
Mira melangkah melewati ruang tengah di lantai satu, ketika ia melihat sesuatu yang berantakan dan sedang dibereskan oleh Linggar, bi Lilis, serta Pak Teguh.
"Lho, ada apa ini?" tanyanya bingung kepada orang-orang yang berada di sana. "Gak habis ada gempa 'kan?!"
Bi Lilis tersenyum saja sambil menyapu serpihan, sedangkan Pak Teguh mengambil alih jawaban dengan senyum kalemnya. "Biasa, Non."
"Biasa?"
"Tim sepak bola kesayangan Mas Athar kalah, ditambah mood Mas Athar juga sedang tidak bagus sekarang. Maka inilah yang terjadi," jelasnya yang mengartikan kalau hal itu sudah biasa terjadi.
Mira mencerna sesaat. "Kalah ... trus tv-nya dihancurin, gitu?!" tanyanya tak percaya. Namun melihat serpihan dan pecahan televisi yang jelas-jelas terlihat habis dibantai oleh seseorang, rasa-rasanya Mira menolak menerima kenyataan.
Ketiga orang itu hanya tersenyum saja sambil terus membereskan kekacauan yang terjadi.
"Wah, juragan bener deh dia!"
"Non Mira mau saya siapkan makanan?" tawar bi Lilis.
Ia menggeleng. "Nggak usah, Bi. Aku masih kenyang," jawabnya. "Trus bang Athar ada di atas?"
"Nggak ada, Non. Mas Athar sedang di rumah sebelah." Pak Teguh yang menyahuti Mira.
"Oh, ya udah. Aku kesana aja deh,"
Tanpa menunggu sahutan ketiga orang itu, Mira segera melangkah menuju teras samping dan menyebrangi taman. Ini pertama kalinya ia akan melihat dengan jelas isi dari rumah samping yang selalu Athar larang, manakala ia ingin ke sana. Alasannya, ia boleh kesana apabila Athar telah memberi izin dan tentunya bersama suaminya itu kalau ke sana.
Saking berlebihannya larangan Athar menurut Mira, maka Mira tak mau ambil pusing dan menolak penasaran tentang rumah samping lagi.
Ia tak peduli.
Namun kini, saat ia tahu kalau Athar sedang berada di sana, maka mungkin sekaranglah waktunya ia melihat; ada apa sih sebenarnya di sana?
Ketika ia melihat dengan luarnya melalui sisi samping, karena pintu keluar area taman rumah Athar terhubung dengan teras samping rumah di sampingnya itu, semua nampak biasa saja.
Normal. Seperti rumah pada umumnya, dan malah lebih sederhana lagi tampilannya dibandingkan rumah Athar.
Berjalan sedikit ke arah bagian depan rumah itu, Mira mendapati dua orang lelaki bertampang seram yang kini menatapnya tajam. Seketika Mira merasa kalau nyalinya menciut. Bayangan akan seorang preman atau tukang pukul yang ada di sinetron, kini telah nyata ada di hadapannya.
Ya ampun, gue salah rumah kayaknya. Kenapa mereka berdua serem-serem banget? Mereka itu penjahat bukan sih?
"Non," keduanya menundukkan kepala tanda hormat kepada Mira.
Mira yang awalnya sudah merasa ketakutan dalam hati, kini nampak lebih rileks dan lega. Itu artinya, orang-orang menyeramkan itu telah mengetahui keberadaan dirinya, sekaligus statusnya. Syukurlah.
walaupun gue merasa jadi nyonya ketua penjahat, tapi gpp. Yang penting mereka gak ada niat jahat sama gue.
"Uhm, anu, aku mau cari bang Athar–"
"Silakan masuk, Non."
"Oh? I-iya." Mira melangkah juga walaupun ia sekarang merasa ragu. Kalau penampakan dua tukang pukul itu amat menyeramkan, lalu bakalan seperti apa lagi yang akan ditemuinya di dalam sana?
Entah.
Mira cuma mau mencari suaminya, tapi serasa sedang mencari dragon ball. Kok jadi horror?
Ruang tamu yang Mira lihat selanjutnya nampak sepi. Ruangan terbilang kecil itu ia lalui begitu saja, tentu dengan suaranya yang memanggil nama sang suami. "Bang Athar!"
Tak ada sahutan. Sepi dan kosong yang tampak dalam pandangan Mira pada ruangan itu. Lalu ada sebuah pintu yang entah kenapa menarik penglihatannya. Sungguh penasaran dibuatnya hingga tanpa permisi, ia langsung saja membukanya.
"Wow," bisik Mira pada diri sendiri. Di depan matanya kini terpampang ruangan besar yang ia ketahui adalah ... sebuah tempat gym yang lengkap dengan bermacam-macam alat untuk kebugaran.
Namun ...
Fokus Mira bukan pada alatnya, melainkan pada cowok-cowok yang sedang menggunakan alat-alat di sana. Terutama sekali, mata tajam Mira menangkap sosok tak asing di ingatannya.
"Ferrow! Oh EMJI! Ferrow gak pake baju? Wow ih, hot, wow, aduh, gue gak kuat liatnya. Ih, wow, Ferrow, aku padamup—" mulutnya tiba-tiba ada yang membekap. Lalu saat ia menoleh, lirikan tajam Athar lah yang ia dapatkan. "Abang!" serunya saat ia berhasil melepaskan bekapan tangan Athar.
"Ngapain kamu di sini?"
"Ya cari Ferro– maksudku cari Abang lah!" Mira memberikan cengirannya. Lidah tak berakhlaknya kenapa mesti hilaf di sini?
