AL-THAR

AL-THAR
#103. Akhir (1)



Yuhuuuuu ... maaf lama. 😅 Aku lupa buka NT brp lama ya? padahal part ini udah ada sejak lama ... 😂


...Happy Reading!...


...💞💞💞...


"Kamu serius?"


Lelaki itu menghela nafasnya karena selalu menghadapi pertanyaan itu, setelah dia mengajukan pertanyaan yang amat penting lainnya.


"Kamu mau aku berbuat apa supaya kamu percaya sama aku?"


Shelia mengendikkan bahunya. Dibelainya rambut tipis Fathia yang kini tertidur pulas di dalam gendongannya.


Bukannya dia tidak percaya dengan lelaki di depannya kini. Dia bahkan mempercayai bahwa jodoh tidak akan kemana. Setelah pacaran singkat di masa lalu, nyatanya kini ia dipertemukan kembali dengan Wira dan dengan rasa yang hampir tak pernah ia lupakan. Sungguh, Shelia tertarik lagi dengan Wira yang kini terlihat lebih matang dibandingkan beberapa tahun lalu.


Berkali-kali pula lelaki itu mengutarakan keseriusannya untuk membina rumah tangga bersamanya, dengan penuh penerimaan atas baik buruknya Shelia di masa lalu.


Hanya saja, sekali lagi sungguh bukannya dia tidak mempercayai Wira. Akan tetapi, Shelia takut kalau semua ini hanyalah mimpi saja. Setelah kepergian Bryan yang membuatnya cukup terpukul, kini bagaimana mungkin tiba-tiba ada lelaki yang serius menerima dirinya sekaligus juga bayinya.


"Demi Tuhan aku serius sama kamu, Shel. Aku tulus sama kamu, dan insyaa Allah akan setulus itu juga aku menyayangi anak kamu. Walaupun aku tidak se-sholeh ustadz itu, tapi aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuk kamu. Untuk kalian."


Shelia cukup terperangah. Wira jelas tahu kedekatan dia dengan Baihaqi beberapa waktu ini. Hanya saja, rasa yang dulu pernah ia miliki untuk ustadz Ubay benar-benar telah berlalu. Rasa insecure terhadap diri sendiri bila berdampingan dengan lelaki itulah yang perlahan mengikis perasaan yang ada. Dan saat itulah Wira hadir mengisi serta melengkapi apa yang ia butuhkan sekaligus ia inginkan.


"Izinkan aku." Wira menyentuh tangan kanan Shelia yang bebas. "Izinkan aku bertanggung jawab atas kamu dan anakmu, Shel. Insyaa Allah aku siap."


Shelia menatap lagi mata Wira untuk memastikan. Apakah keputusan ini yang terbaik ataukah ....


Sebuah anggukan disertai senyuman yang Shelia berikan sebagai jawaban. Bersamaan dengan euphoria dari keduanya, tiba-tiba ponsel Shelia berbunyi.


...****...


"Mama ..."


"Sabar, Mir ..."


"Tapi ini sakit, Ma ... siapa bilang mules? Ini tuh bukan mules, tapi sakit."


"Betul, 'kan apa yang gue bilang." Shelia yang saat ini tengah menggendong Fathia, putrinya, baru saja tiba setelah sang mama mengabari perihal kontraksi adiknya. "Kita dibohongi–"


"Heh," mama menyela putri sulungnya. "Sudah dari sananya kalau mau melahirkan itu yang dibilangnya mules."


"Tapi bukan mules, Ma. Lebih ke sakit rasanya," protes Mira sembari memegangi perut buncitnya.


"Baru juga pembukaan lima, Mir,"


Sekarang Mira mewek. "Bang Athar mana sih? Masa dia gak mau datang buru-buru? Aku 'kan mau melahirkan anaknya loh. Aku tuh habis melalui hal yang mengerikan, tapi kenapa dia malah lama,"


"Hal mengerikan?" tanya mama bingung sekaligus khawatir. "Hal mengerikan apa?"


