
Mira menunggu hingga Athar selesai memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka langsung turun dan berjalan memasuki restoran seafood yang cukup terkenal di daerah situ.
Mata Mira mencari-cari keberadaan kakaknya dengan lelaki arab yang sudah jelas mencolok dari segi hidungnya saja. Dan benar saja, ketika akhirnya matanya menangkap sosok dua orang yang dicarinya itu sedang duduk di sudut restoran, maka ia langsung berniat untuk menghampiri mereka. Namun, baru saja kakinya hendak melangkah dengan cepat, rupanya langkahnya malah tertahan oleh ulah Athar yang telah menangkap lengannya.
"Kamu gak sendirian, Al."
Mendengar ucapan Athar, Mira hanya cengengesan. "Nggak bermaksud kayak gitu kok, Bang."
Athar menggandeng tangan Mira dan mereka melangkah bersama menuju meja yang di sana sedang ditempati oleh Shelia dan Baihaqi.
"Woah, kok lo bisa ada di sini, Shel?" Mira berlagak tidak sengaja bertemu dengan kakaknya itu. "Wah wah, kita memang saudari sekandung yang ikatan bathinnya terlalu kuat. Gue gabung ya," Mira melihat pada Ubay. "Boleh kan, Bang Ubay?"
Baihaqi tersenyum tipis. Sedangkan Shelia menatap jengah pada adiknya itu yang menempati kursi di sampingnya. "Kok cepat sih lo kesininya?"
"Hah?"
"Kan Ubay baru telpon lo lima belas menit yang lalu. Kenapa bisa secepat ini sampainya?"
yah, berarti akting pura-pura gue yang gak sengaja ketemu dia, gak guna dong. ustadz ganteng gimana sih weh, tadi gue disuruh pura2 gak sengaja ketemu. mubazir deh akting gue.
"Dekat kali, Shel, sama rumahnya Bang Athar."
"Rumah kita." Athar membenarkan Mira. Dan itu membuat Mira melayangkan senyumnya kepada suaminya yang telah duduk di kursi samping Baihaqi.
mendadak ada rumah kita. aduh, jantung, ginjal, baik-baik ya di dalam sana.
"Ubay, kenalin ... ini Athar, suaminya Mira." Shelia sengaja mengambil alih perkenalan. Dia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Baihaqi. Karena menurut dugaan dan prasangkanya, sepertinya Ubay lebih tertarik kepada Mira dibandingkan kepada dirinya. Dan itu menyebalkan!
Baihaqi melebarkan matanya dan melihat ke arah Mira. "Kamu sudah menikah? Kapan?"
Mira mengangguk pelan dan tersenyum ramah. "Baru tiga hari. Tapi belum resepsi kok. Nanti kalo aku sebar undangan, Bang Ubay datang ya."
Ubay terlihat agak canggung. "Oh, insyaa Allah." dia lalu mengulurkan tangannya kepada Athar.
Melihat ekspresi wajah Athar yang sedikit kaku membuat Mira merasa tak enak pada Ubay. "Abang," Mira memanggil suaminya. Atharpun menoleh tanpa ekspresi, "Ini ... bang ustadz Ubay, kenalan lama kami, yang kemarin aku ceritain."
Kedua cowok itupun berjabat tangan.
Kini fokus Mira beralih kepada kakaknya yang memang terlihat sembab matanya. Namun nada suaranya yang ceria, membuat Mira sedikit bernafas lega untuk menunda kekhawatirannya mengenai kakaknya itu. Dan satu hal lagi yang dipikirnya sekarang, seharusnya dia akan curhat di kamar Sheli seperti biasanya. Tapi kali ini, terasa gak mungkin. Dia sudah memiliki rumah lain yang kini sebagai tempatnya untuk pulang. Bukan rumah orang tuanya lagi.
Mendadak Mira melow. Tapi dia menahan segala rasa dan fikiran yang memenuhi kepala cantiknya kini.