Athar mencubit hidung Mira. "Sudah aku bilang, kalau mau ke sini tuh mesti sama aku."
"Ya ini 'kan sama Abang," pungkasnya. "Tapi kok– itu Ferrow 'kan?! Kok bisa ada di sini? Emangnya ini rumah siapa? Rumah Abang 'kan?!"
"Ini emang rumahku, tapi di sini ada gym pribadiku yang aku sewa kan untuk teman-temanku juga."
"Trus, kenapa aku gak boleh ke sini kalo gak sama Abang? Aneh banget. Kan cuma gym doang." malah banyak cogan pula.
"Ya karena aku nggak suka. Karena di sini cuma ada laki-laki, Al. Mana mungkin aku biarin kamu di sini sendirian!"
"Ayo keluar," Athar menggandeng tangan Mira. Tapi Mira menahan tangannya agar mereka tidak beranjak dari sana.
"Ntar dulu, Bang. Aku mau salaman sama Ferrow."
"Nggak perlu!"
Athar menarik tangan Mira lagi, tapi Mira menahan lagi. "Tapi aku mau,"
"Nggak, Al. Kalau aku bilang nggak ya nggak."
"Tapi aku kepengen banget. Plis ..." ucapnya memohon. Dengan mata dan ekspresi wajah yang dibuat sendu, agar Athar tak tega mengabaikannya.
Athar menghela nafas. "Lima detik aja."
...🌴🌴🌴🌴...
"Halo," sapa Ferrow ramah kepada Mira.
Orang yang disapa tengah menggerutu dalam hati. Kenapa Ferrow memakai jaket? Bukankah beberapa saat yang lalu artis cogan itu tengah shirtless? Dan Mira baru melihatnya dari jauh saja. Padahal Mira kepengen melihat lebih dekat dan lebih jelas roti sobek idolanya itu.
hiks
"Ferrow ... kok kamu pake baju?" itu yang ingin Mira ucapkan sebenernya. Tapi, dia gak berani. Gak mungkin mengatakan kalimat yang pasti bakalan membuat Athar marah.
"Hai, Ferrow. Duh, kamu cakep banget ya!" pujinya dengan jujur. Bukan Mira mengabaikan ketampanan sang suami. Sungguh bukan. Justru Athar sudah lebih dari sempurna dalam hal fisik. Semua orang pasti mengakui itu. Tapi lain dengan Ferrow yang tampan dalam versi berbeda.
"Emangnya Athar nggak cakep nih?" goda Ferrow yang membuat Mira melirik takut-takut kepada Athar.
"Cekep lah. Mutlak. Tapi 'kan, kamu juga cakep Ferrow. Eh, kok kamu olah raga pakai jaket sih?"
Athar mencubit gemas pipi Mira. "Ayo pulang!"
"Ih, Abang. Baru sebentaran juga," protesnya. "Dua puluh menit lagi. Aku mau nonton Ferrow angkat barbel."
Athar hanya menggelengkan kepala. Dia sudah menduga kalau istrinya bakalan menggila saat melihat keberadaan Ferrow di sini.
"Nggak boleh!" lantas tanpa mengalah lagi, Athar segera menarik tangan Mira agar mengikutinya untuk berjalan keluar.
Namun sebelum mereka benar-benar keluar, seseorang memanggil Athar di kejauhan. Mira yakin kalau orang itu adalah salah satu temannya. Kemudian, hal itu membuat Athar melepaskan Mira sesaat.
"Al, sebentar dulu. Kamu jangan kemana-mana! Di sini aja, paham?!"
"Iya-iya. Kayak aku anak kecil aja," gerutunya.
"Awas kamu nyariin Ferrow lagi," ancamnya. "Pokoknya diam di sini!"
"Iya, Bos, iya. Siap, juragan! Hush hush ..."
Athar pun melangkah meninggalkan Mira untuk beralih ke ruangan lain.
Mira yang berdiam diri pun bergumam, "Padahal dari luar kelihatan kecil. Tapi kenapa pas ada di dalam rumah ini malah terasa besar? Ini bukan kayak di film Harry Potter 'kan?"
Lalu mata Mira memindai dan menemukan sebuah pintu tak jauh dari tempatnya berdiri. Itu membuatnya penasaran akan sesuatu di dalamnya. Gimana kalau ternyata di dalam ruangan itu ternyata ada Taehyung 'kan?! Masa dia mesti melewatkan kesempatan ini?
No no no.
Gue mesti melihat yang ada di dalamnya.
Mira menoleh dan melihat Athar yang tengah berbicara serius dengan seseorang yang memanggilnya tadi. Itu artinya, harusnya dia aman untuk bergerak mundur beberapa langkah saja 'kan?!
Ketika akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu itu, tangan Mira segera meraih kenop pintu untuk dibukanya.
ceklek
Mira mengerjap sesaat agar matanya menyesuaikan dengan ruangan yang memiliki sinar temaram. Cahayanya berwarna merah, namun redup yang terkesan horror.
Selain itu, mata Mira kini terfokus akan sesuatu.
...****...
Maaf lama update. Aku sebenernya mau hiatus dulu untuk beberapa lama. Tapi nggak lama banget sih. 😁
.
Makasih udah baca. Silakan like komen seikhlasnya deh ya. Vote hadiah atau apa juga boleh. Terserah, seikhlasnya aja. Toh, gak ada ngaruhnya buat novel ini. 😂 pengaruhnya justru cuma buat semangat aku doang. 💆
Tengkyu all! 😘