Mira gelagapan. Ini bukan waktu yang tepat menceritakan perihal kematian Ryo dua jam yang lalu. "Nanti aja ya, Ma, aku ceritanya nanti setelah lahirin cucu kedua Mama dulu. Sekarang belum mood. 'Kan ini sakit banget perut aku rasanya, Ma ...."


"Tapi Mama jadi penasaran, Mir. Emangnya habis terjadi apaan sih? Kamu mah bikin Mama khawatir–"


"Aduhduhduhduh," rintih Mira kala kontraksinya datang lagi. "Sakit, Ma ... sumpah ini tuh sakit banget. Suruh Bang Athar buruan ke sini, Ma ..."


"Ya sabar, kali. Athar dari Jakarta kata si Roy," kata Shelia. "Lo mau brojol kok bawel banget sih. Perasaan waktu itu gue kalem-kalem aja."


Mira tahu kalau suaminya di Jakarta. Tapi Mira gak peduli. Dia ingin secepatnya mendapati sang suami untuk mendampinginya melahirkan. Hari ini terlalu melelahkan jiwa raga. Ia takut tak mampu bertahan untuk melahirkan normal setelah mengalami guncangan hebat tadi.


Dia mengusap air matanya yang tiba-tiba meleleh tak terkendali. Melihat itu, sang mama refleks mengusap kepalanya setelah sebelumnya membantunya mengusap pinggangnya.


"Sabar, Mir ... Athar pasti segera datang."


"Iya, jangan cengeng, jangan bawel," Shelia menambahi.


Rasa khawatir yang tak mampu Mira tahan perihal Athar yang berada di jauh di sana. Sebab Mira tahu seperti apa keadaan yang tengah dihadapi oleh suaminya. Lalu ia pun tak bisa mencegah saat berbagai pikiran buruk menghampirinya.


Bagaimana bila terjadi sesuatu kepada Athar? Bagaimana bila dia juga merasakan seperti yang kakaknya rasakan, yakni melahirkan tanpa seorang suami? Bagaimana ia sanggup menjadi orang tua tunggal di saat ia amat membutuhkan kehadiran Athar sebagai pendamping hidupnya? Lalu apa yang akan dia katakan nanti kepada anaknya saat sang anak menanyakan di mana ayahnya?


Sumpah, kepala Mira terasa pusing dengan campur aduknya kejadian yang ia alami hari ini. Hatinya terasa kacau, dan tenaganya seakan habis karena pikirannya yang penuh.


"Ma ... aku capek ...."


"Mira, sayang. Kamu harus kuat demi anak kamu ... bertahan ya, Nak ...."


Pintu ruangan dimana Mira berada kini terbuka. Seseorang yang baru saja masuk tapi rupanya malah membuat Mira kecewa.


Kirain Bang Athar


"Jadi gue nggak diharapkan kehadirannya nih?" Ghani seperti biasa, jutek. Apalagi setelah dia melihat raut wajah Mira ketika dirinya datang. Tapi dia tidak peduli. Ghani segera menempati sebuah kursi yang ada di sana.


"Dikira lakinya punya pintu Doraemon gitu, bisa langsung lompat kesini dari Jakarta. Biar kata kakak iparnya punya jet pribadi, tapi dari Jakarta ke sini kayaknya gak recommend banget deh," sahut Shelia.


"Kenapa nggak?" tanya Mira tak terima.


"Itu jet mesti parkir di mana? Di gunung?"


"Kita, 'kan gak tinggal di gunung."


"Tapi dekat gunung."


"Ah bodo ah!"


"Dih, si Mimir mau brojol jadi berisik. Kayak ayam mau bertelor."


"Mingkem, Shel! Gue makin berisik nih denger suara lo."


Mira yang sensi, dan Shelia yang jahil kini keduanya saling diam. Bahkan Shelia sudah memindahkan baby Tia ke dalam gendongan Wira yang baru saja bergabung setelah mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman.