Mira menatap mata Sheli yang saat ini terlihat sedang fokus mencingcang udang yang gak seberapa gedenya itu. Mira kasihan ... sama udangnya.
Shelia yang merasakan panasnya tatapan sang adik, kini mengangkat pandangan dan menatap balik Mira.
Mira berupaya mengirim telepatinya. Sheli, lo kenapa? cerita coba lewat mata kita aja ...
"Lo yang kenapa?" suara Shelia membuyarkan fokus Mira. "Mau udang gue? nih," dia mendorong piring berisi udangnya untuk lebih dekat ke arah Mira.
Mira menggeleng dan mengembalikan piring berisi udang punya Sheli. "Khusus malam ini, gue jadi vegetarian."
"Koslet ya otak lo." setelah berkata begitu, refleks Shelia menengok ke arah Athar yang memang sedang menatapnya dengan tak suka. ck, si Mimir punya bodyguard sekarang.
"Ya udah. Lo pesen apa kek, terserah lo deh. Biasanya kan lo kalo gak makan udang ya cumi. Sana gih pesen cumi!"
Mira menggeleng.
"Kerang?"
Mira masih menggeleng.
"Lobster? kepiting? Ubur-ubur? Patrick? Spongebob?"
"Stop! gue eneg."
Shelia melebarkan matanya. "Masa lo hamil? nikah baru tiga hari udah hamil gitu?"
"Sheliโ"
"Ups, gue lupa kalau hari H kemarin lo kedatangan tamu."
"Mulutnya ..." desis Mira. Namun kekesalan Mira hanya dibalas kekehan oleh Shelia.
Gue gak nafsu makan gara-gara lihat muka lo, Shel. Gue tau kalo lo lagi pendam sebuah masalah. Kita bukan setahun dua tahun saling mengenal, tapi kita udah sama-sama sejak gue dibrojolin.
"Kamu mau pesan apa, Al?" suara Athar mengalihkan fokus Mira dari kakaknya itu.
Mira menggeleng. "Abang aja deh yang pesan. Nanti aku icip-icip aja."
"Icip-icip lo kan dua piring, Mir," sambar Shelia.
Mira hanya mendelik pada kakaknya itu.
Selanjutnya, selama setengah jam ke depan, mereka mengobrol ringan sambil menikmati makanan yang tersedia. Tak berapa lama setelahnya, Baihaqi pamit undur diri karena mendapat telepon penting dari kerabatnya. Dia juga sempat menawari Shelia tumpangan sebelum ia meninggalkan restoran.
"Shel ... lo kenapa sih?" tanya Mira pelan saat mereka hendak menyudahi keberadaan mereka di sana. "Gue gak mungkin tidur sama lo malam ini, maka gue gak mungkin denger curhatan lo secara langsung kalo ntar. Nah, makanya, sekarang sebelum pulang, lo bisa gak cerita sama gue? Gak papa ya ada Bang Athar di sini,"
Sheli termenung sesaat setelah mendengar perkataan Mira. Dia melirik pada Athar yang sedang fokus pada hpnya, lalu matanya kembali menatap sang adik yang terlihat sekali sedang khawatir kepada dirinya.
Ketika Athar mendapat sebuah telpon dan mengkode Mira untuk berpindah sebentar, saat itulah Shelia menatap Mira dengan sendu. Seakan ada hal yang ingin diucapkannya namun berat untuk keluar dari mulutnya.
"Kenapa lo nangis tadi di depan Bang Ubay? apa dia nyakitin lo? Lo patah hati?"
Shelia terlihat menahan segala rasa. Dia menggeleng lalu mengangguk yang membuat adiknya itu bingung.
"Jadi kenapa, Shel?"
Cukup kuat pertahanan Shelia untuk memendam perasaannya. Namun ia tak mampu membuat adiknya itu terlihat lebih cemas lagi, hingga ia berkata dengan suaranya yang bergetar, "Iya ... gue patah hati."
* * *
Like, komen, n vote (seikhlasnya) ya. ๐๐
.