
Happy reading!
Β
"Plis ... jadilah Mira yang dulu, seperti yang aku kenal ... sebentar aja ... "
Mira terdiam sesaat. Apa maksudnya? Bukankah yang telah berubah itu Ryo? bukan dirinya.
"Nggak kebalik? Bukannya kamu yang udah berubah, Yo?"
"Tapi itu karena kamu."
"Jadi aku yang mesti menanggung dosanya?"
Ryo tersenyum tipis. "Memangnya apa yang aku perbuat sampai kamu harus menanggung dosaku?" dia berbalik tanya.
"Kan kamu nyalahin aku karena kamu berubah."
"Itu karena aku sayang sama kamu, Mir."
"Sayang atau obsesi?"
Ryo mengendikkan bahunya. "Terserah apa namanya, yang jelas aku menginginkan kamu seorang."
ya ampun, sampai kapan ini akan berujung kalo ucapan dia selalu berputar dan kembali ke tempat semula.
"Tapi untuk beberapa waktu ini," lanjutnya. "Aku akan pergi dan berusaha melupakan kamu. Bukan menyerah ya! aku sama sekali bukan menyerah. Aku hanya akan kembali menjalani hidupku yang tanpa ada kamu, dan aku berupaya untuk percaya kalau kamu akan bahagia tanpaku."
"Aku sudah bahagia, Yo," Mira hampir menyerah untuk meyakinkan cowok itu. "Harus gimana lagi aku mengatakannya?"
Terlihat Ryo mengangguk pelan, lalu ia menoleh kepada Mira lagi. "Oke. Aku akan percaya kali ini. Tapi ... aku punya satu keinginan,"
"Apa?"
"Jadilah Mira yang ku kenal dulu, sebentar aja ..."
"Caranya?"
"Senyum?"
Jawaban Ryo membuat Mira tersenyum tapi sambil menggeleng pelan. gimana sih maksudnya? apa gue selama ini selalu cemberut sama dia?
"Jangan senyum yang kayak gitu,"
Mira mencoba berfikir sejenak.
"Senyum sambil lihat aku ... aku yang sahabat kamu sejak dulu. Aku yang rela berbagi sendal sama kamu, memboncengi motor sama kamu, dan ... aku yang selalu peduli denganmu. Maka tolong tersenyum seperti Mira yang dulu."
"Yo ... aku bukan jahat atau apa, tapi bukankah sudah kurang pantas kalau aku begitu?"
"Bahkan hanya senyum kamu pun aku gak pantas mendapatkannya? begitu?"
Refleks Mira menarik sudut bibirnya.
"Jangan tersenyum yang seperti itu, Mir. Karena aku sama sekali gak mau kamu kasihani,"
Mira memberengut. "Serba salah sih, Yo? Senyum aku aja kamu bawel banget. Aku kan gak kayak kamu yang bisa akting. Aku mau senyum yang aku bisa ajalah ya." cerocosnya.
Ryo pun akhirnya menyunggingkan senyum puas. "Akhirnya aku dapatkan kamu yang dulu."
eh?
"Senyum dan ekspresi kamu yang begitu, yang aku ingat dan ... aku suka. Kamu yang dulu itu begitu, Mir," ucapnya dengan mata berbinar. "Terima kasih."
"Yo ... statusku emang sudah berubah. Kedekatan kita pun mestinya gak sedekat dulu dalam artian kontak fisik, intensitas pertemuan, dan hal-hal lain yang membuat kita dekat seperti dulu lagi. Tapi selain itu, selebihnya, aku masihlah Mira yang sama kayak dulu. Aku masih di sana dengan semua sifatku ... dan gak akan pernah berubah. Justru kamu yang telah 'pergi' dan berubah. Aku mesti gimana, Yo?"
Ryo tertegun selama beberapa saat. Dia bahkan tak menatap ke arah Mira, dan keduanya larut dalam keheningan malam. Hingga kemudian Ryo bangkit dari kursinya dan membuat Mira menoleh.
"Oke, sudah cukup," kata Ryi dengan segaris senyum tulusnya. "Aku harus pergi."
Mira juga bangkit dari kursi dan diam-diam menghela nafas lega. "Iya."
"Tapi ..."
Apa lagi?
"Boleh aku peluk kamu?"
Lantas Mira langsung menggeleng saja, dengan tatapan permintaan maafnya.
"Sekali aja ..."
"Yo ..."
"Untuk terakhir kalinya ..."
"Maaf ...."
"Sebagai salam perpisahan ..."
Mira menggeleng.
"Oh oke ... aku mesti paham, kan?!"
Ryo melangkah juga. Dengan Mira yang perlahan mengikutinya di belakang, dengan maksud untuk melihat kepergian sahabatnya itu dari rumahnya.
Namun tanpa Mira duga sama sekali, sebuah pergerakan Ryo yang tiba-tiba berbalik langkah dan menubruknya.
Ya, Ryo memaksa untuk memeluknya. Meskipun Mira berusaha untuk melepaskan diri, tapi Ryo tetap bertahan dan berbisik, "Plis ... sebentar aja ...."
"Maaf, Yo, gak bisa."
...πΎπΎπΎ...
"Siapa yang fotoin gueeee ..." Mira mewek lagi. Dia sendirian sekarang di kamar hotel, dan masih belum bisa menghentikan tangisnya kala melihat kembali empat buah foto dirinya dengan Ryo yang duduk di teras. Dirinya yang tersenyum, Ryo tersenyum, serta pelukan paksa dari Ryo dengan jelas di foto itu. "Jahatnya yang udah fotoin gue ... kenapa mesti saat gue senyum coba... sama pelukan Ryo itu ... huaaa ....."
Dengan gemas dia merobek-robek foto-foto itu. Foto yang bahkan tak ada artinya dan mengakhiri invasi tidak tepat Ryo ke dalam hidupnya.
Sekarang Mira menggigiti kukunya dan mulai berfikir siapa pelakunya.
"Masa Ryo?" tanyanya pada diri sendiri. Sekalipun ia tidak percaya, tapi memang kandidat terkuat hanyalah sahabatnya itu. "Tapi kok dia jahat amat sihhh ..."
Mira mengambil hpnya dan mencari nomor Athar di sana. Kalau dia mengejar Athar sekarang untuk menjelaskan kesalahpahaman, maka itu hanyalah sia-sia. Sebab ia tak tahu mesti mengejar suaminya itu kemana. Yang ada nanti malah dia sendiri yang tersasar.
Namun, berulang kali ia menekan panggilan kepada Athar, maka berulang kali pula panggilan itu teralihkan. Maka Mira kini mewwk lagi di kasurnya.
"Abang kemanaaa ... huaaaa ... tega amat Abang pergi gitu aja ...." tangisan Mira terputus dengan rasa mual yang tiba-tiba melandanya. Segera dia bangkit untuk ke kamar mandi dan segera berendam demi menghilangkan semua rasa mualnya. Tapi, air matanya tetap saja mengalir tanpa ia inginkan.
...π½π½...
Segini dulu aja, nanti malam lanjut. π
.