bryan akan menuju bandara, untuk dimakamkan di kota kelahiran Bryan, yakni York. Meskipun lelaki itu memiliki ayah berdarah Amerika, tetapi ia dilahirkan di negara yang berbeda. Dan mengikuti tempat tinggal kedua orang tuanya yang telah lama menetap di York, maka kedua orang tuanya memutuskan untuk memakamkan putra mereka di sana pula.


"Anak gue jadi yatim ..." Shelia terisak. Bahkan sesenggukan yang tak ada hentinya. Dia bukan menangis karena seberapa besar cintanya kepada Bryan, karena memang rasa itu telah lama pergi dan baru saja hendak ia mulai kembali. Namun Shelia menangis karena nasibnya. Nasib anaknya yang telah berstatus sebagai yatim bahkan sebelum lahir. Di samping itu, fakta bahwa pernikahan mereka tak lama akan segera digelar membuatnya mau tak mau menangisi nasibnya juga.


"Sabar, Shel ..." bisik Mira seraya merangkul sang kakak. "Semua sudah jadi kehendak-Nya."


"Baju pengantin gue udah siap loh,"


"Iya ..."


"Gue gak jadi menikah, Mir ... padahal gue baru aja punya rasa mau buat menikah. Tapiโ€“ tapi calonnya gak ada ...." Shelia tersedu lagi.


Mira memeluk sang kakak dengan tangisan juga. Rasanya nasibnya jadi hampir serupa. Di mana mereka kini sama-sama sedang mengandung, tetapi tak ada lelaki yang mendampingi.


"Bryan tinggalin gue gitu aja ... katanya dia mau nikahin gue ...."


"...."


"Salah gue apa lagi? bukannya gue udah setuju buat memulai semuanya dengan benar? Gue juga udah tobat. Gue mau memperbaiki kesalahan gue dan membesarkan anak kami berdua ... tapi ...." dia menatap hampa pada jalanan kosong. Ambulance telah pergi bersama Bryan, dan menyisakan kebisuan.


"Sabar, Shel ...."


"Bryan pergi, Mir ... Bryan tinggalin gue ... bahkan sebelum dia lihat anak kami ... kenapa, Mir? kenapa semua ini terjadi sama gue?"


"...."


"Siapa yang bakalan jadi ayah anak ini?"


"...."


"Siapa yang bakalan menemani gue melahirkan nanti?"


"Ada gue, Mama, sama Ghani,"


"Tapi gak ada ayahnya anak gue!"


"Shel ... sabar, Shel ... jangan begini ..." Mira mengusap punggung sang kakak dengan sabar. "Jangan stres. Kasihan anak lo ... dia gak boleh merasakan kalo ibunya sedih. Karena dia bakalan sedih juga."


Shelia menangis pilu.


Mira menuntun kakaknya itu menuju kursi, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mengenai kesehatan Shelia dan kandungannya.


...***...