"Calon bapaknya Tia, mending bawa Tia keluar ya. Di sini tantenya berisik mau brojol," bisik Shelia di telinga Wira. Itu membuat Wira tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya, seraya berjalan keluar ruangan.


"Kedengeran, woi!" seru Mira sembari mengelus pinggangnya yang terasa panas. "Ini kenapa di pinggang aku rasanya panas banget ya, Ma?" tanyanya kepada sang mama.


"Kalau anak cowok emang biasanya panas di pinggang, Mir."


"Masa?"


Mama mengangguk.


Pintu diketuk. Semuanya menoleh pada seseorang yang datang lagi.


"Halo semua–"


"Lo gak bisa ya hidup tanpa gue? Kenapa selalu ngintilin gue kemana-mana?" sembur Ghani kepada Kiara, seolah dia ingin menelan cewek itu hidup-hidup.


"Nah, itu lo tahu. Gue emang gak bisa hidup tanpa lo. Sebab lo sudah mencuri hati gue. Pengennya sih ngegombal begitu, tapi nyatanya gue ada di sini karena emang pengen nengokin Kak Mira, bukan karena ngintilin lo," sahut Kiara tak kalah ketus.


"Diam gak kalian? Keributan kalian bikin gue semakin pengen marah-marah." Mira menahan kontraksi lagi. "Aduh duh, astaghfirullah ... sakitnya ...."


"Udah deh, mending kalian berdua langsung nikah aja," cetus mama kepada pasangan putra bungsunya.


"Kok gitu, Ma?" Ghani tak terima.


"Ya mesti gitu. Supaya kalian berdua jadi dewasa."


Belum selesai sang mama bicara, Ghani sudah keburu berlalu meninggalkan ruangan.


Mira duduk sejenak sembari terus menahan rasa kontraksi yang semakin lama semakin rutin. Ini tidak seberapa. Bukankah sudah kodratnya seorang wanita mengalami ini semua? Terlepas dari rasa ketar-ketir tengah memikirkan keadaan sang suami, Mira juga mesti bersyukur karena masih memiliki Mama, Sheli, Ghani bahkan Kiara, untuk berada di dekatnya di saat terberatnya.


Bagaimana tidak, saat ini pikirannya penuh bukan main. Tetap Athar menjadi prioritas utama yang memenuhi benaknya. Hingga rasanya ia tak mampu lagi menahan keinginan untuk segera berada dalam pelukan suaminya itu. Tapi, Mira mesti sabar. Bukankah butuh waktu dari Jakarta ke Bogor walau tidak terlalu jauh. Cukup berharap bahwa Athar pasti akan segera datang dan menemani persalinannya.


Kemudian, bagaimana dengan jasad Ryo sekarang? Berada di mana? Lalu bagaimana juga keadaan Pram saat mendapati suaminya yang baru seminggu menikahinya tapi malah pergi untuk selama-lamanya? Apakah Pram bakalan menyalahkan Mira? Sepertinya begitu. Mira yakin beberapa masalah tidak akan berjalan baik bila semua orang mengetahui penyebab kematian Ryo. Yakni, dirinya.


Ya ampun, Ryo ... kenapa mesti begini?


Sejuta kali Mira menyesali, maka sejuta kali pula ia menyadari bahwasannya waktu tidak akan pernah kembali. Semua sudah berjalan sesuai dengan kehendak sang pencipta. Maut dan jodoh sudah ditetapkan dan tak akan ada yang mampu menolaknya, bukan?!


Apa saja yang akan terjadi nanti, ia harus siap menghadapinya. Suka dan duka sudah kodratnya datang dan pergi dalam kehidupan setiap manusia.


Bertahan ...


Lalu percaya bahwa pasti akan ada hikmah dari setiap kejadian.


Tak lama kemudian, setelah kontraksinya mereda sesaat, seorang dokter yang baru saja memeriksanya kini tersenyum.


"Siap, Bu Mira?"


Balas tersenyum tipis disertai anggukan pelan, serta air mata yang meleleh disela-selanya, Mira bertekad kuat untuk melahirkan anaknya dengan segala harapan akan mendapatkan banyak kabar baik setelahnya. Ya, dia mesti yakin bahwa Athar akan segera tiba.


"Bismillah."


...***...


Di tengah ketidakberdayaan serta kelemahannya, nampak tersungging senyum samar dari bibir Dennis yang penuh luka. Matanya menangkap sosok bayangan di kejauhan yang ia paham sekali akan gelagatnya. Mestinya, tak ada yang perlu ia khawatirkan mengenai ini semua. Karena apabila ia harus berakhir di penjara pun maka ia tidak merasa kalau itu adalah sebuah masalah.


Lain Dennis, lain Athar yang baru saja mendapat bisikan dari salah seorang anak buahnya mengenai suara tembakan yang terdengar keras beberapa saat yang lalu. Rahangnya menegang dan kepalanya terasa pusing karena menahan emosi yang seperti lahar datangnya. Dengan jaminan Roy yang telah mengatasi semuanya, maka ia tetap berdiri di tempatnya seraya menatap Dennis tajam.


"Sesuatu pasti telah terjadi ..." suara pelan Dennis yang terlihat menahan sakit tapi tetap mengesalkan di saat yang sama. Menilik ekspresi wajah Athar yang kaku, tentu amat sangat disayangkan untuk melewatkan sesi provokasi terhadap mantan sahabatnya itu. "Lo gak khawatir kalau–"


Salah seorang anak buah Athar menendang Dennis hingga lelaki itu tersungkur kembali. Tentunya itu sebuah perintah atas lirikan sesaat Athar barusan terhadap orangnya agar memberikan sesuatu untuk membungkam Dennis.


Inginnya Athar menghabisi Dennis dengan tangannya sendiri sekarang juga. Akan tetapi, bayangan sang istri yang tengah hamil besar mampu membuatnya menahan segala rasa dendam yang berkecamuk di dadanya.


Kemudian, perhatiannya segera teralihkan oleh kehadiran seseorang di sana. Seorang perempuan yang tengah menodongkan senjata di tangannya ke arah Athar. Bukan hanya itu, di sekeliling gadis itu sudah pasti banyak senjata yang terarah kepadanya. Namun karena tekad yang kuat, rupanya situasi itu tak mampu menggetarkan Belva yang kini menatap marah kepada Athar.


"Gue yang barusan menembak Mira tapi meleset. Ah ... bukan meleset, sasaran gue udah tepat banget ... tapi rupanya ada pahlawan kesiangan yang menghalangi arah tembakan gue."


Athar sudah tahu itu dari anak buahnya. Raut wajahnya yang dibuat tenang namun dingin malah membuat Belva semakin kesal.


"Kenapa bukan Mira yang mati, hah? Kenapa dia selalu aja ada yang melindungi? Kenapa kalian harus suka sama cewek macam itu?"


Rasa panas masih mampu juga Athar tahan. Digenggamnya erat senjata di tangannya agar tak bergerak untuk menghabisi perempuan itu.


"Penyakit iri lo cukup mengerikan ya," ucap Athar dingin. "Gue pikir lo cuma pesuruh Cassandra dalam melakukan keburukan. Tapi rupanya, lo jauh lebih buruk dari teman lo itu. Lo adalah ular yang sebenarnya."


Belva tersenyum miring. "Baru tahu lo, Thar? Selama ini mungkin Cassandra yang memberi perintah seolah dia yang memimpin perbuatan jahat di antara kami. But, sebenarnya dia merealisasikan semua ide yang gue bisikkan ke dia selama ini. Termasuk juga sepupu gue yang menyedihkan itu. Gue lah yang memberi jalan supaya kebenciannya kepada Mira dapat tersalurkan dengan baik. Gimana, gue hebat, 'kan?!"


Athar sudah tak mampu lagi menahan tangannya agar tetap berada di sisi tubuhnya. Sekarang senjatanya telah ia arahkan kepada Belva dengan tatapan matanya yang mematikan.


Maka itu membuat Belva tersenyum senang. Upayanya melanjutkan provokasi yang dimulai oleh Dennis rupanya telah berhasil.


"Lo gak penasaran kenapa gue sebenci ini sama istri lo itu?"


"Why?"


Lagi, Belva merasa senang dengan reaksi mengerikan yang diberikan Athar. Entah mengapa.


"Belv ..." itu suara lirih Dennis yang ingin menghentikan Belva dalam membangkitkan amarah Athar. Dia tahu persis bagaimana Athar bila lepas kendali. Namun sayang, luka-lukanya yang terasa perih malah membuatnya kesulitan untuk berbicara lebih banyak.


Dan sayangnya Belva tak mendengar suara Dennis. Atau lebih tepatnya, dia sengaja tak ingin mendengarkan siapapun tanpa terkecuali dalam mengutarakan apa yang ada di pikirannya selama ini.


"Karena dia terlalu beruntung–"


"Iri!"


"Oke! Gue memang iri. Gue akui itu. Gue iri, benci, dan gak suka kalau dia mendapat perhatian kalian semua. Dia itu gak pantas. Dia cuma cewek biasa yang gak pantas mendapat banyak keberuntungan dalam hidupnya. Usaha dia apa sih sampai kalian cowok-cowok high quality mesti takluk sama dia? Apa dia punya pelet? Cih! Dunia gak adil dengan keberuntungan dia!"


"Kenapa lo nggak mikir, kira-kira ... apa saja yang telah dia lalui dalam hidupnya hingga tiba pada titik keberuntungan ini? Sebuah pencapaian yang menurut lo gak adil. Lo nggak pernah kepikiran apa saja yang Tuhan telah ambil dari dia hingga dia memiliki hidup seperti yang sekarang?"


Belva cukup tersentak dalam hatinya karena ucapan Athar barusan. Namun dia mengingkarinya.


"Gue gak peduli."


"Nah, itulah bedanya lo sama dia. Kepedulian yang dia miliki ... tapi nggak lo miliki. Pada tahapan itu aja sudah menjadi satu alasan kenapa dia lebih beruntung dari pada lo, sekarang."


Perlahan tapi pasti perkataan Athar mampu merasuki hati Belva.


Athar menggeleng pelan. "Takjub gue. Kok bisa penyakit hati seseorang mampu merubah manusia menjadi iblis macam lo, Belv. Tuhan itu adil. Siapa yang berbuat baik maka akan mendapat balasan baik juga, walaupun balasan itu membutuhkan waktu yang lama. Begitupun sebaliknya. Sebab karma itu tidak akan pernah salah alamat."


Nanarnya tatapan Belva sekarang yang sedikit merunduk beralih dari Athar. Bahkan senjata yang berada di dalam genggamannya perlahan turun dari arah bidikkan terhadap Athar tadi.


Sekian banyaknya orang yang menasehatinya selama ini tidak pernah mampu menyentuh hatinya. Apa itu artinya di saat inilah Tuhan memberikannya hidayah?


No.


Sekejap saja senjatanya kembali tegak dengan kepalanya sendiri pun kini terangkat. Tatapan tajamnya telah kembali seperti semula. Keadilan sudah terlanjur tak berpihak kepadanya. Ingin menyesali segala perbuatannya selama ini pun rasanya percuma. Sebab semua tidak akan pernah bisa berubah.


Belva merasa dirinya buruk. Oke, kalau sudah buruk lalu apa? Tidak ada jalan untuk kembali dan memperbaiki. Karena hatinya pun sudah terlanjur terluka terlalu dalam.


"Tapi gue masih memiliki satu keadilan yang mesti gue selesaikan."


Bersamaan dengan itu, suara tembakan terdengar menggelegar mengakhiri kalimatnya. Sebuah pengakhiran terhadap kehidupan seseorang, dari seseorang yang hatinya penuh kebencian.


Bye.


...***...


Hayooo looohh .... sudah end apa belum? 🙈


Masih sisa 1 bab lagi ya.